
Dalam perjalanan menuju rumah, tampak Nisha dan Agam membicarakan Yasmine yang tengah tertidur pulas di kursi belakang. Ia menunggu lama tadi, karena Agam menemani Nisha menyalin rekam medis pasien.
"Klub..?" Dahi Nisha berkerut halus, ia tak percaya dengan perkataan sang suami.
"Iya sayang, lihat pakaiannya. Aku melihat sendiri dia keluar dari klub itu, jam 9 tadi."
"Mas, Yasmine itu gadis baik-baik. Mungkin dia mengunjungi klub hanya untuk menghibur diri saja." Tepis Nisha halus. Sejak awal entah kenapa Agam sangat sensitif, dan sangat mencurigai Yasmine. Hanya karena dompetnya yang di temukan Yasmine.
Agam mendengus kesal, ia penasaran, tipuan macam apa yang diberikan Yasmine. Hingga membuat Nisha percaya kepadanya 100 persen.
"Kenapa kamu sangat mempercayainya? Bukankah kamu juga baru mengenalnya?"
"Dia hampir bunuh diri waktu itu..." Lirih Nisha, seraya melirik wajah pulas Yasmine melalui spion.
"Dia..??" Agam tampak meragukan ucapan sang istri.
"Hari itu ibunya yang koma selama lima tahun meninggal. Dari Dokter sebelumnya, aku mendengar cerita betapa keras dia berjuang, agar ibunya bisa kembali lagi. Ia bekerja tanpa henti, namun ibunya meninggal. Hari itu mungkin dia sangat putus asa. Jangankan untuk melunasi biaya Rumah Sakit, untuk mencukupi kehidupannya pun ia tidak akan bisa. Dia hampir melompat dari balkon, dan aku menahannya."
"Benarkah..?" Agam turut melirik Yasmine dari pantulan spion. Sekelebat batinnya terenyuh.
"Ibunya koma karena apa?" Agam kembali membidik Yasmine dengan tatapan ketus.
"Ku dengar kecelakaan, tapi entah kecelakaan apa. Karena itu sudah sangat lama."
Nisha jadi teringat akan insiden kecelakaan itu. Yang merenggut menjadi seorang wanita yang sempurna.
"Jadi, istriku menyelamatkan nyawa seseorang yang hendak bunuh diri. Dan membawanya ke rumah, lalu menyuruhnya melahirkan anak. Kamu sangat hebat'." Ucap Agam terdengar sarkastik. Padahal ada banyak cara untuk menolong masa depan Yasmine, kenapa harus pakai cara ini.
"Aku tidak sabar memangku bayi mungil yang pasti mirip denganmu." Nisha berandai-andai, sambil memeragakan tengah menimang anak bayi.
"Jika mirip dengannya bagaimana? Aku tidak mau." Agam bergidik kesal.
"Kenapa..? Dia kan ibunya..." Ujar Nisha tertawa. Tawa yang menyembunyikan suatu rasa tak terucapkan.
"Omong-omong, kenapa dengan rambutnya? Kenapa berantakan sekali?" Nisha penasaran dengan kepala Yasmine sejak tadi.
"Entah, mungkin di tabrak burung hantu." Jawab Agam tenang. Padahal itu ulahnya.
...~~...
Hari ini Lukka belum berani datang ke sekolah. Ia masih takut dengan anak-anak SMA itu. Beralasan sakit, dan mengurung diri di kamar adalah tindakan andalan Lukka.
"Lukka...?" Panggil Nisha mengetuk kamar. Ia hendak memeriksa keadaan sang adik ipar.
"Lukka masih sakit?" Tanya Nisha dengan nada lemah lembut.
__ADS_1
"Kepala Lukka pusing, Lukka sudah bilang sama Mama, untuk kirim surat pada ibu guru." Suara Lukka terdengar sayu. Tak sedikitpun ia membuka selimut, menatap wajah Nisha.
Nisha mengambil posisi duduk di tepi dipan, lalu menyentuh kepala Lukka. "Apa sangat parah..?"
"Tidak, hanya pusing saja." Sahutnya sambil mengelak. Sejak kejadian itu ia jadi canggung pada wanita, maupun itu mamanya sendiri.
"Kakak mau pergi belanja, Lukka tidak ikut?"
Lukka menggeleng cepat. Ia kehilangan semangat untuk melakukan semua aktivitas. Tak ingin semakin merusak mood Lukka, Nisha pun beranjak dari kamar itu.
"Mas.., tidak jadi belanja?" Nisha menghampiri sang suami, yang tengah terduduk lemas di depan kolam hias.
"Ikan ku mati semua..." Lirih Agam bersedih hati. Ikan kesayangannya mengambang semua, akibat ulah Lukka yang melemparkan sepatu kesana. Mungkin kolamnya jadi terkontaminasi oleh bau kaki Lukka.
"Sudahlah, nanti kita beli lagi. Yuk belanja yuk. Nanti setelah itu kita mampir ke toko ikan hias." Nisha memapah Agam agar berdiri dari sana.
"Dia juga ikut?" Agam semakin bete, saat melihat Yasmine sudah ready di kursi belakang mobil.
"Iya, siapa tau ada keperluan yang mau dia beli." Jawab Nisha.
Semenjak ada Yasmine, perhatian Nisha jadi seperti terbagi. Agam merasa mereka jadi jarang memiliki waktu.
"Kenapa dia tidak belanja sendiri. Kemarin dia bisa jalan-jalan ke klub sendiri." Gerutu Agam sambil mengutuk Yasmine dengan tatapan jengah nya.
.
.
Sekiranya ada barang yang di butuhkan, Nisha akan mengambil itu tanpa melepaskan tangan Agam. Membuat Yasmine yang jadi obat nyamuk, merasa kagum dengan keharmonisan pasangan itu.
"Kau ingin membeli buah-buahan tidak?" Tanya Nisha menoleh ke belakang, dimana Yasmine berjalan pelan dengan tongkatnya.
"Boleh, buah apa yang bagus untuk program kita?" Yasmine sangat antusias, lebih cepat prosesnya berhasil, maka akan lebih cepat ia bebas dari sandiwara buta ini.
Nisha dan Agam langsung menuju ke bagian buah-buahan. Tak lupa obrolan romantis dan interaksi manis menyelingi kegiatan mereka.
"Mulutnya tajam begitu, dulu merayu Bu Nisha bagaimana dia...?" Gumam Yasmine sambil membayangkan betapa busuk mulut Agam.
Setelah hampir dua jam berkeliling, mereka pun selesai. Kini mereka bertiga tengah berlajan menuju parkiran, yang sedikit jauh dari pintu masuk. Kebetulan hari ini weekend, jadi pengunjung swalayan cukup ramai.
Tiba-tiba pandangan Nisha berkunang-kunang. Lantai yang ia pijak terasa berputar pelan, seperti sedang di atas komedi putar. Hanya dalam hitungan detik, Nisha terjatuh tak sadarkan diri tepat di sebelah Agam.
"Sayang...!" Agam langsung panik, ia mengguncang pelan bahu Nisha untuk menyadarkannya.
Yasmine pun sama terkejutnya, untung saja ia tidak reflek memanggil Nisha. Kalau saja ia kelepasan bisa gawat.
__ADS_1
"Kenapa...? Bu Nisha kenapa?" Yasmine berpura-pura tidak tau.
"Pingsan." Ucap Agam cepat. Ia mengangkat tubuh Nisha, hendak di bawa ke dalam mobil.
"Bawa belanjaannya..!" Ucap Agam, seraya berjalan cepat.
Yasmine tak menjawab, bagaimana bisa orang buta membawa troli tanpa bantuan, Tanpa ada yang menuntun. Tadi ia berakting mengikuti langkah mereka, sebab itu tak perlu di tuntun atau di arahkan. Jika ia berlari sambil membawa troli, bukankah itu aneh.
Sepertinya Agam sadar hal itu, langkahnya terhenti dan ia berbalik badan menghampiri Yasmine.
"Kau, bisa berlajan lebih cepat?"
"Entahlah..." Sahut Yasmine ragu.
"Tinggalkan trolinya, pegang bajuku dan ikuti aku. Cepat..!" Titah Agam.
Yasmine tak punya kesempatan untuk beralasan. Kondisi Nisha sedang tak memungkinkan untuk itu. Ia menuruti Agam, memegang ujung kemeja pria itu kemudian berjalan cepat mengikuti langkah lebar Agam.
.
.
Agam tak membawa Nisha ke rumah sakit. Ia membawanya pulang kerumah, karena selain jaraknya lebih dekat. Ia juga memiliki peralatan medis di rumahnya, seperti klinik pribadi.
Ternyata di rumah, orang tua Nisha sudah menunggu. Mereka terkejut melihat Nisha tak sadarkan diri seperti itu.
"Ada apa, Agam? Kenapa dengan Nisha?" Serbu Pak Daniel, ia terlihat sangat mengkhawatirkan putri semata wayangnya itu.
"Sepertinya kelelahan, Pa." Jawab Agam setengah berlari, menuju ruangan medis kecil miliknya. Sementara Pak Daniel mengikuti langkah Agam.
Tinggallah Yasmine dan Farah di ruangan tengah. Mereka saling diam untuk beberapa saat. Ini kali pertama pertemuan mereka.
Farah mendengar bahwa gadis pengganti ini buta. "Kau, Yasmine..?" Ucapnya memecah keheningan.
"Iya.., anda siapa..?" Yasmine berpura-pura mencari keberadaan Farah dengan tatapan kosong.
"Saya Farah, ibunya Nisha. Ibu sambung lebih tepatnya."
"Oh.. hallo tante. Saya banyak mendengar tentang anda, dari Dokter Nisha." Yasmine menundukkan kepalanya dengan hormat.
"Benarkah..? Apa dia menjelekkan ku?" Farah tersenyum lebar, ia tak menyangka Nisha akan menceritakan tentangnya kepada orang lain.
"Tidak, dia mengatakan anda sangat baik." Yasmine sempat terkagum oleh wajah cantik Farah. Senyumnya yang lembut, binar mata yang tulus, serta wajah teduh. Benar-benar mirip dengan Nisha, padahal mereka tak ada ikatan darah.
Farah terkekeh pelan, ia membawa Yasmine duduk ke sofa. Kesan pertama yang cukup bagus untuk mereka berdua. Farah dapat melihat ketulusan di wajah Yasmine.
__ADS_1
...********...