Superesse

Superesse
Seduti insieme a Piero


__ADS_3

...***...


"Sudahlah tidak apa-apa. Lagipula Piero tidak akan mungkin mendekatimu, kami ada disini dan kau tidak sendiri. Jadi kau jangan khawatir," ujar Giorgia meyakinkan. Analia terdiam sesaat.


"Sudahlah jangan terlalu banyak berpikir, ayo duduk," Giorgia menarik tangan Analia kemudian memintanya untuk duduk tepat bersebelahan dengannya disana.


"Ah, omong-omong kalian ingin minum apa? Biar aku yang pesankan," Cristian bertanya.


"Nanti saja, kita panggil pelayan," sahut Gloria.


"Tidak apa-apa biar aku pesankan. Lagipula tampak nya para pelayan disini sedang sibuk dengan pelanggan yang lain," Cristian mengedarkan pandangan nya.


"Ah dia benar," sahut Sienna yang menyadarinya juga.


"Jadi kalian mau pesan apa? Biar aku pesankan saja," ujar Cristian.


"Biar aku saja yang pilihkan. Aku tahu banyak tentang minuman terbaik di bar ini," ucap Zeta.


"Huh? Benarkah?"


"Iya. Bagaimana?" Zeta melirik pada rekan-rekan nya meminta persetujuan. "Kalian tidak keberatan kan?"


"Ng… baiklah kalau begitu, aku tidak masalah," sahut Giorgia.


"Jika Gie tidak masalah, maka aku juga," sahut Sienna.


"Aku juga," Fella ikut bicara.


"Baiklah. Lalu bagaimana denganmu, An? Jo? Apakah kalian ke beradaan jika aku yang pilih kan minuman nya?" Tanya Zeta.


"Aku tidak keberatan, boleh saja," sahut Analia.


"Ya. Aku juga," sahut Jolanda.


"Baiklah kalau begitu biar aku yang pilihkan."


"Iya."

__ADS_1


"Kalau begitu ayo pergi," Zeta beranjak bersama dengan Cristian. Pergi dari sana untuk memesan minuman untuk mereka. Sebagian besar pelayan di sana tengah sibuk melayani pelanggan yang lain.


"Omong-omong kenapa kau tidak berdansa?" Tanya Fella yang menyadari jika Piero hanya duduk saja di sana.


"Benar, kenapa kau tidak berdansa seperti Fito?" Sienna menimpali.


"Huh? Oh, aku hanya sedang malas saja," sahut Piero yang kini kembali menyandar kan punggung nya pada sofa disana.


"Tampaknya akhir-akhir ini kau tidak terlalu bersemangat, ada apa?" Tanya Giorgia.


"Entahlah. Aku sedang memiliki banyak pikiran, maka dari itu aku tidak terlalu bersemangat."


"Apa yang membuatmu banyak pikiran?" Tanya Sienna.


"Biar aku tebak. Pasti ini karena wanita kan?" Tebak Fella.


"Haha, kau bisa saja," Piero terkekeh.


"Kenapa? Apakah tebakan aku benar?"


Sementara Giorgia, Fella dan Sienna sibuk berbincang dengan Piero, beda halnya dengan Analia dan Jolanda yang hanya diam termenung disana.


Jolanda sibuk menatap beberapa orang yang tengah berdansa di dance floor, sementara itu. Analia sibuk melamun. Rasanya benar-benar canggung dan kurang nyaman saat diri nya harus duduk bersama dengan Piero seperti sekarang. Walau pun bersama dengan beberapa teman nya yang lain, tapi tetap saja ini tidak nyaman. Rasa nya ia ingin pergi dari sana, tapi Giorgia benar-benar meminta nya untuk tidak pergi.


Saat mereka tengah asik berbincang, tiba-tiba Fito berjalan menghampiri mereka dengan seorang wanita cantik yang semula berdansa dengan nya. Wanita itu mengenakan pakaian seksi yang mengekspos tubuh indah nya.


"Wah tampak nya kau tidak kesepian disini," ujar Fito. Pria itu berdiri bersama wanita di sampingnya. Tangan nya melingkar di pinggang ramping wanita itu. Fokus Piero dan yang lainnya spontan beralih pandangan pada nya.


"Ya, seperti yang kau lihat. Justru sekarang lebih mengasyikkan saat kau tidak ada," jawab Piero. Fito yang mendengar nya melirik pada Analia yang duduk di sofa paling ujung, bersebalahan dengan Giorgia. Wanita itu duduk termenung seraya menunduk kan kepala nya.


"Kau merasa senang karena ada seseorang yang membuat hatimu berbunga-bunga," sindir nya seraya melirik pada Analia tapi hanya di mengerti oleh Piero yang kini mulai tersenyum disana.


"Haha, kau bisa saja."


"Ya, karena aku tidak mau mengganggu kalian. Tampaknya lebih baik kita pergi ke tempat lain," Fito beralih menatap wanita yang di rangkulnya. Mereka beradu pandang dalam jarak yang amat dekat, tatapanya intens.


"Aku setuju," gumam wanita itu pelan. Ia lalu menengger kan kepala nya pada bahu Fito, bersikap manja layak nya pada kekasih sendiri. Hal itu tanpa disadari mereka membuat Fella yang memandangi nya merasa cemburu.

__ADS_1


"Kalau begitu kami permisi," Fito beranjak dari sana bersama dengan wanita yang kini bersama dengan nya. Melenggang pergi meninggalkan Piero bersama dengan beberapa orang lain yang kini duduk disana seraya menatap kepergian pria itu.


"Apakah dia selalu sedekat itu dengan para fans nya?" Sienna bertanya seraya menatap nya yang semakin jauh hingga akhir nya hilang dibalik hamparan orang-orang yang memadati ruangan itu.


"Begitulah. Dia memang seperti itu," sahut Piero santai.


"Tapi jika aku lihat-lihat sikapnya seperti seorang playboy," Giorgia berkomentar.


"Ya, benar," Jolanda menimpali.


"Aku juga sepemikiran dengan kalian," sahut Sienna.


Fella dan Analia hanya diam. Fella diam karena merasa cemburu, diri nya tidak bisa sedekat itu dengan orang yang di kagumi nya, sementara Analia, ia tidak peduli dengan pria itu sama sekali. Saat ini yang ia pikirkan adalah cara agar ia bisa pergi dari sana secepatnya.


Piero kembali menuangkan wine pada shot glass nya, ia kemudian meneguk nya untuk yang ke sekian kalinya.


...*...


Cristian berjalan menghampiri meja bar di sana kemudian duduk bersebelahan dengan Zeta. Di sisi kiri dan kanan mereka terdapat beberapa orang pria yang tengah asik meneguk wine yang semula di sajikan oleh sang barista di bar tersebut.


"Wah lihat, mimpi apa aku semalam. Bukankah kalian adalah Cristian dan Zeta sang artis terkenal itu?" Pria di samping Cristian itu berujar membuat nya terkejut dan spontan menoleh pada nya berbarengan dengan Zeta.


"A-ah, ya."


"Wah, aku benar-benar tidak menyangka akan bertemu kalian di sini. Omong-omong sedang apa kalian disini?"


"Kami sedang ada syuting dan kebetulan tadi baru saja selesai makan malam bersama sutradara dan pada crew di sini," jelas Zeta yang memberikan sedikit bocoran.


"Bolehkah aku meminta tanda tanganmu?" Tanyanya.


"Aku juga! Bolehkah aku meminta tanda tangan dan berfoto denganmu?" Pria lain di samping Zeta berujar.


"A-ah ya tentu," sahut Zeta. Kini Cristian dan Zeta mulai di sibukkan melayani penggemar mereka. Di tambah lagi yang awalnya hanya dua orang—tidak, ralat. Tiga maksudnya, dengan si barista. Mereka jadi harus melayani sebagai besar orang-orang disana yang meminta untuk berfoto dengan nya. Saking sibuk nya mereka jadi lupa dengan tujuan mereka yang datang ke tempat itu untuk apa.


Zeta dan Cristian kewalahan karena harus menghadapi banyak nya orang yang meminta tanda tangan dan foto pada mereka, bahkan sampai terjadi sebuah kerumunan yang memadati sekeliling mereka.


...***...

__ADS_1


__ADS_2