Tak Mau (Jadi) Yang Kedua

Tak Mau (Jadi) Yang Kedua
Bab 28 : Samyang Yang Terbuang


__ADS_3

Suara jam berdengung pelan, menunjukkan pukul sepuluh malam pas. Di sebuah ruangan bernuansa klasik tersebut, Ambar datang membawakan secangkir teh herbal untuk putra sulungnya.


"Ada apa, Ma..?" tanya Agam tak sabar. Ia lelah karena baru pulang kerja. Tapi Ambar tampak tak bisa menunda waktu, hingga menyuruh sang putra datang kerumahnya saat ini juga.


Wajah lelah Agam terlihat jelas. Dengan mata sayu ia menyeruput teh buatan sang ibu.


"Mama sudah memikirkan ini berulangkali, mengenai Yasmine..."


"Ma, bisa jangan bahas itu dulu? Aku lelah dan ingin menenangkan pikiranku." Agam meletakkan cangkir keatas meja dengan kesal, hingga menimbulkan bunyi dentingan.


"Justru Mama ingin membicarakan ini ..." ucap Ambar tanpa perduli dengan keadaan kepala anaknya, yang beberpa hari ini mau pecah.


Agam mendengus kasar, kemudian berdiri dari kursinya. "Kalu begitu lain kali saja, Ma. Aku mau istirahat."


"Mama ingin kamu menikahi Yasmine..." ucap wanita itu cepat, membuat langkah Agam terhenti.


Pria itu menodong sang ibu dengan tatapan heran. Kenapa ia merasa ibunya seperti tak punya perasaan?


"Ma, sekali lagi mama mengatakan ini, aku tidak akan segan mengusir wanita itu." tegas Agam, jika dengan mengusir Yasmine bisa mendamaikan pernikahannya, ia akan melakukan itu.


"Untuk apa kamu mempertahankan Nisha? Buka mata kamu Agam. Ada wanita yang tengah mengandung anakmu, dan kalian tega memisahkan bayi itu dari ibunya setelah lahir nanti?" Dimata Ambar, Yasmine adalah sosok wanita sempurna yang lebih baik mendampingi Agam.


"Jadi aku harus mengusirnya sekarang kan? Agar anak itu tidak terpisah dari ibunya." Agam tersenyum jengah. Semua keluarganya benar-benar sudah gila.


"Anak itu darah dagingmu Agam.., dia berhak merasakan kasih sayang utuh kedua orang tuanya."


"Tapi aku tidak menginginkan itu, Ma..! Lebih baik aku hidup berdua saja dengan Nisha, dari pada harus mengorbankan pernikahanku..!"


Agam segera beranjak dari rumah mama nya itu. Ia benar-benar tak habis pikir dengan ucapan mamanya barusan. Ia sangat bahagia dengan Nisha, tapi kenapa banyak sekali cobaan yang menerpa. Memangnya hanya seorang anak yang bisa menjadi tolak ukur kebahagiaan? Tanpa buah hati pun ia sudah sangat bahagia.


.


.


Setelah mandi, Agam duduk ditepi ranjang. Memandangi punggung sang istri yang tengah tertidur lelap. Isakan kecil terdengar, sepertinya Nisha habis menangis tadi.


Penasaran, Agam pun melihat wajah sang istri. Benar saja, kedua kelopak mata Nisha tampak sembab.

__ADS_1


"Bahagia apanya...," lirih Agam sayu. Ia mengusap lembut lengan sang istri. Kemudian mengecup lembut kepala wanita yang sangat dicintainya itu.


Saat hendak merebahkan diri, Agam mencium aroma menyengat tak sedap. Seperti nya aroma cabai, yang membuat hidung gatal dan perih.


"aiss..!!" Agam bangkit kembali dari ranjangnya. Dengan langkah kasar ia keluar dari kamar.


Ternyata aroma menyengat itu berasal mie samyang. Pelakunya siapa lagi lalau bukan Yasmine. Gadis yang tengah hamil muda itu tak bisa tidur, karena ingin memakan sesuatu yang sangat pedas menggugah lidah. Untung ia mempunyai stok mie.


"Kau tidak tau ini jam berapa?" sergah Agam. Tatapan tajam pria itu bahkan menyala diremangnya susasana.


"Setengah dua belas..." jawab Yasmine acuh. Rasa segan terhadap si pemilik rumah ia kesampingkan, karena tanpilan menggugah dari mie samyang tersebut.


Mengetahui apa yang tengah diolah Yasmine, Agam langsung mengambil panci berisi rebusan mie tersebut.


"Kau menganggu orang yang hendak tidur!" Tanpa perasaan, Agam membuang rebusan mie tersebut kedalam wastafel.


"Jangan...!" cegah Yasmine, namun percuma. Mie satu-satunya yang ia miliki kini terbuang sia-sia didalam wastafel.


Gadis itu menatap nanar wajah Ammar. Kedua bola matanya berkaca-kaca. "Sedikit lagi aku bisa memakannya..." tatapan sedih berpindah ke arah wastafel besar itu. Daripada dibuang, kan lebih baik dimakan. Agam benar-benar tak berperasaan.


"haissh..! bajing4n ini pelit sekali..." gerutu Yasmine, tak perduli bisa didengar oleh Agam.


"Ada buah, roti dan susu di kulkas. Makan saja kalau kau lapar."


"Tapi aku inginnya samyang..!" tukas Yasmine matap jengah.


Agam mendengus kecil, wajahnya tampak sangat kesal. Berani-beraninya gadis sial itu meninggikan suaranya.


"Terlalu pedas..!" tekan Agam, kemudian pergi menuju ke kamarnya.


"Untuk apa kau perduli..!" Yasmine berbalik menuju kulkas dengan langkah dihentakkan.


"ck..! Tidak ada yang bisa dimakan." rutuknya kesal, padahal apa yang disebutkan Agam tadi tersusun rapi di sana.


"sst..." bisik Lukka dari balik pintu dapur. Seperti nya ia menyaksikan apa yang barusan terjadi.


Yasmine pun menoleh, dan wajah ketusnya seketika berubah ceria. "Lukka..? Ada apa?" bisiknya pula, tak mau menganggu tuan rumah yang habis marah-marah. Ia menghampiri Lukka ke ambang pintu.

__ADS_1


"Lukka punya camilan di kamar, kakak mau?"


"Apa ada yang pedas?" tanya Yasmine, ia enggan apabila hanya ada camilan manis atau gurih. Karena liurnya sedari tadi mencair kala membayangkan makanan pedas.


"Ada bakso goreng, level 8.."


"Sungguh..? Kalau begitu ayo."


Yasmine dan Lukka pun berjalan menuju kamar seperti maling yang tengah beraksi.


Sesampainya dikamar, Lukka benar-benar mengeluarkan dua bungkus besar bakso goreng. Anak besar itu juga sangat menyukai makanan pedas. Itu sebabnya ada banyak stok camilan pedas, yang dibelikan orang tuanya.


Kedua makhluk doyan pedas itu lahap menyantap camilan, sambil bercerita. Tak hanya itu, mereka juga melihat-lihat buku diary Lukka, yang tempo hari sempat dibaca oleh Yasmine.


Yasmine bahkan beberapa kali tertawa, saat Lukka menuliskan puisi cinta untuk teman sebangkunya.


"wahh, kamu tenyata bisa genit juga. Katakan, bagaimana gadis itu..?" goda Yasmine, dan pipi Lukka jadi bersemu merah.


"Dia sangat baik, dan dia selalu memberikan lauk makan siangnya untuk Lukka." Bak seorang bocah pada umumnya, Lukka juga mengalami yang namanya hati berbunga kala ada seseorang yang bersikap baik padanya. Dan dia menganggap itu cinta.


Yasmine menyipitkan mata, semakin menggoda anak besar itu dengan mimik wajahnya. "uuuh... Lalu, apa kamu pernah bilang padanya..?"


"Tidak.., dulu anak itu masih berumur 9 tahun. Sedangkan kata Mama, umur Lukka 23 tahun. Waktu itu bahkan usia Lukka sebaya dengan Pak Guru. Dan Lukka selalu penasaran, kenapa usia Lukka selalu lebih tua dari teman-teman sekelas? Tubuh Lukka juga lebih besar. Apa kakak dulu juga begitu sewaktu sekolah?"


Tawa jahil di wajah Yasmine memudar. Yang tersisa hanya ekpresi kepedasan, dan bibirnya yang ndower. "Karena kakak bukan anak spesial, jadi kakak tidak begitu. Apa kamu tau? Usia kakak bahkan lebih muda satu tahun darimu."


"Benarkah..?" Lukka mengubah arah duduknya, menghadap Yasmine. "Jadi kakak benar-benar tumbuh seperti teman-teman Lukka?"


"hm.. kakak tumbuh seperti apa yang kamu inginkan, tapi kakak tidak punya apa yang kamu miliki sekarang..." Yasmine bergumam sembari menatap seluruh isi kamar Lukka, yang terbilang cukup mewah.


"Maksudnya..?" Lukka malah ikut memandangi sekitar, seperti yang dilakukan Yasmine.


"Tidak..," kilah Yasmine. "oh iya. Tadi belajar apa di sekolah?" imbuhnya melarikan percakapan itu.


Lukka mengetuk dagunya dengan jari, sembari melihat keatas. "Tadi... oh iya Lukka lupa." Anak itu menarik kepala Yamsine, lalu mengecup pelan keningnya.


...***********...

__ADS_1


__ADS_2