
"Mama..." lirih Anna dengan nafas berderu. Ia akhirnya bisa mengenggam jemari Nisha setelah bersusah payah lari menerobos kerumunan tamu undangan.
Anna menggenggam erat jemari Nisha. Kadua matanya menyiratkan harapan yang besar. Ia sangat merindukan sosok Nisha.
Nisha tak bergeming sejenak, tatapannya lurus ke arah pintu keluar. Sorot matanya terlihat sangat marah. Amarah yang berkobar bak lelehan lava. Kemudian ia menghembuskan nafas, laku memejamkan mata sejenak. Setelah itu ia menoleh pelan ke arah Anna. Wajahnya tertunduk angkuh. Ia tak menunjukkan belas kasih untuk Anna, karena memang Anna harus terbiasa hidup tanpanya.
"Apa..?" ketus Nisha dengan raut wajah dingin.
Anna memindahkan genggamannya ke pergelangan tangan Nisha. "Mama mau pergi lagi? Tidak bisakah mama pulang ke rumah? Anna rindu mama...." ia menangis sesenggukan, beruntung tak terdengar karena suasana meriah pesta itu.
Nisha meneguk ludahnya kasar. Jujur saja ia tak tega melihat Anna menderita. Ia sadar betul bahwa apa yang terjadi diantara Agam dan dirinya bukanlah salah Anna. Namun ia tak cukup bisa menahan sakit, jika harus kembali bersama Agam.
"Kenapa mama tiba-tiba pergi meninggalkan Anna? Apa papa membuat kesalahan? Atau papa membuat mama terluka? Jawab Anna, ma. Jika memang papa melukai mama, Anna tidak akan segan untuk memukulnya dengan tongkat golf kakek." Air mata Anna kian berderai, ia sungguh ingin bersama lagi dengan Nisha.
"Anna bahkan sudah pamer ke teman-teman kalau Anna bukan anak yatim. Anna punya mama. Tapi jika mama pergi Anna pasti dianggap berbohong. Anna ingin punya mama..."
Lutut Nisha lemas, ia tak tahan lagi dan melepaskan wajah angkuhnya. Kedua bola matanya ikut berkaca-kaca. Ia berlutut dihadapan Anna lalu memeluk erat anak itu.
"Maafkan mama, sayang... Maafkan mama..."
"Anna merindukan mama..." gadis kecil itu memecahkan tangisnya di bahu Nisha. Ia terisak-isak bahkan sampai hampir kehilangan suara.
"Anna, papa dan mama sudah tidak bisa bersama. Sama seperti Anna yang bersedih, hati mama juga sakit bila memikirkan hidup bersama papa lagi. Mama tidak bisa sayang.., tidak bisa." Nisha menggenggam erat kedua tangan mungil itu, berharap mendapatkan pengertian.
"Jadi benar, Papa yang membuat mama tidak mau kembali ke rumah? Apa papa memukul mama? Apa tubuh mama sakit?"
"Tidak, Papa mu tidak memukul mama. Tapi...dia melakukan sesuatu yang membuat perasaan mama sakit. Mama sangat sakit disini... rasanya sakit sekali." Nisha menepuk dadanya pelan, duri yang ditancapkan Agam masih terasa sangat sakit disana.
"Memangnya apa yang papa lakukan?" Anna masih terisak sedih, namun ia penasaran apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa papa...punya wanita lain selain mama? Benar? Itu sebabnya kan? Apa namanya ya... aaa SELINGKUH. Papa selingkuh dengan wanita lain dan mencampakkan mama?" Gadis kecil itu tampak menggebu. Ia akan menghabisi Papanya jika memang benar demikian.
"Anna, suatu saat nanti kamu akan mengerti apa yang terjadi dengan kami. Jangan berprasangka buruk pada papamu."
"Bukan begitu..?" Anna kembali mewek, wajah galaknya kembali bersedih.
"Mama pulang dulu ya.., kedepannya mama akan berusaha menemuimu. Jadi jangan bersedih lagi ya." Nisha membelai lembut pucuk kepala Anna, dan memberinya senyum hangat. Senyum yang sangat dirindukan Anna.
"Berjanjilah mama akan datang ke sekolah sesekali, Anna mau pamer pada teman-teman." ia mengacungkan jari kelingking untuk mengikat janji.
__ADS_1
"Baik.., mama akan datang sesekali." Nisha menyambut kelingking Anna dengan senang hati.
Setelah melepaskan rindu, Anna pun memperbolehkan Nisha pulang. Tapi raut wajahnya berubah geram setelah Nisha berlalu dari sana.
"Mama tidak menyangkal apa yang ku katakan. Berarti benar papa selingkuh!" rutuk Anna sambil melirik tajam ke arah papanya yang sedang asik ngobrol dengan rekannya.
"Lihat... mama ada disini tadi, tapi dia malah bersenang-senang dengan mereka." Anna melangkah cepat dengan wajah merah. Matanya melotot bulat dengan nafas berderu cepat.
"Papa. Kemarilah, Anna mau bicara empat mata." Anna menyeret tangan Agam. Mau tak mau, pria bertubuh tinggi itu harus mengikuti langkah mungil sang anak.
"Ada apa Anna? Kau sakit?"
Setelah keluar dari aula pernikahan, Anna melepaskan tangan papanya lalu berkacak pinggang. Kedua matanya juga mendongak tajam.
"Papa selingkuh ya!" tuduh anak itu tanpa ragu.
Agam langsung panik, ia menoleh ke kanan kiri lalu menyuruh Anna mengecilkan suaranya.
"ap..apa yang membuatmu bicara seperti itu? Anna kau dapat darimana pikiran seperti itu?" Agam kelabakan, padahal ia tak bersalah.
"Tadi Anna bicara pada mama, Anna menanyakan apa papa melukai mama, apa papa berselingkuh. Mama tak menjawab, tapi juga tidak menyangkal. Bukankah itu benar? Papa selingkuh maka itu mama pergi dari rumah!"
"Lalu kau percaya? Dia..e..mamamu bahkan tidak bilang begitu, kenapa kau berpikiran buruk pada papa?"
"Jadi apa alasannya kalau bukan itu? Mama itu baik, tidak mungkin dia meninggalkan kita kalau papa tidak buat masalah!"
"chh, hei..! Kenapa kau sangat membelanya. Aku papamu, seharusnya kau percaya padaku. aihhhg... anak ini...hhh..."
"Tapi dia mama Anna! Anna wajib membelanya jika ada yang menyakiti, sekalipun itu papa! Tadi Anna sudah bilang kalau akan memukul papa dengan tongkat golf kakek jika terbukti benar. Lihat saja, Anna akan mencaritahu."
Setelah mengancam, anak itu melenggang kesal meninggalkan Agam. Langkah kakinya terhentak keras. Ia akan mencaritahu apa sebabnya, apa yang membuat mamanya pergi begitu saja.
Sementara Agam mematung. Kedua matanya tak berkedip, ia sangat terkejut dengan sikap galak Anna. Bisa-bisanya anak itu lebih membela Nisha, padahal mereka tidak ada ikatan darah.
"Menurun dari siapa sifatnya itu? Seingatku Sandra tidak pernah bicara dengan keras begitu. aaiiisss..! Selingkuh katanya? Jelas-jelas aku selingkuh dengan mama mu! Tidak...maksudku itu kesalahan."
.
.
__ADS_1
"uhhh... segarnya..." Yasmine merentangkan dirinya ke atas kasur. Lelah sekali hari ini, karena harus menyalami para tamu yang sangat banyak.
Wajahnya masih basah karena habis mandi. Ia tak bersemangat untuk memakai skincare. Ia hanya melamun sambil menatapi langit-langit.
"Benarkah aku sudah menjadi seorang istri..?" gumamnya masih tak percaya. Ia menoleh ke arah pintu kamar mandi. Air gemericik, Lukka sedang mandi sekarang.
"Benar.., aku menjadi istrinya Lukka sekarang." ia tersenyum tipis. Lucu saja membayangkan pertemuan pertama mereka yang sangat konyol.
Apalagi mengingat momen Lukka selalu menjahilinya karena pengaruh Agam. Lebih lucu lagi jika diingat-ingat ia pernah menyimpan rasa untuk kedua kakak beradik itu. Tapi akhirnya kepada si adik ia berlabuh.
"Istriku....bisa antar handuk untukku? Aku lupa membawanya." seru Lukka dari dalam kamar mandi, ia membuka sedikit pintunya dan menyelinapkan pandangan.
Yasmine jadi terbuyar dari lamunannya. Ia segera berdiri. "Sebentar." ia menyamber handuk yang tergantung di lemari lalu berlari ke arah kamar mandi.
"Ini..." Yasmine mengulurkan tangannya dari balik celah pintu. Tapi Lukka malah membuka lebar pintu itu, padahal tubuhnya masih polosan.
Yasmine terkejut dan langsung membuang muka. "Kenapa di buka pintunya..!"
Lukka mengambil handuk itu lalu tersenyum ringan. "Kenapa kau terkejut padahal sudah pernah melihatnya. Jangan lari, nanti kepentok lagi." bisik Lukka tertawa jahil sambil melewati Yasmine.
"Kalau begitu kenapa memanggilku, seharusnya jalan saja sambil telanjang dan ambil handuknya sendiri." gerutu Yasmine pelan sambil berusaha mengatur ritme jantung.
"Begini...?" Lukka malah menanggalkan handuknya.
"HEI...! AISSS! KAU INI...!" Yasmine panik, sampai bingung mau kemana.
"Kemarilah.., aku menikahimu agar kau bisa melihatnya."
"Simpan dulu, aku belum ingin melihatnya, aku lelah... tolong..." Yasmine berlari memunggungi Lukka agar tak melihat tongkat yang dalam posisi ON itu.
"Aku hanya menyuruhmu melihat, aku juga lelah, kemarilah...istriku..." Lukka malah tertawa semakin jahil. Ia sengaja menggoda Yasmine.
Tangan Lukka menyambar hendak menarik baju Yasmine. Namun Yasmine dengan gesit menghindar, namun apes ia malah menabrak tembok dengan lumayan keras. Hanya dalam hitungan detik, ia tumbang ke lantai. Hidungnya juga mengeluarkan darah menjalar.
"Yasmine...!" Lukka terkejut dan langsung berlutut. Ia menepuk-nepuk wajah istrinya itu.
"Bangun Yasmine... Kenapa kau pingsan setiap melihat ini. Yasmine..." Lukka akhirnya mengangkat tubuh sang istri untuk dipindahkan ke atas ranjang.
...*************...
__ADS_1