
Siang ini Yasmine tampak tengah menatap lekat pada jam dinding yang menunjukkan angka Sebelas. Semalaman ia berpikir, ia sadar telah mengecewakan Nisha. Seharusnya sejak awal ia menyadari situasi ini. Untuk apa pula ia mengkhawatirkan kegadisannya, sementara statusnya akan pasti berubah setelah ia memiliki anak nanti.
"Yasmine..?" Panggil Nisha, membuat lamunan Yasmine buyar. Gadis itu berbalik badan, menatap Nisha yang memasuki kamar.
"Aku dan Mas Agam tugas siang, kami akan berangkat sebentar lagi. Kau bisa keluar, jalan-jalan atau kemanapun untuk menenangkan pikiranmu." Nisha melirik nampan di atas nakas, sepiring nasi yang ia antar tadi pagi tampak tak disentuh sama sekali oleh gadis itu.
"Aku akan melakukannya..." Sahut Yasmine.
"Iya, kau memang harus menenangkan pikiran lebih dulu." Syukurlah, Nisha lega karena Yasmine mau keluar kamar.
"Program bayi tabung nya. Aku akan melakukan itu." Yasmine menjelaskan kalimatnya, agar Nisha lebih bisa memahami.
"Kita akan bicara lagi setelah kami pulang, aku tak mau kau salah mengambil keputusan. Untuk saat ini, tenangkan dulu pikiranmu ya..." Nisha melempar senyum manis, kemudian meninggalkan Yasmine sendiri.
Jujur saja ia tak nyaman, dengan sikap Yasmine yang sedikit plin-plan. Namun ia paham, tidak mudah bagi seorang gadis muda untuk melahirkan seorang anak, tanpa menikah.
-
-
Setelah menyantap sepotong roti untuk makan siangnya. Yasmine memutuskan keluar, menjernihkan pikiran seperti yang disarankan oleh Nisha.
Gadis itu memilih berjalan-jalan di sekitaran kota, menikmati ramainya suasana dan menyaksikan ribuan orang yang tengah sibuk dengan aktivitasnya.
Tak lupa ia membawa tongkatnya, yang dilipat ke dalam tas untuk berjaga-jaga. Siapa tau bertemu dengan keluarga Agam, ataupun Nisha.
Karena tidak terlalu hapal wilayah itu, Yasmine tersasar pada sebuah gang yang cukup ramai. Pertokoan, cafe dan pusat belanja. Serta ada sekolahan megah di sudut persimpangan. Tampak indah, tapi Yasmine bingung. Ia lupa bagaimana bisa sampai ke sana.
"Ayo minum lagi...!"
"Habiskan Lukka.., kau kan anak hebat..!"
"Ayo Lukka, kau harus menghabiskan ini jika masih ingin bermain dengan kami."
Ucap gerombolan siswa SMA, yang tengah mengerubungi Lukka. Mereka tengah berkerumun di sebuah gang, belakang cafe.
Lukka bersekolah di SLB, gedung berwarna hijau muda di sudut simpang adalah tempatnya menempuh pendidikan spesial. Dan di sebelah gedung tersebut, ada sekolah SMA. Karena usia Lukka yang sudah dewasa, para anak-anak lain enggan bermain dengannya. Akhirnya ia menjalin pertemanan dengan para anak SMA.
Namun anak-anak SMA tersebut malah sering menjahili Lukka. Mempermainkan Lukka, bahkan mereka sering memeras Lukka.
Seperti saat ini, para anak SMA itu tengah mencekoki Lukka dengan minuman beralkohol.
"Cepat habiskan, kau bukan geng kami jika tidak bisa menghabiskan ini." Titah salah seorang siswa, yang tampaknya pimpinan geng tersebut.
"Lukka akan menghabiskan, tapi pelan-pelan... rasanya pahit sekali..." Rengek Lukka memicingkan mata, ia sudah menenggak dua kali minuman tersebut.
__ADS_1
Yasmine yang sayup-sayup mendengar suara Lukka, memutuskan untuk melihat. Dan benar saja, ia melihat anak besar itu duduk bersimpuh di kelilingi anak-anak SMA berandal4n. Botol minuman beralkohol tampak berjajar di sebelahnya.
Melihat perlakuan itu, Yasmine meradang. Tidak adil jika mereka memperlakukan seorang anak yang keterbelakangan mental, dengan semena-mena.
"Hentikan..! dasar bocah berandal4n..! Kalian tidak malu dengan seragam kalian?!" Pekik Yasmine membelalak, ia bahkan mengayunkan tongkatnya, namun sorot mata tetap kosong karena ada Lukka disana.
Ketua geng berandal4n itu menoleh sinis. Ia meludahkan permen karet, kemudian menginjak kasar ke tanah.
"Siapa Kau..?" Tukasnya dengan wajah songong.
"Aku..? Aku orang buta..!" Jawab Yasmine dengan wajah menantang.
Para anak berandal4n itu sontak tertawa bersamaan.
"Kakak kenapa disini? Jangan ganggu teman-teman Lukka..." Pinta anak besar itu memelas, ia bahkan menghadang kan tangan dihadapan Yasmine.
"ck..ck..ck.. Jadi orang buta ini temanmu? Kalian sangat cocok. Si buta dan di tol0l."
Para anak-anak nakal itu menertawakan Yasmine.
"Jaga ucapan kalian, atau aku akan mengadukan perbuatan kalian pada pihak sekolahan!" Ancam Yasmine, ia semakin geram. Ia bahkan tak menghiraukan Lukka yang berusaha menghadangnya.
"Kakak, hentikan. Jangan ganggu teman-teman Lukka." Bujuk nya seraya menarik ujung baju Yasmine.
PLAK....!
"Lukka, anak-anak berandal4n seperti mereka, tidak pantas disebut teman." Rutuk Yasmine tertunduk, satu kelopak matanya sudah mulai lengket akibat putih telur yang mulai mengering.
"Hei, orang tua buta..! Sebaiknya menjauh dari kami...."
CTAK..!
Yasmine menghentakkan tongkatnya, tepat mengenai sel4ngkangan bocah itu.
"HUUUGGG...! Kentang ku...!" Rintih bocah nakal itu sambil berjongkok, memegangi telur puyuhnya. Wajahnya bahkan memerah.
"Kemari kalian semua...!" Yasmine mengamuk dan memukulkan tongkatnya tanpa jeda. Ia mengejar semua anak berandalan itu dengan kondisi mata tertutup sebelah.
haiisss...!
sakit...!
aahww...!
ampun..!
__ADS_1
sakit woy...!
Anak-anak nakal itu berlari terbirit-birit, menghindari amukan Yasmine yang membabi buta. Mereka bahkan bingung mau mengelak kemana.
"Kemari kalian SI4ALAN..!" Pekiknya lantang.
-
-
Setelah selesai dengan anak-anak nakal itu, Yasmine dan Lukka duduk di tepian jalan untuk menenangkan pernafasan. Yasmine merasa puas karena bisa memberi anak-anak nakal itu pelajaran.
"Kakak jahat..! Kenapa kakak memukuli teman-teman Lukka?" Protes anak besar itu dengan bibir manyun. Ia tak terima dengan tindakan Yasmine barusan, tanpa tau bahwa itu untuk membela dirinya.
Yasmine yang sedang membasuh wajah dengan air mineral pun menoleh sinis. "Orang-orang itu bukan temanmu..! Kenapa kau mau di suruh mereka meminum minuman itu? Apa kau sangat menyukainya?!"
"Tidak, Lukka hanya suka melihat teman-teman Lukka tersenyum. Itu tandanya mereka senang bermain dengan Lukka." Wajahnya bahkan tampak riang, padahal apa yang dilakukan anak-anak itu barusan termasuk perundungan.
Yasmine menipiskan bibirnya, ia menatap prihatin anak besar itu. Ia lupa kalau sedang berbicara dengan anak spesial.
"Lukka, tidak semua orang yang tersenyum pada kita, menyukai kita. Terkadang mereka sengaja menunjukkan senyum palsu untuk mempermainkan kita."
"Iya, kan memang tadi Lukka sedang bermain." Anak itu tampak tak bisa mencerna penjelasan Yasmine.
"Apa tadi Lukka merasa senang, saat mereka menyuruh Lukka minum?" Tanya Yasmine, kali ini ia memposisikan diri bak berbicara dengan selayaknya anak kecil.
"Lukka senang saat melihat mereka tertawa, tapi meminum itu rasanya tidak nyaman."
"Pasti mereka sering menyuruh Lukka melakukan hal tidak nyaman lainnya kan?"
Lukka berpikir sejenak, selama ini ia menganggap, membuat teman-temannya tertawa adalah hal yang menyenangkan, meskipun dirinyalah yang menjadi bahan tertawaan.
"Sering..." Jawab Lukka dengan tatapan polos.
"Apabila semua orang merasa senang dan nyaman, itu baru namanya permainan. Tapi jika salah satunya merasa tidak nyaman, maka itu penipuan. Mereka sedang menertawakan kamu, mereka bertingkah seenaknya padamu. Mulai sekarang, kakak minta jauhi mereka, Tolak saja bila Lukka merasa tidak nyaman, dengan apapun yang mereka lalukan. Paham..?"
Dari raut wajahnya, Lukka tampak memahami perkataan Yasmine. Namun ia tampak keberatan.
"Kalau Lukka jauhi mereka, Lukka tidak punya teman. Semua orang di kelas Lukka tidak mau berteman. Kata mereka karena Lukka sudah tua. Memangnya Lukka sudah tua ya..?" Ia tampak minder, karena anak-anak di sekolahnya mengatakan, Lukka lebih cocok bergaul dengan para anak SMA, atau dengan para guru.
Mendengar itu Yasmine hampir menyemburkan tawa, namun ia menahannya. Bahkan nenek-nenek amnesia sekalipun pasti tau, bahwa Lukka memang orang dewasa.
"Kehilangan teman seperti mereka itu lebih baik, dari pada kehilangan jati diri kita."
"Kalau Lukka tidak berteman dengan mereka, kakak mau jadi teman Lukka?"
__ADS_1
Bocah itu memasang wajah penuh harap, jiwanya memang selalu kesepian. Orang tuanya sibuk dengan pekerjaan, begitu pula dengan kakak satu-satunya. Anak-anak di sekitar perumahan, yang dulunya jadi teman kecil Lukka pun kini sudah sibuk masing-masing. Ada yang sibuk dengan keluarga, pekerjaan, dan banyak hal lainnya.
...*************...