
"Menikah...?" Yasmine mengulangi perkataan Ambar dengan alis terlipat.
"Kamu itu wanita yang tepat untuk jadi pendamping Agam." lirih Ambar tersenyum kecil.
Yamsine tak bisa membayangkan betapa sakit perasaan Nihsa jika mendengar ini. Hanya karena tidak bisa memberikan anak, bukan berarti seorang istri bisa ditendang begitu saja.
"Maaf, saya tidak bisa. Saya akan tetap pada rencana awal. Melahirkan anak ini, dan pergi." tegas Yasmine. Sedikitpun tak terbesit di hatinya untuk menyakiti hati Nisha, yang sudah begitu baik padanya.
"Saya tau kamu memikirkan perasaan Nisha. Tapi bagaimana dengan perasaan anakmu kelak? Dia akan bertanya kenapa Nisha bukan ibu kandungnya. Dan bagaimana dengan masa depan mu? Siapa yang mau menikahimu kelak, jika kau pernah memiliki anak tanpa menikah. Pria tidak akan perduli apakah kau mempunyai anak dari hasil berhubungan badan, atau dari hasil campur tangan Dokter."
Berbeda dengan janda yang jelas status pernikahannya, orang seperti Yasmine malah akan di cap sebagai gadis murahan. Pandangan orang-orang takkan semudah yang dibayangkan.
"Menyakiti perasaan sesama wanita, saya tidak bisa melakukan itu. Jika memang kedepannya saya tidak bisa menikah, saya akan lebih memilih resiko itu, ketimbang menyakiti perasaan bu Nisha." Yasmine kemudian berdiri, ia memilih beranjak dari sana. Pembicaraan ini seharusnya tak terjadi.
Yasmine pulang ke rumah Agam dengan wajah kusut. Ia memposisikan dirinya jika jadi Nisha, membayangkannya saja nafasnya sesak.
"Mertua macam apa dia itu? Seharusnya sebagai sesama wanita dia takkan sampai hati mengatakan itu." gumamnya, langkah kaki ia hentakkan menuju dapur.
Perutnya terasa sangat lapar, karena saat makan bersama tadi ia tak memakan banyak. Akibat ulah Lukka yang membahas pernikahan, membuatnya gugup gemetar sampai tak punya kekuatan untuk makan.
Dari pada tidur menahan lapar, Yasmine mau tak mau memasak bubur gandum untuk mengganjal lambung.
"Kehidupan macam apa ini..." keluhnya sambil menatap kosong ke arah panci.
Belakangan ini ia merasa menyesal karena mengambil keputusan gila. Namun ia tak akan punya kesempatan untuk menikmati hidup jika tak menerima tawaran ini. Ia seperti berdiri di antara dua jurang yang curam.
"hei, panci mu hangus." celetuk Agam, membuat lamunan Yasmine tebuyar.
"astaga..!" Yasmine segera mematikan kompor. Buburnya berubah menjadi coklat kehitaman. Karena panik Yasmine buru-buru mengangkat panci tersebut, namun entah kemana pikirannya, sampai ia menyentuh langsung panci itu tanpa kain lap.
Kedua tangannya menjatuhkan kembali panci itu sambil mendesis perih. "ahhw.. ya ampun... ada apa denganku." ia segera membasuh tangannya dibawah aliran wastafel, agar tidak melepuh.
Agam berbalik menuju kliniknya, ia mengambilkan salep lalu kembali mendatangi Yasmine.
"Kau tampak banyak pikiran, ada apa?" tanya Agam, sambil meletakkan salep ke hadapan Yasmine.
"Aku lapar.." jawab Yasmine pelan, entah karena apa batinnya tiba-tiba merasa sedih dan ingin menangis.
Agam menghela nafas sejenak, "Apa mamaku mengatakan sesuatu yang menyinggung mu?"
Yasmine mendongakkan pandangan ke langit-langit. Perkacapannya dengan Ambar begitu menusuk hatinya yang tengah sensitif.
__ADS_1
"Dia menyuruku menikah, denganmu. Maksudku.. kenapa dia sangat tega mengatakan itu? Apa dia membuang bu Nisha hanya karena kekurangannya? Aku kesal mendengar itu." Air mata Yasmine menitik, segera ia menyeka.
"Kenapa kau menangis? Nisha lah yang harusnya menangis jika mendengar ini."
"Karena dia begitu baik padaku ..." Yasmine tak tahan lagi, ia terisak sambil terus membasuh kedua tangannya.
Agam mengerti, perasaan Yasmine mungkin sedang sensitif karena janinnya. "Diamlah, kau akan membangunkan Nisha."
Sejak selesai makan sore tadi, Nisha langsung mandi dan tertidur. Ia mengaku kelelahan dan tidak enak badan.
Agam mengambil panci di lemari, lalu memasakkan bubur yang baru untuk Yasmine. Ia tak mau janinnya ikut stress, karena ibunya kelaparan dan menangis.
Untuk tambahan toping, Agam menaruh beberapa kacang merah, serta irisan hati angsa. Protein tinggi akan sangat bagus untuk pertumbuhan janin.
"Memangnya boleh di campur begitu?" Yasmine melirik ke arah kompor.
"Selama ini kau makan tanpa toping?"
"Jadi harus pakai toping?"
Agam dan Yasmine menatap lurus saling melempar tanda tanya.
"Kalau untuk diet memang harusnya tidak pakai toping, tapi kau kan sedang hamil. Kau butuh banyak nutrisi dan protein." Agam membayangkan, berarti setiap malam Yamsine memakan bubur hambar itu? Pantas saja dia selalu protes.
"ch.., makanlah.." Agam menyodorkan bubur buatannya kepada Yasmine, toping melimpah itu langsung menggugah lidah Yasmine.
"Besok jadwal kontrolmu, Nisha yang akan mengantarkanmu."
"hmm.." Yasmine mengangguk, sambil menikmati bubur itu dengan sangat lahap.
Agam pun meninggalkan Yasmine, ia harus menganalisa sesuatu di ruang kerjanya. "Kalau butuh sesuatu, panggil saja." ucapnya seraya melangkah pergi.
Iba saja melihat kedua tangan Yamsine merah, mudah-mudahan tidak melepuh.
"Iya." sahut Yasmine pendek. Walau kesulitan memegang sendok, ia tetap lahap menyantap bubur itu. Rasanya sangat unik dan nikmat.
...~...
Siang datang, seperti yang sudah direncanakan, Yasmine dan Nisha hendak bersiap mendatangi Dokter kandungan.
Saat hendak menuruni tangga, Yasmine berpapasan dengan Lukka yang baru saja pulang sekolah.
__ADS_1
Entah kesambet dedemit apa, Lukka menyapa Yasmine dengan mengedipkan satu matanya. "hai kak..."
Hampir saja kaki Yasmine terpeleset melihat itu. "h..hai.." Ia langsung membuang pandangan, tatapan anak besar itu terasa sangat berbeda.
"Mau ke Dokter?" tanya Lukka lagi, intonasi bicaranya pun terdengar beda. Apa Lukka mendapat wangsit? Hingga ia bersikap sangat berbeda dari sebelumnya.
"Iya..." sahut Yasmine terbata. Dalam satu malam anak itu memporak-porandakan pikirannya.
"Sendirian?"
"Sama bu Nisha." jawab Yasmine melengos.
Lukka mengangguk, lalu mengusap pucuk kepala Yasmine. "Hati-hati ya..Yasmine." ia beranjak dari sana sambil tersenyum lebar.
"Dia memanggilku apa..?" gumam Yasmine membelalak, telinganya tidak salah dengar kan?
Poin satu sudah dilaksanakan oleh Lukka, yakni menjaga jarak dan memberikan perhatian kecil sebagai seorang pria dewasa. Anak itu berjingkrak girang didalam kamarnya, karena berhasil melakukan poin pertama.
"haduhh.. jantung ku..." bisiknya sambil menyandarkan tubuh ke belakang pintu.
.
.
Di ruangan Dokter, Yasmine sedang berbaring sambil mendengarkan denyut jantung janinnya melalui layar monitor.
"Keadaan janinnya sehat. Ibunya akhir-akhir ini sangat bahagia ya.." ucap sang Dokter berbasa-basi. Hormon ibu hamil akan mudah terbaca, begitu pula mood nya.
Yasmine mengangguk sambil tersenyum kecil. "Iya..."
Di kursi tunggu, senyum Nisha pudar perlahan, kala membayangkan hal yang membuat Yasmine bahagia adalah suaminya. Tadi malam ia melihat interaksi kecil Agam dan Yasmine di dapur. Ditambah niat sang mertua yang hendak menikahkan Yasmine dengan suaminya, membuat pikirannya kalut. Ia seperti tertikam oleh belati yang digenggam sendiri.
"Bu, kemarilah. Dengarkan denyut jantungnya." panggil Yasmine dari atas tempat tidur.
Nisha kembali memasang senyumnya, lalu menghampiri Yasmine. Ia masih percaya kepada Yasmine, gadis itu takkan mungkin melukai perasaannya.
Selesai pemeriksaan, Nisha dan Yasmine menuju parkiran bawah tanah.
"Tunggu sebentar ya, aku mengeluarkan mobil dulu." ucap Nisha sambil menunu ke blok parkirannya, dan Yasmine mengangguk.
Di jarak tiga meter dari mobil, Yasmine menunggu sambil memandangi foto hasil USG.
__ADS_1
Nisha yang sedang kalut oleh pikirannya menjadi tidak fokus. Yang seharusnya memundurkan mobil perlahan ke arah kiri, ia malah menekan pedal gas dalam-dalam dengan arah lurus. Dalam sekejap tubuh Yasmine terpental saat ekor mobil Nisha menabraknya sangat cepat.
...**********...