Tak Mau (Jadi) Yang Kedua

Tak Mau (Jadi) Yang Kedua
Episode Terakhir


__ADS_3

Hari ini pasangan pengantin baru telah kembali ke rumah, setelah satu malam menginap di hotel.


Lukka dan Yasmine membaringkan tubuh mereka bersamaan di atas kasur sambil mendesis panjang. Hari-hari yang melelahkan akhirnya terlewati.


Tumpukan kado menggunung di sudut kamar besar itu. Mereka tak memiliki tenaga, bahkan untuk melirik kado-kado tersebut.


Suasana sedikit canggung, saat mereka tiba-tiba saling menatap bersamaan. Hening terasa saat keduanya saling meneguk ludah. Deru nafas bersahutan dan denyut nadi keduanya melaju.


"Benarkah kau istriku sekarang?" bisik Lukka sambil membenahi helaian rambut di pipi Yasmine.


Nafas Yasmine semakin laju. Rasa cinta yang dulu pernah hadir untuk Lukka, sepertinya kini mulai bertunas kembali. Dadanya selalu saja berdebar saat dekat dengan suaminya itu.


"Tentu saja...memangnya aku terlihat berbeda setelah menikah? Sampai kau meragukanku?"


"hmm, kau berbeda. Semakin cantik hingga aku sulit percaya bahwa kau milikku."


Bibir Yasmine tersenyum kecil, ia menahan senyumnya dengan wajah bersemu. Ia juga membuang muka agar tidak kelihatan salah tingkah.


"Kadonya banyak sekali ya, padahal aku tidak mengundang temanku. Relasi dan rekan keluargamu memang bagus. ahh... aku tak menyangka jadi istrinya pria kaya. Terlalu matrealistis ya kan..?" Entah apa yang diocehkan Yasmine, ia sendiri tak tau. Mulutnya jadi hilang kendali karena gugup.


Pipinya semakin merah saat ia mendapati Lukka tak merespon. Suaminya itu malah memandanginya penuh cinta sambil tersenyum kecil. Yasmine jadi semakin salah tingkah. Ia pun mencoba mengalihkan suasana lagi.


"Aku ingin membuka kadonya. Kira-kira apa ya isinya.. ayo bantu aku.." saat hendak bergerak, bahunya ditahan oleh Lukka. Ia jadi terbaring kembali dengan lengan Lukka diatas dadanya.


"Aku juga ingin membuka kado ku." ujar Lukka seraya meremas pundak sang istri.


"Maka itu ayo..."


"Bukan kado pengantin, melainkan kado ku sebagai suami. Aku ingin melakukannya..."


"Sekarang..?" Yasmine meneguk saliva, ia semakin berdebar saat Lukka mulai meraba tengkuknya.


"Aku tidak bisa menunda lagi."


Yasmine tak memberi penolakan, ia pasrah dan sadar bahwa sudah kewajibannya memenuhi keinginan sang suami. Apalagi ini yang pertama kali, tentu menggebu rasanya mengingat mereka sudah melewati dua malam bersama-sama.


"Tapi.., kau sudah tau kan, bahwa aku tidak lagi virgin." Yasmine terlihat minder. Karena dengan masalalu Lukka, sudah pasti dia masih perj4ka. Sedangkan dirinya, ia gadis yang tidak lagi memiliki selaput dar4.

__ADS_1


Lukka terlihat tak perduli, ia tersenyum lebar lalu mencium bibir sang istri dengan lembut. Baginya masalalu Yasmine bukanlah suatu hal yang hina. Ia pun bukan sosok sempurna, dengan latar masalalunya, dan dengan keadaan mentalnya. Yang ia tau, ia sangat mencintai Yasmine. Ia akan membahagiakan Yasmine, ia akan membuat Yasmine merasakan ketenangan hidup yang sebelumnya selalu membuat Yasmine menderita.


"Peluk aku, sayang..." bisik Lukka melanjutkan kegiatannya.


Lengan Yasmine pun perlahan melingkar ke punggung Lukka. Ia sangat bahagia, bisa dimiliki oleh orang spesial seperti Lukka. Jika reinkarnasi itu nyata, maka ia akan meminta agar dilahirkan menjadi istri Lukka lagi.


...~~...


Agam dan Nisha keluar dari Kantor Pengadilan. Keduanya memegang map yang berisikan akta cerai. Kini mereka sudah bukan lagi suami istri. Keduanya telah sah bercerai.


Kedua orang tua mereka hanya bisa berdamai dengan keadaan, walau sulit untuk mereka menerima. Ambar bahkan menangis sesenggukan.


Beribu penyelasan menyelimuti wajah Agam. Andai saja ia tak terbuai oleh cinta masalalu itu, pasti rumah tangganya baik-baik saja sekarang.


Berjuang memohon kepada Nisha pun ia telah menyerah. Ia tau yang dialami Nisha juga sangat berat, sangat menyakitkan. Jika posisinya di balik, jika Nisha yang berbuat demikian, ia pun mungkin tidak akan sanggup menerima Nisha kembali.


"Terimakasih atas 13 tahun yang kamu berikan, Mas. Terimakasih karena selalu ada untukku, bahkan disaat aku terpuruk. Aku akan mengingat semua kebaikanmu, sebagai ayah dari mendiang anak kita." bola mata Nisha merah berkaca saat mengatakan itu. Sebagai suami, apa yang dilakukan Agam sungguh membuat mental dan hatinya terbunuh.


"Aku juga.., terimakasih atas kesetiaanmu. Dan maaf karena aku gagal menjaga setiaku. Aku tau kehadiran Anna sangat menyakitkan untukmu, tapi kamu mau menerimanya lagi. Meskipun kita tidak lagi bersama, mari tetap sering bertemu. Aku tau aku tidak tau diri, tapi Anna sangat membutuhkan sosokmu."


"Aku akan sering mengunjungi Anna. Sampai jumpa, Mas ..." Nisha melangkah pergi sambil melepaskan sesak didadanya.


Mereka masuk ke dalam mobil masing-masing. Jarak dan pemisah antar keduanya sudah terbentang jelas. Tak ada lagi harapan, tak ada lagi kebahagiaan. Semuanya hancur akibat kebohongan.


Cinta tulus adalah ketika saling terbuka, saling menerima. Jika didalamnya terdapat kebohongan, maka ketulusan itu boleh diragukan.


...~...


"Anna. Kau diantar pembantumu lagi hari ini?" ucap teman sekelas Anna.


"Hari ini penetapan kursi, orangtuamu tidak ada yang datang?" imbuh yang lainnya dengan wajah meledek.


"Berhentilah bertanya padanya, atau dia akan bilang mamanya datang membawa jarum suntik dan menyuntik kita...hahahhaha...."


"Orangtuanya pasti sangat kaya, karena selalu sibuk. hahahahha..."


"Dia pasti anak tiri dikeluarganya, itu sebabnya orangtuanya tidak pernah datang."

__ADS_1


"Dia sering pamer tentang keluarganya,pasti itu semua bohong."


Gerombolan anak-anak bau menyan itu terus saja menggunjing Anna. Memang sih Anna sering memamerkan pekerjaan dan rumahnya kepada mereka. Mungkin itu terjadi, karena dulu ia hidup dipanti asuhan. Jadi alam bawah sadarnya mendongkrak untuk memamerkan kehidupannya sekarang yang jauh lebih baik.


Namun perkataan anak-anak itu membuatnya terdiam. Papanya selalu sibuk bekerja, sementara mamanya sudah pindah rumah. Ia hanya diam saat anak-anak itu terus mengatainya berbohong.


"Anna...!" Nisha memanggil Anna dari lorong kelas. Ia berseru karena tak tau dimana lokal Anna.


"Mama..?" Anna langsung bangkit dan berlari keluar kelas.


Teman-teman sekelas Anna pun ikut melihat. Sudah satu bulan mereka sekolah, tapi belum pernah melihat orangtua Anna datang.


Nisha langsung memeluk gadis kecil itu. "Maaf, mama baru bisa datang. Bagaimana sekolahnya? Anna suka?"


"Suka. Tapi teman-teman Anna selalu bilang kalau Anna anak tiri. Karena mama dan papa tidak pernah datang." keluh Anna sambil menyandarkan pipinya di pundak Nisha.


"Maaf, kedepannya mama akan sering datang. Mama sangat sibuk kemarin. Papamu juga baru naik jabatan, jadi dia sangat sibuk sekarang. Anna bisa mengerti kan?"


"Baiklah, tapi bisakah mama memarahi papa agar datang setidaknya sekali? Anna ingin memamerkan papa yang tampan kepada mereka."


"hahaha...baiklah, mama akan memarahinya nanti." Nisha berdiri dan menggandeng tangan Anna.


"Anak-anak..." seru Nisha kepada teman-teman Anna.


"Anna bukan anak tiri, dia punya orang tua yang lengkap. Kalau kalian mengatakan hal menyinggung lagi, tante akan menyuntik kalian satu persatu. Tante seorang Dokter, kalian tau kan?"


"Iya....." mereka menjawab serentak lalu kabur ke meja masing-masing.


"Anna sudah sarapan? Bagaimana kalau kita makan bubur ayam di kantin?"


"Boleh, Anna suka bubur ayam." Anna tampak riang sekali.


"Kalau begitu, ayo..."


Nisha dan Anna berjalan bergandengan tangan sambil sesekali diayunkan. Nisha berjanji akan sering-sering datang kesana. Biar bagaimanapun Anna adalah anak dari mantan suaminya. Ia memang tidak bisa memaafkan perbuatan Agam. Namun ia bisa menerima keberadaan Anna, sebagai korban kedua setelah dirinya.


...---TAMAT---...

__ADS_1


__ADS_2