
Anna Valerie
Agam berlutut dan merentangkan tangannya, kemudian anak perempuan itu menghamburkan pelukan padanya.
"Kenapa papa lama sekali? Anna sudah lama menunggu. Papa bilang hanya sebentar." rengek anak yang di tangan kanannya menenteng boneka kelinci itu.
"Maaf, Papa harus mengurus sesuatu." Agam mengusap pucuk kepala anak itu.
"Mas..?" Nisha menyenggol bahu Agam dengan dahi berlipat.
.
.
Kini semua berkumpul di ruang keluarga. Nisha duduk bersebelahan dengan Agam. Sementara di hadapan mereka ada Ambar, dan Anna disampingnya. Anak kecil itu terlihat bingung dengan situasi ini.
"Ma, sebaiknya mama bawa Anna masuk dulu. Biar aku yang menjelaskan ini pada Nisha."
Ambar beranjak, dan membawa Anna naik ke kamarnya.
Agam menyentuh lutut Nisha, kedua bola matanya menyiratkan sesuatu yang cukup membuat penasaran.
"Sayang.., aku memang berniat memberitahumu setelah kamu bebas. Sejujurnya aku takut kamu tidak menerima situasi ini."
"Ada apa sebenarnya..?" Nisha bertambah penasaran, saat Agam menjeda perkataannya.
"Anna, ibu nya pasien penderita kanker otak dua tahun yang lalu. Hanya setelah beberapa bulan di rawat, ibunya meninggal dunia. Karena sering bertemu denganku, Anna menolak di rawat oleh siapapun. Dia sebatang kara, jadi aku membawanya ke rumah untuk sementara waktu. Setidaknya sampai mentalnya membaik. Namun... seiring berjalannya waktu, Anna membuat tempat tersendiri di hati kami. Suasana rumah sepi karena kamu tidak ada, karena Lukka mulai dewasa. Rasa sepi itu sedikit berwarna karena kehadiran Anna."
"Dimana Ayahnya?" Nisha tampak datar menanggapi itu, namun tetap saja batinnya sedikit mengganjal. Apalagi mengingat kenapa Agam tak menceritakan ini sejak awal.
"Saat kondisi ibunya kritis pun tak ada satupun wali yang mendatangi ibunya Anna."
Nisha mengambil nafas panjang. "Jadi dia benar-benar tak memiliki siapapun..."
__ADS_1
Ini membuatnya teringat kepada Yasmine. Seorang gadis sebatang kara yang hidupnya hancur. Pintu hatinya terketuk untuk menyetujui apa yang menjadi keputusan Agam.
"Kamu tidak keberatan dengan kehadiran Anna, bukan?" Agam menunduk, menyorot wajah sang istri yang tampak kosong.
Meski berat, Nisha harus menerima ini. Ia tak akan tega mengusir anak yang usianya belum genap tujuh tahun itu. Apalagi melihat Anna sudah sangat dekat dengan Agam dan keluarganya yang lain.
"Tapi, bagaimana dengannya? Apa dia akan terbiasa denganku?" Nisha malah takut, Anna takkan bisa akrab dengannya. Sama seperti dirinya yang tak pernah akrab dengan Farah, ibu sambungnya.
"Aku sudah sering menceritakan tentangmu, memperlihatkan fotomu, dan bahkan mengajarinya memanggilmu mama. Aku tau ini akan canggung untukmu dan Anna, tapi cobalah mengakrabkan diri padanya. Aku yakin kalian akan bisa dekat."
"Bagaimana dengan mama? Apa dia menerima Anna juga?" Tanya Nisha lagi, bukankah dulu Ambar yang paling menentang kalau Agam dan Nisha sampai mengadopsi anak?
"Pada awalnya tentu saja mama menentang, tapi syukurnya kini mama mulai menerima Anna."
Sekali lagi Nisha mengangguk berat. "Baiklah, jika memang keputusan ini sudah bulat. Aku akan mengikuti mu, mas."
Agam terlihat lega karena Nisha mau menerima Anna, sebagai anak angkat mereka. Bagaimana pun juga sebagai suami istri, mereka memang membutuhkan seorang anak untuk melengkapi pernikahan, dan beruntung Anna hadir di sana sebagai pengganti anak-anak mereka yang telah tiada sebelum terlahir.
"Omong-omong... bagaimana kabar Yasmine? Apa mas masih sering bertemu dengannya?"
Agam menggeleng pelan, "Sejak persidangan terakhir, dia memutuskan kontak dengan kita."
"Entahlah... Ku pikir tidak pantas seorang pria beristri mencari-cari wanita lain, sedangkan istrinya sedang ada di penjara." Agam mengembangkan senyum canggung. Memang ia pun tak ingin lagi menganggu Yasmine. Entah gadis itu hidup dengan nyaman atau terlunta-lunta. Agam benar-benar tak ingin menganggunya lagi.
"Benarkah kak Nisha pulang hari ini? Dimana dia..?" Lukka yang baru saja pulang langsung berlari memasuki rumah Agam.
Saat bik Sati mengatakan Nisha sudah pulang, anak itu langsung menuju rumah Agam.
"Kak Nisha...! Kak Nisha....!" Lukka berlari kencang saat melihat wajah Nisha disana. Ia sangat merindukan kakak iparnya itu. Selama Nisha di penjara, Lukka hanya dua kali menjenguknya, karena Ambar melarang keras Lukka mengunjungi tempat kotor itu.
"Lukka..." Nisha pun berdiri, dan menyambut pelukan sang adik ipar dengan hangat.
"Aku sangat merindukan kak Nisha." Lukka sangat bahagia, karena akhirnya bisa berkumpul kembali.
"Kakak juga.., tapi... ada apa denganmu? Kenapa kau menyebut dirimu Aku? "
__ADS_1
Lukka melepaskan pelukannya, kemudian memamerkan punggung jasnya yang bertuliskan Agro Internasional. Ya, alih-alih kuliah atau menuruti permintaan Ambar untuk menjadi Dokter. Lukka kini belajar di salah satu perusahaan yang menjual aneka ragam tanaman. Ia lebih tertarik mempelajari bagaimana cara menanam dan merawat segala jenis tumbuhan, ketimbang duduk di bangku Universitas.
"Aku sekarang sudah dewasa kak. Bukan anak kecil lagi. Aku sedang mengembangkan sebuah anggrek langka, yang nilainya sangat fantastis. Jika berhasil aku akan mendapatkan sertifikat untuk bergabung langsung dengan perusahaan."
"wahh... Hebat sekali. Ternyata kau sudah banyak berubah." Nisha sangat takjub akan perubahan drastis yang dialami Lukka.
"Lukka, bukankah kau sebaiknya mandi dulu sebelum memeluk kakakmu? Lihat celana mu, di penuhi sekam padi." Agam melerai hangatnya reuni kakak dan adik itu.
"hehe.. Kalau begitu permisi..." Lukka berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
"Hei..! Mau kemana kau dengan celana kotor itu!" pekik Agam menggema.
"Baju ku ada di sini, aku juga akan tidur disini malam ini." sahut Lukka tanpa menoleh ke bawah.
Lukka memasuki kamarnya, hatinya benar-benar bahagia hari ini karena kepulangan Nisha. Kini rumahnya akan ramai kembali. Ada Nisha dan Anna yang akan mewarnai keluarga nya.
Namun sayang seorang lagi benar-benar pergi jauh. Walau sebentar, orang tersebut telah membuat sebagian besar hati Lukka terasa hampa.
"Dimana kau sekarang...?" lirihnya seraya menatap kosong ke arah luar jendela. Hampir semua tempat di kota ini sudah ia jelajahi, namun ia tak pernah bertemu dengan Yasmine.
Apa ia harus mulai mencari ke luar kota? Atau luar negeri sekalian? Apa sungguh tidak ada jejak di hati Yasmine atas kenangan mereka? Atau memang Yasmine hanya menganggap Lukka sebagai anak kecil, yang kenangannya tak begitu berarti.
.
.
Di tempat lain, Yasmine tengah berjalan sore sambil menikmati matahari terbenam. Sinar jingga yang pekat memantul dari air sungai yang sangat jernih. Bunga bunga di sepanjang jalan bergoyang terhembus angin sepoi-sepoi.
Beberapa orang tampak piknik dengan keluarga dan pasangan mereka, di taman yang berada di sekitaran sungai.
"ahhh... aku akan merindukan angin Indonesia..." ia menghirup dalam hembusan angin segar itu.
Uang tabungannya sudah cukup untuk membawanya terbang ke negara impian, yakni jepang. Dengan kemampuan yang ia punya, ia melamar ke salah satu perusahaan yang berada di jepang. Kenapa jauh sekali? Kenapa harus di jepang?
Selain karena negara impian, Yasmine juga ingin mengadu nasib ke sana. Perusahaan di Indonesia tidak akan menerima orang yang hanya lulus SMA, sebesar apapun kemampuannya akan kalah dengan yang bergelar sarjana. Namun tidak di luar negeri, setelah mengikuti tes yang di berikan perusahaan, ia diterima dengan nilai yang cukup bagus.
__ADS_1
Besok adalah hari keberangkatannya, untuk itu ia sengaja berjalan-jalan sore untuk yang terakhir kalinya. Karena ia takkan akan kembali lagi kesana.
...**********...