Superesse

Superesse
Cattive notizie


__ADS_3

...***...


TOK! TOK!


Wanita itu mengetuk pintunya perlahan sebelum kemudian ia mendorong pintunya ke arah dalam agar ia bisa masuk. Hal pertama yang di lihatnya adalah atasannya yang kini tengah duduk bersama dengan beberapa pemain yang lain. Mereka duduk bersama di meja besar yang mampu menampung sejumlah orang yang ada di dalam sana.


Ia melangkah masuk ke dalam sana, kemudian berjalan menghampiri pria yang menjadi atasannya di sana. Ia sedikit membungkuk mensejajarkan dirinya dengan telinga bos nya itu.


"Maaf pak, saya hanya ingin memberitahu jika makanannya sudah tiba," bisiknya pelan tepat di telinga pria itu. Ia melirik sekilas padanya.


"Benarkah?"


"Iya, pak."


"Kalau begitu kau cek semuanya setelah itu persilahkan mereka masuk."


"Baik pak. Kalau begitu saya permisi," wanita itu beranjak bangun. Berjalan kembali ke arah pintu masuk untuk melaksanakan tugas yang telah diberikan padanya.


Pria itu—Ilario. Kemudian berdiri dari duduknya, membuat fokus para pemain yang duduk mengelilingi meja di sana beralih menatap ke arahnya.


"Ehem. Tahan dulu," tuturnya pada artis yang baru saja hendak membaca isi skenario yang berada dalam genggamannya. Fokusnya lalu beralih pada Ilario sebagai sutradaranya.


"Baik. Terima kasih," ucapnya kemudian setelah sang artis duduk dan menaruh naskah di tangannya.


"Aku rasa cukup sampai di sini saja dulu. Berhubung ini sudah memasuki jam makan siang, jadi lebih baik sekarang kita makan siang dulu dan beristirahat. Setelah itu kita lanjutkan pembacaan naskahnya setelah istirahat selesai dan kita lanjutkan pembacaannya hingga nanti malam. Pokoknya hari ini kita harus selesaikan semuanya sebelum jam makan malam. Karena besok kita akan langsung mulai pengambilan gambar pertamanya. Apakah kalian paham?" Ilario berbicara di sana dengan suara keras agar semua artis dan orang-orang yang berada di dalam mendengar ucapannya.


"Baik kami mengerti pak," sahut mereka serentak.


"Bagus. Kalau begitu mari kita makan siang bersama," Ilario beralih pandang pada pintu masuk. Dan di sana asistennya baru saja masuk. Ilario memberikan nya isyarat yang langsung di mengerti oleh sang asisten. Wanita itu lalu bergegas membuka pintu masuk dan mempersilahkan semua petugas hotel yang di mintanya membawa makan siang untuk mereka agar berjalan masuk ke dalam sana.

__ADS_1


Mereka semua lantas melangkah masuk setelah asisten Ilario itu membukakan pintu untuknya. Mereka semua berjalan menghampiri meja artis-artis di sana dengan mendorong nampan troli di tangan mereka masing-masing. Nampan itu berisi beberapa tumpuk box berisi makanan yang semula di pesan untuk para artis di sana.


"Maaf pak, tampaknya ada dua sisa," satu pelayan menaruh tiga box di atas meja Ilario. Yang satu adalah untuk Ilario sendiri dan yang dua adalah sisa nya.


"Huh? Benarkah?" Ilario yang mendengarnya lantas beralih pandang pada sang pelayan. Pelayan itu mengangguk setelah menyimpan tiga box di atas saja.


"Aneh. Padahal sudah jelas-jelas jika aku memesan semuanya dalam jumlah yang pas," gumam Ilario. Ia kemudian memanggil asistennya yang mengurus dan mengecek ulang semuanya. Wanita yang menjadi asistennya itu lalu berjalan menghampiri dirinya disana.


"Ada apa pak?" Tanyanya begitu tiba di sana.


"Ada yang ingin aku tanyakan. Apakah kau memesan semua makanannya dalam jumlah yang sesuai dengan jumlah orang yang ada di sini?"


"Iya. Memangnya kenapa pak? Apakah kurang?"


"Tidak. Justru lebih dua. Apa kau salah menghitung? Coba kau ingat-ingat dan cek lagi."


"Bagaimana?" Tanya Ilario begitu wanita itu terdiam sesaat.


"Semuanya dalam jumlah yang pas pak, saya sudah memesannya sesuai perintah bapak."


"Lalu kenapa ada lebih dua box? Apakah ada yang masih belum kebagian?"


"Semuanya sudah dapat pak, ini memang benar-benar tersisa," pelayan itu menyahut.


"Oh ya. Saya baru ingat!" Asistennya itu heboh sendir membuat Ilario heran menatapnya.


"Apa? Kau salah menghitung jumlah orang?" Tanya Ilario.


"Tidak pak. Semuanya dalam jumlah yang pas. Hanya saja dua sisa ini adalah milik Binbin, penulis naskah sekaligus skenario dari film kita. Dan yang satunya adalah milik manajer nya pak. Saya baru ingat!" Wanita itu menjelaskan.

__ADS_1


"Huh? Lalu kemana beliau? Kenapa tidak ada di sini?"


"Semalam manajernya memberitahu ku jika Binbin kondisinya down dan semalam harus di rawat di rumah sakit. Jadi kemungkinan beliau tidak akan bisa datang untuk mengikuti projects ini."


"Apa? Lalu bagaimana? Tidak mungkin jika kita membatalkan syutingnya begitu saja. Kita sudah tiba di sini dan semuanya sudah siap, hanya tinggal pengambilan gambar pertama dan prosesi syutingnya. Jika beliau tidak bisa hadir lalu bagaimana?" Ilario resah di sana.


"Pak Ilario tenang saja. Binbin selaku penulis skenario dari film ini memang tidak bisa datang dan menyaksikan langsung proses syutingnya. Beliau juga sudah meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian yang tidak mengenakkan ini. Dan sebagai bentuk tanggung jawabnya, beliau meminta manajernya untuk memantau semuanya dan menggantikan beliau untuk bisa hadir di sini."


"Manajernya?" Beo Ilario.


"Betul pak."


"Tapi apakah dia bisa? Maksudku begini, Binbin itu kan adalah orang yang menulis naskah film kita, dan tidak ada yang lebih mengerti dan memahami mengenai isi cerita dan penggambarannya kecuali beliau. Apakah manajernya akan bisa meng-handle semua pekerjaan nya?"


"Saya pastikan bisa pak. Soalnya manajernya juga yang ikut menyunting dan mengedit skenario untuk film kita ini. Jadi bisa di pastikan beliau mengerti dengan sangat jelas mengenai isi dari skenarionya."


"Hm… begitu ya. Baguslah kalau begitu, jadi kita bisa tetap lanjutkan syutingnya tanpa adanya penundaan. Oh, omong-omong dimana beliau? Apakah sudah tiba?"


"Tadi pagi beliau bilang, beliau akan datang sore ini. Jadi kemungkinan sekitar senja atau malam nanti beliau baru akan tiba di bandara. Dan beliau meminta maaf karena tidak bisa mengikuti reading hari ini karena kondisi Binbin tadi pagi yang benar-benar semakin buruk membuatnya mau tidak mau harus menunggunya di rumah sakit sampai keluarganya dari Indonesia tiba untuk menggantikannya."


"Oh begitu. Tampaknya kondisi beliau benar-benar sedang buruk," Ilario bergumam.


"Betul pak."


"Kalau begitu untuk dua box makanan ini lebih baik kau berikan pada orang lain. Dan aku tugaskan kau untuk datang dan menjemput manajernya di bandara. Beritahu beliau untuk segera menelpon begitu sudah tiba di bandara, agar dengan begitu kau bisa datang untuk menjemputnya di bandara. Malam ini ada yang harus aku bicarakan dengan beliau mengenai perkembangan skenario ini dan sekaligus aku harus menanyakan padanya bagaimana kabar Binbin."


"Baik pak," sahutnya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2