Tak Mau (Jadi) Yang Kedua

Tak Mau (Jadi) Yang Kedua
Episode 48 : Bandara


__ADS_3

Pukul 22:00...


Nisha membuka perlahan pintu kamar, dilihatnya Anna sedang tertidur pulas sambil memeluk boneka kelinci. Nisha lantas memasuki kamar, kemudian duduk di tepi ranjang. Ia mengamati wajah mungil Anna sejenak.


Anna yang belum tertidur pulas pun membuka matanya perlahan, saat merasakan seseorang tengah mengamatinya.


"Mama...sedang apa?" lirih gadis kecil itu. Kedua matanya tampak di gelayuti rasa kantuk.


"Mama...?" Nisha terhenyak mendengar ucapan itu. Panggilan yang sangat ia dambakan, kini ia mendapatkan panggilan itu. Tapi kenapa harus Anna yang hadir ke dalam hidup mereka? Atau jika memang skenario Tuhan menakdirkan mereka memiliki seorang anak angkat, kenapa tidak dari dulu Tuhan meyakinkan hatinya.


"Apa mama tidak suka Anna tinggal disini?" Gadis itu duduk menatap wajah Nisha yang tampak bingung.


"Memangnya Anna mau menganggap saya sebagai mama? Kita kan baru pertama kali bertemu." Nisha membuyarkan kekalutannya, kemudian memasang wajah ramah untuk Anna.


"Papa bilang, mama itu sangat baik. Setiap hari juga papa menceritakan tentang mama. Anna senang karena masih mempunyai mama."


Seperti yang dikatakan Agam sebelumnya. Anna mengalami trauma sejak kepergian sang ibu. Di tambah usianya yang masih Lima tahun saat itu. Anna jadi tak mengingat asal usulnya, yang ia tau Agam adalah papanya. Suatu saat Agam pasti akan memberitahu Anna yang sesungguhnya. Setidaknya sampai usia Anna cukup untuk mengerti semua ini.


Sedangkan tentang Nisha, Agam mengatakan bahwa Nisha adalah ibunya yang sedang bekerja di luar negeri. Dan kini Nisha kembali. Meski terasa janggal, tapi Anna tak banyak bertanya kenapa Nisha tak pernah menghubunginya. Ia sudah sangat bahagia dengan kasih sayang Agam sebagai papa nya.


"Jika sudah dewasa nanti, Anna ingin jadi seperti mama. Memiliki karir yang hebat dan sangat baik hati." Sosok Nisha memng sangat dikagumi oleh Anna, setidaknya lewat cerita.


"Jadilah wanita yang lebih baik dari itu. Karena aku tak sebaik yang terlihat." Nisha tersenyum, kemudian membenahi selimut Anna sebelum beranjak dari sana.


Anna hanya bisa memandangi punggung Nisha yang berlalu pergi. Wajahnya murung karena ia sempat berharap akan mendapat pelukan hangat dari mamanya. Tapi kenapa sikap mamanya terasa dingin dan datar. Walau masih kecil ia mampu merasakan perbedaan sikap itu.


.


.


Saat Nisha masuk ke kamarnya, Agam ternyata belum tidur. Ia sempat terkejut melihat sang suami duduk di atas ranjang dengan keadaan gelap.


"Sayang, kamu dari mana?" Agam menyalakan lampu kecil di atas nakas. Cahaya remang kekuningan berpendar menyinari kamar itu.


"Dari kamar Anna, aku memeriksa apakah dia sudah tidur." sahut Nisha tertunduk, cepat ia naik ke atas kasur lalu memunggungi sang suami.


Agam turut berbaring, merangkul tubuh istinya itu dengan lembut. "Maafkan aku ya, sayang..." lirihnya seraya mengecup pelan bahu Nisha.


"Untuk apa..?" jawab Nisha terdengar kecut.


"Karena telah membawa Anna ke rumah ini, tanpa seizin mu. Aku tau akan sangat canggung beberapa saat. Ku harap kamu bisa menyayangi Anna seperti anak sendiri."

__ADS_1


"Sudahlah... lagi pula semua sudah terjadi. Aku akan menerima apapun keputusanmu, mas. " Masih, jawaban itu terdengar kecut. Nisha bahkan menepis wajah sang suami, lalu menutupi tubuhnya dengan selimut.


Agam hanya bisa menarik nafas panjang. Memang salahnya karena asal mengambil keputusan. Namun tadinya ia berpikir Nisha akan sangat senang dengan kehadiran Anna. Mungkin karena Anna bukanlah seorang bayi, itu sebabnya chimestry ibu dan anak agak sulit terbangun.


...~...


Pagi harinya....


"Selamat pagi semuanya..." sapa Lukka yang sudah rapi mengenakan setelan jas berwarna abu tua.


"Pagi Lukka, mau sarapan disini? Kebetulan kakak masak banyak." sambut Nisha yang tengah sibuk menata lauk pauk di atas meja makan.


"Tidak kak, Aku sudah sarapan di rumah."


"mm, kau mau kemana dengan pakaian itu? Rapih sekali." tambah Nisha seraya menatap Lukka dari atas kepala sampai ujung kaki.


"Aku di tugaskan menjemput para pelelang dari luar Negeri. Akan ada pelelangan anggrek paling langka di dunia nanti."


"wahh, kau benar-benar hebat sekarang. Kakak bangga padamu." Nisha mengacungkan dua ibu jarinya kepada Lukka.


Di balas dengan senyum lebar khas Lukka, senyum yang kian hari bertambah menawan karena aura nya yang sangat kharismatik.


"Anna.. Anna..." Lukka juga berjingkrak persis seperti anak kecil. Ternyata sikap kekanak-kanakannya belum hilang seutuhnya.


"Om Lukka mau pergi ya? Jangan lupa nanti belikan kue coklat kesukaan Anna." pinta gadis kecil itu sembari menyodorkan jari kelingking, untuk membuat janji dengan Lukka.


Lukka pun mengamit jari mungil itu sambil tertawa, "Om akan belikan, tapi sebelum itu Anna harus berjanji menjaga mama di rumah, oke?"


"Siap komandan..!" ucap Anna mantap, bak prajurit yang siap perang.


.


.


Lukka tiba di bandara internasional dengan membawa kertas karton, bertuliskan nama perusahaannya. Tujuannya agar para pelelang asing itu mudah mengenali. Ia mengangkat tinggi kertas itu agar mudah terlihat oleh penumpang yang baru keluar.


"aissh..! Tangan ku pegal . hhzzz...hhzzz..." tiba-tiba saja ia mengendus sekitar, mempertajam penciuman.


"Aroma ini..." Itu adalah aroma Rose dan Vanilla, yang sangat tidak asing baginya.


"Yasmine..?!" Lukka cepat berbalik badan, mengikuti jejak aroma itu dengan penciumannya. Dia pasti sudah gila sekarang.

__ADS_1


"Aku yakin betul ini aroma Yasmine." ia mulai mencari seperti kucing yang mengendus-endus.


Namun sesaat ia terdiam, "bagaimana jika ini hanya aroma yang sama? Tidak mungkin hanya Yasmine yang memakai parfum itu." langkahnya terhenti di persimpangan eskalator. Ia menoleh ke berbagai penjuru dengan tatapan lesu. Besar harapan, namun dipatahkan oleh ketidakpastian.


Saat ia mengumpulkan kembali logikanya untuk menerima ketidakpastian. Sosok yang benar-benar ia nanti, ia cari selama dua tahun itu muncul dari sela keramaian.


Wanita yang tak pernah pergi dari bayangannya itu tampak sedang duduk di dampingi dua koper besar. Namun sesuatu yang membuat alis Lukka terlipat. Siapakah anak bayi yang tengah di gendong wanita pujaannya itu?


"Apakah dia...sudah menikah?" Kertas karton di genggamannya terhuyung lepas ke lantai. Entah kenapa jemarinya lemas. Ia mematung diantara ramainya orang yang berlalu lalang. Dua pasang netra yang tadinya sempat berbinar, kini sayu kembali dengan kristal tipis membingkai.


Di saat yang bersamaan pula, orang-orang di hadapan Yasmine semakin renggang, seolah memberikan kesempatan pada dua insan itu untuk saling menatap.


Yasmine mengangkat pandangannya, lalu tertangkap oleh matanya pria yang kini berdiri kurang dari 10 meter di depan. Kedua matanya membulat perlahan, ia memastikan itu bukanlah halusinasi. Itu benar-benar Lukka.


Sesaat mereka saling menatap lurus tanpa kata, tanpa bahasa. Karena sudah terlanjur saling melihat, Lukka memutuskan melangkah ke arah Yasmine. Setiap langkah yang terbentang ia iringi dengan meyakinkan diri, bahwa ia kesana untuk sekedar menyapa. Hanya menyapa.


"hai..." sapa Lukka sambil tersenyum polos khasnya. Wajah lugu nan manis itu sama sekali tak berubah dimata Yasmine.


"h..hai..." balas Yasmine tersenyum kaku. Kini ia sadar sepenuhnya bahwa itu benar-benar Lukka.


Lukka terpaku dengan senyum canggung di wajahnya. Ia menatap bayi yang terbalut selimut pink itu, sangat pulas di pangkuan Yasmine.


"Kau.., sedang... mau kemana..?" lirih Lukka gugup. Ia memperhatikan dua koper besar milik Yasmine. Akankah wanita itu meninggalkan negara ini?


"Luar negeri." Yasmine urung memberitahu tujuan pastinya. Melihat penampilan dan sikap Lukka yang amat berbeda, membuatnya semakin enggan melangkah ke arah pria itu.


"Kau sendiri mau kemana?" tanya Yasmine balik, agar pertemuan itu sedikit imbang dari segi menyapa.


"Aku.. menjemput klien."


Yasmine tersenyum tipis, senyum yang menyiratkan kebanggaan atas perubahan Lukka yang sekarang. "begitu..." ia mengangguk kecil, sambil menepuk-nepuk bayi yang tengah menggeliat di pangkuannya.


Beberapa detik mereka saling terdiam, sangat canggung dan garing.


"Kalau begitu... aku permisi dulu." Lukka segera berbalik badan. Daripada berdiri canggung dengan isi kepala semrawut, ia memilih menelan mentah-mentah rindu yang dua tahun ini terbendung. Bahkan untuk sekedar mengucapkan hati-hati di jalan saja ia tak mampu.


Sambil melangkah jauh, batin dan pikiran Lukka terus saja gaduh. "Apa itu anakmu? aisss...! pertanyaan sampah macam apa itu. Jika bukan anaknya kenapa dia menggendongnya? Lalu kemana suaminya? Apa dia single parent? Tidak mungkin lah! Wajahnya terlihat sangat ceria tadi. Bisa saja suaminya sedang di toilet. Lalu mereka mau kemana? Pindah ke luar negeri? Wanita itu curang sekali. Bisa-bisanya dia menikah dan punya anak, padahal dulu menolak saat ku ajak menikah. Sampai sekarang aku berharap bertemu dengannya, tapi ternyata malah bertemu saat dia sudah memiliki suami. Dasar wanita licik."


...****************...


Guys.. karena kesibukan dan lain hal otor belum bisa up secara rutin. Bisa sih ngetik dan up tiap hari, tapi kalau otak lagi budrek ya mau ngetik uangelll... otor gk mu up yg asal2 ketik aja demi memenuhi pendapatan receh ini. Otor mau menyakian cerita yang rapi, yang alurnya sudah matang dan enak di baca, jadi mohon maaf kalau otor suka up bolong2. Sekian terimakasih❤️😘 Nantikan terus epsd selanjutnya ya ❤️❤️😘

__ADS_1


__ADS_2