
Langkah demi langkah diambil oleh Lukka masih dalam keadaan batin dan perasaan gaduh. Ia tak memiliki keberanian untuk menoleh sedikit saja, atau sekedar mengutarakan tanda tanya di hatinya.
Sementara dibelakang sana Yasmine masih tergugu. Sorot matanya mengatakan bahwa ia ingin sekali melihat wajah Lukka lebih lama, mungkin untuk yang terakhir kalinya.
Sorot mata yang naif itu seketika berubah arah, kala Lukka menghentikan langkahnya. Pria itu berdiam sejenak, kemudian berbalik badan dan melangkah kembali. Langkah yang begitu jenjang dan penuh rasa penasaran, yang membuat Yasmine kelabakan membuang pandangan agar tak ketahuan.
"Aku ingin menanyakan hal yang sedikit sensitif." ucap Lukka dengan raut wajah serius.
"a..apa..?" Yasmine menekuk alisnya, berusaha mengatur ekresi sedatar mungkin.
Belum sempat mulut Lukka tergerak, seorang ibu muda berlari kearah Yasmine tergopoh-gopoh.
"Maafkan aku, perutku sakit sekali. Apa dia menangis?" ujar ibu muda itu sungkan, karena telah merepotkan Yasmine.
"Tidak, tidurnya cukup nyenyak." Yasmine menyerahkan bayi itu dengan senyum lebar. Walau sejujurnya tangannya kebas karena memangku kepala bayi mungil itu.
Setelah mengucapkan terimakasih berulang kali, ibu muda tersebut pun berpamitan sambil menenteng kopernya.
"Kau, mau menanyakan apa?" tanya Yasmine membuyarkan ekpresi Lukka yang mematung.
"Jadi bukan anaknya?" batin Lukka sedikit lega.
"Kau...mau kemana?" Pada akhirnya hanya pertanyaan itu yang muncul.
"Luar negeri, bukankah aku sudah mengatakannya."
"Berapa lama?"
"hah..?" Yasmine malah terheran, inikah pertanyaan sensitif itu? Rasanya ia tak perlu menjawab.
"Kau...mau meninggalkanku lagi?"
Yasmine menelan ludahnya secara spontan karena pertanyaan itu. "Aku..."
"Kenapa kau tak pernah menganggapku?" Kedua mata Lukka melayangkan lolongan tajam yang membius. Rasa kecewa dan rindu yang menumpuk membuat Lukka sulit mengontrol diri.
"Apa yang kau bicarakan." Yasmine terkekeh kecil, ia berusaha mengalihkan topik pembicaraan itu. Ia bahkan meraih kopernya untuk menghindari situasi canggung itu.
"Benar, aku juga tak tau apa yang ku bicarakan." sudut bibir Lukka mengukir senyum tipis yang amat pahit. Ekpresi Yasmine benar-benar membuat batinnya bertambah sesak.
__ADS_1
Lukka menahan lengan Yasmine yang hendak beranjak. "Setidaknya tatap mataku jika memang kau tak pernah menganggapku."
Yasmine mendengus berat, kemudian menoleh dan dengan terpaksa menatap mata Lukka. "Sudah..?"
Tatapan itu tak kuat, bola mata Yasmine tampak bergoyang seperti tidak tahan hendak berpaling.
"Kalau begitu, pertanyaan sensitif terakhir." Lukka mengangkat satu alisnya secara ringan. "Dimana kau menyimpan paspormu?"
"Di tasku, kenapa?" Yasmine menepis lengan Lukka, kemudian berbalik menyeret kopernya.
Namun diluar dugaan Lukka malah merebut tas jinjing Yasmine bak pencopet. Ia memanfaatkan momen lengah itu.
"Kau mau apa..?!" Yasmine berusaha merebut tas itu, namun Lukka malah mengangkatnya tinggi sekali hingga Yasmine tak bisa meraih itu.
Dengan kedua tangan terangkat, Lukka mengobok-obok tas Yasmine. Ia dapatkan selembar tiket, dan buku paspor. Tak hanya itu, Lukka juga menemukan berkas yang menyatakan bahwa Yasmine akan pindah kewarganegaraan.
"Kembalikan..!" pekik Yasmine bersusah payah melompat.
"Kau pergi lebih jauh kali ini." lirih Lukka benar-benar kecewa. Dadanya bergemuruh, sesak dan perih. Namun ia tetap tersenyum, senyum yang entah bagaimana dijelaskan. Antara penuh siasat dan kepahitan.
Tanpa pikir panjang Lukka merobek-robek tiket Yasmine hingga jadi lembaran kecil. Ia menggenggam sobekan tiket itu, kemudian memasukkannya kedalam saku celana.
"Memang..!" sahut Lukka tak kalah kesal. Entah apakah wajar sikapnya yang ke kanak-kanakan itu. Ia kesal sekali, kecewa sekali karena Yasmine masih bersikap naif.
"Mister Lukka..! Mister Lukka...!" teriak salah seorang pria asing. Pria berkepala setengah botak itu tampak kesal karena sudah lama menunggu. Akhirnya ia tak punya pilihan selain meneriakkan nama Lukka.
"Yes sir.." Lukka berlari ke arah pria itu sambil membawa kabur tas Yasmine.
"Lukka..! Kembalikan tasku..! Lukka..!" Yasmine berlari beberapa langkah untuk mengejar, kemudian ia mengambil kopernya lalu kembali mengejar Lukka sambil menyeret koper.
"Lukka...!" pekiknya lagi dengan sekuat tenaga. Namun bayi besar itu tak menggubrisnya.
"aiiss...! Otaknya belum berubah sama sekali..!" Yasmine terus berlari sambil merutuki Lukka. Sikapnya masih saja kekanak-kanakan.
.
.
"Untuk apa memilih sekolah Internasional? Dimana pun sekolahnya, sebaik apapun akreditasinya, tetap bergantung pada kecerdasaan anak. Kalau memang Anna pintar dan cepat tanggap, maka dia bisa sekolah dimana pun dengan nilai terbaik." oceh Ambar panjang lebar, saat Agam membicarakan tentang menyekolahkan Anna. Ia seperti tak terima jika perlakuan Agam berlebihan kepada Anna.
__ADS_1
"Justru kecerdasan itu akan semakin terkikis jika lingkungannya baik, ma. Jika Anna di sekolahkan di sekolah biasa, maka materi dan pelajaran yang ia dapat pun tak sebagus di sekolah internasional." tampil Agam tetap kukuh.
Ambar menyeruput teh nya, sebelum memberikan Agam decakan sinis. "Kamu jangan berlebihan deh, Anna itu cuma anak angkat kamu. Lebih baik kamu pikirkan kedepannya, bagaimana caranya kalian bisa punya anak sendiri. Atau kalau perlu cari lagi wanita pengganti seperti Yasmine. Kau begitu bodoh karena masih mempertahankan Nisha."
"Aku bodoh karena lahir dari wanita berpikiran sempit seperti mama." ketus Agam membuang muka, ingin sekali dia mengusir wanita tua itu dari bumi ini. Kalau bukan mama nya, mungkin Agam sudah lama menjahit mulut Ambar.
"Kau...!" Ambar menggerutu kesal, namun umpatannya terhenti saat melihat Nisha telah pulang.
"Nisha.., Nisha.." Ambar membuat langkah Nisha yang sedang lelah terhenti.
"Ada apa, ma..?" ia menoleh malas.
"Agam bilang ingin menyekolahkan Anna di sekolah Internasional. Kau setuju?"
"Terserah saja," sahut Nisha sambil melanjutkan langkahnya ke anak tangga. Untuk apa menanyakan keputusannya? Dulu waktu membawa Anna ke rumah ini, bukankah mereka semua tak menganggap dirinya ada?
"Mama...!" sambut Anna dari ujung tangga atas. Ia memamerkan senyum lebar untuk menyambut mamanya yang baru pulang bekerja.
"Mama, tadi papa belikan baju tidur kembaran untuk kita. Nanti malam kita pakai ya.." pinta Anna dengan binar wajah yang amat ceria. Wajah polos itu menunjukkan penuh harap.
Nisha diam sejenak, nafasnya terlihat berat. Entah kenapa melihat Anna keadaan hatinya semakin berantakan. Namun ia berusaha bersikap ramah, karena percuma ia melampiaskan kekesalannya pada anak yang tidak tau apa-apa itu.
"Iya, sekarang mama mau istirahat dulu ya. Mama lelah." ia berlalu melewati Anna, tanpa memberikan sentuhan apapun.
Meski begitu, Anna sudah sangat senang. Walau hati kecilnya sedikit ciut karena belum bisa berinteraksi selayaknya orang tua dan anak.
...~...
Malam tiba....
Yasmine menyandarkan tubuhnya pada salah satu pilar yang ada di lobi. Wajahnya teramat sangat berantakan dan frustasi.
"Tau kah kau berapa lama aku menyiapkan uang, diriku dan mentalku untuk hari ini?" rutuk Yasmine sambil mengeratkan rahangnya.
"Tidak. Aku memutuskan bersikap acuh, sama seperti mu yang tak perduli dengan rasa lelahku mencari keberadaanmu." jawab Lukka sambil menyeret koper milik Yasmine. Ia akan mengantarkan Yasmine malam ini. Besok mereka akan bicarakan kelanjutan perasaan yang tergantung itu.
Yasmine benar-benar syok mendengar bahasa Lukka yang sudah jauh berbeda. Ia seperti berhadapan dengan orang asing. Sangat berbeda dengan Lukka yang tadi merebut paksa tas nya.
...~~~~...
__ADS_1