
Sepasang suami istri itu masih saling melempar tatapan. Kedua tubuh mereka terkunci di derunya nafas yang terdengar.
Nisha sungguh tak bisa percaya dengan apa yang ia dengar. Agam adalah pria yang sangat ia percaya. Disaat semua orang tidak ada yang berpihak untuknya, Agamlah yang menjadi tameng. Agam selalu berdiri di garda terdepan. Ia hanya punya Agam, dan Agam pun demikian.
Namun sepertinya perkataan Agam barusan bukanlah mainan, tatapannya bak menaburkan racun yang membuat seluruh sel tubuh Nisha mati.
"Mas...?" lirih Nisha masih mencoba menampik. Ia berharap Agam hanyalah membuat lelucon.
"Anna, memang anak kandungku..." ucap Agam masih sama. Pandangannya tertunduk kali ini. Penuh penyesalan. Ia tak menyangka terjebak ke dalam situasi ini, yang membuat dirinya seperti penjahat.
Air mata Nisha mulai menitik, ia tak mampu lagi menahan. Tangisnya mulai kencang dan nafas tersengal.
"Kamu jangan bohong mas..! Kamu jangan buat aku seperti orang bodoh..! Kamu nyakitin aku tau nggak? Bercandaan kamu ini nyakitin..!" isaknya sambil memukuli lengan Agam. Kertas hasil tes DNA itu sampai remuk digenggamnya.
Agam hanya terdiam, ternyata memang benar, menutupi kebohongan dengan kebohongan lainnya malah akan menimbulkan kehancuran yang lebih besar.
"Maaf,Nisha... Maafkan aku..." Agam berusaha menggenggam tangan Nisha, ia tau itu takkan cukup untuk menenangkan hati Nisha yang sedang berkecamuk.
Nisha menepis kasar tangan Agam, ia mematung sejenak dengan sengalan nafas yang keras. Dadanya hampir tak bisa dibuat bernafas.
"Siapa mas..? Siapa wanita kotor yang melahirkan anakmu itu..?!" tekannya menahan air mata.
"Kanker otak..? Kamu juga bohong soal itu?Apa sampai sekarang kamu juga masih berhubungan dengannya? Dan kenapa kamu bawa anak hasil perselingkuhan itu ke rumah?! Apa kamu nggak memikirkan perasaanku saat membawa anak itu? Kamu bahkan menyuruhnya memanggilku mama..? Kamu benar-benar nggak punya hati mas!"
Tangis Nisha bertambah deras kala ia mengingat perjuangannya mendapatkan rahim pengganti, demi bisa memberi kesempatan untuk Agam, agar bisa memiliki keturunan. "Apa itu sebabnya kamu selalu bilang tidak apa-apa tak memiliki anak denganku, karena kamu sudah punya anak dengan wanita lain?"
Sakit sekali, suaranya hampir hilang, nafasnya sangat sesak mengingat semua ini. Orang yang paling ia percaya, justru menusukkan belati yang paling tajam.
"Sayang..."
"Jangan memanggilku begitu.!! Sangat menjijikkan..!" Tukas Nisha dengan tatapan nyala membara.
"Kita pulang dulu ya.. Aku akan menjelaskan semuanya di rumah."
Agam melajukan mobilnya secepat mungkin. Pikirannya terpecah belah. Namun tak bisa dibandingkan dengan apa yang dirasakan Nisha. Wanita itu menangis sesenggukan sepanjang jalan, sembari memegangi dadanya yang terasa perih.
.
.
__ADS_1
Di depan rumah, Ambar sedang menyirami tanamannya sambil bernyanyi riang. Ia sangat bahagia membayangkan putra bungsunya yang akan segera menikah. Semoga saja ia bisa mendapatkan cucu dari Yasmine dan Lukka, agar ia tak menganggu lagi rumah tangga Nisha dan Agam.
Jika di ingat-ingat, terbesit di benaknya rasa bersalah terhadap Nisha. Seiring bertambahnya usia, ia sadar, bahwa semua yang menimpa Nisha itu adalah diluar kemauannya.
Saat melihat mobil Agam tiba, ia langsung berlari untuk memberikan kabar gembira tentang Lukka.
"Agam.., Nisha..!" serunya sambil berlari-lari kecil.
Kedua insan itu menoleh, dengan raut wajah kalut dan wajah sembab. Melihat itu membuat rasa penasaran Ambar bangkit.
"Kalian kenapa..?" Ambar memperhatikan wajah menantunya yang sembab dan bengkak.
"Ma, kami mau masuk dulu ya." Agam menutup pintu mobil, kemudian beranjak dari sana.
"Iya.. iya..." Ambar pun mengangguk, ia mengurung niat untuk membicarakan tentang Lukka.
"Kita bicarakan dengan mama juga, mas. Mama harus tau. Aku juga akan langsung berterus-terang, bahwa aku ingin bercerai denganmu."
Ambar menjadi semakin penasaran, terlebih saat mendengar kata cerai. "Ada apa sebenarnya? Nisha, ada masalah apa?"
"Tidak ada masalah, ini kabar baik. Aku mengucapkan selamat untuk mama, karena mama mempunyai cucu kandung." Nisha terlanjur kesal, ia ingin semua orang tau, bahwa suaminya seorang pengkhianat.
"Tidak, cucu mama sudah sangat besar. Anna, dia cucu kandung mama. Anak mas Agam dan selingkuhannya!"
"APA..??" Ambar membelalak, tidak mungkin Agam melakukan hal kotor seperti itu, sampai mempunyai anak.
Mereka bertiga pun masuk ke rumah, dan membahas apa yang barusan di dengar Ambar. Sebagai ibu, ia pun sangat syok mendengar putranya melakukan hal seperti itu.
"Siapa...? Siapa wanita yang kau tiduri..!!" Ambar memukul bahu putranya itu dengan bantalan sofa.
Nisha menangis lagi, air matanya tak bisa berhenti, padahal bola matanya sudah sangat perih.
"Dia mantan dokter residen di rumah sakit kita. Namanya Sandra." Agam benar-benar tak percaya, hal ini harus terbongkar tanpa persiapan.
"Pasti sangat menyenangkan, berselingkuh dengan rekan sendiri." ucap Nisha tersenyum jijik, dalam sekejap pria yang selama ini ia agungkan, berubah menjadi kotoran yang bahkan untuk melihatnya pun sangat jijik.
"Agam..! Mama memang ingin punya cucu, tapi nggak begini caranya! Kamu menjalin hubungan gelap sampai punya anak, dengan orang dari rumah sakit kita? Kamu tidak memikirkan reputasi papa mu?!"
"Ma, bisa dengarkan aku dulu? Aku nggak sekotor itu. Aku nggak sebodoh itu, yang mau asal tidur dengan sembarang wanita! Aku tidur dengannya dalam keadaan sadar."
__ADS_1
PLAK...!!
Tamparan kuat mendarat dari tangan Ambar. Seumur hidup, baru kali ini ia main tangan dengan anaknya. Sebagai ibu, ia merasa gagal mendidik anaknya. Ia memang menyuruh Agam untuk menceraikan Nisha. Tapi ia tak pernah menyuruh Agam menyimpan wanita di belakang. Ia tak bisa mentolerir segala bentuk pengkhianatan.
"Nisha, aku memang mencintaimu. Sangat mencintaimu. Tapi maaf, sebelum itu aku lebih dulu mencintai Sandra."
Semakin remuk hati Nisha mendengar itu, rasa sakitnya 100 kali lebih sakit dibanding saat ia kecelakaan dulu.
"Sampai sekarang..?" lirih Nisha tak kuasa menahan tangis.
"Tidak, sekarang aku hanya mencintaimu. Aku sudah berhenti mencintainya sejak lama." Agam berlutut, memegangi lutut Nisha sambil tertunduk.
.
Jauh sebelum perjodohannya dengan Nisha, Agam sudah menjalin kasih dengan seorang gadis bernama Sandra.
Mereka berpacaran sejak semester 2, hingga lulus kuliah. Sandra merupakan seorang gadis desa yang kurang mampu, ia bahkan sering di bully, karena bajunya yang paling lusuh.
Saat lulus kuliah, Agam dan Nisha menjadi Dokter residen di rumah sakit yang sama. Namun karena status sosial yang berbeda, Sandra menahan Agam untuk tak memberitahu hubungan mereka. Jadi mereka berpacaran diam-diam.
Tahun demi tahun terlewati. Hubungan mereka tetap langgeng, mereka bahkan sering bertemu di asrama residen. Keduanya sama-sama menjadi Dokter spesialis bedah. Namun bedanya, Agam bekerja hanya untuk meneruskan bisnis keluarga, sementara Sandra bekerja untuk menghidupi keluarga. Itulah yang membuat Sandra tak mau hubungan mereka terungkap. Apa kata orang, anak seorang profesor, penerus rumah sakit, berpacaran dengan gadis dari keluarga miskin.
Hingga saat Agam berusia matang, orang tuanya menjodohkan dia dengan gadis pilihan. Gadis dari keluarga terpandang, yang sejajar dengan mereka, yakni Nisha.
Agam sudah membicarakannya dengan Sandra. Jika Sandra mau menikah dengannya, ia akan menolak perjodohan itu. Ia akan menikahi Sandra walaupun harus di usir dari rumah. Ia sangat mencintai Sandra.
Namun Sandra malah menghilang tanpa kabar. Ia pindah bekerja, ia menghapus nomor Agam, dan mengakhiri semuanya. Membuat Agam sangat frustasi, hingga mau tak mau ia harus menerima perjodohan dengan Nisha.
Jadilah pernikahan mereka hambar tanpa cinta, tanpa kasih sayang. Pernikahan yang hanya kedok semata. Namun itu tak bertahan lama. Dua tahun tinggal serumah dan menjalani hidup bersama, membuat Agam mulai mencintai Nisha. Ia sudah mulai melupakan Sandra, walau kadang masih sering terbayang wajahnya.
Ditahun ke Lima pernikahan mereka, saat Nisha tengah mengandung anak pertama mereka. Agam mengikuti program layanan masyarakat di salah satu desa. Ia menjadi salah satu relawan disana.
Namun siapa sangka ia dipertemukan lagi dengan Sandra, sebagai sesama Dokter relawan. Bara cinta yang padam begitu saja, bergejolak kembali saat mereka bertemu. Agam lupa segalanya saat melihat Sandra. Ia belum lupa seberapa besar cintanya untuk Sandra.
Saat yang lain sedang mempersiapkan mes tempat tinggal. Agam dan Sandra bertemu di salah satu ruangan medis relawan. Mereka berbincang, melempar tatapan saling melepas rindu, bertukar cerita menyentuh, hingga akhirnya Agam kehilangan batasan. Rasa ingin memiliki Sandra masih melekat dihatinya, hingga ia tak bisa menahan diri.
Malam itu, kamar medis relawan menjadi saksi bisu panasnya cinta Agam yang masih terpendam. Ia lupa pernikahannya, ia tak mengingat istrinya, ia bahkan tak memikirkan calon anaknya. Malam itu ia melepaskan kungkungan cintanya yang telah lama dibawa pergi oleh Sandra.
...**********...
__ADS_1