Tak Mau (Jadi) Yang Kedua

Tak Mau (Jadi) Yang Kedua
Episode 37 : Menikah Yuk


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Rumah Agam tampak sepi dan gelap karena pasangan suami istri itu sedang ada dinas malam.


Di dapur, mengandalkan cahaya remang-remang, Yasmine sedang membuat bubur gandum untuk mengganjal perutnya yang terasa keroncongan. Sebenarnya mie pedas, atau nasi goreng lebih menggugah lidah jika dibayangkan. Namun demi kebaikan sang janin, ia melawan air liur yang terus mencair.


"aihh.. bentuknya kok seperti muntah kucing." Yasmine bergidik sendiri melihat hasil masakannya. Namun sungguh terpaksa ia memakan bubur pucat itu, yang penting perutnya terisi.


Yasmine duduk di meja bar, menyantap sendiri bubur tidak nikmat itu. Sambil celingukan mengamati seluruh sudut ruangan. Terlihat luas, dan sunyi. Bergidik tiba-tiba bulu romanya, saat merasakan sesuatu tengah berjalan kesana.


"Kak.." Panggil Lukka sambil menepuk bahu Yasmine.


Yasmine terkejut hingga tersedak. "uhuk..uhukk... Lukka, kamu buat kakak kaget tau?!"


"heheh, maaf. Lukka dengar bunyi-bunyian piring, Lukka pikir hantu." Anak besar itu kini tak penasaran lagi. Semenjak Agam meracau soal ada hantu dirumah itu, Lukka sering merasa parno.


"Kenapa belum tidur?" tanya Yasmine setelah membersihkan tenggorokan dengan air putih.


"Lukka bosan. Sehabis makan kakak mau nggak temanin Lukka tidur?"


"uhukk...!" baru menyuap lagi, Yasmine kembali tersedak mendengar ajakan Lukka. Enteng sekali bibir anak itu mengajaknya untuk jadi teman tidur.


"Lukka, dua orang dewasa itu tidak boleh tidur bersama." Yasmine berusaha memberi penjelasan.


"Kenapa..?" wajah polos Lukka mendominasi cahaya remang saat itu.


"Karena...kita lawan jenis. Kakak wanita, dan Lukka pria." Yasmine mengangguk bangga bisa memberi penjelasan itu untuk Lukka.


"Tapi Kak Agam dan Kak Nisha bisa tuh tidur bersama. Setiap hari pula. Lukka juga mau punya teman tidur. Mama dan Papa bahkan tidak mau menemani Lukka tidur."


Yasmine mendengus pelan, senyuman hambarnya menghiasi wajah bingung. Bagaimana ia menjelaskan ini lagi? Otak Lukka sepertinya akhir-akhir ini sangat aktif.


"Kak Agam dan Kak Nisha itu sudah menikah, sama seperti Papa dan Mama Lukka. Dua orang yang sudah menikah, boleh tidur bersama."


"Kalau begitu ayo kita menikah." pinta Lukka enteng, seperti anak kecil yang mengajak orang tuanya naik odong-odong.

__ADS_1


Bibir Yasmine berdecit halus karena menahan tawa. Ternyata sesimpel itu pemikiran anak berusia '7 tahun'.


Dulu saat usia Yasmine segitu, ia juga pernah menayakan hal yang sama, tentang kenapa orang tuanya menikah.


"Menikah itu bukan hanya tentang tidur bersama. Menikah itu tanggung jawab seumur hidup untuk saling mencintai. Seorang pria harus menafkahi istrinya, dan istri harus melayani suaminya seumur hidup. Mereka hidup bersama, memiliki anak dan tua bersama. Seperti orang tua Lukka, yang sekarang punya Lukka dan Kak Agam."


"aaa..., pantas saja Kak Agam selalu bilang I Love You pada Kak Nisha sewaktu turun dari mobil. Tapi, kenapa Kak Agam tidak punya anak?" Lukka malah penasaran akan hal lain, dari penjelasan Yasmine barusan.


Dengan lapang dada, Yasmine mengorek kemampuan otaknya untuk menjawab Lukka. Melihat rasa penasaran anak itu yang begitu tinggi, sepertinya hanya Yasmine tempat ia bisa mempertanyakan logikanya.


"Anak itu tumbuhnya di rahim, dan saat Kak Nisha kecelakaan, dia kehilangan rahimnya. Jadi ia tak bisa lagi mempunyai anak. Semua wanita memiliki rahim, tapi tak semua wanita yang memiliki rahim beruntung bisa memiliki anak."


"Pantas saja kak Nisha belum punya anak. Kasihan juga..." Lukka mengangguk pelan, seru sekali rasanya bisa menyerap ilmu baru dari Yasmine.


"Jadi dede bayi yang ada di perut kakak, juga tumbuh di rahim?"


"Benar..." sahut Yasmine tersenyum lebar.


"Caranya...?" Yasmine mati kutu kali ini. Sepertinya ia harus bergelar profesor untuk bisa menjawab rasa penasaran Lukka. Otaknya juga mempunyai batasan, ia tak mampu mengolah setiap penjelasan menjadi mudah dipahami untuk Lukka.


"Caranya sangat mudah, saat Lukka menikah nanti, dengan mudah Lukka akan memahami cara itu. Itu seperti les privat yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang sudah menikah." cukup panas dingin tubuh Yasmine menjawab itu.


Tak ingin mendalami rasa penasaran Lukka lagi, Yasmine pun bangkit dan meletakkan mangkuknya di wastafel.


"Kalau begitu ayo menikah, kak."


Yasmine membalik badan sambil tertawa. "Menikah..? Memangnya kamu bisa memberi kakak nafkah? Kamu saja masih sekolah tingkat dasar hahahah.."


"Bisalah, kan Lukka punya saham di rumah sakit. Ayo kita menikah... Lukka mau punya teman tidur biar tidak bosan." ajaknya dengan wajah polos tanpa dosa, ia bahkan berjalan ke arah Yasmine dengan wajah memelas.


Nafkah dalam pikiran Lukka adalah hanya memberi makan, dan membelikan keperluan istri. Ia tak paham bahwa ada yang namanya nafkah batin. Dasar anak besar itu... 20 tahun tidur sendirian tampaknya sangat membosankan baginya. Bagaimana lagi, pengasuh Lukka pun tak di izinkan tidur dengan Lukka, karena biar bagaimana Lukka itu pria dewasa.


"Ayo menikah...." pinta Lukka lagi, kini ia mengguncang tangan Yasmine, persis seperti anak kecil minta jajan.

__ADS_1


Yasmine tak berkutik disana, lidahnya kelu dan kicep. Ia mendongak memandang wajah anak besar itu dengan jantung berdebar. Apa-apaan ini? Ajakan nikah seperti ajakan main lego, bagaimana bisa jantungnya berdebar tak karuan? Apa karena ini kali pertama ia mendengar ajakan itu?


"Kak..." Lukka mengguncang kedua bahu Yasmine pelan.


"Iya..?" Yasmine menyahut gugup, tersadar ia dari hanyutnya debaran yang aneh itu.


"Kakak nih, tidak mendengarkan Lukka ya?" Anak itu memajukan bibir bawahnya.


"Dengar kok..hehe.."


"Terus kenapa nggak jawab? Mau atau tidak? Kalau mau Lukka akan bilang sama Mama Papa."


"Jangan..!" Yasmine terlihat sangat panik, bagaimana jika Lukka serius akan bilang begitu pada orang tuanya? Keadaan keluarga Lukka sedang panas sekarang, tidak bisa dibiarkan.


"Kenapa...?" Lukka malah membelalak penasaran.


"Pokoknya jangan.., kamu itu masih kecil Lukka. Belum boleh membicarakan ini."


"Masih kecil? Usia Lukka lebih tua satu dari kakak, dan tinggi Lukka bahkan lebih dari kakak. Tuh lihat saja, kepala kakak bahkan tidak sampai ke dagu Lukka."


Anak itu merapatkan badannya ke hadapan Yasmine, ia mengepalkan tangan di atas kepala Yasmine, untuk memberitahu bahwa ia sudah besar, lebih besar dari Yasmine.


Yasmine mendorong pelan dada Lukka untuk menjauh darinya. Sedikit saja lebih lama, ia bisa sesak nafas karena oksigen di sekitarnya terasa menyempit. Lalu tanpa menjawab, ia berlari meninggalkan Lukka disana.


Anak besar itu melipat alis dengan wajah bingung. Kenapa Yasmine bersikap begitu? Padahal suhu ruangan cukup sejuk, kenapa dia berkeringat dan nafasnya sangat berat.


"Apa kak Yasmine sakit?" gumamnya bermonolog, sambil garuk-garuk kepala. Ia tak sadar bahwa ekpresi Yasmine itu sama dengan ekspresi nya kemarin.


...*********...


Marhaban Ya Ramadhan.....🙏


Mohon maaf lahir dan batin ya guys...❤️

__ADS_1


__ADS_2