Tak Mau (Jadi) Yang Kedua

Tak Mau (Jadi) Yang Kedua
Episode 32 : Pengen Motor


__ADS_3

"Ma... ayolah.., Lukka ingin sepeda motor. Teman-teman sebaya Lukka sudah pada beli. Lukka juga ingin bergabung dengan mereka... bbrrm...brrmm..." Anak besar itu memperagakan suara motor gede, yang dipamerkan anak-anak SMA saat di sekolah.


Ambar yang tengah sibuk mendesain gaun pernikahan di gadgetnya terlihat tak menghiraukan sang anak. Memakai baju sendiri saja masih kesulitan, lah kok heboh minta belikan motor. Bisa-bisa dibawa terbang ke atas genteng itu motor.


Karena tak ditanggapi, Lukka menarik-narik kursi kerja mamanya sambil merengek. "Mama.... Lukka mau beli motor ih..mama tidak dengar! Ma...!"


"Lukka..! Bisa diam dulu tidak? Mama sedang bekerja." sentak wanita paruh baya itu.


"Lukka tidak akan ganggu mama, kalau mama bilang iya."


"Tidak bisa, Lukka. Kamu tidak boleh naik sepeda motor." Ambar melembutkan suaranya.


"Kenapa..? Waktu umur kak Agam 18 tahun dia bahkan sudah boleh membawa mobil. Kenapa Lukka tidak boleh? Padahal umur Lukka sekarang sudah banyak." Protesnya tak terima.


Tak bisa dipungkiri ia merasa perilaku orang tuanya sangat pilih kasih. Agam selalu boleh ini dan itu, sementara dirinya tidak bisa melakukan apapun. Bahkan untuk sekedar melihat konser penyanyi kesukaannya pun ia tidak bisa. Anak besar itu tidak sadar, bahwa bukan perilaku orang tuanya yang berbeda. Melainkan dirinya sendirilah yang membuat orang sekitarnya bersikap demikian.


Kedua bola mata Ambar berbayang kaca, menatap sang putra bungsu yang sangat memprihatikan. "Kamu itu masih kecil, sayang. Bahkan kamu belum lulus sekolah tingkat dasar. Sewaktu kak Agam berusia 18 tahun, dia sudah masik Universitas..."


"Walaupun belum lulus sekolah, usia Lukka sudah banyak ma..! Bahkan usia Lukka lebih banyak dari kak Yasmine. Kenapa Lukka tidak boleh bergaul dengan teman sebaya Lukka? Pokoknya Lukka mau motor biar bisa kumpul sama teman-teman Lukka."


Ambar berdiri dan mengenggam lembut tangan Lukka. "Sebaiknya kamu jangan bergaul dengan anak-anak geng motor. Bergaul lah sesuai kelasmu, Lukka. Mama akan belikan sepeda motor kalau kamu sudah lulus tingkat Menengah Atas. Lukka belajar yang rajin ya, dan jangan bergaul dengan anak-anak seperti itu."


"Jika bukan dengan mereka Lukka tidak punya teman, Ma. Tidak ada yang mau berteman dengan Lukka dikelas. Lukka bahkan tetap bermain dengan mereka setelah mereka menyakiti Lukka. Lukka hanya ingin seperti mereka, Ma. Kenapa Lukka tidak bisa?"


"Karena kamu berbeda, sayang..." tangis menitik di pipi wanita paruh baya itu. Belakangan ini Lukka seperti memberontak dengan keadaannya. Melihat orang-orang sepantaran yang berkembang jauh pesat, membuat Lukka tak mengerti kenapa ia tak bisa mencapai posisi seperti mereka.


"Beda apa nya, Ma..?! Kenapa semua orang bilang Lukka berbeda?" ketus anak itu, ia tak sadar bahwa semuanya berbeda. Mental, cara pikir dan ketangkasannya sangat berbeda dari teman sebaya.


Ambar tak bisa menjawab itu, benaknya terlanjur perih ditambah dengan pertanyaan Lukka barusan. Lukka tumbuh seperti itu karena sikapnya yang keras kepala. Andai dulu ia mengabaikan pekerjaan dan menuruti perkataan sang suami. Pasti Lukka baik-baik saja sekarang.


"Kenapa Lukka berbeda, Ma..? Kenapa?! Mama selalu diam kalau Lukka tanya! Mama pilih kasih..! Mama tidak sayang dengan Lukka..!" Anak itu melemparkan tasnya ke lantai, lalu berlari keluar rumah. Ia benar-benar kesal dengan sikap dan prilaku sang mama terhadapnya.


Ambar terduduk lemas dikursinya. Ia merebahkan wajah keatas meja, lalu menumpahkan tangis sesenggukan. Bukan keinginannya juga membuat Lukka jadi seperti itu. Andai waktu dapat diulang kembali, maka ia akan rela kehilangan uang dan segalanya untuk Lukka.

__ADS_1


...~~~...


Pukul 19:00....


Agam dan Nisha sedang menikmati waktu luang di ruang keluarga. Mereka menonton film action yang beberapa waktu lalu mereka lewatkan jadwal tayangnya di bioskop.


Sementara itu dapur, Yasmine tengah memasak sup ayam untuk makan malamnya. Sedari siang ia kesepian, karena Lukka tidak datang kesana. Andai saja ada Lukka, maka ia akan punya teman bicara. Seharian tak bertemu Lukka membuat imun tubuhnya menurun.


Bel pintu berbunyi, Nisha beranjak dari sofa untuk membukakan pintu. "Malam, ma.." sapa Nisha kepada sang ibu mertua.


"Malam Nisha, ini mama bawakan cokelat kesukaan Lukka. Tolong kamu berikan padanya ya, dia sepertinya sedang marah dengan mama." wanita itu menyerahkan sebuah kotak berwarna oranye, dengan gambar bittersweet.


"Bukannya Lukka dirumah mama?" Nisha menekuk alis dengan senyum tipis.


"Tidak, setelah mama jemput dia memang dirumah. Tapi kami berdebat dan dia langsung keluar. Dia tidak disini?" Ambar masuk beberapa langkah dan mengedarkan pandangannya.


"Agam, Agam... adik kamu mana?" ia lanjut masuk menuju ruang keluarga, diikuti Nisha dengan langkah cepat.


"Bukannya tadi sama mama? Mama juga bilang ingin dia tidur dirumah malam ini kan?" Agam berpikir mungkin mamanya lupa.


"Dari siang...?" Agam mengusap kasar wajahnya. Jika memang Lukka kabur, entah sudah sampai kemana.


Agam segera mengambil kunci mobilnya. "Sayang, kita berpencar mencari Lukka ya. Kamu coba kesekolahnya, Aku akan coba mencari ke rumah teman-temannya."


"Mama juga akan mencari..." Ambar yang panik melemparkan kotak makanan itu ke sofa, dan langsung menyusul keluar rumah.


Tinggallah Yasmine di dapur, yang mematung karena kepanikan mereka semua. "Lukka kabur...?" gumamnya khawatir.


Ia mematikan kompor dan langsung bersiap untuk mencari Lukka. Mana bisa ia diam saja dan menunggu. Bagaimana kalau Lukka bertemu anak-anak nakal dan malah di sakiti lagi? Ia tak bisa membayangkan itu.


.


.

__ADS_1


Pukul 21:00....


Tampak Yasmine menuju taman bermain dengan motor matic berwarna coklat miliknya. Tadi ia naik taksi ke kontrakan, untuk mengambil motor. Sebab jika berputar-putar mencari naik taksi, ia tak punya cukup uang.


Lukka pernah bilang sangat suka melihat kumpulan kelinci yang dilepas liarkan di taman bunga. Dan satu-satunya taman yang menjadikan kelinci sebagai teman berkunjung adalah taman ini.


Yasmine memperlambat kecepatan motornya saat memasuki area taman terbuka itu. Banyak orang berkunjung sembari memberi makan kelinci-kelinci.


Dari mulai orang berpacaran, berkeluarga, sampai para anak remaja yang tengah nongkrong bersama. Yasmine memperhatikan satu persatu orang tersebut.


Hingga di ujung jembatan gantung, Yasmine melihat warna yang sangat khas. Yaitu warna seragam sekolah Lukka. Ia tersenyum lega dan langsung menghampiri anak itu.


tin...tin....


Yasmine membunyikan klaskon. Lukka yang tengah duduk diantara kerumunan kelinci menoleh.


"Kakak..." ucap Lukka lesu. "Kalau kakak nyuruh Lukka pulang, Lukka tidak mau..!" imbuh anak itu membelakangi kembali Yasmine.


Yasmine melepaskan helmnya, lalu turun dan berjongkok disebelah Lukka. "Kenapa...?"


"Mama itu tidak adil. Lukka minta belikan motor, tapi mama malah bilang kalau Lukka tidak boleh naik motor. Katanya Lukka berbeda. Selalu begitu...!" kesalnya dengan bibir mengerucut.


"Kamu bisa naik motor?"


"Tidak." jawab Lukka pelan.


"aihhh.., pantas saja tidak boleh. Jika mau punya motor itu harus bisa mengendarainya. Tentu saja mama mu khawatir, karena naik motor itu cukup berbahaya."


"Tapi kak Agam belajar motor, sebelum dia punya motor. Kenapa Lukka tidak boleh?" lagi-lagi anak itu membandingkan dirinya dengan Agam.


Yasmine memikirkan cara untuk membujuk anak besar itu.


"Begini.., kakak punya motor, kakak akan mengajarimu sampai lancar. Atau kita belajar sekarang, sekalian jalan pulang. Mau..?"

__ADS_1


Lukka melirik ke arah motor skupi coklat itu. "Tapi motornya beda sama motor yang Lukka mau."


...************...


__ADS_2