Superesse

Superesse
Incontrare


__ADS_3

...***...


"Begitukah?"


"Iya," sahut Ciro yang kemudian menekan tombol disana. Mereka kini harus menunggu sebentar hingga lift yang akan ditumpangi mereka itu terbuka.


"Kalian baru tiba?" Seorang pria mengejutkan mereka dengan suaranya. Lucio dan Ciro menoleh serentak ke arah datangnya suara, dan disana. Disampingnya, mereka mendapati seorang pria yang usianya lebih tua dari mereka tengah berdiri seraya tersenyum kearah keduanya.


Ilario Luigi namanya, seorang sutradara sekaligus produser film senior ternama yang selalu menjadi pusat perhatian. Ia dikenal karena ada banyak film-film yang disutradarai olehnya yang selalu menjadi topik pembicaraan, dan selalu mendapatkan berbagai penghargaan dalam ajang award tahunan.


Ilario adalah seorang pria paruh baya yang merupakan ayah dari dua orang anak, selain merupakan seorang sutradara dan produser film, ia juga merupakan seorang ayah sekaligus suami yang baik.


"A-ah, pak Ilario," Ciro dan Lucio disana tersenyum menyapanya.


"Jadi, kau adalah Lucio? Aktor yang sekarang sedang banyak dibicarakan banyak orang itu? Ternyata kau lebih tampan saat dilihat secara langsung," Ilaro tersenyum simpul.


"Ah, anda terlalu berlebihan. Saya hanya seorang aktor pendatang baru yang bahkan tidak memiliki banyak pengalaman dalam bidang ini. Saya hanya berusaha dengan seluruh kemampuan saya," tutur Lucio.


"Tapi hal itu justru yang membawamu sampai berada di titik seperti saat ini. Menjadi terkenal dan banyak dikenal oleh masyarakat luas."


"Ah iya, setelah perjalanan panjang. Tapi semuanya belum berakhir, karena rintangan yang harus saya hadapi justru semakin besar seiring berjalannya waktu."


"Ya, begitulah hidup. Tapi aku yakin, kau akan bisa bertahan menjalani semua itu."


TING!


Bunyi itu seketika membuat fokus mereka beralih. Pintu itu terbuka dan menampakkan sebuah ruangan kecil yang kini diisi oleh beberapa orang pegawai yang bekerja disana. Begitu pintu itu terbuka, beberapa orang itu berhamburan keluar. Beberapa diantaranya tersenyum pada Ilario saat tatapan mereka bertemu. Begitu lift itu menampakkan ruang kosong, Ilario, Lucio, dan Ciro lantas melangkah masuk kedalam lift.


Tiba di dalam sana, hening seketika menyelimuti kebersamaan mereka. Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir mereka masing-masing sampai kemudian Ciro yang sejak tadi diam memencet tombol disana yang secara otomatis membuat pintu dihadapan mereka tertutup.


"Ehem!" Lucio berdeham disana berusaha memecah keheningan yang menyelimuti kebersamaan mereka. "Omong-omong terima kasih karena sudah mempromosikan ku menjadi pemeran utama dalam film anda," ujar Lucio yang spontan membuat Ilario menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Tidak perlu berterima kasih padaku. Berterima kasihlah pada dirimu sendiri yang sudah berhasil dititik ini. Karena jika kau tidak ada dititik ini sekarang, mungkin takdir tidak akan pernah mempertemukan kita dalam pekerjaan ini." Ilario tersenyum simpul.


"Saya tidak menyangka jika pak Ilario sebijaksana ini," komentar Ciro setelah lama terdiam. Ilario beralih memandangnya dengan senyuman yang sama.


"Kau bisa saja," Ilario terkekeh pelan.


...*...


"Wah lihat, ternyata kalian sudah tiba?" Seorang wanita berucap membuat fokus mereka beralih padanya yang baru saja tiba dengan beberapa orang artis lainnya yang tampaknya akan ikut membintangi film yang hendak mereka mainkan.


"Giorgia?"


"Hai An! Lama tidak jumpa, bagaimana kabarmu?" Tanya wanita yang dipanggilnya Giorgia itu.


"Baik. Kalian baru tiba?" Analia menyahut, matanya menatap lekat Giorgia yang tiba dengan beberapa artis yang lain.


Giorgia Luciano, seorang artis wanita yang terkenal lewat peran-peran antagonisnya. Orangnya cantik, tinggi, putih, seksi, memiliki kelopak mata yang indah, senyum yang menawan, dan rambut panjang sepunggung berwarna sedikit kecoklatan. Walaupun Giorgia terkenal lewat peran-peran antagonisnya, namun sebenarnya ia memiliki kepribadian yang baik. Ia ramah dan mudah akrab.


Giorgia memiliki dua orang sahabat yang selalu bersama dengannya yaitu Sienna Vivaldo dan Fella Alessandro. Mereka bertiga tidak terpisahkan, contohnya seperti saat ini. Giorgia, Sienna, dan Fella terlibat dalam film yang sama dengan Analia.


"Seperti yang kau lihat."


"Jadi… kalian juga ikut terlibat dalam pembuatan film ini?" Analia berujar.


"Iya. Kami juga ikut, omong-omong ada apa? Kenapa aku dengar kalian ribut-ribut?"


"A-ah, bukan apa-apa. Hanya ada beberapa masalah kecil saja antara aku dan Elvera," ujar Analia.


"O-ooh begitu rupanya."


"Iya. Oh, omong-omong bagaimana kabar kalian? Kalian seperti biasa tidak terpisahkan ya," Analia mengalihkan topik pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Ah, ya. Ternyata mau masih mengingat kebiasaan kami," sahut Fella.


"Ya. Tentu saja. Aku tidak akan bisa melupakan kebiasaan kalian yang selalu bertiga dan tidak terpisahkan," Analia tersenyum.


"Oh iya. Kenapa kalian masih disini? Apakah pak Ilario belum tiba?" Tanya Sienna yang sejak tadi hanya menyimak.


"Aku dan Elvera baru tiba jadi kami tidak tahu, mungkin beliau masih diperjalanan?"


"Ooh begitu ya, lalu… bagaimana dengan kau Piero? Apakah kau sudah bertemu dengan pak Ilario?" Sienna beralih pandang pada Piero yang terus menyimak disana.


"Huh? Oh, beliau memang belum tiba. Aku sudah berada disini sejak awal bersama dengan Fito, benar kan Fit?" Piero melirik pada Fito yang kini berdiri disebelah satu aktor lain yang baru saja tiba. Serentak orang-orang itu menoleh kearah pria tampan yang paling tinggi itu.


"Ah ya, aku datang dengannya sejak tadi dan kita belum bertemu dengan pak Ilario. Tampaknya beliau masih berada dalam perjalanan," ucapnya.


TING!


Pintu lift itu seketika terbuka bersamaan dengan suara yang mereka dengar. Serentak orang-orang yang tengah berdiri disana menoleh kearah lift yang kini terbuka. Disana, mereka dapat melihat Ilario sang sutradara yang tengah berdiri bersama dengan dua orang pria lain yang salah satunya tidak asing dalam ingatan mereka.


Begitu pintu itu terbuka, beberapa artis disana berbisik membicarakan sosok pria tampan yang dilihatnya. Lucio, pria yang tengah naik daun, yang wajahnya ada dimana-mana disetiap sudut negara Italia. Pria itu kini berada tepat dihadapan mereka.


"Bukankah dia Lucio?" Sienna berucap, matanya tak henti menatap Lucio yang baru saja tiba disana.


"Benar! Astaga lihat, dia begitu tampan. Bahkan Piero kalah akan ketampanannya," Fella menyahut disana.


"Aku tidak heran jika dia yang terpilih menjadi tokoh utama dalam film ini!"


"Ya kau benar."


"Kita beruntung bisa satu projects dengannya."


"Iya-iya! Kau benar," Fella kehabisan kata-kata untuk menggambarkan perasaannya saat ini. Sementara kedua sahabatnya disana berbisik, beda halnya dengan Giorgia yang kini diam terpaku ditempatnya. Wanita itu tidak dapat berkata-kata, ia hanya bisa mengulum senyum disana.

__ADS_1


...***...


__ADS_2