
tok..tok..
Nisha menoleh ke arah pintu, dimana ia melihat sosok Agam berdiri dengan senyum lebar.
"Mas Agam?" Nisha menutup catatan di komputernya, lalu berdiri dan melepaskan jas putih yang telah 9 jam membalut tubuh. Ia menggantungkan jas tersebut di belakang kursinya.
"Sudah waktunya pulang, sayang." Agam langsung merengkuh kan pelukan kepada sang istri, hingga tubuh wanita itu tenggelam dalam dada bidangnya.
"Mas kenapa kesini? Kan aku bawa mobil." Nisha membalas erat pelukan sang suami. 9 jam tidak bertemu membuat rasa rindu diantara mereka membumbung tinggi.
"Ini sudah terlalu larut, mana bisa Aku membiarkanmu pulang sendirian." Wajah Agam tampak sangat khawatir. Namun kedua tangannya sudah melaju menelusuri kemeja Nisha.
"Besok-besok ambil libur nya barengan ya, aku bosan menghabiskan waktu seharian tanpa kamu sayang.."
"Mas, jangan disini..." Lirih Nisha menahan, jemari Agam yang tengah membuka kancing kemeja Nisha langsung terhenti.
Nisha mengusap halus dada suaminya itu, kemudian tersenyum manis. Senyum yang dengan mudah membuat Agam kehilangan akal.
"Pulang dulu yuk, aku gerah, mau mandi dulu biar wangi..." Bisik Nisha sambil menggigit kecil ujung jari Agam, yang tengah membelai belai bibir tipisnya.
-
Jam menunjukkan pukul 00:30 dini hari ketika mobil Agam sampai dirumah. Ia langsung menggendong Nisha yang baru saja menapakkan kaki di atas lantai garasi.
"Mas, nanti dilihat Lukka." Ujar Nisha berusaha melepaskan diri. Namun tak bisa, karena Agam tak menghiraukannya.
"Dia sudah tidur, sayang..." Agam membawa tubuh Nisha melalui pintu dalam garasi, yang langsung tembus pada dapur rumah itu.
"Mas, stop.. bentar.. Aku mau minum dulu."
"Mau minum apa..?" Goda Agam seraya memainkan matanya. Ia membuat Nisha duduk di atas meja bar.
"Air putih, yang dingin." Pinta Nisha manja, ia mengayunkan kedua kakinya. Menyuruh Agam mengambilkan sebotol air dingin di kulkas.
"Air putih hangat mau? Cocok kalau malam begini..." Lirih Agam membelai lembut kedua paha sang istri. Bukannya mengambilkan air, ia malah membungkam bibir Nisha dengan cium4n hangat membara.
Nisha pun jadi tak berkutik, rasa haus dikesampingkan. Ia membiarkan suami memuaskan dahaga. Dengan cekatan ia mengimbangi permainan Agam. Kedua tangannya meraba syahdu, membuat gairah Agam semakin menggebu.
braak...!
__ADS_1
Sebuah botol air mineral terjatuh, membuat pasangan suami istri itu terhenti dari aktivitas panasnya.
Mereka menoleh ke arah dapur, beberapa meter dari sana, tampak Yasmine yang tengah berbalik menghadap kulkas.
"Mati aku..!" Rutuknya kebingungan. Ia menjatuhkan botol air karena terkejut dengan pemandangan yang di suguhkan Agam dan Nisha.
Dua insan yang tengah berpagut mesra itu membuat Yasmine lupa, bahwa dirinya orang buta. Seharusnya ia melewatkan saja peristiwa sakral itu.
Demi menutupi kejadian itu, Yasmine berjongkok dan meraba-raba lantai. Suasana tak begitu gelap, ia juga nampak jelas dimana botol air mineral berwarna hitam itu. Namun ia tetap meraba seolah mencari benda tersebut.
Tak ingin dikatungkan gairah, Agam membekap kembali tubuh sang istri, berniat melanjutkan aktivitasnya. Namun dengan cepat Nisha mengelak.
"Mas, ke kamar aja yuk." Ia melirik Yasmine yang tengah berjalan menuju kamarnya. Ia tau pasti Yasmine terkejut. Namun betapa profesional Yasmine saat berpura-pura tak melihat apapun.
Agam mengikuti ekor mata Nisha, yang memandang ke arah gadis buta itu. "Santai saja, dia kan buta." Ia memenangkan Nisha, yang tampak memasang wajah canggung.
Nisha turun dari meja, kemudian merapikan kemejanya yang berantakan bak habis di terjang topan. Rambutnya pun demikian.
"Tapi dia bisa mendengar gerak gerik kita, Mas. Malu ah.."
"Tunggu, kok dia bisa tau kulkas kita ada disana?" Bisik Agam menatap curiga. Padahal belum genap 24 jam Yasmine berada di rumah itu. Tak salah jika Agam merasa aneh.
Tak tau saja ia, apa saja yang telah di lakukan Agam dan Lukka seharian ini kepada Yasmine.
...~...
Pagi menjelang siang...
Agam, Nisha dan Yasmine tiba disebuah Rumah Sakit. Pasangan suami istri itu sengaja memilih Rumah Sakit lain, karena ini menyangkut aib keluarga. Mereka tak ingin desas-desus kurang sedap menyapa telinga mereka semasa bertugas.
Kini mereka bertiga sudah duduk menghadap Dokter SpOG. Melakukan pemeriksaan awal.
"Pak Agam Dinansyah, dan ibu Yasmine Auzora. Ingin melakukan pemeriksaan untuk proses bayi tabung, betul?" Tanya sang Dokter pria berkacamata kotak itu. Ia membaca daftar yang telah diajukan Nisha dua hari yang lalu.
"Benar." Sahut Agam bernada gamang. Ia tak yakin sepenuhnya dengan keputusan ini. Berulangkali ia melirik ke arah Nisha, barangkali wanita itu berubah pikiran. Namun Nisha tampak tenang, tak ada tanda-tanda yang diharapkan Agam.
"Sudah berapa tahun menikah?" Lanjut Sang Dokter, ia perlu mengajukan pertanyaan mendasar ini, agar lebih mudah mengenali kondisi dan kemampuan pasiennya.
"Sepuluh tahun." Jawab Agam, lagi-lagi ia melirik tipis ke arah sang istri yang duduk di kursi dekat tirai. Jaraknya satu meter dari meja Dokter.
__ADS_1
"Baik, pertama-tama kita harus melakukan pemeriksaan dasar. Ibu Yasmine, silahkan naik ke atas ranjang. Kita akan melakukan USG Transvaginal." Sang Dokter beranjak, duduk ke sebelah ranjang.
Sementara salah seorang suster tampak sedang memasangkan kond0m ke alat USG tersebut.
Nisha pun bangkit, ia memapah Yasmine ke arah ranjang yang di maksud.
"Tunggu, apa alat itu akan..?" Yasmine menunjuk ke arah paha, tenggorokannya tiba-tiba tersendat saat melihat alat berukuran kurang lebih 25 cm tersebut.
Agam langsung menoleh, menatap Yasmine yang masih menyorotkan dua bola matanya tanpa arah.
"Alat apa? Memangnya kau melihat itu?" Protes Agam seolah semangat membongkar kebohongan Yasmine.
"Aku tau alatnya, aku menjadi orang buta baru kemarin. Jadi aku tidak buta seutuhnya." Bisiknya dengan nada ketus, hampir saja ia ketahuan.
"Aku tau kau hanya pura-pura..."
"Apa itu tidak akan menganggu selaput dara?" Sela Yasmine memotong, ia merasakan ngilu di area sensitifnya membayangkan alat itu.
Baru terpikirkan, bagaimana bisa ia merelakan kegadisannya pada benda mati itu?
"Hah..?" Sontak saja Dokter dan perawat di ruangan tersebut bingung. Sudah menikah sepuluh tahun, kenapa masih mengkhawatirkan selaput dara.
"Begini Dokter, saya sudah menikah selama 10 tahun dengannya." Agam menunjuk Nisha, "Wanita ini yang akan menggantikan istri saya mengandung." Imbuhnya kemudian.
Mendengar penjelasan pendek tersebut, Dokter dan para suster mengangguk paham. Kini mereka tahu kondisinya.
"Ada apa Yasmine? Katakan saja kalau kau belum siap." Lirih Nisha, ia juga tak membayangkan bahwa Yasmine masih memiliki simbol kegadisan tersebut.
"Jadi ibu Yasmine belum pernah melakukan hubungan intim?" Tanya Dokter.
Entah kenapa pertanyaan itu terasa sangat canggung, hingga membuat tubuhnya meremang. "B..belum." Jawabnya gugup.
"USG transvaginal kemungkinan besar akan membuat robekan pada selaput dara. Memang tak semua wanita virgin memiliki selaput dara, tapi wanita yang memiliki selaput dara, mungkin akan dikategorikan tak lagi virgin karena robekan tersebut."
"Aku belum siap...!" Ucap Yasmine memotong penjelasan sang Dokter. Ia pikir prosesnya hanya melalui suntik dari bagian perut, yang bisa langsung menembus rahim. Ternyata proses itu mengharuskan area intimnya di ob0k ob0k.
Betapa bodohnya ia saat langsung menyetujui permintaan Nisha, tanpa tau proses detailnya.
...***********...
__ADS_1