Tak Mau (Jadi) Yang Kedua

Tak Mau (Jadi) Yang Kedua
Episode 42 : Masa Kritis


__ADS_3

Yasmine terhempas sejauh 5 meter, darah segar mengalir dari kedua pahanya, saat ia bahkan sudah tak sadarkan diri. Nisha langsung meminta bantuan kepada petugas medis disana.


Ia benar-benar kehilangan akal karena telah melalukan itu. Bagaimana bila Yasmine kehilangan nyawa atau bayinya? Nisha benar-benar takkan bisa memaafkan dirinya sendiri. Ia terlalu larut dalam prasangka yang bukan-bukan, hingga menyebabkan nyawa Yasmine dalam bahaya.


Mendengar kabar Yasmine masuk UGD, Ambar dan Agam langsung mendatangi rumah sakit.


Di depan ruangan UGD, Nisha terduduk lemas di bangku panjang seorang diri. Ia berdoa sebanyak mungkin, agar Tuhan menyelamatkan Yasmine.


Nisha mengangkat wajah sembabnya saat mendengar derap langkah mendekat, itu adalah mertua dan suaminya.


"Mas.... Yasmine..." tuturnya gemetar diiringi isak tangis, ia berdiri ke hadapan sang suami.


PLAAK...!!


Tanpa kata, Ambar melayangkan satu tamparan keras pada wajah Nisha.


"Ma..!" Agam langsung pasang badan menjauhkan mamanya dari Nisha.


Wanita yang tengah menangis tersebut sontak mematung sambil memegangi pipinya. Tamparan keras itu terasa sangat panas, hingga telinganya berdengung panjang. Mungkin memang pantas ia menerima itu.


"Apa yang kau lakukan padanya hah?! Dia baik-baik saja sebelum pergi! Apa kau mau membunuh anak suami mu lagi kali ini..!" hardik Ambar hendak menyerang Nisha dengan tangannya lagi, namun Agam mencekal kuat tangan wanita tua itu.


"Jangan menyakiti Nisha, Ma..!" geram Agam dengan wajah memerah.


"Maafkan aku, ma... ini memang salahku. Ini kesalahanku.." Nisha berjongkok dihadapan Ambar, sambil menangis sesenggukan.


"Sayang, bangun lah... Yasmine akan baik-baik saja. Kau jangan seperti ini." Agam ikut berjongkok, lalu membawa sang istri ke atas bangku. Ia belum tau apa yang sebenarnya terjadi, namun melihat tangis sang istri, membuatnya mengesampingkan rasa perduli terhadap Yasmine. Istrinya terlihat sangat terpukul sekarang.


Tak berselang lama Dokter yang menangani Yasmine keluar.


"Pasien masih dalam masa kritis. Pendarahan hebat membuat janinnya tidak selamat, jadi kami terpaksa melakukan aborsi."


Bagai petir menyambar di siang bolong. Nisha hampir kehilangan kesadarannya mendengar itu. Dadanya sesak bak tertimbun seribu ton baja. Perih bak tersayat ribuan belati. Akibat kelalaiannya, akibat pikiran egoisnya, ia membunuh janin tak berdosa, dan melukai wanita yang sudah rela berkorban untuknya.


Begitupula dengan Agam, apa yang ia rasakan tak jauh dari yang dirasakan Nisha. Kedua tangannya gemetar mendengar penuturan Dokter barusan.

__ADS_1


"Apa...apa yang sebenarnya terjadi Dokter?"


Wajah pria itu tampak pias, belum lama hatinya baru bisa menerima keberadaan sang janin. Baru saja ia mulai membayangkan, betapa merdu kesehariannya saat mendengar tangisan bayi. Tapi khayalan itu terhempas jauh diterpa kejadian mengejutkan ini.


"Kamu memang pembunu...! Kamu membunuh cucuku...!" pekik Ambar sambil memukuli punggung Nisha dengan tasnya. Wanita bergelar menantu itu tak mengelak, atau bahkan berlindung. Rasa sakitnya tak lagi terasa, dibandingkan dengan kejadian nahas ini.


Agam tak lagi perduli dengan sekitar, dengan sang istri yang menjadi sasaran kemarahan mamanya. Pikirannya seolah hilang, terbawa rasa sedih yang mengambang tak tentu arah.


"Anda wali pasiennya..?" tanya Pak Dokter.


Agam terbuyar dari lamunannya, kemudian mengangguk. "Benar, pak."


"Silahkan ke bagian administrasi untuk pendaftaran pasien." Dokter kemudian beranjak dari sana.


Lalu dua orang Polisi datang menghampiri mereka. Sepertinya beberapa saksi kejadian itu ada yang melaporkan ini ke polisi.


"Saudari Nisha, anda pengemudi kendaraan bernomor 6002?" tanya pak Polisi memastikan, mereka sudah mendapatkan data diri Nisha saat pemeriksaan TKP tadi.


Ambar dan Nisha menoleh bersamaan, kedua wanita itu terlihat sangat putus asa.


"Anda kami tangkap atas kelalaian dan membahayakan nyawa seseorang. Anda berhak tetap diam, dan menyewa pengacara."


Salah satu Polisi wanita memborgol Nisha, lalu membawa wanita itu untuk di periksa.


Dengan langkah lunglai, Nisha mengikuti polisi tersebut. Tangisnya masih berderai, namun sedikitpun ia tak menoleh kepada suaminya.


"Beri dia hukuman berat..! Dia pembunuh..!" teriak Ambar, membuat tangisan Nisha semakin deras.


Agam pun tak bergeming, jiwanya seolah terbagi menjadi dua, antara harus memastikan Yasmine selamat, dan memastikan Nisha baik-baik saja. Ia mengusap kasar wajahnya, lalu membuang nafas berat.


Entah apa yang dilakukan Nisha hingga sampai seperti ini. Ia menelpon papanya untuk mendampingi Nisha di kantor polisi, sementara ia akan melakukan pendaftaran untuk Yasmine, sekaligus memastikan Yasmine selamat dari masa kritisnya. Bagaimana pun nyawa gadis itu lebih penting, dari sekedar keinginan mereka untuk memiliki anak.


"Pasien mengalami patah tulang rusuk sebelah kiri, dan itu menyebabkan penyumbatan pada sebagian limpanya. Kami akan segera melakukan operasi, jika tanda-tanda vital pasien sudah terdeteksi sepenuhnya." ucap Dokter sambil menyerahkan hasil Rontgen kepada Agam.


Agam mengamati hasil Rontgen tersebut. "Kenapa kalian tidak mengoperasinya sekarang? Jika limpanya tersumbat lebih lama lagi dia bisa meninggal."

__ADS_1


"Maaf, kami belum bisa memastikan apakah organ vital pasien bisa merespon dengan baik. Jika mengoperasinya sekarang, malah akan memperburuk keadaan."


"Lakukan operasinya sekarang, atau aku akan menuntut kalian..!"


"Tapi..." Dokter tersebut belum berani ambil tindakan, sebab Dokter spesialis bedah mereka sedang tidak ditempat. Lagipula belum ada intruksi dari Dokter yang menangani spesialis tersebut.


"Berapa lama perkiraan waktunya?" Agam ingin sekali mengoperasi Yasmine disana, tapi Rumah Sakit itu pasti akan menanyakan, apakah dia Dokter atau bukan. Dan jika Dokter ia bekerja dimana? Rumah sakit tidak akan dengan mudah membiarkan Dokter tak berwenang mengambil alih pasien. Sementara untuk nama baik keluarga, Agam tak boleh menunjukkan dirinya dan hubungannya dengan Yasmine.


"Sekitar 1 jam..." jawab Dokter itu, sesuai intruksi spesialis organ dalam.


"Siapkan operasinya sekarang, Aku yang akan memimpin." ucap Agam dengan suara ditekan.


"Apa..? Anda seorang Dokter?"


"Dimana ruang operasinya..?" tanya Agam sudah bersiap, ia melepaskan cincin dan jam tangan, lalu memberikannya kepada Ambar.


"Apa spesialis anda? Kami tidak bisa melaksanakan operasi jika belum ada perintah."


"Terlambat sepuluh menit saja, nyawa pasien bisa melayang. Aku yang akan menanggung resiko operasi ini, jadi siapkan ruang operasinya SEKARANG..!" tekan Agam menaikkan nada suaranya. Dokter tersebut pun langsung memberikan pemberitahuan kepada seluruh perawat dan Dokter residen.


Masa bodoh dengan latar belakangnya, nyawa seseorang sedang dipertaruhkan akibat kelalaian mereka. Agam takkan bisa memaafkan dirinya sendiri bila tak bisa mengeluarkan Yasmine dari masa kritis ini.


.


.


Di ruang interogasi, Nisha terus saja menangis dihadapan Detektif yang menyelidiki kasus ini.


"Tahukah anda, jika kelalaian anda ini sangat fatal?"


Nisha mengangguk pelan, nafasnya tersengal karena sedari tadi tak berhenti menangis. Ia terus meminta maaf kepada Yasmine didalam hati. Tak henti-hentinya pula ia berdoa, agar Yasmine selamat.


"Wanita itu bahkan kehilangan janinnya, perbuatan anda ini termasuk dalam pembunuhan."


Pembunuhan, kata itu bak tombak tajam yang menembus relung hati Nisha. Tangisnya semakin pecah saat mendengar kata itu. Untuk yang kedua kali, ia membunuh janin tak berdosa secara tidak langsung.

__ADS_1


...*************...


__ADS_2