
⚠️ Bab ini mengandung unsur 18+ di harapkan bijak dalam membaca.
..._______...
Jam menunjukkan pukul Sebelas siang. Waktunya Lukka pulang sekolah, bertepatan pula dengan waktu istirahat anak anak SMA di gedung sebelah.
Tampak para murid penyandang disabilitas berhamburan keluar gerbang. Ada yang pulang menggunakan Bus, ada yang di jemput supir pribadi. Ada pula yang berjalan kaki, mereka adalah anak-anak yang rumahnya dekat dari sekolah. Namun rata-rata mereka diantar jemput oleh orang tua, ataupun pengasuh. Diantara para murid, hanya Lukka yang paling tua.
"sssstt...!" Panggil salah satu anak SMA dari balik gang sepi.
Lukka tak menghiraukan, ia sangat marah bila teringat kejadian kemarin. Ia tak mau lagi berteman dengan mereka.
"Lukka," Salah satu anak SMA itu menghadang Lukka, dengan wajah penuh sesal.
"Apa..?" Sahut Lukka tak senang, ia bahkan enggan menatap wajah anak itu.
"Kami semua ingin minta maaf, kami menyesal karena melakukan itu. Kau mau kan memaafkan kami, dan berteman lagi dengan kami semua?" Pintanya memelas, tatapan teduh itu ternyata mengandung senyum palsu. Entah apalagi yang mereka rencanakan untuk Lukka kali ini.
Melihat raut wajah itu, Lukka pun melunak. Ia sangat ingin memiliki teman di sekolah. Dan hanya mereka yang mau berteman dengan dirinya.
"Kalian janji tidak akan mengambil uang Lukka lagi?" Lukka mengedarkan tatapan penuh harap, pada semua anak-anak nakal itu.
"Kami janji, kami akan menjadi teman terbaik untukmu." Ucap mereka semua serempak, lalu menghampiri Lukka dan memeluk anak itu bersama-sama.
Mendapat perlakuan seperti itu sudah sangat membuat hati Lukka bahagia. Ia yang dengan polosnya melupakan kejadian kemarin, tampak menikmati kehangatan palsu yang diberikan teman-temannya.
"Aku membeli PS baru dirumah, kau mau bergabung dengan kami? Ada game model baru juga..." Ajak anak yang memakai tindik di alisnya itu, ia adalah ketua geng. Orang tuanya sangat kaya, hingga ia bisa bersikap seenaknya di sekolah. Bahkan guru pun tak bisa berkutik, bila orang tua anak itu turun tangan.
"PS baru? Lukka mau..." Ia tampak senang. "Kapan kita main?" Tanya Lukka lagi.
"Sekarang saja," Ucap anak itu tertawa lebar.
"Tapi kalian kan belum pulang sekolah, nanti dimarahi ibu guru."
"Tenang saja, kami sedang tidak ada pelajaran. Lagipula kami sudah izin pada ibu guru." Sahut anak yang lain, sambil menggandeng Lukka dari sisi kiri.
"Benarkah, kalau begitu ayo.." Lukka dengan senang hati mengikuti langkah teman-temannya.
.
.
__ADS_1
Sampailah Lukka di salah satu Apartemen mewah, tempat tinggal si ketua geng. Jaraknya tidak jauh dari sekolah, hanya 30 menit saja bila berjalan kaki.
Kebetulan, orang tuanya yang seorang Anggota Dewan tengah melakukan kunjungan diluar kota. Jadi tidak ada siapapun disana, kecuali mereka.
Di lobi tampak beberapa siswi SMA dari sekolah lain tengah menunggu. Total ada Empat siswi, dengan seragam berbeda. Dua diantaranya sudah mengenal Lukka, sementara dua lainnya tampak menatap risih pada gelagat Lukka.
"Anak siapa yang kau bawa ini? Tampangnya seperti rektor tua bangka." Desis anak perempuan berambut pendek itu.
"Tapi dia lumauan tampan..." bisik yang satunya pula.
"hai..., saya Lukka." Sapa anak besar itu melambai, dengan senyum polosnya yang menawan.
"Ayo kita masuk," Ajak si ketua geng.
Mereka semua pun masuk ke salah satu Griya tawang mewah. Dari ruang utama, mereka langsung di suguhkan oleh televisi besar, yang lengkap dengan set DVD terbaru.
"waahh.. ini benar-benar model terbaru. Lukka harus minta ini sama papa...!" Ucap Lukka kegirangan, sembari menimang stik PS berwarna hitam itu.
Si ketua geng pun langsung menyalakan TV, dan menyambungkan sebuah flashdisk kesana.
Semua orang disana tampak saling melempar tawa, mereka kompak menjebak Lukka, entah dalam hal apa.
Bukannya video game yang di putar, si ketua geng malah memutar video 19+ dari para aktor barat.
"Duduk lah disini, video gamenya akan di putar setelah ini." Salah satu anak menarik Lukka agar duduk di sofa.
Sementara di sofa lainnya, mata polos Lukka disuguhkan oleh aksi bercumbu beberapa siswa. Tampak satu anak perempuan, dikerubungi oleh 3 anak SMA pria. Mereka melakukan hal tak pantas itu tanpa rasa malu.
Lukka merasakan kedua kaki dan tangannya bergetar. Ia tidak paham apa yang mereka lakukan, namun nalurinya sebagai pria dewasa tampak menangkap adegan itu, lalu mengirim respon pada otak Lukka. Itu sebabnya ia merasa jijik pada apa yang dilakukan anak-anak itu.
"Apa yang kalian lalukan? Kenapa kalian menyiksa nya..?!" Lukka tampak panik, saat melihat anak-anak wanita itu mulai mendes4h. Ia bahkan berusaha menyingkirkan teman-teman prianya agar menjauh dari anak perempuan itu.
"Apa yang kalian lakukan..!" Pekiknya ketakutan.
"Santai Lukka... Rileks... Kau mau mencobanya juga?" Bisik salah satu anak perempuan, yang mengenal Lukka. Ia bahkan meraba dada Lukka dengan wajah sensual.
"Lukka pulang saja!" Ia menepis tangan anak itu. Lalu bergegas mengambil tasnya.
Namun langkahnya terhenti, saat si ketua geng menghadangnya. Tak hanya sendiri, ia menggandeng salah satu anak perempuan dan melakukan aksi tak senonoh tepat di depan mata Lukka.
Tentu saja Lukka semakin membelalak, rasa takutnya memuncak. Kepalanya bahkan sangat sakit saat ia mendengar erangan para anak berand4lan itu.
__ADS_1
"Kalian.., cepat buka pakaian Lukka. Aku yakin dia juga ingin mencoba." Titah si ketua geng. Para anak-anak pun langsung bergegas menahan Lukka.
Mereka memegangi kedua tangan Lukka, mulai membuka rompi dan kemeja sekolahnya.
Anak besar itu melawan, memberontak. Namun tenaganya tak sebanding, dengan 5 orang yang tengah membekuk dirinya.
"Hentikan..! Lukka tidak mau..! Lukka mau pulang...!"
"Lukka.., tubuhmu bagus juga.." Goda salah satu perempuan, yang sudah menanggalkan semua pakaiannya. Yang tertinggal hanya pakaian dalam, dan parahnya ia mendekati Lukka dengan tampilan bin4l itu.
Lukka memejamkan mata, sambil tetap berusaha memberontak. Sementara kemejanya sudah tanggal, menampilkan tubuh bidang nan kekar. Bentuk tubuh itu ia dapatkan, karena rajin berolahraga dengan Agam.
"Andai otakmu waras, kau pasti jadi lelaki yang sangat sempurna." Ucap si wanita tel4nj4ng, ia meraih sabuk celana Lukka dan membukanya perlahan.
"Jangan..! Lukka malu..! Jangan...! Lukka mau pulang saja..." Anak itu menangis sesenggukan. Ia menggeliat kesana-kemari, hingga membuat Lima orang kesulitan mengontrol.
"Biarkan saja dia.., mungkin dia belum terbiasa." Ucap si ketua geng, mungkin ini belum saatnya memasukkan Lukka kedalam circle mereka. Ia bisa mencoba lain kali. Ini kali pertama untuk Lukka, wajar jika anak itu terkejut. Esok mungkin Lukka bisa menikmati, sama seperti mereka.
Tak ingin membuang waktu, anak-anak itu pun membiarkan Lukka yang menangis di tempat. Kemudian mereka melanjutkan pesta sek's dengan Lukka menjadi penontonnya. Anak itu tidak dibiarkan keluar, mereka sengaja mempertontonkan hal itu pada Lukka. Mereka bahkan memaksa Lukka membuka mata, untuk menyaksikan aksi bej4d tersebut.
.
.
Hampir dua jam berlalu, Lukka baru dilepaskan dari situasi menjijikan itu. Ia diancam, akan menyebarkan foto nya yang sedang bertelanj4ng dada bersama wanita, bila mengadukan itu kepada guru atau siapapun.
Anak itu menangis tersedu-sedu sepanjang perjalan menuju rumah. Apa yang barusan ia saksikan sungguh mengacaukan pikirannya. Instingnya kuat mengatakan itu hal tidak pantas, itu menjijikan. Tapi ia tak tau kenapa perbuatan itu terasa sangat menjijikan. Rasa bingung dan takut membuat kepalanya berputar dan sakit. Belum lagi rasa malu, karena pakaiannya di lucuti oleh mereka. Ia benar-benar tak tau harus mengadukan ini pada siapa. Ia sangat takut. Takut sekali.
braak...!
Lukka membuka pintu rumah dengan kasar. Membuat Yasmine yang tengah duduk di ruang televisi terlonjak kaget. Bahunya bahkan spontan terjingkat.
Melihat Lukka menangis tersedu-sedu, ia pun segera menghampiri Lukka. Bahkan melupakan tongkatnya.
"Lukka..?Ada apa..? Kau kenapa..?" Ia menatap kosong pada wajah Lukka. Kekhawatiran begitu jelas terlihat di wajahnya.
"Kenapa kau menangis,hah...? Anak-anak itu mengganggumu lagi..?" Cecar Yasmine menuntut jawaban, ia tak akan mengampuni anak-anak itu, jika memang membuat Lukka seperti ini.
Lukka terdiam sejenak, ia menunduk meredam tangis. Namun tak bertahan lama. Tangis itu tumpah kembali.
"Kakak...."😭😭😭
__ADS_1
...************...