Tak Mau (Jadi) Yang Kedua

Tak Mau (Jadi) Yang Kedua
Episode 39 : Klaster Mewah


__ADS_3

Ternyata suara benturan itu berasal dari gerbang depan. Ambar tak sengaja menekan pedal gas, padahal posisi mobil hendak berbelok memasuki pekarangan rumah.


"Astaga...!" Ambar sangat terkejut, ia keluar dari mobil dan terburu-buru memeriksa keadaan.


"Nyonya kenapa?" tanya bik Sita yang tengah lari tergopoh-gopoh bersama Yasmine.


Dari seberang, Agam yang baru pulang kerja pun melihat itu, dan langsung berlari menghampiri TKP.


"Ya ampun, ma. Mama mabuk?" dengus Agam tak habis pikir. Bisa-bisanya Ambar menabrak pagar, padahal jalan masuk ke pekarangan rumah itu cukup longgar.


"Nggak tahu nih.., mama mau ngerem tadi, tapi malah ke gas." keluh Ambar memegangi pelipisnya. Ia meratapi kap bagian depan yang penyok lumayan parah.


"Keluarkan dulu deh belanjaan nya, mama akan telepon montir." titah Ambar kepada Agam, dam bik Sita pun turut membantu.


Tak mau hanya jadi penonton, Yasmine juga ikutan menuju bagasi.


"Jangan..!" ucap Agam dan bik Sita berbarengan, saat Yasmine hendak mengangkat kardus minyak goreng.


"b..baik.." Yasmine urung memegang kardus tersebut, dan beralih ke kantong bening berisi sayuran.


"Sebaiknya kau duduk saja, daripada menghalangi kami." ketus Agam melirik sinis.


"Iya non, duduk saja... nanti kelelahan." timpal bik Sita.


Yasmine mengecap bibirnya masam, ia tak bisa melakukan apapun. Jangan ini dan itu, membuatnya sangat bosan. Ia pun mundur menjauhi dua orang itu.


"Yasmine...!" seru seseorang dari kejauhan.


"Iya..." Yasmine menoleh dengan senyumnya, karena ia pikir itu suara Nisha. Senyumnya pun seketika hilang saat melihat Rika lah yang memanggil.


Kali ini Rika datang tidak seorang diri, melainkan bersama rekan-rekan kerja, termasuk atasan mereka di Bank.


"Rika." Yasmine gugup bukan main. Apa yang dilakukan Rika sekarang? Untuk apa dia datang kesana, dan darimana ia tau alamat ini?


"hai.., apa kabar." sapa Rika tersenyum lebar.


Agam pun mematung ditempat, dari awal ia sudah bisa mencium gelagat aneh wanita itu. Dan benar saja dugaannya, Rika pasti datang kesana untuk mengacaukan mereka.


"Ada apa ya..?" Yasmine menyembunyikan rasa gugupnya dibalik senyum kecut.


"Rika bilang kau sudah menikah, kenapa tidak mengundang kami?" ucap wanita berambut keriting, yang tak lain adalah atasan mereka.


"Benar, padahal kita sudah seperti keluarga." timpal rekan yang lainnya.

__ADS_1


"Aku mengajak mereka memberimu kejutan, dan hadiah pernikahan. Bagaimana...? Kau terkesan?" ujar Rika memamerkan kotak berbungkus kertas kado di tangannya.


Yang lain pun sama, masing-masing mereka membawa kado untuk Yasmine.


Di belakang, Agam menggeratkan rahang. Ia tau wanita itu sengaja datang untuk mempermalukan Yasmine dan dirinya. Karena kemarin mereka bertemu dengan Nisha yang berstatuskan istrinya.


"Anda tau alamat ini darimana?" tak sedikitpun Yasmine tampak bahagia. Ingin sekali ia melemparkan kotak kado tersebut ke wajah Rika. Wanita itu tersenyum manis, padahal ada racun di balik itu.


"Hal mudah untuk mencaritahu ini." lirih Rika tersenyum dengki. "aahh, kami ikut berbahagia karena sekarang kau tinggal di klaster mewah. Omong-omong yang mana rumahmu? Bukankah tidak sopan membiarkan tamu berdiri di jalanan begini?"


"Agam.., sudah selesai..? eh.. ada apa ini ramai-ramai?" Ambar penasaran, kenapa tiba-tiba banyak orang di depan rumahnya.


"aah, anda pasti mertuanya Yasmine kan?" ucap Rika menebak.


"hah...?" Ambar mengernyit heran.


"Bu, ini teman-teman kerja ku dulu." ujar Yasmine memperkenalkan mereka satu persatu, dengan wajah masam tentunya.


Ambar semakin tak mengerti, ia melirik Agam yang memberi kode lewat sorot matanya.


"Kau... tidak menawari kami mampir?" singgung Rika lagi.


Yasmine jadi bingung, jika hanya Rika ia akan langsung mengusir wanita itu. Tapi disana ada atasan dan teman-temannya yang lain. Tak enak rasanya menyuruh mereka langsung pergi.


Bik Sati menyuguhkan beberapa camilan dan minuman. Mereka semua kini duduk di ruang tamu, sambil saling tatap menatap dengan penuh rasa canggung.


"Mendengarmu menikah tanpa menyebar undangan, ku pikir sesuatu terjadi padamu." lirih wanita yang menyandang jabatan Kepala Bagian itu. Dulu semasa Yasmine bekerja, dialah orang yang paling perhatian terhadap Yasmine.


"Tidak.., saya baik-baik saja kok." jawab Yasmine sambil mengusap lututnya.


"Apa yang membuat anda mencintai Yasmine?" timpal Rika tampak penasaran. Kok bisa-bisanya pria dari keluarga terpandang itu kepincut dengan gadis udik seperti Yasmine.


"Lalu siapa wanita yang kemarin mengaku sebagai istri anda?" tambahnya dengan wajah tak tau malu.


"Dialah istriku," jawab Agam menatap dingin.


"Apa...? Lalu..?" Dari sekian orang yang bertamu, memang hanya Rika yang terlalu kentara mengorek kehidupan pribadi Yasmine.


"Yasmine menantu kedua ku." jawab Ambar menimpali, ia terpaksa berbohong karena tak mungkin mempertaruhkan harga diri Agam.


"Jadi kalian hanya saudara ipar? Lalu kenapa saat itu kalian pergi bersama ke Dokter kandungan?"


"Rika, apa yang kau lakukan? Kita ini sedang bertamu." tegur Atasan mereka, sedari tadi ia memang sudah risih dengan sikap Rika yang seperti wartawan.

__ADS_1


Raut wajah Rika pun jadi murung, karena tak puas dengan fakta ini. Namun masih saja ia merasa ada yang janggal. Jikapun benar Agam dan Yasmine hanya saudara ipar, maka rasa iri dengki nya jadi berkali-kali lipat lagi. Karena ia merasa Yasmine tak pantas berada dalam keluarga itu.


.


.


Di depan sekolah, Lukka dan teman-teman berandal4nnya tengah kumpul bersama di sebuah cafe outdoor. Sejak di beri pelajaran oleh Agam, anak-anak itu kini benar-benar memperlakukan Lukka dengan baik. Terlebih saat mereka menyadari, ada seorang pengawal yang mengawasi Lukka secara diam-diam.


"Memangnya keluargamu tidak mencarimu?" tanya salah satu anak SMA, karena biasanya Lukka selalu pulang tepat waktu.


"Lukka sudah bilang ada les tambahan." jawab Lukka yang tengah asik mengamati bodi motor CB.


"Untuk gigi satu tekan yang depan, sisanya jungkit kebelakang. Untuk mengurangi tekan lagi yang depan. Paham?" ucap si ketua geng, ia hendak mengajari Lukka menaiki motor itu.


"Kenapa susah sekali? Waktu itu motor kak Yasmine tinggal di gas saja." protes Lukka.


"Ya beda, itu motor matic. Sedangkan ini motor besar."


"Tempat duduknya memang sekecil ini? Mana bisa untuk membawa penumpang." ucap Lukka lagi, ia merasa itu bukan motor sungguhan.


Ketua geng itu tampak jengah mendengar Lukka yang terlalu banyak tanya. "aisss.. Kenapa kau banyak bertanya! Memangnya kau mau membawa siapa? Pacarmu?"


"Calon istriku." jawab Lukka dengan percaya diri.


Sekelompok anak SMA itu sontak terbahak-bahak. Yang sedang makan sampai tersedak karena tak bisa menahan tawa.


"Calon istri..? Memangnya ada yang mau denganmu?"


"Siapa dia...? Apa kau memaksanya?" Ledek mereka sambil tertawa kaku. Tak bisa dibayangkan, bocah bayi itu mempunyai seorang kekasih.


"Aku tidak memaksanya. Ya... walaupun dia melarikan diri saat ku ajak menikah." ekpresi Lukka menjadi lesu mengingat momen kemarin malam. Karena Yasmine tak menjawab perkataannya.


"hahahahahaha....." lagi, mereka semua tertawa serempak.


"hei, kau mengajaknya menikah tanpa mengatakan cinta?" tanya ketua geng itu menahan tawa.


"Iya.." sahut Lukka enteng.


"ch...! Pantas saja dia kabur. Dengar, mau ku ajari cara yang manjur?"


"Ada caranya? Bagaimana...?"


Ketua geng itu tersenyum sumringah. Setelah lama mengibarkan sayap menjadi buaya, sepertinya ini saatnya ia membuka kursus privat. "Gampang..." ucapnya seraya menepuk-nepuk bahu Lukka.

__ADS_1


...************...


__ADS_2