
...***...
"Dove stiamo andando?" Wanita itu bergumam dengan suara yang amat manja, berujar tepat di depan wajah pria itu.
(Dove stiamo andando?/ Kemana kita akan pergi?)
"Giochiamo nella tua stanza, piccola. Se giochiamo dentro la mia stanza Flavia ci disturberà," ujar Fito yang kemudian mengencangkan pelukan nya pada pinggang wanita itu, membuat jarak nya semakin berdekatan satu sama lain.
(Giochiamo nella tua stanza, piccola. Se giochiamo dentro la mia stanza Flavia ci disturberà/ Mari bermain di dalam kamar mu, sayang. Jika kita bermain di dalam kamar ku, Flavio akan mengganggu kita.)
"A-ah, okay," ujar wanita itu terbata. Wajahnya merona kala Fito berbicara dengan sedikit berbisik, wajah tampannya benar-benar berhasil membuat jantung nya berdebar.
"Ayo pergi," gumam nya lagi yang kemudian di angguki oleh wanita itu. Detik berikut nya mereka melangkah menuju arah di mana ruang hotel wanita itu menginap.
...*...
BLAM!
Pintu kamar nya itu di tutup begitu mereka tiba di dalam. Tanpa aba-aba lebih dulu pria itu langsung menyambar bibir nya begitu saja, **********. Memainkan lidah nya dalam mulut wanita itu. Wanita itu tak menolak setiap perlakuan nya, ia malah sama ganas nya dengan pria itu. Semakin dalam ia rasakan pria itu mencium bibirnya. Tangan nya memegangi tengkuknya, membuat dirinya tidak bisa bernapas.
Fito memutar tubuh wanita itu, menuntun nya menuju arah ranjang tidur berukuran besar di sana. Menjatuhkan tubuhnya di sana, lalu dengan semakin bernafsu nya ia mencium wanita itu.
Ciuman nya ia lepas ketika kedua nya mulai kehabisan pasokan udara. Napas mereka terengah-engah, untuk sesaat beradu pandang dalam jarak yang sangat amat dekat. Hanya satu centimeter lagi, hidung mereka nyaris bersentuhan.
"Portami a volare al piacere, bello," gumam wanita itu dengan kedua tangan nya memegangi kedua pipi milik Fito.
(Portami a volare al piacere, bello./ Bawa aku terbang menuju kenikmatan, tampan.)
__ADS_1
Mendengar suara nya membuat Fito semakin bernafsu untuk menerkam nya. Sebelah sudut bibir nya terangkat membentuk sebuah smirk.
"Seperti apa yang kau inginkan sayang," gumam nya yang kemudian ******* bibir nya. Mencium nya lebih dalam dengan penuh *****.
Tangan Fito mulai bergerak dengan penuh gairah menjamah setiap inchi tubuh nya. Ia menggelinjang setiap kali tangan Fito menyentuh area-area sensitif pada tubuh nya.
"Ah, davvero non ne posso più!" Gumam nya, menghenti kan aksi nya.
(Ah, davvero non ne posso più/ ah, aku sudah tidak tahan lagi!)
Fito bergerak melepaskan kancing kemeja nya menampak kan tubuh seksi berotot nya secara utuh. Dirinya merangkak menaiki ranjang, menindih tubuh wanita itu dibawahnya. Ia kembali menciumi leher jenjangnya. Wanita itu kini tampak mulai menikmati permainannya pada tubuhnya. Ia beranjak bangkit, melepaskan kemeja nya. Setelah kemeja nya lepas, kemudian tangan nya beralih melepaskan ikat pinggang yang mengikat celananya. Malam itu ia menghabiskan malam nya dengan penuh gairah dengan nya.
...*...
Kini Giorgia, Sienna, Fella, dan Jolanda di sibukkan mengobrol, membicarakan banyak hal yang tak jarang membuat mereka tertawa. Jolanda disana kini beralih menatap orang-orang yang berdansa tak jauh dari tempatnya berada. Berdansa dengan alunan musik yang membuat nya ingin ikut untuk bengun dan berdansa di sana.
"Ide yang bagus. Kalau begitu aku ikut," ujar Sienna menanggapi.
"Bagaimana? Kalian ikut?" Sienna beralih pandang pada Giorgia dan Fella.
"Aku tidak ikut," tolak Fella. Begitu pula dengan Giorgia yang menggelengkan kepala nya pertanya tidak setuju.
"Bagaimana denganmu An?" Tanya Jolanda beralih pada Analia yang termenung di sana.
"Aku tidak ikut. Kalian saja," sahut Analia seraya menggelengkan kepala nya.
"Baiklah kalau begitu kita saja yang berdansa. Ayo," Jolanda beranjak bangun bersama dengan Sienna. Ke dua nya kini berjalan menuju dance floor dan mulai berdansa. Berbaur dengan beberapa orang lain yang juga berdansa di sekeliling mereka.
__ADS_1
"Oh omong-omong, aku permisi dulu ya. Aku ingin ke toilet," Giorgia beranjak dari sana.
"Tunggu! Aku ikut. Aku juga ingin ke toilet," Fella beranjak bangun mengikuti Giorgia. Analia yang melihatnya seketika was-was di buatnya.
"Tunggu. Jangan tinggalkan aku sendiri di sini," Analia mencengkeram pergelangan Giorgia di sana. Menahan langkah wanita itu agar tidak pergi meninggalkan nya seorang diri di sana. Giorgia menoleh ke arah nya.
"Tenang saja. Aku dan Fella hanya sebentar, kami tidak akan lama."
"Benar. Lagipula kan kau tidak akan sendirian disini. Kan ada Piero," Fella menimpali. Fokus mata nya menoleh pada Piero yang kini terduduk santai di sana.
"Tapi…" Analia resah.
"Sudahlah. Kami tidak akan lama, kau tunggu saja sebentar di sini. Dan temani Piero. Jangan biarkan dia sendirian di sini," Giorgia beranjak dari sana.
"Ya, benar! Jangan biarkan dia sendirian." Fella menimpali.
"Ta-tapi…"
"Sudahlah, kami janji tidak akan pergi lama! Kau tenang saja. Lagipula Piero tidak akan menggigitmu, meskipun kita meninggalkan mu berdua dengannya!" Teriak Giorgia yang dapat di dengar nya dengan sangat jelas oleh mereka.
Keduanya melenggang pergi meninggalkan Analia berdua dengan Piero. Dan kini hanya tersisa diri nya saja dengan Piero. Analia terdiam memandangi ke mana arah kedua orang wanita itu hilang di sana. Rasa canggung semakin jelas ia rasakan, dan rasanya ia benar-benar ingin pergi saja dari sana.
"Memang aku tidak menggigit. Aku hanya menerkam, apalagi ketika aku sedang sangat lapar dan bernafsu," Piero membatin menanggapi ucapan Giorgia barusan.
Piero menyeringai, ia benar-benar senang karena bisa berduaan dengan Analia seperti saat ini. Perlahan ia bergerak, mengisi shot glass milik nya dengan minuman yang di pesan nya. Ia lalu mengeluarkan sesuatu dari balik jas yang di kenakan oleh nya. Sebuah botol yang semula di tunjukkan oleh nya pada Fito. Ia menuang kan isi nya pada shot glass-nya kemudian menggoyang kan agar larut dengan minuman nya.
Setelah mengisi shot glass nya dengan isi dari botol yang di bawa nya, ia lantas bergeser mendekat ke arah di mana Analia saat ini duduk. Sudah waktu nya ia menjalan kan aksi nya. Ia sudah tidak tahan lagi terus menahan gejolak ingin memiliki Analia yang terus saja melekat dalam diri nya. Ia benar-benar ingin wanita itu menjadi milik nya. Hanya milik nya seorang. Dan ia rela melakukan apapun agar Analia bisa menjadi milik nya.
__ADS_1
...***...