
Nisha pulang sangat tepat waktu. Ia datang ke rumah mama mertuanya itu tepat setelah Rika dan yang lainnya meninggalkan rumah itu.
"Sore semua..." sapa Nisha, namun ia merasa suasana sangat canggung. Bukankah sebelumnya semua orang bersemangat membicarakan makan bersama ini? Terlebih untuk merayakan kehamilan Yasmine yang sudah menginak 3 bulan.
"Ada apa, Mas..? Ma..?" Nisha mengambil posisi di sebelah Agam.
"Anak profesor Hadi tadi datang kesini." ucap Agam masih kesal dengan kejadian barusan.
"Yang mana..?" Nisha melipat dahi penasaran.
"Rika."
"Apa? Untuk apa dia datang kesini?"
"Sebenarnya..." Yasmine menjelaskan apa hubungannya dan Rika. Dan bagaimana tabiat gadis itu kepadanya. Dari awal gadis itu memang selalu iri padanya, padahal jika di lihat dari posisi, Yasmine sangat jauh di bawah. Tapi Rika seolah tak membiarkan siapapun disekitarnya, untuk lebih hebat darinya termasuk Yasmine.
"Jadi dia bertemu dengan kalian di rumah sakit? Itu sebabnya dia mengatakan pernah bertemu waktu itu?" Nisha menatap Agam dan Yasmine bergantian.
"Benar, sebaiknya mulai sekarang kau berhati-hati. Jangan berikan informasi apapun, karena gadis itu sangat lihai menggali kehidupan orang." pinta Agam kepada sang istri.
Bila tujuan Rika hanya untuk menjatuhkan Yasmine, ia takkan perduli. Tapi kali ini kasusnya berbeda, jika nama Yasmine tercoreng sebagai wanita pengganti, maka nama keluarga Dinansyah juga akan tercemar.
"Maafkan aku, aku tidak menyangka dia akan datang kesini." lirih Yasmine tertunduk.
Nisha mengusap lembut bahu Yasmine, dan tersenyum tipis. "Ini bukan salahmu, tapi kedepannya lebih baik kau menghindar bila bertemu dengannya, ya."
Yasmine mengangguk pelan, suasana hatinya sedikit lega karena Nisha mengerti situasi ini.
"Lupakan saja, mari kita makan. Sajiannya akan segera dingin." ujar Ambar memotong suasana tegang itu.
"Kenapa Lukka belum pulang...?" lirihnya sembari melihat jam dinding. Jarum jam sudah menunjukkan angka lima. Tak biasanya Lukka pulang sore seperti ini.
Pucuk dicinta, Lukka pun tiba. Anak besar itu memasuki rumah dengan senyum sumringah. Ada dua hal yang menyenangkan hari ini, pertama ia belajar mengendarai motor besar. Kedua, ia belajar bagaimana cara yang benar menyatakan cinta.
"Ma, Lukka mau berhenti sekolah saja." ucap anak itu sambil melemparkan tasnya ke lantai.
"Kenapa..? Apa anak-anak itu merundungmu lagi?" Agam dan yang lainnya terkejut mendengar itu.
"Lukka bosan di sekolah itu. Kenapa mama tidak memindahkan Lukka ke SMA?" untuk yang kesekian kalinya, anak itu unjuk rasa. Sepertinya memang akhir-akhir ini psikis Lukka sedikit terguncang.
__ADS_1
Ambar melepaskan nafas berat, lalu tersenyum masam. "Duduklah dulu, kamu tidak lapar?"
Sambil manyun, Lukka menarik satu kursi di sebelah Agam. "Ma, Lukka sudah 10 tahun di sekolah itu. Lukka ingin segera pindah ke SMA, lalu ke Universitas dan bekerja."
Mendengar itu Agam sedikit prihatin, selama ini ia mengira Lukka akan selalu tumbuh seperti bocah 7 tahun. Tapi sekarang mental Lukka memberontak, setelah lama terkurung dalam keterbatasan.
"Kenapa kau ingin bekerja? Agar bisa membeli motor?" tanya Agam menatap lirih sang adik.
"Lukka ingin hidup mandiri, dan menikah."
"uhhukk..!!" Yasmine tersedak, hingga terbatuk-batuk di kursinya. Beberapa butiran nasi bahkan melompat dari mulutnya.
"Kau tidak apa-apa?" Nisha sigap memberikan segelas air putih untuknya.
Yasmine mengangguk, ia tidak apa-apa. Hanya saja jantungnya hampir copot mendengar ucapan Lukka. Anak itu tidak serius mengajaknya menikah kan? Jangan bilang dia akan membicarakan itu sekarang, didepan keluarganya.
"Menikah..?" Ambar melipat alisnya, dan menyorot dalam wajah sang anak bungsu.
"Usia Lukka sudah hampir 27, ma. Teman-teman Lukka bilang Lukka sudah terlalu tua untuk sekolah dasar."
"Jadi kamu ingin menikah hanya karena tidak ingin sekolah?" tanya Ambar lebih lanjut. Siapa yang tidak panik, mendengar anak bayinya tiba-tiba minta menikah? Darimana pula ia punya pikiran seperti itu.
"Siapa..? Anak dari kelas dua?" timpal Agam. Ia ingat dulu Lukka pernah menyukai anak kelas dua, yang usianya masih 9 tahun.
Di kursinya Yasmine memejamkan mata, semoga Lukka tidak menyebutkan namanya.
"Ada... seseorang." sahut Lukka tersipu malu. Kedua pipinya merona, mengundang rasa penasaran keluarganya.
Agam menyipitkan mata, dan tersenyum tipis pada Lukka. "mmm, sudah bisa main rahasia-rahasiaan sekarang?"
Sepertinya ia harus membawa Lukka ke psikiater lagi. Ia takut jika Lukka mulai meracau seperti ini. Dokter yang dulu pernah menangani Lukka mengatakan, tanda-tanda awal orang dengan redartasi mental akan menjadi gila adalah sering meracau.
"Lukka, kau tau apa itu pernikahan?" tanya Agam tertunduk lesu, ia pun sama mengira bahwa sang adik mulai berperilaku aneh.
"Tau..., dimana pria dan wanita mengikat janji untuk saling mencintai. Mereka berkomitmen untuk hidup bersama sampai tua."
Agam, Nisha dan Ambar sontak melongo mendengar pengucapan Lukka. Walau terdengar seperti menghafal teks, bagaimana bisa Lukka menguasai kosakata seperti itu?
"Mereka tidak hanya tidur bersama..." ucap Agam lagi, ia masih menguji apa yang sebenarnya ada di pikiran Lukka.
__ADS_1
"Iya tau, mereka punya tanggung jawab masing-masing. Suami memiliki tanggung jawab untuk memberikan nafkah, baik itu uang, cinta dan kasih sayang. Maka itu Lukka bilang ingin bekerja." jawabnya tersenyum lebar.
"Lalu suami istri akan punya anak." tambahnya lagi. Terdengar lucu memang, karena Lukka sendiri masih terlihat seperti anak-anak.
"Lalu bagaimana mereka bisa punya anak?" lagi-lagi Agam mengetes, sejauh mana imajenasi Lukka sudah terbuka.
"Pertama mereka harus membuka pakaian..."
"Hentikan..." potong Ambar dan Nisha bersamaan. Mereka sangat syok melihat Lukka mengetahui semua hal itu.
"Lukka, kau mendengar semua itu darimana?" Ambar merinding sekujur badan, baru kemarin putranya menangis minta motor. Lah kok sekarang sudah lancar membahas pernikahan.
Lukka memutar bola matanya, si ketua mengatakan ia harus tutup mulut jika ada yang bertanya tentang itu.
"Ma, sepertinya sudah waktunya Lukka kontrol." bisik Agam kecewa, karena respon Lukka melenceng kali ini.
"Kamu benar..." lirih Ambar menghembus nafas berat.
Yasmine yang sedari tadi seperti sedang naik rollercoaster pun ikut menghembuskan nafas lega.
Setelah makan malam selesai, mereka semua kembali ke rumah Agam. Tinggallah Yasmine dan Ambar yang tengah membereskan dapur. Segan saja bila Yasmine meninggalkan dapur berserak, sementara dirinya ikut makan dan membuat dapur berantakan tadi.
Padahal Ambar dan bik Sita sudah melarang Yasmine. Namun gadis itu tetap kukuh ingin membantu. Akhirnya Ambar pun mengiyakan, dan memberikan Yasmine tugas paling ringan. Yakni mengelap sendok.
"Yasmine.., menurutmu Agam bagaimana?" ucap Ambar, sambil duduk di hadapan Yasmine, dengan semangkuk kecambah yang hendak di bersihkan.
"Bagaimana apanya...?" Yasmine mengernyit heran, ia lupa kalau Ambar punya niat menikahkannya dengan Agam.
"Sikapnya, juga penampilannya ..."
"Baik.., dia cukup baik." Yasmine tersenyum canggung. Padahal Agam sangatlah buruk dimatanya. Mulutnya tajam, ketus, galak, dan suka bertindak semaunya. Motornya bahkan benar-benar ditahan sekarang.
Ambar tersenyum lebar, ia tau takkan ada wanita yang bisa menolak kharisma anak sulungnya itu. "Bagaimana kalau kalian menikah?"
glekk....
Yasmine seperti menelan biji durian bulat-bulat. Tenggorokannya tercekat, dan sesaat tak bisa bernafas. Ternyata benar yang dikatakan Agam, bahwa Ambar mempunyai rencana menikahkan mereka.
...*************...
__ADS_1