Tak Mau (Jadi) Yang Kedua

Tak Mau (Jadi) Yang Kedua
Episode 25 :


__ADS_3

Agam keluar dari kamar Lukka, menemui sang istri untuk menanyakan kebenaran, yang diucapkan Yasmine barusan.


"Mas..?" Nisha segera menghampiri Agam. Ia bertanya-tanya apa yang membuat raut wajah sang suami tampak murka.


"Sayang, benar dugaan ku kalau gadis penipu itu hanya mempermainkan kita. Dia pura-pura buta, dan kamu tau apa? Dia menuduh mu bahwa ini semua atas perintah mu. Bukankah dia sangat gila..?!" Geram Agam dengan emosi meletup-letup.


Yasmine dan Lukka hanya berdiam diri diposisi mereka semula. Lukka mendengar itu, dan ia mengerti maksud perkataan Agam. Ia menatap lirih pada Yasmine yang tampak tertunduk sayu.


"Kamu tidak marah dia menuduh mu begitu?" tanya Agam terheran, kenapa sang istri hanya menatapnya. Bukannya tak terima dengan tuduhan yang diucapkan Yasmine.


"Mas..,"


"Mari kita batalkan rencana mu, aku tidak mau ada seorang penipu di rumah kita. Dan aku tidak mau darah gadis penipu itu mengotori keturunanku!"


"Memang aku yang merencanakan ini, Mas." ujar Nisha lalu menggeratkan bibirnya. Ia tak menyangka sandiwara ini ketahuan begitu cepat. Dan karena sudah terlanjur, apapun resikonya Nisha memantapkan diri untuk menghadapi itu.


Kedua bola mata Agam menatap nanar sang istri. Bibirnya kelu beberapa saat, tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Bagaimana mungkin...


"Kamu jangan bercanda," ketus Agam mengusap kasar wajahnya. Tidak mungkin Nisha melakukan hal gila itu. Apa pula tujuan Nisha merencanakan hal ekstrem tersebut?


"Memang aku, Mas. Aku yang menyuruhnya menjadi buta." Buliran bening bergelayut di kedua bola mata Nisha. Keputusasaan, keinginan dan ambisi untuk memiliki seorang anak, membuat Nisha merencanakan hal gila ini.


Agam menyingkirkan lengannya yang hendak digenggam oleh Nisha. Masih ia mematung dengan wajah tak percaya.


"Bagaimana dengan rekam medisnya?" Tanya Agam, setelah bersusah payah menelan saliva. Ia menahan kuat rasa marah yang membuncah, demi ingin mendengar penjelasan sang istri. Bahkan ia masih berharap Nisha sedang berbohong sekarang.


"Aku yang mengaturnya..." Nisha tertunduk, meneteskan air mata yang sudah tak tertahan.


"Kenapa...? Kenapa kamu sampai bertindak sejauh ini, Nisha..?" Pria itu menatap legam sang istri, suaranya berat sekali.


"Agar kamu bisa menerimanya, Mas. Wanita manapun pasti akan jatuh cinta dengan mu, kecuali dia buta. Begitu kata papa. Dan kamu pun setuju. Aku sudah sangat menginginkan anak, Yasmine adalah orang yang tepat. Maka itu aku membuat sandiwara, agar kalian bisa menyetujui rencana ku."

__ADS_1


Agam berbalik badan dan membuang kasar nafasnya. "Kamu sudah gila, Nisha! Gila kamu..!" kecam Agam menuding wajah sang istri.


Nisha tak membantah kecaman itu, memang ia sudah gila. Sebagai wanita yang tak mempunyai rahim, sebagai wanita yang kehilangan harapan, dan sebagai seorang istri yang tak bisa memberikan keturunan. Bukankah itu cukup untuk membuat Nisha menjadi sangat gila?


Ketakutan akan cinta suami yang mungkin akan pudar, karena ketidak sempurnaan dirinya menjadikan Nisha mengambil langkah terjal.


"Batalkan hal gila ini..! Dan usir wanita itu sekarang juga!"


"Tidak Mas.. tolong, aku menggantungkan harapan pada Yasmine sepenuhnya." pinta Nisha memelas.


"Aku sangat ingin memiliki anak darimu, Mas. Aku sangat mendambakan seorang buah hati dari darah daging mu. Aku ingin pernikahan kita memiliki cinderamata, seperti orang-orang pada umumnya."


PRAAANG....!!!


Agam menyambar sebuah guci besar disebelahnya hingga remuk, berserak di lantai. Nisha sampai menutup kedua telinganya karena terkejut dan takut.


"Hentikan omong kosong ini..! Akhiri semuanya! Aku tidak mau dengar apapun lagi..!"


"Mas, tolong..." bujuk Nisha berusaha mengejar sang suami yang beranjak keluar rumah.


Sementara itu di kamar, Lukka tampak duduk di lantai dan menyandarkan tubuhnya pada kasur. Sedari tadi ia ketakutan, mendengarku Agam dan Nisha bertengkar. Ia menutupi telinganya sambil menggigil ketakutan.


Sedangkan Yasmine, ia mematung di posisinya semula dengan deraian air mata tiada henti. Memang kekacauan yang terjadi sekarang bukan salahnya. Tapi entah mengapa ia merasa 60 persen keributan ini terjadi karena dirinya.


Menyadari ada tangis sesenggukan dari balik ranjang, Yasmine menghampiri suara itu. Anak besar yang tak tau apa-apa itu tampak sangat ketakutan.


"Lukka..." lirih Yasmine mendekat.


"Kenapa kalian semua bertengkar? Kenapa? Kenapa kak Agam sangat marah? Kenapa kakak berbohong? Apa semua orang disini tidak ada yang tulus?" rengek Lukka sambil menepuk-nepuk kedua telinganya, berharap apa yang ia dengar barusan segera hilang.


Yasmine menggenggam kedua tangan Lukka, "Maaf... kakak tidak bermaksud membohongimu."

__ADS_1


"Kenapa kakak berbohong, padahal kakak selalu bersikap baik pada Lukka?" Tampak kekecewaan yang begitu besar dari wajahnya.


Yasmine tak mampu menjelaskan itu. Ia sendiri merasa terjebak di situasi ini. Apakah ia masih bisa melanjutkan ini? Atau berhenti saja, sesuai keinginan Agam? Pria itu pasti tak sudi lagi melihat wajahnya. Kemungkinan untuk melanjutkan rencana ini bahkan tak sampai 5 persen. Lalu jika ia berhenti, bagaimana dengan hutang-hutangnya? Bagaimana dengan kegadisan yang telah hilang? Situasi buruk ini seolah menghimpit Yasmine ke sebuah lubang hitam tak berujung.


...~~...


Keesokan harinya, seluruh keluarga dari kedua belah pihak berkumpul di rumah Agam dan Nisha. Mereka datang untuk menyaksikan pengakuan Nisha dan Yasmine.


Baik kedua orang tua Agam maupun Nisha sama-sama syok. Mereka tak habis pikir dengan Nisha, yang rela membuat sandiwara sedemikian rupa hanya karena ucapan Pak Daniel.


"Lalu sekarang bagaimana?" tanya Pak Ghani terdengar lugas. Ia sedikit kecewa dengan Nisha, karena mempermainkan pernikahan mereka.


"Aku ingin menghentikan ini..!" jawab Agam cepat.


"Mas..." sambar Nisha tampak tak terima.


"Tidak ada penolakan!" tegas pria itu seraya mengepalkan kedua tangannya.


Seisi rumah terdiam, tak terkecuali Yasmine. Ia hanya tertunduk, memikirkan nasibnya yang terancam kalang kabut. Masa depan suram sudah menanti di depan sana. Rasa sesal karena telah mengambil keputusan bodoh ini perlahan merayapi benaknya.


"Kalau menurutmu itu yang terbaik, maka kami berharap demikian." ujar Pak Daniel. Lagipula sejak awal ia tak setuju dengan keputusan putrinya itu.


Nisha tak bergeming, wajah sembabnya kembali dialiri air mata.


"Bagaimana tentang proses inseminasi itu? Bukankah kalian harus memastikan, sebelum mengakhiri ini semua? Jika ternyata proses pembuahan berhasil kau tidak bisa mengusir Yasmine begitu saja, Agam." sergah Ambar. Situasi ini malah membuat dirinya semakin memojokkan Nisha, karena berani berbohong. Sedangkan pandangannya terhadap Yasmine, semakin unggul.


Nisha yang tengah kalut sedikit lega atas ucapan mertuanya itu. Ia tak terpikir tentang proses pembuahan yang mungkin saja berhasil.


Wajah geram Agam menjadi semakin menjadi. Kenapa sandiwara ini harus ketahuan saat sudah melewati proses inseminasi? Ini akan jadi halangan besar untuknya menyingkirkan gadis pembawa sial itu.


"Mari kita periksa dulu, kalau memang pembuahan tidak terjadi. Maka terserah jika kamu mau membatalkan keputusan ini." ucap Nisha yakin. Satu-satunya kesempatan bergantung didalam rahim Yasmine sekarang.

__ADS_1


"Baik." Agam menghela nafas kasar. Ia berharap tak terjadi proses pembuahan. Agar rumah tangganya kembali seperti semula.


...***********...


__ADS_2