Tak Mau (Jadi) Yang Kedua

Tak Mau (Jadi) Yang Kedua
Episode 56 : Cinta Tulusnya


__ADS_3

Sambil menyajikan makanan, Ambar sambil menceritakan seluk beluk prahara yang di ciptakan Agam. Ia menangis, kesal, merutuk dan bahkan prihatin saat menceritakannya.


Sepanjang cerita itu pula Yasmine dan Lukka tak hentinya melongo, karena tak percaya dengan apa yang terjadi. Di mata mereka Agam adalah sosok yang sempurna. Tanpa cela, tanpa dosa.


Yasmine bahkan mencintainya diam-diam, setelah ia mengandung anaknya. Tapi ternyata di balik sikap Agam yang terlihat sempurna, tersimpan plot twist yang tak pernah di duga oleh semua orang, termasuk Ambar sendiri.


"Sudah dua hari kakak iparmu pulang ke rumah orang tuanya. Mama malu, apa yang harus maka katakan jika nanti orang tua Nisha kemari?" keluh Ambar sambil menidurkan dahinya di atas piring.


"Benar-benar tidak masuk akal..." gumam Yasmine dengan pandangan kosong. Ia bahkan sempat iri, karena cinta Agam yang begitu besar untuk Nisha. Namun ternyata Agam menyimpan duri tajam di balik sikapnya.


"Kak Agam keterlaluan sekali." Lukka pun ikut kesal. Ia merasa sangat prihatin dengan kakak iparnya, yang harus menerima akibat dari kebusukan masalalu kakaknya.


"hhhhh.... hidup memang terlalu banyak sandiwara. aisshh... sudahlah, ayo kita makan." Ambar melepaskan celemeknya, lalu memanggil Anna yang masih asyik bermain.


"Oma, tante itu siapa?" bisik Anna yang penasaran dengan sosok Yasmine.


"Dia temannya om Lukka." jawab Ambar menghembuskan nafas berat.


Entah kenapa kedua putranya itu selalu tidak selaras sejak dulu. Saat Agam sedang di ujung kesukseksan, baik itu rumah tangga ataupun karirnya, justru Lukka yang tertinggal jauh di bawah. Sekarang saat Lukka sedang mendaki menuju kehidupan aslinya, Agam malah yang mengalami badai besar. Ambar sangat ingin melihat kedua putranya itu berbahagia bersama.


"Masak apa, ma?" ucap Agam yang baru saja pulang kerja. Semenjak tidak ada Nisha, ia selalu makan di rumah mamanya.


"Yasmine..?" alis Agam tertekuk, sudut matanya pun melebar di balik kacamata bening yang ia kenakan.


"Iya.." Yasmine mengangguk pelan, tambah terasa canggung suasana disana.


"Apa yang membuatmu datang kemari?" Agam masih berdiri di tempatnya. Gadis itu bukan hendak menuntut keadilan atas kejadian di masalalu kan?


"Duduklah, kenapa kau kaku sekali. Kau membuat Yasmine tidak nyaman." bisik Ambar, dan Agam langsung mengambil posisi di sebelah mamanya.


"Aku berencana menikah dengannya." celetuk Lukka berterus terang sekali.


Agam sampai tak jadi menyeruput teh hangat, padahal gelasnya sudah sampai di ujung bibir.


Sementara Yasmine hanya bisa tersenyum kaku. Kenapa Lukka membicarakan itu, seolah niat mereka sudah bulat.


"Kau membuatku terkejut." lirih Agam terbata, ia kembali meletakkan gelasnya.


"Kami juga terkejut mendengar kisah kakak." gumam Lukka tampak kecewa. Agam adalah panutannya selama ini.


"Hei, kau mengolok-olok ku?" rutuk Agam memicingkan mata.

__ADS_1


"Tidak, aku hanya kecewa. Kecewa berat." sewot Lukka sambil mengunyah daging dengan bibir monyong.


"Sejak kapan kalian berhubungan? Yasmine.., bukankah kau menghilang bak di telan bumi setelah hari itu? Kapan kalian mulai berhubungan?"


"Kami baru bertemu lagi seminggu yang lalu." potong Lukka, membuat Agam semakin membelalak.


"Apa..? Seminggu yang lalu? Yasmine, kau tau Lukka sudah banyak berubah kan? Kau yakin menikah dengannya? Aku sangat senang jika kalian saling mencintai, tapi kalian yakin sudah saling mendalami satu sama lain?" Agam memborbardir mereka bak ketua sidang skripsi. Pasalnya ia tak ingin bila nantinya Yasmine kecewa, atas perubahan sikap Lukka yang amat drastis. Di tambah mereka tak pernah bertemu dalam jangka waktu yang lama.


"Memangnya kenapa? Kami kan sudah saling mengenal dulu. Aku bahkan lebih dekat dengannya, dibandingkan kakak." Lagi-lagi Lukka merasa keputusannya menikahi Yasmine sudah sangat matang.


"Tapi kan cuma sebentar." Agam melebarkan matanya. Ia khawatir Lukka bisa memimpin rumah tangga, karena belum lama ia berproses ke dalam fase dewasa.


"Benar.., sedangkan yang puluhan tahun saja banyak kesalahannya." lirih Yasmine tertunduk lesu. Ia sangat ingin kabur dari sana rasanya.


Lukka dan Agam sontak terdiam mendengar itu. Agam bahkan menyorot tajam wajah Yasmine, karena merasa tersinggung.


"Makan lah, tidak baik memperkeruh suasana saat sedang makan." ucap Ambar menengahi. Padahal dia sendiri sedang keruh sekarang.


"Jadi tante calon bibiku?" ceketuk Anna, ia mengarahkan tatapannya yang berbinar.


"ee..belum." Yasmine tak tau harus menjawab apa.


Yasmine tak menjawab, ia menatap semua orang yang ada disana secara bergantian.


"Anna, jangan bicarakan hal seperti itu kepada orang yang bukan keluarga. Jaga privasi kita." bantah Agam terdengar ketus, namun tetap lembut.


"Maaf,pa..." Anna lantas tertunduk dan melanjutkan makannya dengan raut wajah sayu.


Setelah selesai makan, Lukka menyuruh Yasmine menunggu di ruang tengah. Sementara ia mengambil sesuatu ke kamarnya.


Yasmine masih termenung disana, ia membayangkan betapa kejam Agam menyembunyikan hal yang begitu besar. Sedikit terketuk hatinya untuk kembali melihat Lukka. Pria yang selalu mengatakan cinta untuknya itu tak pernah berubah sejak mentalnya masih kekurangan.


Jika di pikir-pikir, tak ada salahnya menerima Lukka. Sebab adakalanya lebih baik di cintai, daripada mencintai. Kadang orang yang paling kita percaya sekalipun menyimpan hal menyakitkan, karena mereka tidak tulus mencintai kita.


Soal perasaannya yang sempat tertuju pada Agam, sepertinya ia harus mengubur itu. Biarlah itu menjadi ikatan yang tak terlihat, antara dirinya, Agam dan mendiang janin mereka.


Jika pun ia menolak Lukka, lalu apa yang akan ia lakukan? Hidupnya tentu akan sama seperti sebelumnya, datar dan suram.


"Aku ingin kau melihat ini." Lukka membawa sebuah kotak berwarna hitam. Di dalamnya terdapat foto-foto mereka dulu. Ada buku diary yang ia tulis khusus untuk Yasmine selama mereka berpisah. Ada pula sebuah peta yang sebagian wilayahnya ia lingkari, itu ia jadikan tanda saat mencari Yasmine dulu.


Yasmine mulai melihat foto mereka satu persatu. Foto saat mereka berkelakuan konyol dulu. Betapa konyol ia saat menyamar sebagai orang buta, dan melawan teman-teman Lukka. Semua nya tersimpan rapi di sana.

__ADS_1


"Siapa yang mengambil gambar ini? Yasmine mengangkat foto saat dulu ia melawan bocah brand4alan di belakang gang cafe.


"Salah satu dari mereka juga, katanya dulu mereka berniat melaporkan kita." Lukka menjawab sambil menatap penuh cinta ke arah sang pujaan hati.


"Sampai sekarang kau masih berteman dengan mereka?"


Lukka mengangguk, arah matanya tak berubah sama sekali. Yasmine menyadari betul tatapan penuh rasa itu. Namun ia berusaha biasa saja. Walau dadanya berdebar dan ingin sekali melarikan diri.


"Kami bertemu sesekali." ucap Lukka.


Yasmine mengalihkan wajahnya. Kali ini ia melihat buku diary. Walau tulisannya agak berantakan, Yasmine cukup tersentuh membacanya.


Yasmine, kau dimana? Aku sangat merindukanmu. Aku mencarimu kemana-mana. Ku harap suatu saat kita bertemu.


Kau tidak melarikan diri karena kekuranganku,kan? Apa aku berbuat salah padamu?


Padahal aku sungguh sungguh ingin menikahimu. Kau pasti menganggapku anak-anak yang asal bicara.


Yasmine tertawa kecil membaca tulisan itu. Masih terasa pekat lewat tinta, betapa polosnya Lukka saat itu.


"Cantik..." puji Lukka yang benar-benar hanyut dalam senyum manis Yasmine. Walau senyum dan tawa itu tidak di tujukan untuknya, ia begitu terpanah.


Yasmine menoleh ragu-ragu, apa ia tak salah dengar?


"Tau kah kau? Setiap malam aku selalu berdoa, semoga kita dipertemukan kembali. Dan aku berjanji pada diriku, saat kutemukan lagi dirimu, aku takkan melepasmu."


Yasmine meneguk ludahnya kasar. Kenapa tatapan Lukka begitu menusuk ke jantungnya. Ia berpikir berulang kali, apakah ada lagi pria setulus Lukka di lain tempat? Apakah ia akan menerima cinta seperti ini lagi esok dari orang lain? Apakah ada pria yang mau menerima dirinya yang berstatus pernah hamil? Atau memang cuma Lukka yang akan mencintainya tanpa syarat?


"Ayo menikah..." ucap Yasmine dengan tatapan lurus dan teduh. Sorot mata dua insan itu begitu kuat seolah saling mengikat.


"Apa...?" Lukka mendekatkan wajahnya, agar ia bisa mendengar lebih jelas.


"Aku...mau menikah denganmu."


...***********...


Tak kasih bonus foto si bayi besar yang udah dewasa dan foto ayank bebnya🎉



__ADS_1


__ADS_2