
Nisha tersadar setelah 45 menit pingsan. Dari hasil pemeriksaan Agam, dan analisa Pak Daniel. Nisha kekurangan vitamin D. Pekerjaannya akhir-akhir ini memang sangat padat. Waktu tidur berantakan, dan jam makan pun kadang terlewatkan.
"Dimana ini..?" Lirih Nisha saat baru membuka mata. Ia mendapati tangannya dijalari selang infus.
"Di rumah, sayang. Kamu pingsan tadi. Bagaimana sekarang? Apa masih pusing?" Tanya Agam seraya memeriksa kembali keadaan Nisha.
"Coba periksa retinanya, Agam." Pinta Pak Daniel, yang tengah meracik suplemen untuk sang putri.
"Normal, Pa." Agam kemudian mengecup bibir Nisha, dan langsung mendapat cubitan kecil dari sang istri. Bisa-bisanya ia mencium Nisha, di saat seperti itu.
Nisha menekuk alis ke arah Agam. Selama menikah, ia tak pernah mau menunjukkan interaksi romantis kepada orang tuanya. Malu saja.
"Aku tidak apa-apa kan, Pa, Mas?" Lirihnya seraya menggerakkan seluruh jemari.
"Tidak apa-apa, kamu hanya kelelahan. Papa akan memberimu vitamin D lewat infus." Pak Daniel segera menyuntikkan suplemen racikannya ke dalam selang infus.
"Belanjaan kita bagaimana, Mas?"
"Ku tinggal." Jawab Agam enteng. Lagipula petugas keamanan di sana pasti sudah mengamankan belanjaannya, nanti ia hanya tinggal menyuruh ART mengambil itu.
"Apa...? Mas, kamu jangan ngada-ngada deh. Yasmine tidak di tinggal juga kan?" Nisha sudah panik, apalagi mengingat sikap Agam selalu ketus kepada gadis itu.
Agam tak menjawab, ia hanya melirik tipis kepada Nisha, dengan senyum miring.
"Mas.., tega banget kamu. Bisa tidak berperasaan sedikit saja..."
"Ada, dia di depan. Kamu kenapa sih? Kamu habis pingsan, malah memikirkan belanjaan dan orang lain. Pikirkan dirimu, dan aku. Tau seberapa takutnya aku tadi, hah..?" Agam mencelos geram di hadapan Nisha. Jika tidak ada mertuanya di sana, mungkin Agam sudah membekap sang istri dengan pelukan.
Sementara di ruang tengah, Yasmine dan Farah masih mengobrol. Mereka bertukar cerita. Saling berbagi simpati karena keduanya sama-sama dari keluarga tidak mampu.
"Sampai sekarang, hubungan saya dan Nisha masih canggung." Farah menghembuskan nafas panjang.
Saat itu, usia Nisha masih 15 tahun. Ia membenci Ayahnya karena jarang ada, di saat ibu kandungnya sedang sakit keras. Dan yang membuat Nisha marah, Pak Daniel langsung menikah lagi dua bulan setelah ibunya meninggal. Waktu yang sangat singkat. Bahkan tanah kuburan milik ibunya belum kering.
Nisha jadi berpikir, bahwa Farah adalah wanita simpanan sang Ayah. Itu sebabnya Daniel jarang pulang, dan langsung menikahi Farah setelah kematian ibunya.
"Padahal saya dan Daniel tak pernah bertemu sebelumnya. Pertemuan kami hanya dua minggu, lalu dia menikahi saya dengan alasan agar ada yang memperhatikan Nisha."
__ADS_1
Mendengar nada sayu Farah, benak Yasmine sedikit terketuk rasa iba. Ternyata bukan hanya dirinya yang memiliki nasib tak adil. Semua orang punya masalah dengan kehidupan mereka, dengan porsinya masing-masing.
"Tapi saya salut dengan anda, yang masih bisa menjaga hubungan baik dengan Bu Nisha. Dari yang saya tau, ibu tiri banyak yang jahat." Ucap Yasmine berusaha menghangatkan suasana.
"hahahah... Saya tidak mempunyai alasan untuk menjadi jahat. Saya mendapat banyak cinta dari Daniel. Dan Nisha, walaupun ia sempat membenci saya, dia tetap menghargai saya sebagai ibu sambungnya."
"Untuk itu, saya minta padamu... Jangan menghancurkan kebahagiaan Nisha." Senyum simpul di bibir Farah berubah datar.
"Jangan jatuh hati pada Agam. Karena tidak akan ada yang bisa membuat Nisha sebahagia sekarang, selain suaminya." Sambung Farah seraya menatap Yasmine dengan teduh.
Yasmine mengangguk pelan, dengan perasaan yang entah bagaimana dijelaskan. Perasaan tak menentu itu membuat dirinya seolah seperti orang licik. Padahal ia yang di minta masuk kedalam rumah itu, tapi kenapa semua orang memandangnya seperti benalu yang mengusik.
...~~...
Siang ini, tampak Yasmine mendatangi sebuah toko. Toko yang menyediakan jasa servis ponsel. Yasmine membawa ponsel si ketua geng kesana, untuk membobol kata sandi. Ia penasaran kenapa Lukka takut dan terus mengatakan sesuatu tentang ponsel anak nakal itu.
Setelah mendapatkan ponselnya, ia langsung membuka ponsel itu dan mencaritahu. Ketika membuka galeri, ia sangat terkejut melihat ratusan foto pesta Sek's.
"aisss..! Apa yang dilakukan anak-anak bajingan ini?!" Rutuk Yasmine geram. Mereka masih di bawah umur. Tapi kenapa kelakuan mereka sangat bej4d?
Kecepatan jari Yasmine yang tengah menyeret layar ponsel melemah, kala ia mendapati foto Lukka disana. Foto Dimana Lukka tengah dikerumuni oleh para gadis telanj4ng. Tampak wajah Lukka sangat ketakutan disana.
Pantas saja Lukka seperti sangat trauma, terutama saat berinteraksi dengan wanita. Meskipun itu ibunya sendiri. Tapi kenapa Lukka tidak jujur saja, bahwa dia di perlakukan seperti ini? Kenapa anak itu memendam kesulitan ini seorang diri?
...~~~...
Di sebuah gang, Yasmine tampak sedang menunggu anak-anak berandal4n itu keluar dari gerbang sekolah.
Sepuluh menit kiranya ia menunggu, dan akhirnya wajah yang di nanti muncul juga.
"Hei...! Bajing4n!" Pekik Yasmine sambil menyandarkan tubuh pada tembok. Kacamata hitam besar tampak membalut wajahnya yang didominasi amarah.
Para anak SMA itu menoleh, dan langsung tertawa melihat Yasmine.
"Aku penasaran, kenapa si buta ini begitu tertarik dengan kita. Bahkan ia hapal langkah kaki kita..." Ujar si ketua geng melangkah kehadapan Yasmine.
"Apa yang kalian lakukan pada Lukka?" Suara Yasmine terdengar legam dan mengandung banyak kemarahan.
__ADS_1
"ch..! Kau sangat mengkhawatirkan anak bodoh itu. Memangnya kau siapa hah..?!" Pekik anak itu tepat didepan wajah Yasmine.
PLAKK...!
Satu tamparan keras dari Yasmine, membuat wajah anak itu terhuyung.
"Sudah ku bilang kan? Aku akan memberimu pelajaran jika kau berani menyakiti Lukka..!"
Yasmine menebarkan lembaran foto mereka yang tengah berpesta sek's. Berserakan kertas berukuran 10 cm tersebut, membuat si ketua beringsut kaget.
"Apa ini...?!" Ia panik bukan main.
"Bukankah itu kau?" Yasmine menunjuk foto-foto tersebut dengan kakinya.
"ck..ck.. barang mu bahkan masih sebesar jari kelingking. Kau benar-benar tak tau malu..!" Tukas Yasmine geram. Sementara anak-anak itu memunguti kertas tersebut dengan segera.
"Jangan bilang, kau yang mencuri ponsel ku?!" Tuding si anak menggunakan jari telunjuknya. Kedua matanya membelalak.
"Aku akan melaporkanmu pada polisi. Kau pikir aku akan diam saja!" Imbuhnya jengah.
Yasmine melepaskan kacamatanya, kemudian menatap anak itu dengan sorot kosong yang menakutkan. "Menurutmu mana yang lebih menarik? Pencurian, atau pesta sek's kalian?"
Ketua geng itu menatap geram pada Yasmine. Sayang sekali ia tak punya salinan foto Lukka, karena semua foto ada di ponselnya. Ia tak punya senjata untuk menggertak Yasmine.
"Apa yang kau inginkan? Uang?" Ucap anak itu tak segan. Ia masih memandang rendah Yasmine.
"Beri aku 200 juta. Dan jangan pernah mengganggunya lagi." Yasmine berencana menggunakan uang itu untuk membawa Lukka kepada Psikiater. Dengan kata lain, itu uang kompensasi atas trauma yang dialami Lukka.
Sejujurnya jumlah segitu tidaklah sepadan dengan apa yang mereka perbuat pada Lukka selama ini. Namun Yasmine mempertimbangkan, mereka semua masih pelajar.
"APA..?! DUA RATUS JUTA? Kau sudah gila?" Anak itu sangat terkejut, sampai jantungnya terasa terbakar. Ia benar-benar di peras sekarang.
"Kenapa..? Terlalu sedikit?" Yasmine menghentakkan tongkat pada kaki anak itu.
"Bayangkan saja jika foto ini tersebar. Berapa banyak uang yang akan di habiskan orang tuamu untuk menutupi ini? Belum lagi jatah uang saku mu pasti berkurang. Pikirkan baik-baik.." Tambahnya dengan wajah jengah.
"Kau pasti sudah gila.. Dua ratus juta katamu?" Anak itu memalingkan wajah sejenak untuk menghela nafas, kemudian ia mengangkat tangan sekuat tenaga hendak menampar Yasmine.
__ADS_1
Namun sesosok tangan jenjang nan kekar tiba-tiba menghadang lengan anak itu dengan cengkraman erat.
...*********...