
Nisha pulang ke rumah orang tuanya dengan wajah sembab dan bengkak. Entah ini keputusan yang tepat atau bukan, yang pasti saat ini ia tak ingin melihat wajah Agam.
Mendengar gemuruh langkah kaki, Farah yang tengah berada di dapur melepas celemeknya, dan melihat siapa yang datang.
"Nisha..?" Ia menatap Nisha yang tampak hancur. Anak tirinya itu terlihat sangat rapuh sekarang.
"Ada apa...?" Farah mendekati Nisha, walau hubungan mereka tak terlalu dekat, ia ingin bisa membantu menegarkan Nisha.
"Papa dimana..?" Nisha menahan air mata yang hendak terjatuh lagi.
"Papamu sedang tugas. Ada apa denganmu, hmm..?"
Nisha mulai menangis lagi, ia tak tahan harus menyimpan ini. Ia tak tau harus bagaimana. "Apa yang harus ku lakukan...?" ia tertunduk dan memecahkan tangisnya.
Farah memeluk putri sambungnya itu dengan penuh kelembutan. Ia membawa Nisha ke sofa, kemudian membawakan Nisha segelas air putih.
"Mas Agam mempunyai anak dengan wanita lain. Dan wanita itu ternyata cinta pertamanya sebelum aku..." Ia mencurahkan semuanya. Bagaimana Agam membohonginya, bagaimana Agam mengaku bahwa ia dengan sadar melakukan hal tercela saat menjadi relawan.
"Ku pikir Mas Agam pria yang sempurna. Aku tak mengira dia melukai hatiku seperti ini. Aku masih tak percaya..."
Farah terlihat prihatin, sekaligus tak percaya dengan apa yang diceritakan anak tirinya itu. Karena selama lebih dari sepuluh tahun pernikahan mereka, tak sekalipun Nisha pernah menceritakan keburukan Agam. Seolah Agam memang suami yang sangat sempurna.
-
-
Malam tiba, Nisha sudah sejak sore mengurung diri di kamarnya, sementara Pak Daniel dan Farah tengah berdiskusi atas goncangnya rumah tangga Nisha.
Pak Daniel berencana mendatangi keluarga Agam esok, untuk meminta penjelasan. Serta memastikan, apakah rumah tangga Agam dan Nisha benar-benar tak bisa di pertahankan.
"Tuan, ada Mas Agam." ujar bibik, dengan Agam berjalan mengikutinya.
"Malam, pa, ma." sapa Agam pada kedua mertuanya itu.
"Malam.." sahut Farah dan Pak Daniel. Tak seperti biasanya, kali ini mereka berdua menyambut Agam dengan senyum yang agak kecut.
"Silahkan duduk." Pak Danil menunjuk salah satu sofa dengan tangannya.
Agam langsung menempatkan dirinya di sofa itu. Tanpa banyak basa-basi, Agam langsung memberitahu apa tujuannya kesana.
__ADS_1
"Begini pa, ma. Kalian pasti sudah mendengarnya dari Nisha. Saya ingin meminta maaf yang sangat besar karena telah melukai perasaan Nisha. Saya akui kesalahan yang saya buat sangat fatal. Tujuan saya kesini, ingin menemui Nisha dan meminta maafnya."
"Nisha bilang akan bercerai darimu. Apa tanggapanmu soal itu?" pungkas pak Daniel. Wajahnya sangat jelas menunjukkan rasa marah. Orang tua mana yang tak sakit hati, melihat anak yang ia besarkan sepenuh hati malah di sakiti.
"Saya akan meminta waktu. Jujur saya tidak ingin bercerai dengannya, pa." jawab Agam sembari mengepalkan tangannya di atas paha. Ia sangat gugup, rasanya seperti pertama kali ia datang ke rumah ini, saat baru menikah dulu. Canggung dan kaku, semuanya sama seperti dulu.
"Kamu tidak ingin menceraikan anak saya, tapi dengan sadar kamu menghamili wanita lain. Apa kamu sadar sikapmu terlalu serakah? Kamu membawa anak hasil perselingkuhan mu ke rumah, sementara kondisi Nisha tak bisa memiliki anak. Saya tak bisa membayangkan, betapa sakit hati Nisha saat ini."
Agam tertunduk mendengar celaan dari papa mertuanya. Ia berhak menerima itu. Ia tau dirinya tak lagi pantas di sebut sebagai suami.
"Maaf, pa..." lirih Agam, hanya itu yang mampu terucap dari bibirnya.
"Apa boleh saya menemui Nisha..?" sekali lagi ia mengutarakan niatnya.
"Kondisi Nisha saat ini sedang sangat terguncang. Melihatmu pasti akan membuat keadaannya semakin parah." Pak Daniel tegas menolak permintaan Agam. Berani sekali ia seenaknya menemui sang putri, setelah menghancurkan hatinya berkeping-keping.
Agam tak bisa berkutik lagi. Ia menelan berat ludahnya, bibirnya terkatup rapat. Kedua tangannya mengusap paha secara bergantian.
"Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu." Agam beranjak dengan wajah tertunduk. Padahal ia sangat ingin menemui sang istri, atau bila perlu ia mau mencium kaki Nisha untuk meminta maaf.
"Apa kau pernah mencintai Nisha? Apa kau memerlakukannya dengan baik hanya karena ingin mengubur rasa bersalahmu?" Perkataan Pak Daniel membuat langkah Agam terhenti.
"Lalu sekarang dia tidak bisa hamil, dan kau malah membawakan anak hasil perselingkuhanmu? Aku tak menyangka ada manusia seperti mu. Tidak punya hati..." umpatan Pak Daniel terhenti, kala sang istri mencengkram lengannya.
Farah menggeleng ke arah sang suami, seolah mengatakan cukup. Sampai sekarang Agam masih menantu mereka. Tidak baik mencela terlalu dalam, karena kita tak pernah tau apa yang akan terjadi kedepannya.
"Pulanglah, besok kami yang akan bicara pada Nisha." ucap Farah sambil tersenyum datar.
Agam mengangguk kecil, ia menatap penuh harap pada sang ayah mertua, sebelum akhirnya benar-benar pergi dari sana.
...~~~...
Atas permintaan Lukka, Yasmine bersedia datang sekali saja ke rumah mereka, sebelum akhirnya akan memutuskan untuk menolak, atau mengiyakan ajakan Lukka untuk menikah.
Di rumahnya, terdapat banyak kenangan yang tersimpan untuk Yasmine. Siapa tau dengan menunjukkan itu, Yasmine tak ragu lagi menerima Lukka. Tentu saja itu hanya harapan.
Lukka adalah satu-satunya orang yang belum tau, atas huru hara yang terjadi antara Agam dan Nisha.
"Masuklah, rumah kami tidak berubah sama sekali." Lukka membukakan pintu, agak lama ia berdiri disana karena Yasmine tampak ragu.
__ADS_1
"Lukka...? Kau membawa Yasmine? Ya ampun...masuk Yasmine. Sini..." Ambar antusias menyambut Yasmine, ia memang sudah lama mengharapkan Yasmine datang lagi ke rumahnya.
"Terimakasih Bu..." Yasmine terlihat sangat sungkan. Kembali lagi ke keluarga itu, seperti memutar jelas kisah masalalunya yang amat rumit.
"Kebetulan saya sedang masak untuk makan malam, kita makan dulu ya."
"Tidak usah, bu. Saya hanya mampir sebentar kok." ucap Yasmine menolak.
Ambar tak mau tau, karena sudah sampai disana ia ingin Yasmine mencicipi masakannya. Mau tak mau Yasmine pun menurut. Walau sedikit canggung, ia tetap tersenyum demi menghangatkan suasana.
"Oma, sudah masak belum? Anna sudah lapar sekali..." seru Anna menghampiri sang nenek yang tengah menyiapkan sajian akhir.
"Sebentar lagi, kamu main saja dulu. Nanti kalau sudah selesai oma panggil."
Anna mengangguk, lalu kembali ke ruang tengah. Ia tengah memainkan rumah barbie kesukaannya di saja.
Ambar sempat bersikap acuh kepada Anna selama dua hari. Entah kenapa, rasa sakit yang didapatkan Nisha seperti menjalar ke hatinya. Mungkin itu karma, karena dulu ia pun sering menyakiti hati Nisha. Tapi Ambar berpikir lagi, Anna hanyalah seorang anak yang tidak tau apa-apa. Kehadirannya di dunia ini pun tanpa ia minta. Ibunya memang salah, Agam memang salah. Mereka berdua bisa di bilang hina. Namun Anna tetap anak yang tak berdosa. Akhirnya Ambar membuka hati kembali, mau tak mau, suka tidak suka, Anna adalah cucu kandungnya. Darah dagingnya.
"Siapa itu..?" Tentu saja keberadaan Anna membuat Yasmine penasaran.
Lukka sedikit mendekatkan dirinya, agar tidak di dengar Anna. "Dia Anna, anak yang di adopsi Kak Agam..."
"Dia anak kandung Agam." potong Ambar pelan. Membuat Yasmine dan Lukka sama-sama terkejut.
"Anak kandung..??!" ucap Lukka dan Yasmine berbarengan, namun dengan intonasi yang berbeda.
"Ma, tidak perlu berbohong kepada Yasmine." bisik Lukka.
"Mama tidak bohong, mama juga terkejut saat mengetahuinya. Kau belum mama ceritakan karena sangat sibuk belakangan ini."
"Bu Nisha dan Pak Agam punya anak? Sudah sebesar itu?" Yasmine mendadak hilang rasa canggung, karena syok dan kepo.
"Memangnya apa yang terjadi, ma? Kenapa Anna bisa menjadi anak kandung kak Agam?"
"Kakakmu pernah berselingkuh, dan Anna anak hasil perselingkuhannya."
"APA...?????" Dua pasang bola mata milik Lukka dan Yasmine mendelik bersamaan.
...*************...
__ADS_1