
"Saya percaya itu bukan percobaan pembunuhan, namun saya keberatan dengan kata 'tidak sengaja'. Apa yang dilakukan bu Nisha adalah kecerobohan, kelalaian yang menyebabkan nyawa janinku melayang." tutur Yasmine sambil menitikkan air mata.
Bukan berarti kebaikan Nisha selama ini ia lupakan begitu saja. Kehilangan buah hati dengan cara mengenaskan seperti itu cukup membuat batinnya hancur berkeping.
Di kursinya Nisha mengangguk pelan sambil menangis. Memang itu yang ia lakukan. Ia menghancurkan masa depan Yasmine dan suaminya sendiri.
"Untuk itu hukum saja dia atas kecerobohannya. Jangan hukum dia atas tuduhan pembunuhan, karena dia pun sangat menginginkan bayi itu."
Mendengar penuturan Yasmine, para Hakim terlihat merundingkan keputusan ini. Begitupula dengan Jaksa yang akan menuntut Nisha.
Setelah beberapa kali pemeriksaan silang, Hakim pun menjatuhkan hukuman Empat tahun penjara, sesuai pasal yang berlaku.
"Yang Mulia..! Tolong pertimbangkan lagi, istri saya sudah mengaku dan sangat menyesal." protes Agam berdiri dari kursinya. Empat tahun adalah waktu yang cukup lama. Memang ia juga sangat merasa kehilangan atas calon bayinya. Tapi ia tak mau terpisah lagi dari orang-orang yang ia sayangi.
"Jika keberatan, saudara bisa mengajukan banding." tegas sang Hakim, kemudian berdiri meninggalkan ruang persidangan.
Nisha pun di bawa oleh dua petugas polisi, untuk di pindahkan langsung ke sel tahanan. Deraian air matanya membasahi baju berwarna orange cerah itu.
"Terimakasih, karena tidak membenciku. Dan maafkan aku..." ucap Nisha saat melewati Yasmine.
Gadis itu tak menjawab, sorot matanya pun hanya tertunduk. Kenapa semuanya hancur?
"Maafkan aku Yasmine..." Nisha mengenggam kedua tangan gadis itu, sebelum tubuhnya benar-benar di seret halus oleh dua polisi wanita.
...*********...
...*********...
Dua tahun kemudian.....
Di sebuah restaurant, Yasmine kini mengais rejeki. Baru menginjak Empat bulan ia bekerja disana. Letaknya tak jauh dari kontrakan, dan yang pasti ia memilih jauh dari keluarga Agam. Ia merelakan seutuhnya masalalu yang telah hancur berkeping-keping.
Menyandang status sebagai wanita yang pernah hamil, apa namanya? Janda? Bukan, karena dia belum menikah. Lalu gadis? Tidak juga, karena dia sempat mengandung. Entahlah masa depan macam apa yang akan ia lalui. Walau statusnya sebagai seorang gadis tak lagi jelas, setidaknya ia bisa bernafas lega karena seluruh hutangnya telah terlunasi. Kini ia hanya tinggal bekerja keras untuk menyambung hidupnya.
"Yasmine, sudah siap membereskan semua meja?" seru pemilik restaurant, wanita berusia 40 tahunan itu tampak sibuk menyiapkan menu bersama pekerja lainnya.
"Tinggal satu lagi, bu..." sahut Yasmine bergegas.
__ADS_1
Hari ini restaurant mereka di reservasi untuk acara khusus. Katanya sih pesta perpisahan. Membayangkannya saja membuat Yasmine terharu, karena terkenang akan masa SMA nya yang begitu indah dan berwarna.
Setengah jam kemudian rombongan geng motor tiba. Mereka masih mengenakan seragam putih abu-abu yang dipenuhi coretan berwarna.
Yasmine dan beberapa rekannya terlihat sibuk menghidangkan menu yang sudah di pesan.
Bagai mengindar dari tsunami, eh ketemu topan. Yasmine malah melihat wajah yang sangat ia kenal, yakni Lukka. Anak besar itu tampak cengengesan sambil berjalan memasuki restauran.
"Dia sudah SMA..?" Yasmine membelalak dari balik dinding dapur, yang di sekat oleh barisan balok berjarak.
Baru dua tahun yang lalu, tapi anak itu sudah lulus sekolah? Apakah perubahannya benar-benar pesat? Apa saja yang telah di lakukan anak besar itu hingga bisa mencapai posisinya sekarang?
"Kenapa harus disini? Bukankah banyak restaurant di dekat rumahnya? Dia tidak tau aku disini kan?" Gadis itu terlihat panik. Terus saja ia bergumam sampai tak sadar rekannya memanggil.
"Yasmine..!" panggil salah satu pramusaji, membuyarkan lamunan Yasmine.
"I.. iya ada apa..?" sahutnya terbata-bata.
"Kau ini, malah melamun..! Bantu aku bawakan troli satunya." ucap pramusaji berambut keriting itu.
"Aku..?" Wajah Yasmine langsung memerah bak kepiting rebus.
Untung ide cemerlang tiba-tiba muncul. Yasmine mengambil masker hitam dari laci, kemudian menggunakan serbet bersih untuk ia tudungkan di kepala. Dalam sekejap penampilannya berubah seperti model yang hendak berjalan di catwalk.
Sekarang ia tak perlu khawatir dengan wajahnya, tinggal harap-harap cemas semoga tidak ada yang menyebut namanya.
Yasmine meletakkan satu persatu hidangan ke hadapan para siswa itu. Keringat sebesar biji jagung memenuhi dahinya, saat ia tiba di hadapan Lukka.
"Silahkan..." ujarnya dengan suara yang sengaja disamarkan.
Melihat tingkah itu, pemilik dan para pekerja lainnya hanya geleng kepala.
"Terimakasih..." lirih Lukka sambil melempar senyum tipis. Ia sama sekali tak menyadari, bahwa yang ada di hadapannya adalah Yasmine.
Gadis itu bergegas meninggalkan meja. Gemuruh di dadanya tak dapat di redam barang sejenak. Ia sampai kewalahan mengatur nafas.
Sesampainya di dapur, Yasmine segera melepaskan masker dan mengatur nafas. Ia seperti orang yang habis berlari marathon.
__ADS_1
"Kenapa aku seperti ini..? aiss...! Sejarusnya aku bersikap biasa saja. Anak itu sudah banyak berubah. Aku hampir tidak mengenalinya..." Yasmine terus bermonolog sembari mengibaskan tangan di depan wajah.
"Dimana toiletnya..?" seru Lukka melewati area dapur.
"Sebelah kiri." sahut seorang pelayan.
Mendengar itu Yasmine langsung berjongkok sambil kelabakan mengenakan masker. Toilet ada di depannya, bersebelahan dengan dapur tanpa ada sekat.
Karena panik, Yasmine sampai menabrak sudut rak saat berbalik badan. Suara benturan itu pun menarik perhatian Lukka untuk menoleh.
"Anda.. tidak apa-apa?" Lukka mendekati wanita yang tak lain adalah Yasmine.
"Iya..." jawab Yasmine sambil menutupi wajahnya. Kemudian ia berlari kecil meninggalkan ruangan itu.
"Jidatnya pasti memar..." bisik Lukka seorang diri. Wajahnya tampak prihatin karena ia mendengar benturan cukup keras tadi.
...~...
Mobil yang di kendarai Agam memasuki garasi rumah. Ia tidak sendirian disana, melainkan bersama sang istri yang kini telah di bebaskan dengan jaminan.
Setelah hampir dua tahun mendekam di penjara, akhirnya banding yang di ajukan Agam pada pengadilan di terima. Kini Nisha di bebaskan bersyarat.
"Selamat datang di rumah kita, sayang." ujar Agam tersenyum haru. Ia membelai pipi wanita yang selama dua tahun ini sangat di rindukan.
Sibuknya pekerjaan dan beberapa urusan pengadilan membuat Agam jarang membesuk Nisha di penjara. Nisha pun memahami kondisi itu, karena ia tau apa yang dilakukan Agam adalah demi dirinya.
"Terimakasih karena masih memertahankan ku, Mas." Nisha menyentuh lembut tangan sang suami, yang sedang mengusap pipinya.
"Bukankah sudah ku katakan, walau dunia ini hancur aku akan tetap ada untukmu."
Nisha menitikkan air mata haru, lalu memeluk sang suami dengan erat. Bahkan segunung berlian pun takkan mampu menandingi, betapa berarti Agam baginya. Ia merasa sangat beruntung memiliki pria sehebat Agam.
Setelah melepaskan rindu sesaat, Agam dan Nisha keluar dari mobil. Ambar dan Pak Ghani juga tampak menyambut kepulangan menantu mereka.
"Yeay...! Papa sudah pulang." Teriak anak perempuan berusia 7 tahun. Anak berambut gelombang itu berlari girang dari belakang tubuh Ambar.
Agam membalas sambutan anak itu dengan senyum lebar. Sementara Nisha, wajahnya tertutupi rasa penasaran yang pekat. Siapakah anak itu?
__ADS_1
...*************...