Tak Mau (Jadi) Yang Kedua

Tak Mau (Jadi) Yang Kedua
Episode 52 : Pernyataan Mengejutkan


__ADS_3

Sesampainya di depan kontrakan, Yasmine langsung berlari gelagapan. Bau hangus dan pahit menyengat begitu ia membuka pintu.


"Astaga... bagaimana ini?" asap yang tak begitu tebal mengepul di dapur. Untungnya gas habis sebelum panci berisi sup ayam itu terbakar. Jika tidak, mungkin Yasmine sudah akan menjadi amukan pak Basir.


Sup ayam yang ia buat sepenuh hati itu kini tinggal arang. Yasmine berdiri lemas sembari bersandar ke dinding. Ia sudah berpikiran kemana-mana tadi.


"Kau memikirkan apa sampai bisa lupa begini?" celetuk Lukka sambil mengibaskan jaketnya untuk mengusir asap pahit itu. Kemudian ia membuka pintu belakang, agar sebagian asap cepat keluar.


"Keluarkan saja panci nya." pinta Yasmine, sementara ia membuka regulator gas, untuk mengganti yang baru.


Lukka menuruti, dengan kain lap ia mencampakkan panci itu ke luar. "Biar aku saja.." ucapnya kemudian, ia melihat tangan Yasmine masih bergetar.


"Silahkan.." Dengan senang hati Yasmine memberikan regulator itu kepada Lukka. Kemudian ia terduduk lemas di atas keset kamar mandi.


"Omong-omong... kau tidak punya air minum? Tenggorokanku kering sekali." Karena terburu-buru, Lukka belum sempat menuntaskan dahaganya tadi saat di cafe.


"Sebentar..." Yasmine berdiri malas, meraih pintu kulkas pentaris pak Basir. Kulkas yang gagang pintunya setengah rompal itu berdecit saat di buka.


Ia mengambil es batu, kemudian membantingnya ke tembok.


"Hei..!" Lukka terjingkat kaget mendengar dentuman itu.


"Kenapa..?" Yasmine melirik heran.


"Kukira gasnya meledak tadi, kau mengagetkan ku saja..!" rutuk Lukka dengan nafas kembang kempis. Tangannya jadi ikut bergetar karena terkejut.


"Kau takut memasang gas?"


"Apa salah jika aku takut gasnya meledak?"


"Kalau kau takut seharusnya jangan sok berani." ledek Yasmine.


"Bukannya sok berani, wajar jika aku takut, karena kalau gas ini meledak kita berdua akan hangus."


"Bagaimana bisa meledak sedangkan kau belum memasangnya."


"ahh.. sudahlah kau pasang saja sendiri." Lukka meletakkan kepala regulator itu, kemudian berdiri dengan mulut manyun.


"hei, kau merajuk?"


"Pasang saja sendiri..." ujar Lukka seraya merebut gelas es sirup dari tangan Yasmine. Ia menenggak dengan ganas es tersebut, sambil berjalan ke arah luar.


"Lukka, kau marah? Bukankah katamu kau sudah dewasa? Kenapa masih merajuk?" Yasmine menyusul sambil menahan tawa. Lucu sekali wajah anak besar itu. Persis seperti bayi.


"Kau tak mau membawa jaketmu?"


Lukka tetap tidak berbalik, ia kesal sekali karena Yasmine masih menganggapnya seorang penakut.


"Lukka...."


"Apa?" Lukka berbalik tiba-tiba, membuat wajah Yasmine menabrak dadanya.

__ADS_1


"Apa..? Kenapa..?" Lukka menatap Yasmine amat dalam. Masihkah sosoknya seperti anak kecil di mata Yasmine?


"Lukka...?" Ucap Ambar dan Pak Ghani bersamaan, dari depan pintu. Tak hanya mereka berdua, ada pak Basir juga disana.


Lukka dan Yasmine menoleh bersamaan. Mereka berdua sama-sama terkejut, kok bisa orang tua Lukka ada disana?


"Yasmine..?" Ambar bertambah terkejut saat melihat jelas wajah Yasmine.


"Bu..Ambar..." lirih Yasmine meneguk saliva.


"Kalian mengenal Yasmine?" Pak Basir pun sampai menekuk dahi karena terheran.


.


.


Mereka berlima duduk di ruang tamu yang sempit itu. Sofa usang dan suara kipas yang merengek mendominasi suasana canggung tersebut.


Tepat saat Yasmine kembali dari bandara, malam itu ternyata pak Basir mengawasi diam-diam. Ia meradang karena tau Yasmine pulang bersama seorang pria, ditambah pria itu masuk dan sedikit lama di dalam kontrakan.


Saat Lukka keluar malam itu, pak Basir masih mengintai. Dan ternyata ia mengenali Lukka. Ia dan Pak Ghani adalah teman main bowling. Mereka di pertemukan di arena bowling, dan menjadi akrab sampai sekarang.


Ia mengenal Lukka karena Pak Ghani sangat sering membicarakan keluarganya. Bahkan menunjukkan foto-fotonya.


Malam itu Pak Basir berpikir, mungkin Lukka dan Yasmine memang ada hubungan khusus. Namun tindak-tanduk mereka berdua ternyata terendus oleh para warga. Lukka yang kerap datang kesana membuat para warga resah, takut kalau ada rumah PSK jilid 2. Mereka tak mau lingkungan itu tercemar oleh perbuatan anak muda yang nyeleweng.


Sebagai kepala lingkungan, dan karena desakan para warga. Akhirnya pak Basir memberanikan diri bertanya kepada Pak Ghani, mengenai ada tidaknya hubungan Lukka dengan Yasmine.


"Maaf, Ghani.. Bukannya ingin ikut campur, tapi sebagai kepala lingkungan dan orang yang mengawasi Yasmine, saya berhak tau apa sebenarnya hubungan anakmu dan Yasmine." ucap pak Basir mendahului pak Ghani yang hendak buka mulut.


Sedangkan Yasmine melirik sinis, padahal memang pak Basir sangat kepo. Ia hanya menyembunyikan jiwa kepo nya di balik status kepala lingkungan.


"Tidak apa-apa, lagi pula kau memang berhak tau, sebagai orang yang menggantikan kewalian Yasmine." jawab Pak Ghani tersenyum lebar.


Ia kemudian berdeham, untuk mengulangi niatnya bertanya. "Jadi..."


"Kalian punya hubungan apa? Apa kalian sering bertemu seperti ini? Kalian pasti sangat dekat di belakang kami kan? Lukka, jadi yang kau bawa itu motor Yasmine? Bagaimana bisa kalian jadi dekat? Apa selama ini memang kalian punya hubungan yang sengaja di sembunyikan?" serobot Ambar dengan rentetan pertanyaan yang tak dapat ia tahan.


"Aku juga baru bertemu Yasmine hari itu, ma. Aku bertemu dengannya di bandara, dia mau pindah ke luar negeri dan aku mencegahnya." Lukka menjawab dengan tenang dan tegas. Ia tampak berwibawa kali ini.


"Kenapa kau mencegah anak orang?" Pak Ghani merasa sikap Lukka berlebihan.


"Jadi selama dua tahun ini kalian memang tidak pernah bertemu?" timpal Ambar lagi, dengan wajah penuh tanda tanya.


Sebelum menjawab, Lukka menarik nafas panjang. "Pertama, aku mencegahnya pergi, karena aku memang mencarinya selama ini. Aku memang tidak pernah menceritakan ini pada kalian. Dan yang kedua, hubunganku dengan Yasmine memang tidak ada, tapi kemarin aku mengajaknya menikah, namun dia belum menjawab. Aku berani mencegahnya ke luar negeri, karena ingin menikahinya."


Yasmine mati kutu disana, ia tak menyangka Lukka bisa seterus terang itu.


Ambar dan Pak Ghani sampai membeku karena syok mendengar pernyataan anak bungsu mereka itu.


"Apa jangan-jangan... dulu kamu sibuk ingin menikah...dengan Yasmine?" telisik Ambar dengan dua mata menyipit.

__ADS_1


"Benar, aku senang mama mengingatnya." jawab Lukka sambil mengangguk tegas.


Yasmine hanya bisa menahan lututnya yang bergetar.


"Jadi apa jawabanmu?" potong pak Basir, seolah dialah bapaknya Yasmine.


"Benar, apa jawabanmu? Kau tidak mungkin menolakkan untuk menjadi menantuku? ahhh... pantas saja dulu saat ku minta kau menikah dengan Agam tidak mau. Ternyata yang kau sukai itu Lukka? aaiisss.. aku terlalu bodoh karena tak menyadarinya." Ambar terlihat sangat girang, ia akan sangat membuka lebar pintu rumahnya untuk Yasmine.


"Dia belum menjawabku." ucap Lukka, membuat senyum sumringah Ambar sedikit memudar.


"aahh... tidak apa-apa. Kalian juga baru bertemu lagi setelah sekian lama kan? Tidak apa-apa, bicarakan saja dulu. Yasmine... sering-seringlah berkunjung ke rumah kami. Aku sangat senang bila kau mau menjadi menantuku." ia memegang lutut Yasmine yang masih gemetaran.


"hehe..iya..bu..," sahut Yasmine gugup.


"Sebentar, bukankah anak pertama mu sudah punya istri? Kenapa kau menyuruh Yasmine menikahinya?" Pak Basir malah kepo berentet pada hal lain.


"Kalau begitu kami pulang dulu ya, sudah malam juga. Ayo Lukka, tidak baik di rumah anak gadis berlama-lama." Ajak pak Ghani segera, ia juga sudah hapal tabiat Basir yang gemar mencaritahu aib orang.


"Main ke rumah ya kalau senggang.." Ambar mengusap bahu Yasmine seraya tersenyum lebar. Dan Yasmine hanya mengangguk sambil tersenyum kecut.


...~~~~...


"Apa itu, sayang?" Tanya Agam kepada sang istri, yang baru memasuki mobilnya dengan sebuah amplop putih besar. Ia sedang berada di basemen rumah sakit Harapan, menjemput sang istri yang baru selesai tugas.


"Hasil tes DNA. Oh iya, aku lupa menceritakan ini." Nisha memasang sabuk pengaman, kemudian membuka amplop tersebut.


"Tes DNA? Siapa?" Agam mengerutkan alis, untuk apa Nisha melakukan tes DNA?


"Kita. Aku, kamu dan Anna. Jadi kemarin aku mengurus surat adopsi, tapi petugasnya bilang..." Nisha menceritakan semuanya, bagaimana ia sampai harus melakukan tes DNA.


"Peraturan sekarang ada-ada saja...." Suara Nisha terhenti, kala membaca hasil tes DNA milik Agam dan Anna. Bagaimana mungkin keduanya memiliki kesamaan hampir 99 persen?


"Sayang..." Agam sudah berkeringat dingin disana. Kepalanya panas, denyut jantungnya bergemuruh. Apa yang ia takutkan ternyata kejadian. Bahkan terjadi secepat ini, di saat ia belum menyiapkan jawabannya. Ia tak menyangka kalau Nisha harus melakukan tes DNA. Ia menyentuh lengan Nisha, hendak meluruskan hal ini.


"Mas, rumah sakit kami memiliki kredibilitas tinggi, dan keakuratan dalam segala hal." Nisha mengatur nafasnya, gemuruh yang mulai timbul membuat pikirannya melayang seketika.


"Aku mungkin salah mengambil sampel, atau memang hasil tes ini yang salah. Sebentar ya mas, aku mau memastikan ini..."


"Nisha, tunggu... Ini bukan kesalahan... Hasilnya tidak salah." Agam mengeratkan rahangnya. Sepertinya ini saat yang tepat.


Jika bukan sekarang, ia tak tau lagi kapan akan mendapatkan kesempatan untuk jujur.


Tentu saja Nisha tak percaya, ia bahkan tertawa kecil. "Nggak mungkin, mas. Ini pasti salah. Mana mungkin DNA kamu dan Anna sama persis, ini hanya terjadi jika Anna sedarah dengan..."


"Dia memang anakku..." pungkas Agam.


Nisha terdiam, ia memandangi suaminya itu dengan tatapan tak percaya. "Mas..?"


"Anna.., dia...memang anak kandungku."


Bukan lagi terkejut, Nisha sampai hampir tak bisa bernafas mendengar itu. Rasanya seperti di tebas pedang, sekilas namun perihnya menjalar ke seluruh tubuh. Seperti di hantam ke sebuah jurang dengan keadaan sadar. Jurang yang paling dalam dan terjal.

__ADS_1


...************...


__ADS_2