
Nisha dan Yasmine tampak duduk berdua di sebuah kursi taman. Sementara Agam menunggu mereka dari jarak dua meter. Ia duduk sendiri di sebuah kursi yang terletak di bawah pohon. Mereka masih di lingkungan Rumah Sakit.
"Maafkan aku..." Lirih Yasmine seraya meremas ujung tongkatnya.
Nisha tersenyum manis, ia merangkul pundak gadis itu. "Tidak apa-apa, salahku juga karena tidak menjelaskan prosesnya lebih dulu. Aku terlalu diburu ambisi, untuk segera memiliki seorang anak."
Sungguh tabah hati wanita itu, ia bahkan menyemangati Yasmine. Padahal suasana hatinya kini sedang tidak baik-baik saja. Perasaan tak menentu terus menghampiri benaknya, keinginan untuk memiliki seorang anak, dan rasa takut kehilangan cinta sang suami tiba-tiba bertarung dalam pikirannya.
"Kau bisa batalkan kesepakatan kita, kalau keberatan. Aku tau ini sangat sulit untukmu." Nisha akan berlapang dada, jika Yasmine berubah pikiran. Walau sulit, ia akan mencari pengganti yang bersedia melahirkan anak, untuknya dan Agam.
"Bisa beri aku waktu untuk meyakinkan diri?" Terdengar tidak pantas, tapi Yasmine tak bisa mengambil keputusan itu sekarang.
Tentu saja ia sudah tau, dengan melahirkan esok pun mau tak mau selaput dara miliknya pasti robek. Dan kalau pun ada keajaiban, bukankah ia tetap bukan lagi gadis jika sudah melahirkan?
Melepaskan kegadisannya pada seonggok alat medis, tanpa cinta, tanpa kenangan, itu sangat mengusik jiwanya. Kemarin ia terlalu frustasi hingga menyanggupi permintaan ini tanpa memikirkan prosesnya.
Dengan tatapan lembut, Nisha mengangguk pelan. Ia bahkan membelai pucuk kepala gadis itu. Rasanya ia sudah menganggap Yasmine sebagai adik sendiri.
"Iya, pikirkanlah lagi. Karena ini menyangkut masa depanmu."
Vibrasi telepon dari dalam tas Nisha, menengahi suasana gamang itu. Nisha merogoh tasnya, meraih benda pipih tersebut.
Saat melihat nama si penelpon, Nisha memutuskan untuk menjauh. "Sebentar ya.." ucapnya, kemudian beranjak.
Agam yang melihat itu pun turut mengerutkan dahi, siapa yang menelpon sang istri? Apakah begitu privat, sampai-sampai harus menjauh.
Rasa penasaran Agam tiba-tiba terganti menjadi rasa kesal saat melihat botol minum di sebelah Yasmine. Seratus persen ia masih menduga kalau gadis picik itu tengah mempermainkan istrinya.
Agam menoleh ke sekitar, mencari cara untuk memberi gadis itu pelajaran. Berani-beraninya dia membuang waktu yang sangat berharga ini.
Tampaklah olehnya tanaman kaktus. Ide nakal pun langsung menggelayuti otaknya. Agam mengambil sapu tangan lalu menyelimuti tangannya, kemudian mematahkan pucuk batang kaktus.
__ADS_1
Setelah berhasil, ia berjalan pelan menuju kursi Yasmine. Sekalian ini untuk uji murni kebutaan gadis itu. Agam menggantikan posisi botol minuman tersebut, dengan sebatang kaktus yang ia tegakkan tepat di sebelah Yasmine. Kemudian ia melangkah menjauh.
Yasmine yang sedang banyak pikiran, sedang kalut dan kisruh pun kehilangan kesadaran atas ulah Agam barusan. Ia menyambar batang kaktus di sebelahnya, tanpa menoleh, karena menganggap itu botol air minum.
"AAAW...!" Pekik nya kesakitan, hampir seluruh telapak tangannya tertusuk oleh duri-duri kaktus. Beruntung tak ada duri yang tertinggal. Namun tetap saja rasanya nyeri bukan main. Tak butuh waktu lama, bercak-bercak darah keluar dari tangan Yasmine.
"Yasmine,? Ada apa?" Nisha langsung berlari menghampirinya. Ia memperhatikan telapak tangan gadis itu, kemudian menyorot sang suami dengan mata menyipit.
"Mas, kamu keterlaluan deh. Ini bahaya tau..!" Ketus Nisha kesal. Tak menyangka kalau suaminya akan berbuat sejauh ini, demi memastikan kebutaan Yasmine.
"Maaf..." Keluh Agam menyesal, kini ia yakin Yasmine tidak berbohong. Ia terlihat sedikit merasa bersalah dengan itu.
"Kenapa kau memegangnya?" Bisik Nisha seraya membalut telapak tangan Yasmine, menggunakan sapu tangan miliknya.
"Aku tidak tau..." Bisik Yasmine pasrah.
...~...
Setibanya dirumah, mereka sudah disambut oleh kedatangan orang tua Agam. Mereka sengaja menyempatkan waktu, guna mengetahui hasil pemeriksaan awal.
"Aku... jatuh tadi." Terang Yasmine sungkan, ia tak enak karena Lukka memanggilnya kakak. Sebab anak itu lebih tua darinya.
"Lukka, tolong bawa kakak ke kamar ya, Kak Nisha perlu bicara dengan Papa dan Mama." Pinta Nisha, sekaligus ia mengusir Lukka agar tak mendengar pembicaraan sensitif tersebut.
"Baik, kak.." Lukka dengan semangat mengindahkan perintah sang kakak ipar.
"Ayo, kak. Lukka bantu ke kamar." Tanpa rasa canggung, Lukka menggandeng lengan Yasmine selayaknya teman sebaya. Ia sungguh merasa bersalah, karena telah menakut-nakuti Yasmine kemarin.
Dengan perlahan, Yasmine mengikuti langkah Lukka. Tubuhnya terasa meremang, karena ini pertama kali ia bersentuhan dengan pria dewasa. Walaupun secara mental Lukka itu anak kecil, tapi sosoknya kan tetap saja pria dewasa.
Tak hanya mengantar sampai ambang pintu, Lukka juga membantu Yasmine duduk di tepi ranjang. Kemudian ia menarik kursi meja rias, dan duduk di hadapan Yasmine dengan kepala tertunduk.
__ADS_1
"Lukka benar-benar minta maaf soal kemarin ya, kak. Lukka sudah jahat dengan kakak. Tapi itu Mas Agam yang nyuruh. Kakak mau kan memaafkan Lukka?"
Anak besar itu tampaknya benar-benar merasa bersalah. Ia sadar sudah keterlaluan dengan Yasmine. Ia juga sadar bisa saja Yasmine celaka akibat ulahnya dan Agam.
"Asal Lukka berjanji tidak mengulangi lagi, kakak mau memaafkan Lukka." Yasmine tersenyum kepada anak itu, ia juga memaksa menyebut dirinya kakak, agar lebih akrab.
"Lukka janji..," Ucap pria berwajah polos itu sembari menyodorkan jari kelingkingnya.
Yasmine pun menyambut ramah janji kelingking Lukka. Sungguh ia terpana pada wajah polos anak itu. Senyumnya yang manis, kedua bola mata yang berkilau bak manik mutiara, dan hidung mancung yang menambah ketampanannya. Sayang ketampanan itu harus tertutup kekurangannya.
Kembali ke ruang tengah, dimana Agam dan Nisha tengah menjelaskan kondisi Yasmine.
"Jadi, kapan Yasmine bilang akan siap?" Sergah Ambar terlihat tak sabar.
"Belum tau, Ma. Mungkin secepatnya, atau mungkin juga ia akan membatalkannya." Sahut Nisha, ia berharap Yasmine tetap melanjutkan itu.
"Batal..?" Ambar terbelalak.
"Belum pasti, Ma. Dia hanya terguncang..." Pukas Agam seraya menyandarkan punggung pada bantalan sofa.
Nisha seketika menoleh kearahnya. Denyut jantung terasa berlomba kala menyimpulkan kalimat Agam barusan. Apa mungkin Agam sudah mulai menerima keberadaan Yasmine?
Mendengar alasan Yasmine meminta waktu, Pak Ghani pun memahami. Siapa wanita yang rela melepas kegadisannya begitu saja?
"Apakah sebaiknya kita mencari wanita lain? Setidaknya wanita yang sudah pernah menikah, jadi..."
"Dia pasti mau,Pa. Aku akan membujuknya kembali." Ucap Nisha yakin.
"Benar juga kata Papa, Sayang. Aku tidak mau kedepannya, dia mengungkit masalah ini..."
Agam terdengar bimbang, sesaat dia mengerti posisi Yasmine. Namum disisi lain ia khawatir, ini akan menjadi bumerang buruk bagi mereka.
__ADS_1
"Aku akan bicarakan lagi padanya,Mas. Kalau memang dia tidak siap, aku akan mencari wanita lain sesuai saran kalian." Walau sedikit kecewa, setidaknya Nisha bisa bernafas lega, karena Agam dan Papa mertuanya sudah tampak tak keberatan dengan keputusan ini.
...*************...