
Tugas menjadi relawan selama sebulan akhirnya selesai. Para Dokter akan kembali ke tempat mereka masing-masing. Di hari itu pula Agam dan Sandra baru mengetahui, bahwa cinta satu malam mereka menghasilkan benih janin di rahim.
"Ikutlah denganku, aku tak ingin lagi melepaskanmu." Agam merasa harus bertanggungjawab atas kelanjutan hidup Sandra.
"Aku akan menjalani hidupku seperti biasa. Aku akan melahirkan anak ini dan membesarkannya. Jadi jangan khawatir." Sandra menepis tangan Agam yang tengah mengenggamnya.
"Aku berhak menanggung hidupmu dan anak kita." Agam benar-benar dibutakan oleh cintanya.
Sandra mengecap pahit, ia merasa sangat bodoh karena jatuh kedalam tatapan Agam malam itu.
"Lalu bagaimana dengan anakmu? Bukankah istrimu tengah mengandung?"
"Aku akan membuatnya menerima keberadaaanmu, Sandra."
"Kau pikir aku mau? Aku tak mau jadi yang kedua. Istrimu pun pasti tak menginginkan itu. Aku sangat bodoh karena melakukannya denganmu. Aku membayangkan bagaimana perasaan istrimu, apa kau tidak membayangkannya?"
Bola mata Sandra mulai berkaca-kaca. Seharusnya ia memikirkan ini sejak awal. Kesalahan ini adalah gerbang kehancuran untuknya. Ia benar-benar sangat menyesal. Namun untuk mengaborsi, ia takkan tega melakukan itu. Ia akan mempertahankan janinnya, tanpa menganggu Agam.
"Sandra...." Agam mencegah cinta pertamanya itu untuk pergi, namun ia tak bisa berbuat banyak. Para Dokter akan memperhatikan mereka. Agam hanya bisa memandangi Sandra yang berlari menuju bus.
"AAAGGHH...!" Kesal Agam menendang salah satu koper miliknya. Ia sangat ingin bersama Sandra, namun disisi lain ia memikirkan Nisha, dan reputasi keluarga. Jika berita tentang hubungannya dan Sandra tersebar, maka pamor keluarganya akan jatuh. Ia tak mau mencoreng nama baik keluarga.
Agam memutuskan kembali ke kota lebih dulu. Ia akan mencaritahu keberadaan Sandra nanti. Ia pasti akan bertanggungjawab. Ia akan menjamin Sandra mendapatkan kehidupan yang layak, seperti Nisha.
Tak lama setelah kembali ke kota, Nisha menginginkan liburan ke turki. Karena tak bisa melihat Nisha murung dan sedih, akhirnya Agam menyetujui. Lagipula kebahagiaan seorang ibu sangat penting untuk janin. Ia tak mau anaknya ikut merasakan sedih.
Niat untuk mencari Sandra pun ia urungkan. Bagaimanapun ia juga telah jatuh hati kepada Nisha. Keduanya sama-sama penting bagi Agam. Ia bahkan menyuruh seseorang untuk mencaritahu tentang Sandra.
__ADS_1
Namun nahas tak bisa di elak. Nisha dan Agam malah terlibat kecelakaan lalu lintas dalam perjalanan menuju Bandara. Kecelakaan itu amat parah, hingga menyebabkan Nisha kritis selama dua minggu. Anak mereka pun tidak dapat diselamatkan, dan rahim Nisha terpaksa di angkat.
Keterpurukan Nisha atas kehilangan janin dan rahimnya membuat Agam lupa akan niatnya pada Sandra. Ia tak kuasa melihat Nisha menderita seorang diri. Itu sebabnya ia fokus untuk mendampingi Nisha pulih dari keterpurukannya.
Bulan demi bulan, tahun demi tahun pun berlalu. Karena tak kunjung menemukan Sandra, perlahan Agam pun seperti hilang rasa, hilang harapan. Lagi-lagi Sandra bersembunyi dari dirinya.
Agam pun lebih fokus dengan Nisha. Ia memperlakukan Nisha amat baik karena merasa bersalah. Ia telah melukai hati Nisha, ia telah mengkhianati pernikahannya. Ia berupaya menebus kesalahannya dengan memperlakukan Nisha sebaik mungkin. Ia memperlakukan Nisha bak berlian yang amat berharga.
Hingga saat Nisha berada di dalam penjara. Sandra mendatangi Agam di rumah sakit. Agam sempat terkejut dan goyah, namun jujur saja saat itu cintanya sudah tidak ada lagi untuk Sandra. Hatinya sudah seratus persen di miliki oleh Nisha. Hanya Nisha. Tapi entah kenapa Sandra datang di saat seperti ini.
"Maafkan aku karena memisahkanmu dengan anak kita." ucap Sandra tertunduk sedih. Ia tau ini sangat memalukan. Namun ia tak punya pilihan.
Agam masih mematung di kursinya, memperhatikan wajah Sandra yang kelihatan sangat pucat.
"Aku menderita kanker otak stadium akhir." Sandra memberikan selembar foto, yakni foto anak mereka.
"Kau juga tau kehidupanku sangat susah kan? Aku menitipkannya ke panti asuhan dua bulan ini. Aku ingin dia terbiasa tanpa kehadiranku. Dokter memvonis hidupku hanya tinggal tiga bulan lagi. Aku tak punya waktu untuk menyiapkan masa depan Anna. Untuk itu aku memohon padamu, pastikan Anna menjalani hidup yang baik. Kau tidak perlu membawanya pada istrimu. Awasi saja dia, dan pastikan ia baik-baik saja. Orang tuaku sudah meninggal, dan aku tidak punya siapa-siapa lagi untuk Anna. Kau harapan terakhirku."
Agam meraih foto Anna, kedua matanya tampak nanar. Tangannya pun bergetar. Ia menatap buah cinta masalalu itu dengan penuh rasa haru dan bersalah.
"Siapa namanya?"
"Anna... Anna Dinansyah." Sandra sengaja menyematkan nama Agam di belakangnya, dengan harapan Anna selalu berada di sekitar ayahnya. Dan ternyata harapan itu terwujud sekarang. Ia bisa meninggalkan Anna dengan tenang.
Setelah kepergian Sandra. Agam lebih sering mengunjungi Anna. Namun hati ayah mana yang tak teriris saat melihat anaknya hidup pas-pasan di panti asuhan. Sedangkan ia hidup dengan sangat layak dan kecukupan. Agam pun memutuskan membawa Anna ke rumah. Ia mengarang cerita seapik mungkin, membohongi semua keluarganya. Ia juga membohongi Anna, ia membawa Anna ke psikolog, dan menanamkan memori baru untuk Anna. Ia menanamkan bahwa ialah papa kandungnya, dan Nisha mamanya. Ia juga mengarang cerita untuk Anna sedemikian rupa, agar Anna bisa melanjutkan hidup seperti anak sebayanya. Tanpa harus tau pusaran konflik yang terjadi di antara orang dewasa itu.
Tadinya Agam berpikir semuanya akan berjalan dengan baik. Ia berencana jujur, saat ia sudah menyiapkan hati dan mentalnya untuk melihat Nisha kesakitan. Namun sayang, kebohongan ini terungkap secepat itu.
__ADS_1
.
"Maafkan aku, Nisha.. maafkan aku..." Agam bersimpuh memohon maaf. Ia memang seorang bajing4n yang tak tau malu. Ia memang manusia yang sangat menjijikan.
Nisha mengusap kasar air matanya. "Kisahmu sangat menyedihkan. Namun hidupku lebih menyedihkan. Aku kehilangan anakku, rahimku, aku menahan perih demi mencari rahim pengganti, namun yang kudapatkan adalah pengkhianatan."
"Aku bahkan malu menyebutmu anakku..!" geram Ambar mengepalkan tangan. Ia tak menyangka, putra yang selalu ia banggakan ternyata melakukan hal kotor.
"Aku... akan pulang kerumah orang tuaku." Nisha bangkit menuju kamarnya. Tangisnya tak kunjung berhenti. Harus dengan apa ia meredakan rasa sakit ini?
Ia mengemasi baju-bajunya, kemudian memasukkan koper ke dalam bagasi mobil. Di saat yang bersamaan, Anna melihat itu. Ia menghampiri Nisha dengan wajah sedih. Ia tak mau terpisah lagi dengan mamanya.
"Mama mau kemana..? Kenapa mama membawa koper? Mama mau meninggalkan Anna lagi?" bocah itu memasang wajah sedih, kedua matanya mengatakan ia tak mau berpisah dengan Nisha lagi. Ia tau keadaan rumah sedang panas, melihat raut wajah oma dan papanya yang amat kalut.
Nisha tak menjawab, memandang anak itu pun tidak ia lakukan. Batinnya sangat sakit bahkan hanya dengan mendengar suara anak itu.
"Nisha.., kita bicarakan ini baik-baik. Jangan pergi Nisha..." Agam berusaha menghentikan Nisha, namun percuma.
Nisha tak goyah sama sekali. Tak ada lagi yang perlu di bicarakan. Semakin di jelaskan, hatinya semakin tertikam lebih dalam.
"Mama...! Mama...!" Anna menangis histeris saat mobil Nisha melaju meninggalkan rumah. Ia bahkan berlari kencang, hingga terjatuh. Namun ia bangkit lagi dan berlari mengejar mobil Nisha.
"Anna..," Agam menangkap Anna dan menggendongnya. "Maafkan papa, nak." lirihnya sambil menangis.
"Mama.... Anna mau ikut mama..." tangis Anna semakin pecah di bahu papanya.
Agam tak bisa berbuat banyak. Situasinya sangat hancur sekarang.
__ADS_1
Sementara Ambar hanya bisa terdiam di pintu, masih tak menyangka dengan polemik yang ditimbulkan Agam. Ia tak berhak mencegah Nisha pergi, atau memintanya kembali, karena pengkhianatan adalah luka yang tak ada obatnya. Luka yang akan terus terasa sampai kapanpun.
...************...