Tak Mau (Jadi) Yang Kedua

Tak Mau (Jadi) Yang Kedua
Episode 36 : Ada Kutu


__ADS_3

Yasmine sedikit terkejut mendengar pertanyaan tak terduga itu. Apa tujuannya Agam menanyakan hal itu?


"Tidak, kenapa?" Agam bukan hendak menikahinya kan? Bukan berharap, hanya saja Yasmine jadi berpikir kemana-mana karena pertanyaan mendadak itu.


"Sebenarnya..." Agam mengambil jeda sejenak. Ia berpikir, daripada menggunakan cara yang bisa membahayakan Yasmine dan anaknya, kenapa tidak jujur saja?


Nafas Yasmine tertahan di kerongkongan, mendengar kata sepenggal Agam. "Aku tidak mau menjadi istrimu..!" ucapnya mencela.


Agam langsung menoleh sinis ke belakang, "Memangnya siapa yang mau menikahimu?"


"Lalu apa? Kata-kata anda membuatku merinding. Aku tidak mau mengkhianati Bu Nisha. Jika anda punya pikiran seperti itu buang jauh-jauh. Aku tak sudi menjadi istri anda."


"Kau pikir aku mau menyakiti istriku dan menikahi organisme sepertimu? Kau yang harus membuang jauh-jauh pikiran mu!" tegas Agam membelalak, bisa-bisanya gadis pengacau itu punya pikiran melenceng. Entah terbuat dari apa otaknya.


"Dengarkan aku," lanjut Agam menyudahi perdebatan.


"Mama ku itu punya pikiran yang sempit dan kolot. Dia terus memintaku menikahimu, karena kau bisa memberikan keturunan. Aku sudah menolaknya, tapi dia tak mau mendengar, dan mengatakan ini demi kebaikanmu. Jika kau yang menolak langsung pada Mamaku, sepertinya dia akan mengerti. Katakan kau punya kekasih, dan tidak mau menikah denganku."


"Memang aku tidak mau!" ucap Yasmine bersedekap cemberut. Siapa yang mau menikahi pria bermulut tajam itu.


"Kalau nanti dia menyinggung pembicaraan ini, tolak mentah-mentah. Aku tak mau rumah tanggaku dengan Nisha berantakan. Kau mengerti kan?" Agam menghembuskan nafas lega karena bisa mengatakan ini langsung.


Kenapa tidak dari kemarin saja ia bertindak seperti ini? Ia terlalu menyimpan dendam kepada Yasmine, hingga ingin mencemarkan nama gadis itu. Pada akhirnya malah ia yang kena getahnya.


"Kalau dia memaksa bagaimana?" tanya Yasmine bingung.


"Lalu kau mau meski terpaksa?" lirih Agam menekan rahangnya, kenapa gadis itu lemot sekali. Harusnya apapun yang terjadi, ia hanya perlu menolak.


"Tidak..! Maksudku secara logika, memangnya ada pria yang merelakan kekasihnya mengandung anak pria lain?"


Mustahil kan kalau Ambar percaya begitu saja. Yasmine tak mau beralasan tanpa bukti yang kuat. Apalagi Ambar menyuruh mereka menikah dengan alasan, agar masa depan Yasmine tetap utuh. Andai saja benar-benar ada pria yang mau menikahinya, maka ia akan membawakan pria itu ke hadapan Ambar.


.


.


Sampailah mereka berdua ke rumah. Di ruang keluarga tampak Nisha tengah membaca majalah. Ia menutup majalahnya saat melihat Agam dan Yasmine turun bersama.


"Ingat, jangan katakakan apapun." Agam berbisik dengan gerakan bibir seminim mungkin. Yasmine pun mengangguk.

__ADS_1


Interaksi rahasia itu membuat Nisha sedikit mengerutkan alis. Apa kiranya yang dikatakan Agam? Sampai Yasmine tampak gugup seperti menyembunyikan sesuatu.


"Kalian darimana?" tanya Nisha menyandarkan bahu pada daun pintu. Majalah ditangannya tanpa sadar tergenggam kuat. Wajar saja kalau Nisha cemburu kan? Apalagi sejak omongan mertuanya, yang mengatakan hahwa Yasmine lebih pantas menjadi pendamping Agam.


"Tadi kami bertemu di jalan, jadi aku sekalian membawanya." jawab Agam sambil meletakkan sepatu ke dalam rak.


"Motor kamu mana?" tanya Nisha kepada Yasmine. Ia tau tadi gadis itu berpamitan ke kontrakan dengan motornya. Lagipula setaunya kontrakan Yasmine tidak searah dengan rumah sakit Kasih Ibu.


"Di..." Yasmine hendak bicara, namun terpotong oleh Agam.


"Motornya bocor, aku sudah menyuruh orang mengurus itu." Lagi-lagi Agam yang menjawab, padahal pertanyaan itu untuk Yasmine.


"ohh," Nisha tersenyum tipis. Banyak sekali pertanyaan yang membubuhi benaknya. Namun ia menepis itu. Ia percaya Yasmine dan Agam tak mungkin mengkhianati kepercayaannya.


Agam berjalan menuju kamar, Nisha pun mengikuti. Ia akan menyiapkan air hangat untuk suaminya mandi. Lelah bekerja seharian pasti membuat otot-otot kaku.


Setibanya dikamar, Agam melepaskan semua pakaiannya. Rasanya gerah sekali. Ia ingin cepat-cepat mengguyur badan di bawah shower.


"Tangan kamu kenapa, Mas?" Nisha mengambil lengan sang suami, dan memperhatikan garis merah yang memudar.


"hah..? Iya ya, kenapa ya..?" Agam berpura-pura tidak tau. Untuk beralasan pria ini memang sangat payah.


Agam mengecup kening Nisha dengan lembut, "Aku mandi dulu..." senyum manis ia suguhkan, membuat hati Nisha kembali tentram dari segala praduga.


Nisha membalas senyum itu, sambil membenahi pakaian Agam ke dalam keranjang cucian. Saat merogoh saku celana, Nisha menemukan kunci motor disana.


"Mas, ini kunci motornya Yasmine?"


"Iya, sayang." jawab Agam dari dalam kamar mandi.


"Kenapa tidak dikembalikan?" seru Nisha, mungkin saja suaminya itu lupa.


"Biar saja, aku menahannya."


"Kenapa..?" Nisha berpikir tindakan suaminya itu akan membuat Yasmine tidak nyaman.


"Agar dia tidak keluyuran." jelas Agam, lagipula ia perlu memberikan kunci itu kepada orang suruhannya, untuk membawa motor Yasmine ke sini.


Nisha memandangi kunci motor tersebut. Jadi apa yang sebenarnya terjadi? Motor Yasmine bocor, tapi kuncinya malah di bawa oleh Agam?

__ADS_1


.


.


Yasmine baru saja selesai mandi. Rasanya segar sekali setelah tadi berlarian mengejar Agam yang digeruduk polisi. Ia membaringkan tubuh ke atas kasur.


"uuhh... pinggangku. Kasur disini benar-benar surgawi." gumamnya menggeliat nikmat.


tok..tok...


"Kak..." panggil Lukka dari celah pintu kamar.


Yasmine membalikkan tubuh menghadap pintu. "Apa..? Masuklah."


Anak besar itu berlari kecil dengan sesuatu disembunyikan di balik punggung. "Tebak, Lukka bawa apa?"


"Bakso goreng?" wajah Yasmine sudah berbinar membayangkan makanan.


"tada..." Lukka mengeluarkan sepasang kalung, yang liontin nya terbuat dari cangkang siput kecil.


"wahh.. Apa itu..?" bola mata Yasmine bergerak mengikuti liontin yang bergoyang.


"Tadi disekolah Lukka membuat kerajinan, jadi Lukka membuat ini dua." Ia memakai miliknya, kemudian menyerahkan satu untuk Yasmine.


"Cantik sekali..." Yasmine dengan senang hati menerima cindera mata tersebut. Bentuknya sangat unik.


"Mau Lukka pakaikan?"


"Boleh..." Yasmine memberikan kalung itu lagi kepada Lukka.


Anak besar itu maju sedikit dan menyibakkan rambut Yasmine yang masih lembab. Tapi entah kenapa, saat melihat tengkuk Yasmine ia malah teringat kejadian kemarin, saat baju Yasmine terbuka olehnya. Ia sontak mundur dan melepaskan kalung itu.


"Kenapa...?" Yasmine terkejut, karena raut wajah Lukka yang tiba-tiba berubah.


"itu... rambut kakak ada kutunya." ucap Lukka, kemudian berlari keluar kamar. Ia benar-benar gugup dan tak bisa menahan diri.


"hhahhh...??" Yasmine langsung mengambil sisir dan hairdryer, untuk memanggang kutu yang disebutkan Lukka.


"Darimana aku dapat kutu? Kok bisa? Perasaan tidak ada rasa gatal-gatal." gumamnya sambil menyisir rambut dengan kecepatan penuh.

__ADS_1


...***********...


__ADS_2