Tak Mau (Jadi) Yang Kedua

Tak Mau (Jadi) Yang Kedua
Episode 44 : Pantaskah?


__ADS_3

Dua hari sudah Nisha mendekam di sel tahanan. Pengacara dari pihak papa mertua dan papa kandungnya masih mencari cara, bagaimana agar Nisha bisa bebas. Namun upaya mereka semua di tepis oleh pihak polisi, lantaran perbuatan Nisha sudah menghilangkan nyawa.


"Anda mendapatkan kunjungan." ucap salah satu petugas wanita, membukakan pintu sel. Ia membawa Nisha keluar menuju ruang kunjungan.


"Mas..." Nisha langsung menghamburkan dirinya di pelukan sang suami. Tangisnya pecah kembali. Kehidupan mereka benar-benar hancur sekarang, akibat ulahnya.


"Maafkan aku, Mas... Maafkan Aku.." lirih Nisha sesenggukan.


Agam memeluk erat sang istri, berharap pelukan itu mampu merekatkan kembali sayap yang patah, agar bisa kembali mengepak dengan percaya diri.


"Maaf karena baru bisa datang, sayang.." Agam mengecup pucuk kepala Nisha berulang.


"Bagaimana keadaan Yasmine, Mas? Dia sudah siuman? Aku takut mas.. aku sangat takut.."


"Dia sudah siuman, tenanglah sayang.. semuanya akan baik-baik saja. Selagi aku masih bisa berdiri, aku tidak akan membiarkanmu mendekam di sini lebih lama."


Agam benar-benar dibuat kewalahan dengan dua wanita yang tengah patah harapan hidup itu. Ia bahkan mengabaikan rasa perih didadanya, karena sibuk menguatkan dua wanita itu.


Yasmine masih sangat terpukul, terlebih saat janin mereka dimakamkan. Janin berurukan 16 cm tersebut mereka sandingkan dengan anak pertama Agam.


"Aku yang salah Mas... Aku akan bersedia menerima hukuman apapun. Aku hanya takut kamu meninggalkanku. Kemarin mama datang dengan surat dari pengadilan, aku disuruh menulis surat permohonan cerai. Aku harus bagaimana, Mas? Aku tidak mau berpisah denganmu."


Masih suara Nisha terdengar gemetar. Apakah ini akan menjadi akhir dari hari-hari nya yang cerah? Kehilangan harapan hidup, dan akan segera kehilangan pernikahannya.


Agam mengamit kedua pipi sang istri, mendongakkan wajah sembab itu agar menatap matanya. "Sayang, kamu tau kan mama seperti apa? Jangan di tanggapi dulu, nanti aku yang akan berbicara dengannya. Kamu pikir aku mau bercerai darimu? Aku tidak mau..."


"Tolong sampaikan permintaan maafku untuk Yasmine, Mas. Aku benar-benar merasa bersalah sampai ingin memotong tanganku sendiri. Hidup gadis itu hancur karena aku..."


"Jangan pikirkan dia, kau taukan hatinya juga sangat lembut seperti mu. Dia pasti akan memafkanmu." tutur Agam membohongi sang istri, walau Yasmine tak mengatakan ini kesalahan Nisha, tapi gadis itu sangat terpuruk sampai tak berhenti menangis.

__ADS_1


Setelah masa berkunjung habis, Agam berpamitan dengan amat mesra. Ia bahkan memberikan lotion anti nyamuk untuk sang istri. "Aku akan segera mengeluarkanmu. Bersabarlah..." satu kecupan hangat lagi Agam daratkan pada bibir sang istri.


Nisha pun memeluk erat suaminya sekali lagi, sungguh ia hanya punya Agam untuk saat ini. Papa nya sendiri bahkan menyalahkannya atas tindakan lalai itu. Agam satu-satunya orang yang bisa membuat serpihan semangatnya kembali bersatu.


...~...


Derap langkah Agam terdengar kasar. Ia menarik mamanya ke luar ruangan rawat. Entah apa yang ada di pikiran mamanya itu, selalu saja ia ingin memisahkan dirinya dan Nisha.


"Aduh, Agam..! Lengan mama sakit..!" ketus wanita itu seraya memberontak.


Sesampainya di ujung lorong, Agam melepaskan tangan sang mama, lalu menatap legam wajah wanita yang melahirkannya itu.


"Mama melakukan apa pada Nisha..?!" tekan Agam, emosinya sudah tak terbendung.


"Kenapa..? Mama tidak mau lagi kamu menjalin hubungan dengannya." jawab Ambar berwajah sewot, sambil memegangi pergelangan tangannya yang meremang.


"Ma.., yang punya hubungan itu Aku! Dan kami bukanlah anak remaja yang bisa mama pisahkan begitu saja. Ini pernikahan, Ma. Aku mencintainya, apapun yang terjadi..!"


"Ma, sekali lagi mama melakukan itu. Aku akan membawa Nisha pergi jauh dari sini. Aku tidak perduli jika harus memutuskan hubungan dengan mama!" Agam berkata sungguh sungguh. Sorot tajam matanya menunjukkan bahwa ia takkan tinggal diam, ia sudah cukup muak dengan bagaimana mamanya memperlakuan Nisha, orang yang sangat ia cintai.


"Kamu anak durhaka..! Hanya karena wanita itu kamu mau memutuskan hubungan keluarga? Sudah gila kamu Agam!" kecam Ambar tak kalah kerasnya.


"Mama yang sudah gila..! Mama tidak pernah membuka mata, bagaimana berharganya Nisha bagiku."


PRRAANGG....!


Tiba-tiba suara keras terdengar dari ruang rawat Yasmine. Nampan stainless tempat buah-buahan tersampar ke lantai, akibat Lukka dan Yasmine yang tengah gaduh berebut pisau. Gadis itu hendak menyayat pergelangan tangannya.


Agam dan Ambar sontak berlari menuju ruangan itu.

__ADS_1


"Kak.., jangan lakukan ini tolong...!" Lukka berusaha keras merebut pisau itu, entah Yasmine atau dirinya yang nanti akan tersayat, yang pasti ia sudah berusaha mencegah.


"Lepaskan, Lukka! Biarkan aku mati..! Aku tidak ingin hidup lagi..!" Yasmine tetap kukuh merebut pisau itu.


"Lihat aku, lihat aku..!" Bentak Lukka tak lagi berbasa-basi. Ia bahkan menggunakan kata aku untuk menyebut dirinya.


"Yasmine..! Apa yang kau lakukan?" Agam segera mencekal tangan Yasmine, hingga gadis itu kewalahan.


"Pergilah kalian semua..! Jangan halangi aku..! Aku tidak mau hidup lagi." pekik Yasmine semakin menjadi.


Ambar pun segera memanggil Dokter untuk menangani situasi ini.


"Tolong jangan gegabah..! Pikirkan masa depanmu..!" ucap Agam memohon.


"Masa depan..?" kedua tangan Yasmine melemah, matanya kembali berkaca-kaca. Masa depan yang mana? Hidup dan tubuhnya hancur, dan ia masih harus melanjutkan masa depan? Apa sampai kepalanya remuk ia harus menghadapi kehidupan yang tidak adil ini.


Saat lengah, Agam perlahan melepaskan genggaman Yasmine dari pisau itu. "Kau masih punya masa depan, percayalah. Yang kau alami saat ini kan berbuah manis suatu saat nanti."


Saat genggaman pisau terlepas, Yasmine menangis sesenggukan. Mental dan jiwanya benar-benar sedang terguncang sekarang.


"Aku kehilangan semuanya... semuanya..." lirih Yasmine tak terdengar jelas, namun masih bisa di pahami. Nafasnya tersengal-sengal menahan deraian air mata.


"Kau masih punya kami, lihatlah.. betapa mamaku sangat menyayangimu. Lihatlah betapa Lukka sangat senang bila bersamamu, dan lihatlah aku... aku yang bisa melihat kembali senyum istriku, karena pengorbananmu." Agam mengusap rintik air mata di dagu Yasmine, dengan jari telunjuknya.


"Karena kehadiranmu, kami memiliki hari yang berwarna. Kehadiranmu sangat berarti bagi keluargaku. Kau bahkan menolongku waktu di kantor polisi ingat? Bertahanlah, setidaknya sampai aku menepati janji membelikanmu daging iga panggang di restaurant yang kau tunjuk waktu itu."


"Kau juga ingin keluar negeri kan? Berkencan saat salju pertama turun, bertahanlah untuk itu."


Yasmine tak bisa lagi berkata-kata, tubuhnya lemas bak kehabisan daya. Pikirannya kosong tak tentu arah. Akankah hal-hal kecil itu bisa memupuk kembali rasa putus asanya? Tanpa sadar ia menumpahkan tangisnya di lengan Agam. Ia mencengkram erat lengan pria itu seraya menumpahkan semua tangisnya.

__ADS_1


Di sisi lain, Lukka terlihat menggigit rahangnya. Ia mengatakan bahwa jantungnya berdebar untuk Yasmine, namun untuk menenangkannya saja ia tidak bisa. Apakah ia akan pantas jika mengatakan cinta, sementara satu pun tutur katanya tak ada yang mampu melepur lara di hati Yasmine.


...***************...


__ADS_2