Superesse

Superesse
Chiacchiere all'ora di pranzo


__ADS_3

...***...


Hening, itulah yang menyelimuti kebersamaannya saat ini. Bersamaan dengan itu, rasa canggung terus mendominasi kebersamaan mereka sejak wanita yang menjadi aktrisnya itu tahu apa yang di sembunyikan olehnya agar ia mau ikut dalam film itu sejak awal. Saat ini mereka tengah duduk bersama seraya menikmati hidangan makan siang mereka. Dan sejak tadi tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir masing-masing.


TAKK!


Analia menaruh sendok dan garpunya di atas piring ketika ia telah selesai makan. Tangannya lantas beralih mengambil gelas berisi minuman miliknya kemudian meneguknya pelan, setelahnya ia beralih mengambil tisu untuk mengelap bibirnya. Elvera yang masih belum selesai makan, lantas menatap Analia lewat ujung matanya.


"Ng... Aku akan pesankan hidangan penutup, kau ingin apa?" Tanya Elvera memecah hening, dengan segenap keberaniannya ia bertanya, walaupun ia tahu jika wanita itu mungkin saja tidak akan menjawabnya. Karena jika Analia sedang marah, wanita itu akan marah dan mogok bicara dengannya dalam waktu yang tak menentu. Kalau pun ia menjawab, pasti akan berbicara dengan nada yang dingin.


"Terserah," sahut Analia dingin. Elvera yang mendengarnya di buat terkejut karena Analia ternyata mau merespon dirinya. Walaupun dari nada bicaranya, Elvera tahu betul jika Analia masih marah terhadapnya yang sudah menyembunyikan kebenarannya. Coba saja jika sejak awal dirinya berbicara jujur pada Analia mengenai Piero yang juga ikut dalam film yang sama dengannya. Mungkin semua hal ini tidak akan terjadi, mungkin sekarang mereka tengah mengobrol bersama layaknya saat mereka tengah akur.


Fokus Elvera beralih, ia beranjak bangun dari tempatnya kemudian berjalan menghampiri telpon yang berada di atas laci dekat tempat tidurnya. Ia mulai di sibukkan menelpon pihak layanan hotel untuk mengirimkan makanan penutup untuk Analia.


Analia—wanita itu kini beranjak dari tempat duduknya, berjalan menghampiri beranda yang ada di kamarnya kemudian terdiam di sana.


Setelah selesai menelpon, Elvera kembali melanjutkan makannya yang sejak tadi belum selesai.


...*...


"Apa jadwalku setelah ini?" Tanya Lucio pada Ciro yang kini duduk di hadapannya seraya menikmati makanan yang baru saja sampai di kamar mereka.

__ADS_1


"Setelah ini kau tidak memiliki acara apa-apa. Jadi jadwalmu kosong. Pak Ilario mengerti jika kau pasti lelah setelah melakukan perjalanan, jadi beliau memberikan waktu untuk para pemainnya istirahat. Jadi setelah ini kau harus istirahat dan nikmati jam-jam kosongmu. Oh, dan nanti malam pak Ilario meminta kita dan artis yang lain untuk berkumpul menikmati makan malam bersama di restoran hotel ini," jelas Ciro yang kemudian memasukkan makan siangnya ke dalam mulut lalu mengunyahnya perlahan-lahan.


"Lalu, bagaimana dengan besok?" Tanya Lucio seraya mengunyah makanannya.


"Besok pagi kau harus bagun pagi-pagi sekali, seperti jadwal yang telah aku buatkan untukmu seminggu yang lalu, maka pagi-pagi kau harus bangun setelah itu olahraga hingga jamnya sarapan, setelah sarapan kau memiliki waktu untuk beristirahat dan membaca dialog dalam naskahmu. Selesai sarapan, kau harus bersiap. Seharian besok kau harus bertemu dengan para crew dan pemain lain untuk pembacaan naskah bersama-sama sambil membangun chemistry agar feel nya dapat. Setelah itu baru di hari berikutnya kita akan melakukan syuting dan pengambilan gambar pertama," Ciro menjelaskan semuanya secara runtut. Lucio hanya menganggukkan kepalanya sebagai pertanda ia menyimak penjelasan pria yang menjadi manajer nya itu. "Oh, dan satu hal lagi. Pak Ilario memberitahu ku jika kita akan memperpanjang waktu kita di Venesia, sekitar dua Minggu lebih beberapa hari. Jadi setelah itu kita akan berangkat menuju San Marino dan melakukan beberapa pengambilan gambar di laut saat kita di perjalanan."


"Ooh oke," Lucio menanggapi.


"Baiklah sekarang kau makan hingga selesai setelah itu kembali hafalkan dialog mu. Dan asah kemampuan akting mu, jangan buat aku malu."


"Memangnya kapan aku membuatmu malu dengan akting ku? Kau sendiri tahu kan jika akting ku sudah tidak bisa di ragukan lagi."


"Baiklah," Lucio kembali fokus pada makanan yang tersaji di hadapannya. Melahapnya hingga habis tak tersisa. Selanjutnya kebersamaan mereka di hiasi dengan keheningan. Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir masing-masing, hanya hening yang menyelimuti kebersamaan mereka.


...*...


Waktu berlalu. Setelah harian Lucio menghafal seluruh dialog dan melatih akting nya, akhirnya pada malam harinya. Ia bersiap dengan Ciro untuk pergi ke acara makan malam yang di buat oleh Ilario selaku sutradara, produser sekaligus pimpinan proyek filmnya.


"Kau sudah siap?" Tanya Ciro yang saat ini tengah duduk di sofa yang ada di ruang tengah kamar itu. Duduk manis seraya memandangi layar tablet yang berada di tangannya. Ia tengah memastikan dan menyusun ulang jadwal yang di buatnya, memastikan jika tidak ada acara yang harus di kerjakan secara bersamaan.


Lucio baru saja selesai berganti pakaian. Mengganti bajunya dengan jas yang telah di siapkan oleh Ciro. Pria itu lalu berjalan menghampiri Ciro.

__ADS_1


"Come ti sembro?" Tanyanya seraya merentangkan tangannya, meminta pendapat atas pakaian yang dikenakan olehnya malam itu. Ciro yang semula sibuk dengan tabletnya kemudian beralih pandang menatapnya yang kini berdiri tepat dihadapannya. Ciro menatap Lucio dari atas sampai bawah, ia lantas tersenyum simpul.


(Come ti sembro?/ Bagaimana penampilanku?)


"Sei così attraente. Perfetto!" Ucap Ciro memujinya seraya membentuk 'ok' dengan jadi tengah dan telunjuknya yang di satukan.


(Sei così attraente. Perfetto!/ Kau terlihat sangat tampan. Sempurna!)


"Benarkah? Tapi apakah ini tidak terlalu formal?" Tanya Lucio.


"Terlalu formal? Oh ayolah. Pak Ilario meminta kita untuk berpakaian seperti ini. Lagipula ini kan acara makan malam dalam rangka pekerjaan jadi tentu saja kita harus berpakaian formal." Ciro beranjak dari tempat duduknya lantas berdiri memandangi Lucio, ia semakin merekahkan senyumannya kala melihat penampilan pria itu yang tampak menawan. "Kau benar-benar terlihat tampan. Tidak salah aku memilihkan pakaian ini untukmu," tuturnya.


"Baiklah kalau begitu ayo pergi," Lucio mengalihkan pembicaraan.


"Ayo, kita pergi sekarang dan biarkan para wanita berdatangan padamu," Ciro merangkul pria itu memutar tubuhnya lalu berjalan menuntun pria itu berjalan menuju pintu keluar di sana.


"Kau ini. Aku masih belum tertarik untuk berpacaran, aku masih belum bisa membuat papa dan mama ku bangga. Dan lagi, karirku baru saja menuju tahap yang sedikit lebih tinggi dan aku masih ingin mencapai tahap yang lebih tinggi lagi. Tidak ada waktu untuk berpacaran!"


"Oh astaga Lucio! Jangan seperti itu. Bagaimana pun kau juga harus menikmati hidup ini. Salah satunya dengan berpacaran."


...***...

__ADS_1


__ADS_2