
Ambar membawa Yasmine ke rumahnya, untuk melihat-lihat. Kebetulan Yasmine sedang merasa bosan dirumah Agam. Ambar juga mengatakan akan membuatkannya makanan.
"Siang, nyonya..." sapa wanita berusia 50 tahun. Dia adalah pengasuh Lukka, sekaligus ibu kedua bagi Lukka. Dibandingkan dengan Ambar, Lukka malah lebih puas apabila menceritakan imajenasi dan isi hatinya kepada Bik Sati.
Bik Sati tampak sedang mengirisi paprika sesuai permintaan Ambar. Ya, belakangan ini karena Lukka jarang pulang, tugas Bik Sati jadi terfokus ke dapur saja.
"Sudah siap semua bahannya, bik? Tomatnya cukup kan?" tanya Ambar memeriksa semua bahan makanan.
"Cukup nyonya, tapi beef nya sepertinya kurang." ucap bik Sati, tidak mungkin kan mereka hanya memasak untuk bertiga, masih ada Agam, Nisha, Lukka, dan Pak Ghani.
"Biar saya saja yang belikan, nyonya." Bik Sati bersiap melepas celemeknya, namun Ambar mencegah.
"Saya saja bik, sekalian mau beli jajanan buat Lukka."
Bik Sati pun mengangguk, lagi pula bahan makanan belum siap semua ia potong-potong.
"Yasmine, kamu mau titip apa?" tanya Ambar.
"Tidak bu, heheh..." Sebenernya ia ingin memakan ice cream rasa vanilla, dengan toping coklat yang banyak. Namun ia segan mau bilang kepada Ambar.
"Saya tinggal sebentar ya..." pamit Ambar segera beranjak. Sekalian ia mau membeli bumbu-bumbu dapur. Tadinya ia ingin mengajak Yasmine, tapi takut anak itu kelelahan nanti.
"Saya bantu potongin ya bik," Yasmine mengambil ikatan daun bawang, namun Bik Sati mencegahnya.
"Jangan non, ini tugas bibik. Non duduk saja disana, nanti kelelahan loh."
"Tidak apa-apa bik," akan terlalu canggung bila ia hanya menonton bik Sati disana.
__ADS_1
Bik Sati pun tak menolak lagi, "Bersihkan ini saja, kalau itu nanti perih dimata." ia memberikan semangkuk daun selada kepada Yasmine.
"Bibik sudah lama bekerja dengan keluarga ini?" Yasmine mencoba membuka obrolan, agar suasana tak terlalu sepi.
"Sudah non, sejak Lukka berumur satu tahun."
"wahh.. lama banget.. berarti sudah seperti keluarga ya bik." Yasmine berdecak kagum, itu artinya saat ia baru lahir kedunia, si bibik sudah bergabung dengan keluarga Lukka.
"heheh iya... sebenarnya bibik sudah mau istirahat. Tapi tidak boleh dengan Lukka, setiap bibik pulang kampung Lukka bahkan selalu menangis. Jadi bibik menuruti untuk tetap tinggal disini. Lagipula bibik tidak punya anak, jadi Lukka sudah bibik anggap sebagai anak sendiri."
Senyum bik Sati begitu merekah saat menceritakan Lukka. Persis seperti seorang ibu yang sedang membicarakan anak kandungnya.
"Berarti bibik sudah sangat melekat di hati Lukka." Yasmine ikut tertawa, "Bagaimana sifatnya saat masih kecil bik? Apa sama saja seperti sekarang?"
"Ya hampir tidak ada bedanya, hanya saja semenjak berusia 20 tahunan, dia menjadi lebih penasaran akan banyak hal. Kemarin dia bahkan bertanya pada bibik, apa saja syarat untuk menikah hahahahha... Perut bibik kaku menertawakan itu. Dia bahkan belum bisa memasang kaos kaki dengan benar."
Sedangkan Yasmine, yang tadinya ia tertawa lebar, tawa itu langsung pudar. "Dia benar-benar membicarakan itu pada orang lain?"
"Iya hahahaha... dia membicarakan itu padamu juga? Konyol sekali bukan?" lirih bik Sati di tengah-tengah tawanya. Andai saja dia tau bahwa Yasmine lah yang di ajak menikah, pasti tawanya lebih meriah lagi.
"ha..ha..ha.. konyol memang." timpal Yasmine tertawa hambar. dag dig dug serr jantungnya.
"Tapi bibik kasihan padanya, diusia itu seharusnya dia memang sudah menikah. Atau paling tidak merasakan yang namanya jatuh cinta. Sebenernya bibik sudah bilang kepada nyonya Ambar, untuk mencarikan gadis, yang mungkin bisa mencintai Lukka. Tapi nyonya Ambar menolak, katanya Lukka tidak akan bisa bersikap selayaknya pria. Anak itu akan selalu menjadi anak kecil, itu yang dikatakan nyonya."
Maksud bik Sati, tidak ada salahnya membuat Lukka mencicipi kehidupan orang dewasa. Seperti memberinya pekerjaan yang dimampu, memberinya kebebasan bergaul dengan wajar, dan memberinya kesempatan untuk jatuh cinta.
Walau secara mental Lukka itu anak kecil, siapa tau di dalam hati kecil Lukka sudah tumbuh naluri pria dewasa. Banyak juga diluar sana, orang dengan keterbelakangan mental yang menikah dan punya anak. Banyak juga yang bekerja, dan melakukan kegiatan sosial sesuai kemampuan masing-masing. Dengan menyuguhkannya kesuatu hal baru tentang orang dewasa, siapa tau insting sebagai orang dewasa Lukka terpancing.
__ADS_1
Namun Ambar menolak semua saran itu, karena menurutnya kehidupan Lukka yang sekarang adalah yang terbaik. Dengan kata lain, ia tak membiarkan anak bungsunya itu keluar dari zona nyaman. Ya bik Sita tak bisa berharap banyak, karena bagaimanapun hanya Ambar yang berhak atas masa depan Lukka.
"Dulu Lukka pernah cerita dengan bibik, dia menyukai teman sekelasnya yang berusia 9 tahun. Waktu itu umur Lukka sekitar 20 tahun. Saat bibik tanya rasa suka seperti apa yang dia rasakan, dia menjawab rasanya menyenangkan. Saat melihat gadis kecil itu memberinya makanan, mengajaknya bicara, rasanya sangat menyenangkan."
"aaa... anak kecil dengan bando kuning itu..." Yasmine manggut-manggut saat teringat Lukka pernah menceritakan itu. Ia juga pernah melihat foto itu, di buku diary milik Lukka.
"Tapi saat bibik bertanya apakah dia berdebar, apakah dia merindukan gadis itu bila tak bertemu, atau apakah dia selalu terbayang akan gadis itu, dia bilang tidak. Katanya dia hanya senang saat mereka bersama, dan biasa saja saat tak berjumpa. Dari situ bibik menyimpulkan, mungkin saat itu naluri cinta yang dirasakan Lukka masih sama seperti anak berusia 7 tahun pada umumnya."
"Berarti Lukka tidak benar-benar menyukai, seperti remaja pada usia itu?" Yasmine meluruskan maksud bik Sita.
Wanita paruh baya itu pun mengangguk, "Benar, mungkin saat itu hanya anak perempuan itu yang mau berteman dengannya, jadi Lukka merasa sangat senang dan sangat menyukainya."
"Kemarin saat dia menanyakan perihal pernikahan, bibik menanyakan hal yang sama. Dan dia bilang iya. Dia mengatakan dia merindukan wanita itu bila tidak bertemu, katanya jantungnya seperti orang berlari laju saat menatap wanita itu. Dan setiap saat dia selalu terbayang wajah wanita itu. Bukankah itu jatuh cintanya orang dewasa?"
Kedua mata bik Sita tampak berbinar, membayangkan Lukka kini sudah mulai tumbuh seperti pria dewasa. "Bibik jadi penasaran, siapa wanita yang dia bicarakan itu."
Yasmine terpaku dengan daun selada ditangannya. Perkataan bik Sita barusan membuat dadanya pun ikut berdebar. Apa benar Lukka menyukainya sebagai pria dewasa?
"Menurut non Yasmine, seperti apa wanita yang membuat Lukka ingin menikah itu?" bik Sita tak sabar mendengar cerita lanjutan dari Lukka.
"Entahlah, mungkin itu..teman sekolahnya..." jawab Yasmine terbata-bata. Membayangkannya saja membuat denyut jantungnya hampir meledak.
BRRAAAKKK....!
Suara benturan keras membuat Yasmine dan bik Sita kaget. Suara itu sepertinya dari halaman depan. Yasmine dan bik Sita langsung meninggalkan dapur, dan terburu-buru memeriksa suara itu.
...************...
__ADS_1