Superesse

Superesse
L'uomo che la ama ancora


__ADS_3

...***...


"Akhirnya kita sampai," Ciro berucap seraya memarkirkan mobilnya di sana. Ia lantas mematikan mesin mobilnya saat benda itu sudah terparkir rapi. "Ayo keluar," ajak Ciro seraya membuka pintunya bersamaan dengan Lucio yang kini beranjak keluar dari dalam sana.


Ciro berjalan menghampiri bagasi mobil, membukanya kemudian mulai menurunkan satu persatu barang-barang yang mereka bawa. Sementara itu, Lucio saat ini sibuk mencari keberadaan Analia dan pemain lain yang sudah ada disana.


"Tampaknya mereka semua sudah tiba," gumam Lucio yang suaranya dapat di dengar dengan jelas oleh Ciro yang sibuk menurunkan satu persatu koper yang ada.


"Benarkah? Kurasa tidak, coba kau lihat lebih teliti lagi," sahut Ciro santai. Pria itu kemudian menutup pintu bagasi mobil rapat, setelah semua barang-barang di dalamnya ia keluarkan.


"Ya, sepertinya…"


"Sudahlah, ayo pergi. Kita temui pak Ilario, tampaknya beliau sudah menunggu kita sejak tadi," ujar Ciro.


"Baik, ayo pergi," Lucio berjalan memimpin di depan. Sementara itu, di belakangnya, Ciro menggeret koper-koper yang mereka bawa.


...*...


"Ah kau curang sekali! Kau sudah melangkah lebih dulu dibandingkan kita!" Ujar Sienna.


"Ya benar. Kau curang, bagaimana kau bisa mendapatkan nomor ponselnya semudah itu?" Fella menimpali.


"Tentunya aku meminta secara langsung," sahut Analia.

__ADS_1


"Huh? Benarkah? Kalau begitu bisakah kau membagikannya pada kami?"


"Ya, kami juga ingin memiliki nomor telponnya," Sienna menimpali. Analia menatap kedua sahabat Giorgia itu dengan raut wajah bingung.


"Memangnya… untuk apa?" Tanya Analia. Ada jeda di tengah-tengah kalimatnya.


"Untuk apa lagi, tentu saja untuk berhubungan dengannya. Aku ingin berbicara dan mengobrol dengannya."


"Ya. Aku juga. Dan kau juga kan Gie?" Fella menoleh ke arah Giorgia yang sejak tadi sibuk menyimak. Wanita itu tampaknya bingung harus merespon bagaimana tentang pembicaraan mereka, buktinya saja sejak tadi ia terus diam. Beda halnya dengan Elvera. Wanita itu sejak tadi diam karena terus sibuk mengecek semua barang dan jadwal kegiatan untuk Analia. Setelah itu ia harus memberikan instruksi pada supirnya untuk menjemput mereka setelah syuting nya selesai. Dan sekarang Elvera sibuk mengangkut barang-barang Analia ke mobil Van yang akan digunakan sebagai mobil yang nantinya mengantarkan mereka menuju bandara. Ilario tidak mengizinkan para pemainnya untuk pergi ke bandara dengan mobil masing-masing untuk memastikan jika mereka pergi bersama-sama dan tidak ada yang tertinggal, ditambah lagi ia ingin menghemat waktu perjalanan. Karena jika mereka pergi dengan mobil masing-masing dan terpisah, akan memakan waktu lebih lama bahkan hanya untuk bisa sampai di bandara.


"Oh! Lucio!!!" Sienna berteriak heboh saat kedua manik matanya menangkap sosok pria yang tengah mereka bicarakan sejak tadi. Fokus Analia, Fella, dan Giorgia lalu spontan melirik ke arah dimana Sienna menatapnya.


"Lucio!!!" Fella tak kalah heboh, tangannya melambai ke arah pria itu.


"Pergilah, aku harus menyimpan semua ini dan aku juga harus mengecek beberapa hal," ucap Ciro yang berhenti sejenak kemudian menatap layar tablet di tangannya. Lucio yang mendengarnya menoleh sekilas mencoba memastikan. "Jangan menatapku seperti itu, hampiri mereka. Kau juga harus bersosialisasi dan ya… setidaknya dekat dengan salah satu diantara mereka. Terkadang kau juga harus mencari pasangan agar ada orang yang mengurusimu selain aku," ucapnya tanpa melirik sedikitpun.


"Tapi… bagaimana dengan—"


"Tidak usah pedulikan aku. Aku baik-baik saja, oh dan jika kau memerlukan aku. Aku akan berada di Van itu," Ciro menunjuk satu Van berwarna biru. Sebuah Van besar yang luasnya hampir mirip seperti bus.


"Oh baiklah."


"Kalau begitu aku pergi," Ciro menepuk pundak pria itu. Memasukkan kembali tablet ditangannya kedalam tas selempangnya lalu kembali berjalan menggeret koper ditangannya. Sementara itu, Lucio berjalan menghampiri beberapa wanita yang baru saja memanggilnya. Memintanya untuk datang menghampiri mereka.

__ADS_1


...*...


Piero yang baru saja tiba disana lantas keluar dari dalam mobilnya begitu kendaraan itu berhenti. Di belakangnya mobil Fito mengikuti berhenti dan terparkir tepat bersebelahan dengannya.


Piero melepaskan kacamata hitam yang di pakainya begitu ia di luar. Fito mengikuti keluar dari mobilnya, lalu berjalan menghampiri Piero.


"Dimana dia," gumamnya seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia tak menghiraukan kehadiran Fito di sampingnya.


"Wah-wah lihat ini. Tampaknya kau masih belum bisa melepaskan dia," ujar Fito begitu mendapati sahabatnya itu berdiri dengan buket bunga di tangannya. Bunga mawar putih kesukaan Analia, mantan kekasihnya.


"Ah itu dia!" Piero berjalan menjauh dari Fito, tak mengindahkan ucapan pria itu. Bahkan ia sama sekali tidak meresponnya. Bagi Fito sudah hal biasa mendapati perlakuan seperti itu dari Piero, apalagi kala pria yang menjadi sahabatnya itu tengah kasmaran. Dia akan mendadak tuli dan buta. Dia tidak akan menghiraukan sekelilingnya, yang di perhatikannya hanyalah wanita yang menjadi incarannya.


"Tampaknya ini akan menaik. Apa yang akan Analia lakukan? Apakah dia akan menerima kembali Piero menjadi pacarnya?" Fito bergumam. Kedua tangannya di lipat di depan dada. Dan pandangan matanya menatap ke arah Piero yang kini melangkah semakin jauh menuju tempat Analia dan beberapa artis lain nya berkumpul.


Fokusnya beralih ketika melihat manajernya baru keluar dari dalam mobil lainnya. Mereka datang dengan dua mobil yang berbeda. Fito dan Piero sudah janjian untuk mengemudikan mobil masing-masing dan datang dengan mobil yang berbeda dengan manajer dan asisten pribadi mereka.


"Kau urus sisanya," ucap Fito pada wanita yang menjadi manajer nya itu. Memberikan kunci mobil sport yang semula dikemudikannya pada wanita itu. Setelahnya, ia lantas melangkah pergi menuju tempat dimana artis lain berkumpul di dalam gedung. Jujur saja, pria yang satu itu selain tampan dan mempesona juga sangat memperhatikan kulitnya. Ia tidak ingin lama-lama berada di bawah sinar matahari, takut kulitnya hitam.


"Huft~" wanita yang baru saja diberinya kunci mobil itu lantas memijat keningnya pelan. "Kenapa aku harus memiliki adik sepertinya," gumam wanita yang tidak lain adalah kakaknya itu. Wanita dewasa yang selalu tegas dan cerewet namun selalu berusaha sabar menghadapi sikap adiknya yang terkadang masih kekanak-kanakan itu.


"Sudahlah, memikirkan dia membuatku pusing. Lebih baik aku cek kembali semuanya sebelum pergi," ia memonolog. Beranjak menghampiri asisten-nya yang baru saja menurunkan semua barang bawaan mereka. Ia lalu mengecek semua barang-barang disana dengan teliti.


...***...

__ADS_1


__ADS_2