Superesse

Superesse
La pianificazione di Piero


__ADS_3

...***...


Elvera berjalan memasuki kamar mereka. Tapi langkahnya terhenti seketika di depan pintu saat ia mendapati pemandangan Analia yang tengah berdiri di depan cermin besar di sana. Wanita yang menjadi artis nya itu tengah berusah payah untuk menaikkan resleting gaun bagian belakang yang di kenakan olehnya. Tangannya terus bergerak berusaha menariknya tapi terus gagal.


"Huft~" Elvera menghela napas pelan. Wanita yang kini mengenakan gaun pendek berwana merah itu lantas berjalan menghampiri Analia. Ia lalu berdiri di belakang Analia, menaruh tablet di tangannya kemudian menghampiri wanita itu dan membantunya menaikkan resleting gaunnya.


Analia yang mendapati perlakuan Elvera yang seperti itu sontak terkejut, ekspresinya dapat di lihat jelas oleh Elvera lewat pantulan cermin di hadapan mereka. Tapi sebisa mungkin Elvera bersikap biasa seolah-olah tidak menyadari wajah Analia yang seperti itu.


"Jika kau membutuhkan bantuanku, bilang saja. Jangan seperti ini. Lagipula sudah menjadi tugasku untuk membantu mu," gumam Elvera tepat di telinga Analia. Analia diam tak merespon tapi Elvera tak mengindahkan semua itu. Ia memilih untuk kembali fokus dengan tugasnya, meraih tablet yang semula di taruhnya kemudian melangkah dari sana.


"Jika sudah, ayo kita pergi," ucap Elvera dengan suara keras ia berbicara. Wanita itu melangkah seraya menatap layar tablet di tangannya.


Analia tertegun. Dalam keadaan seperti ini saja, Elvera masih berbaik hati mau membantunya. Sedangkan ia malah mendiamkannya. Namun bagaimana pun juga Analia masih kesal atas keputusan yang di buat oleh Elvera tanpa sepengetahuannya. Sudah sangat jelas jika dulu, Analia tidak ingin berbicara atau bertemu lagi dengan Piero setelah kejadian terakhir, tapi Elvera malah menerima pekerjaan ini dan membuatnya harus kembali di pertemukan dengan Piero.


"Huft~" Analia menghela napas berusaha membuat dirinya tenang. Sejurus berikutnya, Analia beranjak mengikuti Elvera dari arah belakang.


...*...


"Wow kawan. Lihat dirimu," ujar Fito pada Piero saat dirinya tiba di dalam kamar pria itu. Sekarang ini mereka hanya berdua di dalam sana, beberapa orang asisten dan manajer mereka, mereka minta untuk tunggu di luar kamar dan mengabari mereka jika sudah waktunya untuk pergi.


Piero. Pria itu saat ini tengah berdiri di depan cermin besar di hadapannya, dan di sampingnya Fito yang baru tiba, berdiri seraya menatap pria itu lewat pantulan cermin di hadapan mereka.


"Bagaimana?" Piero meminta tanggapan lebih, ia kini memutar tubuhnya jadi berhadapan dengan Fito.


"Kau terlihat benar-benar keren. Aku yakin malam ini, akan banyak wanita yang datang menghampiri mu!" Fito memujinya.


"Aku hanya ingin Analia," Piero menjawab datar.

__ADS_1


"Oh ayolah. Apakah kau tidak lelah? Menyerahlah! Analia tidak akan mungkin mau menerima mu kembali setelah kejadian itu. Kau tahu sendiri kan jika setelah kejadian itu dia bahkan sampai vakum selama beberapa bulan dari dunia selebriti untuk beristirahat dan menenangkan diri. Bahkan aku dengar Analia sampai pergi ke Argentina untuk menenangkan dirinya."


"Tetap saja, aku hanya ingin dia. Dan bagaimana pun caranya, aku harus mendapatkannya," ucap Piero dengan tatapan wajah seriusnya.


"Bagaimana pun? Setelah kau melakukan segala cara dan terus di tolak, kau masih ingin berusaha bagaimana pun caranya?"


"Iya. Bagaimana pun caranya akan aku buat Analia kembali ke dalam pelukan ku, dan aku tidak akan pernah melepaskannya atau merelakan dia dengan pria lain."


Mendengar ucapan Piero yang tampak bersungguh-sungguh dengan ucapannya, membuat Fito yang mendengarnya menarik sebelah sudut bibirnya membentuk sebuah smirk. Ia lantas melipat kedua tangannya di depan dada.


"Lalu apa rencanamu untuk mendapatkan Analia kali ini?" Tanya Fito retoris. Piero memandanginya lekat.


"Aku akan memutar keadaan. Membuat Analia sendiri yang datang kepadaku, dan akan aku pastikan wanita itu akan bertekuk lutut di hadapanku untuk meminta kita kembali bersama."


"Caranya?" Fito menaikkan sebelah alisnya. Tangan Piero di bawah sana bergerak, meraih sesuatu di balik kantong celana panjang yang di kenakan olehnya kemudian menunjukkan sebuah botol kecil di tangannya pada Fito. Piero mengocok pelan botol itu hingga menciptakan sebuah suara yang dapat di dengar mereka. Piero tersenyum miring mendengarnya.


"Ya, aku akan membuatnya datang padaku dengan ini," tutur Piero.


...*...


Lucio melangkah keluar dari dalam ruangannya, tapi langkahnya spontan terhenti saat tiba di ambang pintu dan mendapati Analia yang mendapatkan kamar berhadapan dengannya itu juga baru keluar. Mereka terdiam seketika di tempat masing-masing, beradu pandang untuk sesaat.


"Hai," sapa Lucio yang merasa sedikit canggung tiba-tiba harus bertemu berbarengan dalam keadaan seperti ini.


"H-halo," Analia lebih canggung disana. Sebelah tangannya menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. "A-ah, apakah kau baru selesai bersiap?" Tanya Analia berusaha meredakan canggungnya.


"Oh. Tidak, aku kemari untuk mengambil ponselku yang tertinggal. Kau sendiri baru selesai?"

__ADS_1


"Ya," Analia mengangguk pelan seraya tersenyum simpul.


"Kau tampak cantik malam ini," ucap Lucio yang spontan membuat Analia terkejut. Wajahnya merona seketika saat mendapati pria itu memujinya.


"A-ah, kau juga terlihat tampan."


"Terima kasih. Oh, omong-omong bagaimana jika kita berangkat bersama?"


"Boleh. Kebetulan Elvera juga sudah pergi lebih dulu. Jadi aku sendirian."


"Kalau begitu ayo pergi bersamaku," Lucio berjalan menghampiri Analia begitu memastikan pintu kamar hotelnya sudah tertutup rapat. Ia lalu berdiri tepat di hadapan wanita itu, tanpa pikir panjang, Analia segera menggandeng tangan Lucio lantas berjalan bersamanya menyusuri koridor.


"Apa saja yang kau lakukan seharian ini?" Tanya Lucio berusaha memecah keheningan di antara mereka. Saat ini mereka sedang berada di koridor hendak bertemu dengan Ciro dan Elvera yang sejak tadi tengah menunggu mereka di depan lift.


"Ya, aku hanya beristirahat setelah itu menghafal dialog dalam naskah ku kemudian menikmati makan siang bersama dengan manajer ku, Elvera. Kau sendiri? Apa yang kau lakukan?"


"Kurang lebih sama saja denganmu, aku makan siang bersama Ciro, mengobrol banyak hal dengannya, setelah itu menghafal dialog, melatih akting ku dan beristirahat."


"Ooh…" Analia menanggapi. "Omong-omong tampaknya kau sangat dekat dengan manajer mu itu."


"Ya tentu saja. Bukankah memang sudah seharusnya artis dan manajer nya itu dekat?"


"Tapi apakah kalian pernah bertengkar dan saling mendiamkan satu sama lain?"


"Seingat ku tidak. Ciro itu orangnya sangat penyabar dan perhatian, maka dari itu dia jarang sekali marah padaku."


...***...

__ADS_1


__ADS_2