Superesse

Superesse
Sobrio


__ADS_3

...***...


Perlahan kedua matanya terbuka. Hal pertama yang di lihatnya adalah langit-langit ruangan tersebut yang tampak mengabur. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya membuka kedua matanya.


"A-akh—" ia meringis saat merasakan sakit di kepalanya.


"Dia sadar." Terdengar samar-samar suara seseorang membuat fokusnya beralih ke arah datangnya suara.


"An!" Panggil Giorgia yang kemudian duduk di tepi ranjang tidurnya.


Setelah di rasa pandangannya membaik, Analia lalu menoleh ke arah Giorgia. Wanita itu menatap padanya dengan raut wajah khawatir.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Giorgia.


"A-aku dimana?" Analia mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


"Kau ada di ruang tidur mu," Sienna tiba di sana dengan satu gelas teh hangat di tangannya. Sienna menghampiri Analia kemudian menyodorkan gelas dalam genggaman tangannya pada Analia. "Minumlah agar kau lebih baik," tuturnya.


"A-ah… terima kasih," ucap Analia seraya meraih gelas tersebut dan menyeruputnya pelan.


"Bagaimana? Apakah kau sudah merasa lebih baik?"


"Ya, sedikit."


"Memangnya apa yang terjadi? Apakah kau sakit? Kami menemukanmu di sudut lorong saat kami hendak kembali ke ruang tunggu. Dan saat itu, kau sudah tidak sadarkan diri."


"A-ahh, itu…" Analia menggantungkan ucapannya. Ia bingung harus menjelaskan apa, karena tidak mungkin ia menjelaskan semuanya pada Giorgia dan Sienna mengenai apa yang di alami olehnya.


"Tidak mungkin aku ceritakan semuanya pada Giorgia dan Sienna, apalagi pada yang lain. Aku tidak ingin membuat mereka khawatir dan malah jadi kesusahan karena aku," batinnya.


"An!" Sienna menepuk pelan bahunya membuat Analia yang semula tehanyut dalam lamunannya seketika sadar dan menatap ke arah dirinya di sana.


"Apakah kau baik-baik saja?" Tanya Sienna memastikan.


"Kenapa kau malah melamun? Apakah ada yang mengganggu pikiranmu?" Kali ini Giorgia yang bertanya.


"A-ah, tidak. Aku tidak apa-apa. Hanya saja, aku lupa kenapa aku bisa tiba-tiba tidak sadarkan diri di sana," elaknya.


"Ah begitu ya."


"Iya."

__ADS_1


"Tapi apakah sebelumnya kau merasakan pusing atau semacamnya? Apakah kau merasa sakit?"


"Ya, sedikit. Kepalaku hanya sedikit pusing. Mungkin karena terlalu banyak hal yang harus aku lakukan, jadi selama perjalanan ini cukup membuat kesehatanku menurun," gumam Analia.


"Oh pantas saja."


"Kalau begitu kau harus banyak beristirahat," Giorgia menaikkan selimut yang menutupi Analia itu hingga mencapai dadanya.


"Ya, Gie benar. Kau harus banyak beristirahat agar kau cepat membaik. Apalagi kita masih harus bekerja," Sienna menimpali.


"Hm." Analia menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu sementara kau beristirahat kami akan keluar dan temui yang lain."


"Benar. Biar kami tidak mengganggu selama kau beristirahat, bagaimana?" Tanya Sienna.


"Baiklah. Sekali lagi terima kasih."


"Sama-sama. Oh, jika kau membutuhkan apapun panggil saja aku atau Sienna."


"Ng."


"Kalau begitu kami pergi," Giorgia beranjak bangun bersama dengan Sienna.


"Oh, tentu saja. Kami akan beritahu mereka."


"Terima kasih."


"Iya. Kalau begitu selamat istirahat," Giorgia dan Sienna menutup pintu masuk begitu mereka tiba di luar. Sementara itu, Analia masih berusaha untuk membuat dirinya tenang dan berusaha untuk beristirahat.


...*...


"Bagaimana keadaan nya?" Tanya Cristian begitu Giorgia tiba di sana bersama dengan Sienna yang baru saja selesai memastikan keadaan Analia di dalam ruang tidurnya.


"Dia sudah sadar dan sekarang sedang beristirahat," sahut Sienna yang lantas duduk bersebelahan dengan Fella yang sejak tadi duduk di sana. Sienna duduk bersebelahan dengan Fella dan Giorgia di sana.


"Syukurlah, aku lega mendengarnya."


"Apakah kita tidak sebaiknya menjenguknya?" Jolanda menatap teman-temannya.


"Aku rasa tidak perlu. Analia butuh istirahat. Jadi lebih baik kita berikan dia waktu untuk beristirahat secukupnya."

__ADS_1


"Benar apa yang di ucapkan Zeta. Lebih baik kita biarkan Analia beristirahat. Lebih baik sekarang kita lakukan hal lain," kata Fella setuju.


"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" Sienna mengalihkan pembicaraan.


"Bagaimana jika kita bermain sebuah permainan?" Zeta mengusulkan.


"Permainan? Ide yang bagus. Permainan apa yang akan kita mainkan?"


"Kita mainkan sebuah permainan yang tentunya seru, agar rasa bosan kita hilang," kata Fella. Mereka semua lantas mulai di sibukkan dengan mencari permainan yang menyenangkan untuk mereka mainkan. Setelah itu, mereka memainkan permainan sesuai dengan persetujuan mereka.


...*...


"Huft~" wanita itu lagi-lagi menghela napas kasar. Entah kenapa ia tidak bisa menepis setiap pikiran dan firasat buruk dari hatinya. Perasaan ini benar-benar membuatnya resah dan tidak tenang. Di tambah lagi, hubungannya dengan artisnya kurang baik sesaat sebelum mereka berpisah, hal itu membuatnya semakin resah dan merasa cemas.


TUK!


Ciro tiba dengan segelas ice choco di tangannya. Pria itu menaruhnya tepat di hadapan wanita yang sejak tadi terus termenung seraya menatap ke luar jendela kapal yang tengah di tumpangi olehnya.


Elvera yang menyadari kehadiran Ciro lantas beralih pandang menatap ke arah pria yang baru saja tiba itu.


"Orang bilang, cokelat bisa membuat perasaan seseorang yang sedang tidak baik menjadi lebih baik," ucap Ciro yang lantas duduk tepat di kursi kosong yang letaknya berhadapan dengan Elvera di sana.


"Huh?" Elvera menatapnya penuh tanya.


"Minumlah," Ciro menggeser gelas berisi cokelat yang semula di sodorkannya itu lebih mendekat ke arah Elvera.


"Terima kasih," sahut Elvera yang kemudian menarik gelas itu dan menyeruput isinya sedikit setelah itu kembali menaruhnya ke tempat semula.


Untuk sesaat keduanya terdiam dan hanya ada keheningan yang menyelimuti kebersamaan mereka. Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir mereka masing-masing.


Ciro beralih pandang pada jendela, menatap ke arah lautan lepas yang membentang luas di sekeliling nya. Tidak ada daratan sejauh mata memandang, hanya ada birunya air laut yang menyatu dengan langit berawan yang tampak cerah.


"Pemandangannya sangat indah ya," gumam Ciro memecah keheningan di antara mereka.


"Ya… kau benar," sahut Elvera.


"Tapi sayang jika di nikmati dengan perasaan yang kurang baik. Rasanya tidak akan lengkap," katanya lagi, membuat Elvera beralih menatap ke arahnya. Wanita itu tahu kemana arah pembicaraan dari Ciro dan kenapa dia berbicara seperti itu. Tampak jelas jika Ciro berusaha mengorek informasi dan berusaha mencari tahu kenapa dirinya bersikap seperti itu.


Elvera menundukkan kepalanya sementara Ciro menatapnya dengan raut wajah yang sulit untuk di artikan. Elvera terdiam sesaat tanpa berbicara sepatah katapun, ia lebih memilih menyeruput minuman yang semula di berikan oleh Ciro untuk dirinya.


"Sebenarnya kau kenapa?"

__ADS_1


...***...


__ADS_2