
Hari paling membahagiakan pun tiba. Hari yang sebelumnya tak pernah terbayangkan akan terjadi. Hari dimana dua insan yang dipertemukan dalam keadaan tak terduga, kini akan menikah.
Lukka terlihat berdebar, kedua tangannya berkeringat. Meski begitu ketampanannya tetap memancar. Dibalut setelan jas hitam yang mewah, pria berusia 29 tahun itu tampak sangat berdebar karena akan melepaskan masa lajangnya.
Di ruangan lain pula, tampak Yasmine telah siap dengan riasan simpel, namun tetap menonjolkan aura mewah. Rambutnya di sanggul kecil kebelakang, dengan mahkota kristal mengkilap di atasnya. Tubuhnya yang indah bertambah memesona dalam balutan gaun berwarna putih. Svaroski menjalar di setiap inci gaun itu, membuat ia terlihat bak seorang Princess.
"Anda pasti sangat gugup." ujar perias yang tengah memoleskan blush-on.
"Iya..,aku sangat gugup." jawab Yasmine berdesis kecil. Ia merasa merinding dan gugup sekali. Sekaligus merasa haru dan sedih, karena dihari bahagia ini, tak ada satupun keluarga yang mendampinginya.
Setelah selesai dengan riasannya. Yasmine dipanggil keluar, karena calon mempelai pria sudah siap.
Ia berdiri perlahan, disingkapnya ujung gaun yang menutupi kaki. Dihari sakral ini, sungguh ia berjalan seorang diri?
"Ayah... Ibu... lihatlah putrimu dari atas sana. Doakan semoga pernikahanku membawa berkah dan bahagia..." lirihnya dengan dua netra berkaca. Ia tersenyum lebar untuk menguatkan diri sendiri.
Ia pun keluar dari ruangan rias itu. Dari balik dekorasi bunga yang mewah, ia bisa melihat Lukka sudah siap, didampingi seluruh keluarganya.
Sebenarnya Ambar sudah menawarkan diri untuk mendampingi Yasmine menuju mempelai prianya, namun di tentang oleh para tetua, karena tradisi. Keluarga pria haruslah berdiri di Altar, untuk menyambut mempelai wanita.
Yasmine tak punya pilihan, ia harus tegar berjalan sendiri menuju mempelainya. Ia bahkan tidak punya teman, ataupun sekedar rekan. Jika ia mengundang teman kerjanya dulu, itu hanya akan menjadi cibiran. Karena yang mereka tau, Yasmine telah menikah. Untuk itu Yasmine tak mengundang siapapun temannya. Hanya Pak Basir yang ia undang, sebagai saksi pernikahan.
Di sepanjang jalan menuju Altar, sudah siap orang-orang yang akan menaburkan bunga saat Yasmine lewat nanti.
Yasmine pun melangkahkan kaki, dengan mata berkaca-kaca. Rasa bahagia dan sedih bercampur jadi satu.
"Tunggu...." potong seseorang, membuat langkah Yasmine terhenti. Ternyata itu Nisha, ia datang dengan gaun coklat sambil membawakan seikat bunga mawar merah muda.
Agam yang melihat itu langsung dipenuhi harapan, akankah Nisha berubah pikiran? Apa kedatangannya kesana untuk membatalkan gugatan cerai?
"Biarkan aku mendampingimu..." ujar Nisha tersenyum lembut. Ia memberikan buket kepada Yasmine, dan Yasmine menerima itu sambil terharu.
"Bukankah anda seharusnya berdiri disana?" Yasmine menunjuk barisan keluarga Lukka dengan pandangannya.
"Tidak, Aku sudah bukan bagian keluarga mereka. Aku bisa mengantarkanmu kepada calon suamimu." Nisha merangkul Yasmine, kemudian mereka berdua mulai berjalan memasuki Altar.
Taburan bunga menghujani mereka. Yasmine sangat terharu dan berterimakasih atas kehadiran Nisha. Berkatnya, ia merasa lega karena ada yang mendampingi.
__ADS_1
Sementara di ujung Altar, Lukka tak henti-hentinya terpesona dengan wajah sang calon istri yang persis seperti bidadari. Ia berdebar jutaan kali saat menyadari wanita cantik itu akan segera menjadi miliknya.
Proses pernikahan pun berlangsung. Dengan hikmat, para keluarga dan tamu undangan menyaksikan kedua mempelai yang bertukar janji suci itu. Tamu yang didominasi kolega dan rekan Pak Ghani terlihat sangat hening saat kedua mempelai mengikat sumpah pernikahan.
Air mata Ambar pun bercucuran tak henti-henti. Ia masih tak menyangka Lukka bisa berjuang sampai ke titik ini. Lukka yang dulu ia bayangkan akan selalu sendiri sampai tua. Lukka yang ia bayangkan tak bisa berkeluarga, kini Lukka dengan lantang mengucapkan janji pernikahannya. Itu membuat batinnya sangat terharu sampai tak bisa menahan air mata.
"Di hadapan Tuhan, di depan para saksi dan hadirin semua. Saya menyampaikan bahwa Lukka Dinansyah dan Yasmine Auzora telah sah menjadi suami istri, dimata hukan maupun dimata Agama. Semoga keduanya diberkahi dan diberikan kebahagiaan seumur hidup. Amin..."
Lukka dan Yasmine saling menatap, keduanya tersenyum lebar dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Saudara Lukka," panggil pembawa acara.
"Iya.." jawab Lukka tegas.
"Sudah punya istri belum?" goda si pembawa acara yang meramaikan suasana.
"Be... Sudah, Pak." jawab Lukka lantang. Tadinya ia hendak menjawab belum. Maklum, baru 5 menit jadi suami.
"Mana istrinya? Coba dicium dulu."
Para hadirin yang ada disana sontak bersorak dan tertawa. Mereka meneriakkan agar Lukka mencium istrinya.
Tanpa ragu, Lukka mengamit kepala Yasmine lalu mengecup bibirnya.
"wwwuhhuuuuuuu........!!" Para pemuda pemudi yang menyaksikan bersorak meriah. Sementara para orang tua terkekeh.
Agam yang terkejut pun refkek menutupi mata Anna. Sementara Ambar tertawa malu. Ia menepuk lengan Lukka sambil menyeka air mata.
"Kenapa kau cium bibirnya, seharusnya keningnya saja.."
"Begitu? Mama tidak bilang sih." Bisik Lukka malu-malu, mana ia tau peraturannya begitu. Karena di suruh cium, ya dicium bagian yang paling ia suka.
"Wajahmu merah sekali.." lirih Lukka menggandeng mesra sang istri.
"Benarkah? Kelihatan sekali? Padahal aku memakai make up." Yasmine menepuk-nepuk pipinya yang terasa hangat, akibat kelakuan Lukka barusan.
"Kau gugup..?"
__ADS_1
"Iya.. sangat..sangat gugup."
"Tenangkan dirimu...istriku..." goda Lukka sambil memainkan matanya. Wajahnya genit sekali.
Yasmine tersenyum salah tingkah, lalu menepuk bahu Lukka. "Apa-apaan sih... Aku canggung."
"Tidak apa-apa, jujur saja aku pun gugup." bisik Lukka.
"Tidak mungkin, kau begitu gesit menciumku tadi." Tampik Yasmine tak percaya.
"Aku gugup memikirkan malam pertama kita."
"aissss....!kau ini." Yasmine mencubit perut Lukka agar tak bicara sembarangan. Masih ada keluarga mereka disana, kan malu kalau terdengar.
"Lempar buketnya..!" seru para tamu yang masih lajang. Ya, hampir semua orang di Rumah Sakit Kasih Ibu diundang oleh Pak Ghani, termasuk para perawat dan Dokter residen.
"Lempar kesini Lukka...!" seru teman-teman Lukka pula tak mau kalah. Mereka adalah teman geng motor Lukka.
"Istriku yang akan melempar." jawab Lukka bersemangat. Memang aura pengantin baru itu sangat kontras.
Yasmine berbalik badan, dan dalam hitungan ke dua, ia melemparkan buket itu. Sengaja hanya sampai hitungan dua, agar para lajang yang mengharapkan itu tidak bisa bersiap, dan bisa berebut secara brutal.
Semua orang lompat meraih buket itu, namun buket pink itu malah mendarat ke pangkuan Pak Basir yang hendak menyantap manisan.
Mulut Pak Basir terpaksa berhenti dengan posisi mangap, lalu ia tersenyum lebar saat mengambil buket tersebut.
"Ngapain senyum-senyum kamu,Pak?! Mau nikah lagi, iya..?!!" sungut istri Pak Basir dengan mata melotot.
Akhirnya Pak Basir melemparkan lagi buket itu ke arah kerumuman, dan mereka langsung berebut sambil tertawa dan teriak-teriak.
Yasmine dan Lukka pun tertawa bahagia melihat acara pernikahan mereka berjalan lancar dan meriah. Mereka saling menatap satu sama lain sambil berdansa mengikuti alunan melodi yang dimainkan.
Karena merasa urusannya sudah selesai, Nisha pun berniat pergi dari sana. Ia tersenyum bahagia, bisa menyaksikan Lukka dan Yasmine akhirnya berada dipuncak kebahagiaan. Ia melangkah pergi sembari tersenyum haru.
Namun langkahnya terhenti saat tangan mungil mengenggam jemarinya.
"Mama..." lirih Anna.
__ADS_1
...*****************...