Superesse

Superesse
Tempo di andare


__ADS_3

...***...


Hari berganti. Setelah kejadian kemarin malam, Analia dan Elvera lantas saling mendiamkan satu sama lain. Tidak ada satupun dari keduanya yang ingin mengalah dan berbicara pada masing-masing, keduanya masih bersikeras untuk diam sampai akhirnya hari ini pun tiba. Hari dimana mereka akan berangkat menuju San Marino dengan menggunakan feri dan melakukan beberapa pengambilan scene di laut lepas.


Pagi itu setelah bangun dan bersiap untuk berangkat, Ilario segera meminta mereka untuk berkumpul di pelabuhan untuk bersiap.


Sebelum berangkat, mereka sibuk mengecek barang milik masing-masing, mereka harus memastikan jika barang yang di bawa mereka tidak ada yang tertinggal satu pun di hotel tempat mereka menginap.


Ilario sebelumnya sudah menjelaskan pada semua orang yang ikut dalam filmnya jika mereka akan berangkat dengan dua feri berbeda. Satu feri khusus untuk pengambilan gambar penuh scene di laut lepas dan satu feri lagi khusus untuk menyimpan beberapa barang yang tidak akan terlalu membantu selama prosesi syuting. Di tambah lagi satu feri yang lain mereka gunakan untuk pengambilan scene keseluruhan kapal, beberapa scene luar kapal yang seharusnya di ambil dengan menggunakan drone dan semacamnya. Tapi karena drone milik Ilario rusak akibat kecerobohan salah satu crew-nya, menyebabkan mereka mau tidak mau harus berangkat dengan dua feri berbeda.


Sementara crew, dan manajer mereka sibuk menaikkan semua barang ke dalam feri dan menata isi feri nya, beda halnya dengan para pemain yang saat ini di tugaskan untuk membaca ulang seluruh scene di laut lepas dalam skenario mereka masing-masing.


"Semuanya sedang sibuk. Bagaimana jika kita reading-nya di salah satu ruangan di dalam feri itu? Jadi selama kita menunggu semuanya selesai, kita bisa membaca isi skenario kita di sana," Fella menyarankan.


"Ide yang bagus. Kita bisa menunggu di sana, jadi begitu mereka selesai, kita bisa langsung syuting," Giorgia menimpali.


"Ya. Kalau begitu ayo pergi," Sienna beranjak dari sana, memimpin di depan yang kemudian di ikuti oleh beberapa orang pemain lainnya. Mereka semua melangkah masuk ke dalam satu feri yang kini di isi oleh beberapa orang crew yang berlalu-lalang memasukkan beberapa barang ke dalam sana.


Tiba di dalam feri, Lucio bersama beberapa artis lain yang bermain dalam film itu lantas masuk ke dalam salah satu ruangan yang mana di dalam sana terdapat sebuah meja besar dengan beberapa kursi yang jumlahnya sesuai dengan jumlah mereka.


Pintu masuk ruangan itu sengaja mereka tutup agar tidak ada yang mengganggu.


"Baiklah mari kita mulai," ujar Zeta pada yang lain.

__ADS_1


"Baik, mari mulai sementara kita menunggu pak Ilario tiba dengan crew yang lain," sahut Jolanda. Mereka lantas mulai di sibukkan dengan membaca skenario di dalam naskahnya sesuai dengan dialog masing-masing.


...*...


"Semuanya sudah siap kan?" Tanya Ilario pada asistennya seraya melirik padanya. Wanita yang menjadi asistennya itu berjalan seraya memegang tablet di tangannya, mengecek secara berulang agar tidak ada sedikitpun yang mereka lewatkan.


"Semuanya sudah ada di dalam pak, kita hanya perlu mengecek dan memastikan jika semuanya dalam keadaan siap," tutur wanita itu.


"Baiklah, kalau begitu pastikan semuanya dan cek ulang semuanya, aku akan mengecek kameranya."


"Iya, siap pak!" Sahut wanita itu.


Ilario beranjak dari tempatnya, ia lantas menghampiri kameraman nya yang tengah mengecek semuanya di sana. Ilario hendak memastikan jika kameranya dalam keadaan baik dan bersih.


...*...


"Entahlah, tapi aku dengar semuanya sudah berada di dalam. Jadi mungkin kita bisa berangkat sekarang," sahut pria lain yang baru saja tiba. Pria itu tidak lain dan tidak bukan adalah awak kapal yang ia suruh untuk mengecek apakah semuanya sudah siap untuk pergi atau belum.


"Benarkah semuanya sudah naik?"


"Iya," sahutnya yang kemudian berdiri di dekatnya.


"Kalau begitu tolong kau tunggu di sini dan cek ulang semuanya. Aku harus pergi ke toilet sebelum kita berangkat. Oh, dan jangan biarkan orang lain masuk ke sini tanpa izin dariku. Kita langsung berangkat setelah aku menyelesaikan urusan kecilku."

__ADS_1


"Baiklah," balas pria itu tanpa pikir panjang. Yang lebih tua lantas beranjak pergi dari sana meninggalkan pria lain yang usianya lebih mudah dibandingkan dirinya.


Pintu itu di tutupnya pelan begitu ia tiba di luar, dan setelahnya di dalam sana hanya tersisa satu pria lain yang semula baru saja tiba.


"Wah lihat semua tombol kendali ini," pria itu mengedarkan pandangannya, menatap ke arah beberapa tombol guna menjalankan kapal tersebut.


"Rasanya seperti mimpi menjadi kenyataan saat aku bisa berdiri di sini saat ini. Sejak kecil aku selalu bermimpi ingin menjalankan kapal sendiri, dan menjalankannya menyusuri samudera," pria itu memonolog.


Fokusnya kini beralih ke arah dimana roda kendali itu berada. Ia berdiri di sana, memandanginya untuk sesaat sebelum kemudian tangannya bergerak mencengkeram benda di hadapannya itu.


"Berhubung hanya aku sendiri di sini, bagaimana jika kita berlatih menjalankan kapalnya," pria itu celingukan memastikan tidak ada orang yang memperhatikan. Dan begitu ia yakin, ia lantas menggerakkan benda di hadapannya dengan sesuka hatinya. Setelah beberapa saat, ia kembali beralih pada tombol-tombol di sana. Ia berdiri dan membaca setiap tulisan kecil yang tertera di bawah tombol-tombol itu.


"Mari kita lihat…" pria itu bergumam pelan.


"Mana tombol untuk menyalakan," gumamnya lagi. Ia lantas terus bergerak sampai kemudian secara tidak sengaja dirinya tersungkur jatuh ke arah depan akibat langkahnya yang tidak seimbang. Tangannya yang berusaha menahan tubuhnya, secara tanpa sengaja menekan beberapa tombol di sana yang secara otomatis langsung membuat mesin kapal itu menyala. Bersamaan dengan itu jangkar kapal yang semula menahan kapalnya, perlahan naik ke tempat semula.


Kapal itu mulai bergerak menjauh dari pelabuhan. Hal itu membuatnya terkejut dan spontan panik.


"Astaga! Apa yang telah aku lakukan?!" Pria itu merutuki kebodohannya, bergegas ia mencari cara agar ia bisa menghentikan kapalnya. Tapi langkahnya berhenti sebelum ia menemukan tombol untuk menurunkan kembali jangkarnya.


"Tunggu! Bukankah ini yang aku inginkan?" Pria itu bergumam pelan. Fokus matanya kemudian beralih pada roda kendali, ia tersenyum simpul sebelum akhirnya melenggang menghampiri benda itu disana.


"Baiklah, ini saatnya untuk aku mengasah kemampuan ku," ujarnya. Dengan penuh percaya diri tangannya bergerak meraih kendali, ia siap untuk menjalankan kapal itu sebelum kemudian seseorang memekik padanya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2