
...***...
"PIERO!" Teriak nya, memanggil pria yang kini tengah berjalan menyusuri koridor itu. Sosoknya lantas berhenti dan menoleh ke arah nya spontan. Dan di sana, di belakangnya. Piero dapat melihat sahabatnya, Fito yang sudah berpakaian rapi dengan rambut klimis nya. Berjalan menghampiri dirinya.
"Aku kira kau sudah berangkat sejak tadi. Ternyata kau juga baru berangkat," tuturnya begitu tiba tepat di hadapan Piero.
"Ah, aku bangun kesiangan karena terlalu banyak minum semalam," sahutnya.
"Pantas saja."
"Tampaknya kau menghabiskan malam yang menyenang kan tadi malam," sindir nya seraya melirik ke arah rambut sahabat nya itu yang kini basah. Tampak jelas jika ia baru saja selesai mandi dan berpakaian tanpa sempat mengeringkan lebih dulu rambut nya.
"Haha, tentu saja. Tadi itu benar-benar malam yang luar biasa," ucap Fito sembari terkekeh pelan di sana.
"Benarkah?"
"Ya. Dia benar-benar wanita yang luar biasa, dan… liar?" Fito mencari kalimat yang cocok untuk menggambarkan wanita yang di temui nya di bar tadi malam.
"Oh, tampaknya kau sangat puas dengannya."
"Ya, tentu saja. Oh, omong-omong bagaimana dengan rencana mu itu? Kau semalam bertemu dengan Analia di bar kan?" tanya Fito.
"Ya, memang. Tapi gagal!" Ujar Piero yang tampak kesal.
"Huh? Tapi bagaimana bisa?" Fito menatapnya bingung.
__ADS_1
"Karena Lucio tiba-tiba saja datang dan mengacau kan semua rencana ku. Dia menarik Analia keluar dari bar. Dan aku benar-benar kesal karena nya. Apalagi Analia malah menampak kan ke mesraan nya dengan Lucio."
"Begitu ya."
"Sudahlah, lebih baik sekarang kita jangan bicarakan ucapannya," tutur Piero yang tampak malas.
"Baiklah, kalau begitu ayo pergi. Aku yakin yang lain sudah menunggu bersama para crew dan pak Ilario," Fito dan Piero mempercepat langkah kakinya. Berjalan menuju tempat dimana mereka akan melakukan pertemuan dengan artis lain dan crew serta sutradara nya.
...*...
"Duduklah," ujar Flavia pada wanita yang baru saja selesai berpakaian itu. Di ruang tengah kamar hotel tempatnya berada saat ini, Flavia duduk di sebuah sofa yang ada disana dengan meja berbentuk bulat yang di atas nya terdapat makanan yang telah di pesannya untuk wanita itu.
Wanita itu melangkah menghampiri Flavia lalu duduk tepat bersebelahan dengannya di satu sofa lain yang ada di sana.
"Aku sudah memesankan sarapan untukmu. Jadi makanlah sebelum kita bicara," kata Flavia yang kemudian meneguk satu cangkir kopi yang di pesannya.
Selesai makan, baru Flavia mengajaknya untuk berbicara serius mengenai apa yang terjadi tadi malam. Mengenai apa yang telah di lakukan oleh adik semata wajah nya yang brengsek dan kurang ajar nya minta ampun itu. Bukan pertama kalinya pria itu melakukan hal seperti ini yang ujung-ujungnya harus dirinya yang menyelesaikan semua nya agar tidak terjadi skandal yang mampu membuat karier nya hancur.
Sebagai seorang kakak, Flavia adalah tipikal orang yang sangat protektif pada adiknya. Apalagi setelah apa yang di alami mereka sejak kecil, membuat nya benar-benar harus bergantung satu sama lain.
Sejak kecil, Fito dan Flavia sudah terbiasa hidup sendiri tanpa kasih sayang kedua orang tua mereka. Sebenarnya orang tua mereka masih hidup, hanya saja mereka terlalu sibuk dengan urusan lain yang membuat anak-anak nya terlantar tak di urus nya.
Sejak saat kecil, Flavia yang menyadari adanya bakat terpendam dari adik nya lalu terus mensupport-nya. Bahkan Flavia lah yang sejak kecil mengurus Fito, membiayai sekolah serta kuliahnya hingga selesai dan menjadi bintang seperti saat ini. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, sikap Fito mulai meniru sang ibu mereka yang suka bermain dengan pria lain tanpa peduli dengan status yang di miliki oleh nya. Hal itulah yang membuat kedua orang tua mereka akhir nya memutuskan untuk berpisah dan mengurus hidup masing-masing. Yang pada akhir nya malah berujung mereka anak-anaknya yang terlantar.
"Apa yang ingin kau bicarakan? Apakah kau ingin meminta aku untuk tutup mulut mengenai semua yang terjadi semalam?" Tanya nya yang lantas menoleh ke arah Flavia di samping nya.
__ADS_1
Flavia menoleh, ia menatap wanita itu lekat. Wanita itu memang cantik. Tubuhnya seksi dan kulit nya mulus. Sial! Adiknya benar-benar pintar dalam mencari mangsa. Saat ini Flavia tengah mengumpati adiknya karena terus membuat nya harus terjebak dalam ke adaan yang paling di benci nya.
"Aku hanya ingin kau—"
"Tenang saja. Aku tidak akan membicarakan ini pada siapapun," wanita itu memotong ucapan nya membuat Flavia terkejut mendengar perkataan nya. Ia menatap wanita itu semakin lekat sementara yang di tatap nya kini menunduk kan kepala nya.
"Aku juga tidak ingin aktor yang aku idolakan itu sampai terjebak masalah hanya karena aku menjelas kan pada media mengenai apa yang terjadi. Toh, lagipula kita melakukannya karena saling tertarik satu sama lain bukan? Jadi, ini bukan suatu masalah bagiku," ujar wanita itu. Flavia di sampingnya melongo mendengar setiap kata yang baru saja berloncatan keluar dari gigi dan bibirnya. Wanita itu berbicara dengan sangat ringannya. Berbicara seolah semua yang dialaminya bukankah hal yang terlalu berat baginya.
"Aku benar-benar tidak menyangka dengan apa yang aku dengar. Apakah kau serius dengan apa yang baru saja kau ucapkan itu?" Tanya Flavia memastikan. Wanita itu mendongak lantas menatapnya penuh keyakinan.
"Iya. Memangnya kenapa? Apakah kau membutuhkan jaminan untuk memastikan agar aku bisa di percaya?" Tanya wanita itu.
"Ah, tidak. Aku percaya padamu. Hanya saja, rasanya aneh. Baru kali ini aku mendengar ada seorang wanita yang berbicara seperti itu setelah…" Flavia menggantung ucapannya. Tidak perlu di perjelas apa yang akan di ucapkan olehnya.
"Ya. Memang terdengar aneh, tapi inilah pilihan ku," tuturnya.
"Terima kasih karena kau sudah mau bekerja sama," ujar Flavia.
"Iya. Sama-sama."
"Oh, tampaknya aku harus pergi sekarang. Kalau begitu selamat tinggal, aku harap kita tidak pernah bertemu lagi. Tapi aku senang bisa bertemu dengan wanita seperti dirimu," tutur nya yang kemudian beranjak bangun dari tempat duduk nya.
"Iya. Selamat tinggal," sahut wanita itu seraya tersenyum simpul.
"Kalau begitu aku pamit." Flavia beranjak bangun dari sana, meninggalkan wanita itu seorang diri di dalam sana.
__ADS_1
"Aku pikir awalnya ini akan sulit, tapi ternyata malah sebaliknya. Ini bahkan terlalu mudah untuk aku selesaikan," Flavia membatin. Ia terus melangkah menyusuri koridor.
...***...