
"Ma, pa, Aku berangkat dulu ya." Serobot Lukka memecah kebingungan yang ada. Ia langsung saja menaiki motor itu, motor yang membuat bingung keluarganya.
"Kau yang membawa motor ini? Kemana mobilmu? Kenapa di tukar dengan motor?" Ambar menyerbu pertanyaan kepada putra bungsunya itu. Ia takut putranya terkena tipuan.
"Bukan di tukar ma, mobil ku ada di kantor. Memangnya siapa yang mau menukar mobil dengan motor." Lukka memasang helm, kemudian menyalakan mesin motor.
"Hanya mirip berarti." Gumam Agam yang sedari tadi memperhatikan obrolan mamanya dan Lukka.
.
.
Hari ini Nisha menyempatkan diri untuk mengurus surat adopsi Anna. Agam lah yang memintanya, karena jadwalnya sangat padat hari ini. Jika akan bersekolah, maka data diri dan asal usul Anna harus jelas semua.
"Tidak ada akta, atau kartu keluarga ananda Anna?" Petugas mengatakan akan lebih mudah jika ada data diri asli dari keluarga kandung Anna.
"Tidak ada, apakah harus?" Nisha tak tau jika hal seperti itu di perlukan. Sementara Agam mengatakan tidak dapat menemukan keluarga Anna yang lain.
"Untuk membuat surat adopsi yang sah, di butuhkan asal usul pasti si anak. Apakah dia anak yang di buang, atau anak yang sengaja di selundupkan. Kita tidak pernah tau." Ucap petugas itu membuat Nisha semakin bingung. Ia harus bagaimana?
"Jika semuanya tidak ada, apakah surat adopsi tidak disetujui?" tanya Nisha terlihat cemas, sayang sekali jika tidak bisa. Padahal ia sudah mulai melunakkan hati untuk Anna.
"Bisa, dengan syarat calon orang tua, dan anak melakukan tes DNA. Peraturan di perbarui semenjak ada kasus orang tua kandung yang membuatkan surat adopsi untuk anaknya, hanya agar bisa menerima santunan dari pemerintah. Anda juga tau berita itu kan?"
Nisha mengangguk, berita itu memang sempat gempar beberapa tahun silam. "Baiklah, kalau begitu saya akan kembali lagi membawa hasil tes DNA. Terimakasih." Ia berpamitan setelah meninggalkan beberapa berkas.
.
.
Karena bulan depan syarat pendaftaran sekolah harus sudah siap, Nisha tak mau membuang waktu. Jika terlambat maka harus mengulang tahun depan. Kasian Anna yang sudah sangat antusias bersiap untuk sekolah.
Nisha memberikan sehelai rambut milik Anna, yang ia letakkan di wadah plastik. Begitu juga dengan rambut Agam, yang ia pungut di atas sprei. Akibat pertempuran yang agak ganas semalam, membuat Nisha tanpa sadar menjambak rambut Agam.
"Tolong secepatnya ya." ucap Nisha kepada salah satu rekannya.
"Baik, jika hasilnya sudah keluar. Aku akan menghubungimu."
"Baik, terimakasih." balas Nisha kemudian beranjak dari sana.
Ia melihat jarum arlojinya yang menunjukkan pukul 11:30. Setengah jam lagi akan tiba waktunya istirahat siang. Ia masih memiliki waktu untuk menemani Agam makan siang.
__ADS_1
"Sudah lama tidak datang ke rumah sakit Mas Agam." gumamnya melangkah girang, entah kenapa hari ini hatinya berbunga-bunga sekali.
Setelah berkendara setengah jam, Nisha pun sampai di halaman Rumah Sakit Kasih Ibu. Para Dokter dan perawat tampak berseliweran karena tepat waktunya makan siang.
Nisha langsung masuk menuju ruangan suaminya. Sudah lama sekali ia tak mengunjungi tempat itu.
tok..tok...
"Masuk.." sahut Agam yang masih sibuk dengan komputer medisnya.
"Sayang..? Ada apa?" Agam langsung menyambut hangat sang istri. Ia menenggelamkan tubuh Nisha ke dalam pelukannya.
"Aku membelikan sup kesukaanmu, mas." Nisha membalas hangat pelukan sang suami.
"Benarkah? wahh.. istriku memang sangat pengertian. Kebetulan aku sedang lapar, mau makan bersama?"
"Boleh..." Nisha mengangguk pelan dengan wajah manja.
...~~~...
Sore menjelang malam, Lukka baru sempat mengembalikan motor Yasmine ke kontrakannya. Ia harus melakukan banyak pekerjaan tadi, sehingga baru sempat ke sana.
Mendengar suara motor, Yasmine pun segera membukakan pintu. Ia melirik ke arah teras rumah pak Basir, dan benar saja, orang tua itu sedang mengawasinya dari balik tirai.
"Kau tidak mau menyuruhku masuk?" ucap Lukka lari dari pembahasan.
"Cepatlah pergi, ada yang sedang mengawasi kita." ujar Yasmine sambil menggaruk pelan pelipisnya, sementara matanya menunjuk ke arah rumah Pak Basir si pemilik kontrakan.
"Jangan di lihat..!" Yasmine spontan menarik kepala Lukka, saat dia hendak menoleh.
Jadi bertatapanlah mata mereka dalam jarak yang sangat dekat. Kemudian keduanya sama-sama melepaskan pandangan dengan gerakan canggung.
"Kau membuatku terkejut.." lirih Lukka sambil mengusap pucuk hidungnya.
"Sebenarnya ada yang ingin ku bicarakan padamu." Lukka hendak meminta waktu sebentar, namun tampaknya Yasmine tidak nyaman berbicara disana.
"Apa.. cepatlah.." sergah Yasmine sambil memegangi gagang pintu, ia segera ingin menutup pintu.
"Aku butuh waktu, bisa kita bicara sebentar? Jika kau tidak nyaman disini, kita bisa pergi."
"Aku tidak punya waktu, cepatlah katakan saja." ketus Yasmine, ia sama sekali tidak penasaran, yang ada di kepalanya hanya was-was bayang wajah pak Basir.
__ADS_1
"Baiklah... Begini.., kau batal ke luar negeri karena aku. Dan aku membatalkan rencanamu bukan tanpa alasan. Aku benar-benar mencintaimu, aku ingin kita lebih serius. Tapi jika ternyata kau menolakku, apa kau tetap akan ke luar negeri?"
Yasmine malah terpaku di tempat dengan perasaan gagu. Perkataan Lukka sangat terus terang, hingga membuatnya kesulitan menjawab.
"Sebentar, aku ganti baju dulu. Kita bicara di tempat lain." ia masuk, kemudian menutup pintu.
.
.
Kini mereka berdua sudah sampai di salah satu cafe. Tentang perasaan Lukka, dan tentang bagaimana perasaan Yasmine memang harus di luruskan, agar tak terjadi kesalahpahaman.
"Bagaimana? Apa kau mau menjalin hubungan denganku?" Lagi-lagi Lukka memulai tanpa basa-basi. Membuat seruputan pertama Yasmine pada kopi hampir berhamburan ke luar.
"Kau... sadar hubungan seperti apa yang kau inginkan?" tanya Yasmine terbata.
"Bukankah kau sendiri yang bilang, jika menikah butuh perjuangan. Aku sudah berjuang, sudah berubah sejauh ini. Aku sudah memiliki pekerjaan, aku sudah dewasa, dan aku sudah mengerti cara membuat anak." ucapnya bangga. Dulu memang ia tak tau apa-apa soal pernikahan. Kini ia tau, bahwa menikah bukan hanya tentang tidur bersama.
"Cara apa...?" Yasmine mengulangi, ia seperti salah dengar tadi.
"Cara membuat anak." sahut Lukka tanpa rasa canggung.
"Hei, darimana kau tau itu? Kau tidak terperangkap pergaulan bebas teman-teman mu itu kan? Kenapa kau sangat berbeda sekarang?"
"Bukankah bagus jika aku berbeda? Diriku yang dulu cukup menyedihkan, kau tau itu kan?"
Yasmine terdiam, memang dulu ia sempat menaruh rasa pada Lukka. Namun ternyata rasa itu hanya sebatas teman, rasa sayang dan perhatian yang ia curahkan dulu tak semata karena Lukka memiliki keterbelakangan mental.
Namun sekarang semuanya berbeda. Lukka telah berubah menjadi lebih baik. Namun tak hanya Lukka yang berubah, sudut kecil di dalam hati Yasmine juga berubah seiring terkikisnya waktu. Ia menjauh bukan hanya karena tak ingin mengganggu Lukka, melainkan karena tak mau menganggu dirinya sendiri dari bayangan Agam.
"Lukka.., sebenarnya ada sesuatu yang ingin ku katakan."
"Apa..?" tanya Lukka memandang legam.
Yasmine tertunduk, mengumpulkan niat untuk tega mengatakan ini. Bagaimanapun ia tak pantas jika menerima Lukka hanya karena rasa kasihan.
"Sebenarnya...aku..." Kelopak mata Yasmine kian terpejam dalam, sungguh sulit menggerakkan lidah untuk mengatakan yang sebenarnya.
Namun tiba-tiba mata Yasmine terbuka membelalak, saat ia teringat kompor di rumah belum di matikan. "Komporku masih hidup...!" ia langsung berdiri panik.
"HAHHH...?" Lukka tak terkejut, ia tak percaya Yasmine bersusah payah hanya untuk mengatakan itu.
__ADS_1
"Cepat antar aku pulang...! Cepat...!" Yasmine menarik tangan Lukka. Pria itu hanya bisa mengikuti sambil sibuk mengeluarkan uang dari saku, untuk membayar minuman mereka.
...***********...