
Ambar dan bi Sati tengah membereskan dapur. Beginilah jika Ambar yang turun tangan memasak, semua menu ia sajikan hingga cucian piring menumpuk. Ia memang jarak ke dapur, tapi sekalinya ke dapur sangat totalitas.
Saat memasukkan piring ke dalam lemari, ia melihat vitamin Lukka. Baru teringat olehnya, hari ini Lukka belum ada meminum vitamin tersebut. Itu adalah vitamin khusus yang di sarankan Dokter Lukka, agar daya ingat dan perkembangan sel otak Lukka terus meningkat.
"ahh, anak ini..." dengusnya pelan, kalau tidak diingatkan Lukka mana pernah meminum vitamin itu.
Ia pun membawa vitamin tersebut dan mencari Lukka. Sekalian segelas air ia bawakan, agar Lukka langsung meminum nantinya.
Sementara itu di ruang tengah, Lukka dan Yasmine masih saling menatap. Lukka masih tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
"Ayo... menikah."
Kata yang keluar dari mulut Yasmine itu membuat tubuhnya beku sesaat.
"Kau... serius?" Kedua mata Lukka bersinar cerah, mengalahkan sinar bintang dan bulan di langit malam itu.
Yasmine menangguk kecil. Senyum sipu dan wajah yang bersemu di akibatkan oleh debaran jantung yang hebat. Ia baru saja membuat keputusan, mana mungkin tidak berdebar.
"Apa kau juga mencintaiku?" Lukka ingin mendengar sekali saja, ungkapan cinta dari wanita dambaan hatinya itu.
"Memangnya ada alasan untuk aku tidak mencintaimu? Kau begitu tulus dan...." mata Yasmine membelalak saat Lukka dengan tiba-tiba menyerobot bibirnya. Ia mematung di tempat. Sangat terkejut dengan aksi Lukka yang diluar dugaan. Anak itu benar-benar sudah dewasa sekarang. Tubuhnya benar-benar hampir mendidih karena Lukka.
Di ambang lorong ruang tengah, Ambar yang hendak menghampiri mereka terpaksa berhenti di tempat. Matanya membelalak lebar menyaksikan adegan panas yang dibuat putra bungsunya itu. Ia mengerjap, lalu membelalak lagi. Ia tidak salah, itu benar-benar Lukka.
Ia mematung panas dingin, butuh usaha keras untuk berbalik badan dari pemandangan panas itu.
"Dia benar-benar sudah gila sekarang. aaiihhhggg... kenapa dia melalukan itu dirumah?" gumam Ambar sambil berjalan jinjit menjauh dari sana.
"Lukka benar-benar menerobos batasan. Dasar anak nakal itu..!" rutuknya merinding.
Yasmine mendorong tubuh Lukka dengan kedua tangannya. Ia seperti tersedot oleh vakum cleaner hingga kesulitan bernafas.
"Apa yang kau lakukan..?!" Yasmine menoleh ke kanan dan kiri dengan wajah panik.
"Aku sudah lama menahannya." Lukka menyeka bibirnya, sambil tersenyum nakal.
"Kenapa harus disini??" Wajah Yasmine semakin merah bak kepiting rebus.
"Jadi dimana? Kau mau langsung ke kamar?"
__ADS_1
"hei..!Bagaimana jika keluargamu melihat itu? Kau benar-benar..!"
"Biar saja, lagipula kita akan menikah."
Yasmine tak bisa berkata-kata lagi. Kedua rahangnya hanya bisa beradu. Bibirnya terkatup rapat, namun sedikit bergetar. Masih jelas terasa jejak nafas Lukka disana.
...~~~...
Pagi hari saat Agam baru pulang tugas malam. Ia langsung ke rumah mamanya untuk sarapan. Sudah ada Lukka, Papanya dan Anna disana.
"Pagi..." sapa Agam kepada semua orang. Namun mereka tak membalas, semuanya tampak murung.
Agam menarik salah satu kursi, lalu duduk dan langsung menyendok nasi. "Ada apa ini..? Kenapa wajah kalian semua? Apa ada sesuatu."
"hmm.. ada sesuatu. Adikmu dan Yasmine akan menikah minggu depan." sahut Pak Ghani datar.
"Sungguh...? Bagus dong kalau begitu. Sudah saatnya Lukka menempuh hidup baru. Lalu kenapa wajah kalian semua murung? Bukankah ini kabar bahagia?" Jangan bilang papanya tidak setuju dengan pernikahan itu.
"Ada kabar tak sedap juga." lirih Lukka, wajah dan intonasi suaranya juga datar bahkan murung.
"Apa..?" Agam semakin digerogoti rasa penasaran.
Karena penasaran, Agam menuju meja bar itu dan membuka amplopnya. Rasa lelah, lapar dan kantuk kabur serentak saat membaca isi suratnya.
"Apa-apaan ini..?!!" Agam meremas kertas itu, lalu melemparkannya ke tong sampah.
Ia melangkah cepat keluar. Semudah itu Nisha melayangkan gugatan untuknya? Setidaknya temui ia sekali saja, dan dengarkan permintaan maafnya. Agam benar-benar mendidih setelah melihat surat itu.
.
.
Sampailah ia di rumah kedua orangtua Nisha. Wajahnya tampak merah padam. Ia tak lagi mengucapkan salam hangat, melainkan langsung menerobos masuk ke rumah itu.
"Nisha ada, ma?" tanya Agam kepada Farah.
"Nisha, di kamarnya. Ada apa..?" Farah bisa merasakan hawa panas yang menyelimuti Agam.
Tanpa berkata-kata lagi, tanpa basa basi, ia melangkah cepat menaiki anak tangga. Hentakkan langkahnya terdengar berat dan menggema di rumah sunyi itu.
__ADS_1
Farah khawatir, ada apa sebenarnya? Kenapa raut wajah Agam terlihat sangat marah? Ia ingin menelpon suaminya, takut kalau Nisha di apa-apain oleh Agam. Tapi ia urung sejenak dan menyaksikan apa yang terjadi dari lantai satu itu.
Sesaat Agam hendak menggedor pintu kamar Nisha, secara kebetulan Nisha membuka pintu kamarnya hendak keluar. Ia terkejut melihat Agam di sana.
Agam pun tak ambil jeda, ia mendorong tubuh Nisha ke dalam kamar, lalu menutup pintu itu rapat-rapat. Di tatapnya amat legam wajah sang istri. Deru nafas terdengar kasar, dadanya sampai naik turun.
Nisha yang hampir terhuyung berhasil menahan keseimbangan karena Agam menggenggam erat lengannya.
Ia sangat terkejut. Sisi lain dari Agam yang sudah lama terkubur, kini ia melihat itu kembali. Sosok tempramen dan tatapan yang tajam itu membuat denyut jantung Nisha berdegup kencang.
"Apa yang kamu lakukan? Kamu menggugatku? Kamu begitu ingin cerai dariku?" suara Agam terdengar berat. Tatapan tajamnya seolah bisa melubangi apa saja.
"Iya!" jawab Nisha singkat. Matanya membulat, menunjukkan ia sudah matang memikirkan itu.
"Aku tau kesalahanku tak bisa dimaafkan. Tapi aku masih sangat mencintaimu. Cerai..? Kamu pikir akan semudah itu aku melepaskanmu? Pikirkanlah lagi Nisha..."
"Kenapa kamu bersikap seolah korbannya,mas? Aku yang sakit disini..aku..! Waktu kamu tidur dengan wanita itu apa kamu memikirkan hak dan posisiku sebagai istrimu?! Waktu kamu bawa anak hasil hubungan gelapmu, apa kamu memikirkan perasaanku? Kenapa seolah aku yang berlaku jahat denganmu, mas?"
Nisha menarik lengannya dari genggaman Agam. Kembali ke rumah itu, dan melihat wajah Anna? Itu sangat menyakitkan.
"Iya aku tau aku yang salah..! Aku memang bajing4n!"
"Pergi dari sini, mas..! Aku muak melihatmu!" pekik Nisha, kemudian ia terduduk lemas di tepi ranjang.
Siang dan malam ia bahkan menangis saat membayangkan betapa keji kelakukan Agam kepadanya, yang menutupi kebohongan ini selama bertahun-tahun. Cinta pertama? Agam mengatakan itu seolah memang Nisha satu-satunya. Ternyata ia hanyalah yang kedua. Agam bahkan tega melakukan itu saat ia tengah mengandung anak mereka.
"Lihat aku, Nisha. Lihat aku sekali lagi. Aku sungguh hanya mencintaimu sekarang." Agam berlutut di hadapan Nisha.
"Cinta yang kamu berikan hanyalah bekas dari kisahmu dan wanita itu. Jika wanita itu masih hidup, aku yakin kamu dan dia masih bermain kotor di belakangku!"
"Harus dengan apa aku membuktikannya?" rintih Agam menahan tangis. Ia sungguh tak ingin bercerai dari Nisha. Ia sungguh hanya mencintai Nisha.
Nisha membuang pandangannya, tangis yang menitik tak bisa terhenti. Kedatangan Agam seperti menusukkan belati lebih dalam lagi ke bekas lukanya.
"Terlalu menyiksa untukku, jika harus menghabiskan sisa hidup dengan jejak perbuatanmu. Kita akhiri saja semuanya..."
"Tidak.. Tidak.. Aku mohon jangan lakukan itu. Sayang...jangan lakukan itu. Aku masih suami mu. Aku akan tetap menjadi suamimu sampai kapanpun. Jangan katakan itu..." Agam menangis terisak. Seumur hidup baru kali ini ia menangis secara terang-terangan. Ia tak sanggup jika membayangkan harus berpisah dengan istrinya lebih lama lagi.
Nisha tak perduli lagi dengan tangis itu. Perih? Apa yang ia rasakan bahkan lebih sakit lagi. Ia berdiri meninggalkan Agam yang tertunduk memohon ampun. Hatinya yang dulu lembut dan hangat, kini menjadi keras dan sangat dingin.
__ADS_1
...**************...