Tak Mau (Jadi) Yang Kedua

Tak Mau (Jadi) Yang Kedua
Episode 23 : Komplotan si Buta


__ADS_3

Agam terdiam ditempat, sambil menatap tajam anak itu. Ia seperti bisa membelah apa saja dengan tatapan itu.


"Si buta yang memberimu ini? chh..! Pencuri buta itu ternyata tidak lebih pintar dari b4bi..!" Si ketua geng mengayunkan ponsel di wajah Agam. Di iringi tawa para antek-antek ingusannya.


"Paman, lebih baik kau pergi. Atau kau tidak akan bisa tidur nyenyak.." Ancamnya sambil melempar tatapan songong.


"Jadi gadis buta itu yang mengambil ponsel mu?" Entah kenapa Agam malah terpikirkan kesana. Bagaimana bisa Yasmine melakukan itu.


"Beritahu anak buah mu itu untuk menghapus video kami di klub. Atau dia juga akan menerima akibatnya!" Anak ingusan itu meludah sekali lagi, kali ini tepat mengenai sepatu Agam yang hitam mengkilap.


Saat hendak berbalik, Agam menarik sabuk celana anak itu dengan erat. Hingga langkah anak berand4l itu terhenti.


cuuhhh...!


Agam membalas perbuatan anak itu, bukan pada sepatu, melainkan langsung di wajahnya.


"SSSS...!" Anak berand4l itu naik pitam, hendak meninju wajah Agam.


Namun Agam mencekal lengan anak itu dengan sangat kuat, hingga ia merintih kesakitan.


"Aaa..!! Aaahhw...!! Hei lenganku patah!" Pekik ketua geng itu, membuat antek-antek nya maju hendak melawan.


Dengan gesit Agam menggerakkan tangannya, mencekal lengan satu anak lainnya yang bertingkah sok jagoan itu.


"Jangan pernah menganggu Lukka, atau aku akan menghancurkan masa depan kalian..!" Agam menarik ****** ***** mereka berdua ke atas. Hingga dua anak itu berjingkat kesakitan. Dua biji masa depan mereka sedang dipertaruhkan.


"Ampun Om..! Aww...! Ampun sakit...!"


"Aaggrrhh...! Bijiku sakit Om..! Ampun!"


Bukannya melonggarkan, Agam malah menambah kekuatannya. "Di situ masalah kalian. Akan ku pastikan kalian tidak bisa memakai itu untuk waktu yang lama!"


"Kalau kalian menganggu adikku lagi, akan ku buat kalian kehilangan barang ini..! PAHAM KALIAN...!"


"p..paham om.." Sahut beberapa anak yang berusaha menjauh dari Agam.


Sementara dua anak di hadapan Agam sudah hampir mati lemas. "Saya janji tidak akan menganggu Lukka, Om. Tolong ampuni kami..!"


Setelah puas, Agam melempar dua anak itu ke tanah. "Seujung kuku saja kalian mendekati Lukka, akan ku bedah usus kalian untuk dijadikan santapan 4njing!"


Agam mengambil ponsel anak itu untuk di musnahkan. Ia tak mau masalah ini sampai ke Polisi, demi nama baik keluarganya, dan demi kebaikan Lukka yang sudah susah payah menutupi kejadian ini.

__ADS_1


Dengan langkah tegas Agam meninggalkan anak-anak itu. Mungkin dua anak yang tadi membutuhkan pertolongan medis untuk merawat biji mereka yang cidera. Mereka pantas mendapatkan itu. Anak-anak seperti mereka hanya akan merusak moral dan generasi muda.


...~~...


Yasmine baru saja keluar dari kamar Lukka, untuk mengantarkan sarapan. Berpapasan dengan Agam, yang hendak memeriksa keadaan Lukka.


Saat melihat Yasmine, Agam malah teringat ucapan anak berand4l kemarin, tentang rekaman klub.


"Ada yang ingin ku katakan." Ucap Agam, membuat langkah Yasmine terhenti.


Kornea mata gadis itu reflek berputar, menghindari tatapan dalam Agam. Tatapan yang mengandung banyak rasa curiga.


"Apa..?" Sahut Yasmine pelan, ia merapatkan pintu kamar Lukka.


Tak ingin percakapan di dengar sang adik, Agam pun memilih bicara di tempat lain. Ia menyeret tongkat Yasmine ke arah luar. Langkah Yasmine pun mau tak mau mengikuti.


Sesampainya di tepi kolam renang, Agam berhenti. Ia menatap curiga pada Yasmine, namun gadis itu kukuh mempertahankan sorot kosong matanya, seperti tak terjadi apa-apa.


"Apa yang kau rekam saat di klub?"


Pertanyaan itu membuat Yasmine terkejut. Kerongkongannya tercekat, bersusah payah menelan ludah.


"Apa yang anda bicarakan?" Kilah Yasmine memasang wajah polos.


Yasmine terdiam kaku, bibirnya mengecap rasa gugup yang membekuk kepalanya. Bagaimana ini? Karena terlalu terobsesi ingin membuat jera berandal4n itu, Yasmine sampai tidak terpikirkan resikonya. Nisha juga tak ada di rumah, bagaimana ia akan menjelaskan ini.


"Satu hal yang menganggu pikiranku. Bagaimana bisa orang buta melakukan itu semua? Kau pasti melihat isi ponsel itu kan?" Hardik Agam pelan, tapi menikam. Ia tau Nisha berbohong, soal seorang murid yang menyerahkan ponsel itu.


Sekecil apapun, Nisha takkan bisa menutupi sesuatu dari Agam.


"Lukka yang bercerita padaku, bahwa mereka melakukan hal tak senonoh dan mengancam akan menyebarkan foto Lukka. Maka itu aku mencuri ponselnya. Aku melakukan ini untuk Lukka. Dia malu menceritakan ini pada keluarganya, termasuk anda." Alasan yang cukup masuk akal itu muncul begitu saja di kepala Yasmine.


"Karena itu kau memeras mereka?" Selidik Agam kemudian, dengan raut wajah gusar dan kesal.


Yasmine memberi anggukan halus sebagai jawaban. Ia tak tau harus bagaimana. Ia hanya ingin menyelamatkan perannya sebagai orang buta.


Agam mendengus berat. Ia berkacak pinggang sambil memutar bola mata kesal. "Kenapa kau bertindak sejauh itu sendirian? Ada aku, Nisha, Papa dan Mama nya sebagai keluarga Lukka. Kenapa kau tidak memberitahu kami dulu?"


Pria itu tampak sangat kesal, sekaligus khawatir. Yasmine adalah anak sebatang kara. Bagaimana jika anak-anak itu bertindak jauh, sementara dirinya buta? Mereka sangat bej4d dan nekat. Kenapa gadis buta seperti Yasmine sangat ceroboh dengan mereka?


"Lukka trauma dengan itu. Ia takut dan sangat malu, hingga tidak berani menceritakan itu pada kalian. Bukankah seharusnya peran kalian sebagai keluarga yang perlu dipertanyakan? Kenapa kalian sampai tidak tau, kalau Lukka selalu diganggu di sekolahnya?" Yasmine balik menyerang Agam dengan nada tinggi. Ia tak habis pikir, dengan keluarga Lukka yang menurut pandangannya kurang memperhatikan Lukka. Mereka semua terlalu sibuk dengan pekerjaan, hingga mengabaikan anak besar itu.

__ADS_1


Agam tak bisa berkata-kata. Ia merasa tertampar dengan ucapan Yasmine barusan. Memang benar, seharusnya mereka bisa menjadi tempat nyaman bagi Lukka berkeluh kesah. Tapi kenapa Lukka memilih bercerita kepada Yasmine, yang baru saja ia temui.


"Aku sudah membereskan mereka. Jadi jangan terlibat dengan anak-anak itu lagi." Ketus Agam beranjak meninggalkan Yasmine. Batinnya diterpa oleh rasa khawatir, rasa bersalah dan rasa sesal yang tak berujung.


...~~...


Terhitung Sepuluh hari sudah Lukka bolos sekolah. Dan hari ini ia mau bersekolah, karena Yasmine mengatakan akan menunggunya di sekolah, sampai jam pelajaran selesai. Untuk sementara Lukka memang butuh perlindungan, agar rasa percaya dirinya kembali.


Disisi lain, Agam juga sudah membujuk sang adik untuk kembali ke sekolah. Ia mengatakan akan mengawasi Lukka dari jauh, agar tak terlalu kentara. Agar sang adik bisa merasa aman.


"Sini, kakak yang siapin buku nya. Lukka mandi sana." Ucap Yasmine merebut tas dari tangan Lukka.


"Oke..! Ini jadwalnya kak." Anak itu memberi hormat, dan menyerahkan lembaran jadwal kepada Yasmine.


"Iya, cepat mandi sana. Nanti kakak tunggu di bawah ya." Yasmine tersenyum dengan hangatnya.


Anak besar itupun semangat, ia berjoget ria sambil menuju kamar mandi. Sementara Yasmine tampak mengintip sedikit tulisan Lukka. Berantakan sih, seperti anak 7 tahun pada umumnya. Namun entah mengapa itu membuat Yasmine tersengum gemas.


"Bagaimana? Dia mau kesekolah?" Tanya Nisha, yang sudah rapi dengan kemeja kerja.


"Mau, tuh dia lagi mandi." Yasmine tersenyum lebar. Puas rasanya bisa mendapatkan kepercayaan Lukka.


"Ayo kita tunggu sambil sarapan." Ajak Nisha dari ambang pintu.


"Duluan saja, bu. saya perlu menyusunkan buku pelajaran Lukka."


"Baiklah.., kami tunggu." Nisha lantas beranjak.


Delapan menit kemudian...


Yasmine tak sengaja menjatuhkan buku Lukka, yang tengah ia baca. Buku catatan harian milik Lukka, yang isinya cerita menggemaskan. Yasmine sampai larut membaca itu.


Gadis itu pun menunduk untuk mengambil buku harian berwarna biru muda tersebut. Tiba-tiba pandangannya terarah ke sepasang kaki basah kuyup yang berdiri di depan pintu kamar mandi.


Yasmine perlahan menaikkan pandangannya.


"AAAAKKK...!"


BRUKKK...


Yasmine menabrak lemari dengan kecepatan penuh, saat berusaha melarikan diri. Benturan kuat itu pun membuat ia seketika tersungkur lemas di lantai.

__ADS_1


...**********...


__ADS_2