
drrt...drrttt...
Agam mengambil benda pipih yang bergetar di atas meja. Dengan tatapan wajah lurus pada komputer medis, ia mengangkat telepon tersebut.
📞 "Hallo, dengan Pak Agam..?"
"Iya... ini dengan siapa?" Agam bertanya kembali, karena nomor tersebut nomor baru.
📞"Saya Berta, saya menghubungi anda karena melihat iklan di salah satu situs internet." ucap wanita dari seberang telepon.
Kemarin Agam memang memasang iklan di internet, untuk mencari aktor teater. Rencananya adalah untuk membuat image Yasmine jelek. Ia akan menyuruh beberapa pemain teater, untuk memerankan peran rumah bordil.
Rencana, dua orang suruhannya akan mendatangi Ambar untuk memesan gaun malam. Nah mereka harus menceritakan bahwa gaun tersebut untuk penampilan spesial seorang wanita malam, yang tak lain adalah Yasmine. Nantinya orang suruhan Agam akan menunjukkan foto Yasmine, sebagai salah satu rekan rumah bordil.
📞 "Saya menghubungi untuk peran rumah bordil yang anda maksud. Saya juga memiliki beberapa aktor teater yang cukup andal dalam berakting." Wanita yang sepertinga seorang sutradara teater tersebut, sangat tertarik dengan jumlah uang yang ditawarkan Agam melalui iklan.
"aaa.. tentang itu?" Agam keluar dari ruangannya untuk membicarakan ini. Tak ada lagi keraguan di kepalanya. Ia hanya perlu merubah pandangan sang ibu terhadap Yasmine. Pasti Ambar tidak mau mendesak soal pernikahan, jika tau kalau Yasmine bukan gadis baik-baik.
Agam dan wanita dari dalam telepon itu berbincang sangat lama. Proses negosiasi menjadi ruwet karena wanita dari dalam telepon itu meminta uang muka lebih dulu.
"Aku akan memberikan uang muka. Tapi sebelum itu kirimkan alamat anda, karena saya mau melihat lokasi teaternya." Agam sengaja melakukan itu untuk berjaga-jaga.
📞 "Baiklah, aku akan kirimkan alamat serta nomor rekeningku." wanita itu menutup telepon, setelah proses negosiasi yang cukup lama.
Begitu sambungan telepon terputus, Agam segera mengirimkan uang 30 juta rupiah pada akun atas nama Berta. Rencana sore nanti Agam akan mendatangi lokasi teater untuk membahas kelanjutan rencananya. Karena projek ini sangat rahasia.
.
.
Sore menjelang saat Agam tiba dilokasi. Ia dibuat takjub ketika melihat sebuah rumah berpagar besi itu didesain sangat mirip dengan rumah bordil. Lampu kabel warna warni berputar di tiang teras. Dan beberapa wanita yang sepertinya para pelakon tampak keluar masuk rumah itu.
"wahh, mereka totalitas sekali." batin Agam takjub. Ketika mengetahui Yasmine bagian dari rumah bordil, mama nya pasti akan mencaritahu apakah itu fakta atau tidak. Dan ternyata Berta telah menyiapkan ini. Agam jadi sangat yakin, kalau misi ini akan berhasil.
"Kenapa cuma berdiri disana, Mas.." sapa salah satu wanita berpakaian seksi.
Agam terbuyar dari pikirannya, saat melihat wanita itu ia berpikir pastilah itu artisnya Berta.
__ADS_1
"Ayo masuk, kita bicara didalam." wanita itu hendak menggandeng tangan Agam.
"Baik.." Agam mengelak, membuat wanita berpakaian seksi itu tersenyum miring.
Berjarak Empat rumah dari sana, Yasmine datang dengan sepeda motornya. Wilayah ini memang tempat tinggalnya. Ia mengontrak di salah satu kamar kos milik ketua RW lingkungan itu. Dan kali ini ia datang untuk mengambil beberapa pakaian.
"Yasmine..." panggil Pak RW menyembulkan wajah di balik pagar.
Gadis itu menoleh, dan langsung tersenyum hangat. "eh, Bapak.. selamat sore pak." balas Yasmine menghampiri Pak RW.
"Kemarin token listrik kamu habis, jadi Bapak isikan, soalnya alarmnya kenceng bener." ucapnya sambil memilin-milin ujung kumis.
Yasmine langsung tau maksud si Bapak, ia merogoh dompet lalu mengeluarkan lembaran berwarna merah muda. "Berapa, Pak?"
"Dua ratus lima belas ribu." si Bapak langsung menyodorkan tangannya kepada Yasmine.
"Kamu mau sampai kapan ninggalin kontrakan? Memangnya nggak sayang uangnya?"
Sudah hampir 3 bulan Yasmine meninggalkan kontrakannya. Pak RW yang tau betul kondisi keuangan Yasmine merasa kasihan. Lebih baik ia pindah ke tempat tinggalnya sekarang, dari pada harus menyia-nyiakan uang untuk membayar kontrakan yang tak pernah ditempati.
Saat mereka sedang asik berbasa-basi, dua mobil patroli lewat, lalu berhenti di depan rumah bordil itu. Yasmine yang penasaran pun bertanya kepada Pak RW.
"Ada apa itu, Pak?"
Pak RW mengecap bibir sebelum menjawab. "Itu, rumah bordil yang meresahkan warga sekitar. Awalnya mereka bilang itu tempat pijat, eh taunya pijat remang-remang. Padahal sudah di tegur beberapa kali, tapi mereka bandel. Jadi saya langsung lapor saja ke polisi."
Di wilayah ini, memang solidaritasnya masih sangat tinggi. Mereka tidak akan segan melaporkan perbuatan nyeleweng, yang bisa merusak keramahan lingkungan. Tidak seperti di pusat kota yang kebanyakan penduduknya lu-lu, gua-gua.
"aisss.. pantas saja banyak wanita seksinya." lirih Yasmine, tak tau saja ia mobil Agam sedang terparkir di balik rumah itu.
Sementara itu di ruangan remang-remang, Agam tengah mencoba berbicara kepada para penghuni, bahwa ia datang untuk menemui Berta. Namun mereka semua tidak mengenal siapa itu Berta. Mereka malah merayu Agam untuk memilih pengganti Berta.
"Tunjuk saja yang mana kamu mau, Mami akan menyuruh mereka melayanimu dengan baik." bisik seorang wanita berambut keriting, ia adalah pemilik rumah bordil itu.
"Saya kesini ada perlu dengan Berta..."
"Semua yang kesini memang ada keperluan." goda si Mami seraya memijat pelan lengan Agam.
__ADS_1
Merasa ada yang tidak beres, Agam pun menelpon nomor Berta. Namun nomor tersebut tidak aktif.
"Jangan bergerak..! Kalian semua kami kepung!" Ucap seorang Polisi sambil menodongkan pistolnya.
Agam yang tak tahu menahu pun kebingungan. "Apa..apa ini..?" ia memberontak saat salah satu anggota memborgol tangannya.
Sementara pasukan lain menggeledah semua kamar, baik di lantai satu, dan dua. Para pelanggan yang sedang indehoy pun kelabakan memakai ****** ***** mereka.
"Pak, kenapa saya di borgol?" Agam masih tak mengerti situasi ini.
"Saya akan jelaskan di kantor polisi." jawab komandan tegas.
Saat melihat pasangan lain yang di bekuk, Agam baru menyadari ia berada di rumah bordil sungguhan. Bukan di teater. Dan saat berulang kali mencoba menghubungi Berta, ia sadar bahwa ia telah ditipu.
"Pak, Anda salah paham. Saya ditipu Pak!" Agam memberontak saat diseret paksa oleh petugas.
Aparat disana tak ada yang menggubris. Mereka menyeret paksa para penghuni rumah bordil itu, karena dugaan pencemaran lingkungan dan pengedaran barang haram.
Dari jarak 300 meter, Pak RW, Yasmine dan beberapa warga menyaksikan penggerebekan itu. Mereka saling menggosip dan merasa menjadi pahlawan karena berhasil memberantas kuman masyarakat.
"hadehh... hari gini masih ada aja orang yang doyan jajan diluar." ucap salah satu ibu-ibu berdaster.
"Iya nih, untung suami kita belum tercemar ya bun.." timpal yang lainnya dengan bibir geram.
"Pak RW kita memang the best.." puji mereka semua, membuat kumis Pak RW bergoyang karena tawa mengembang.
"What...?!" Dua biji mata Yasmine hampir lepas saat melihat Agam di seret aparat dengan tangan diborgol.
Ia berlari menuju rumah bordil itu untuk memastikan. Tidak mungkin Agam di sana kan? Secara pria itu si paling cintahh sama istrinya.
"Pak Agam..??" seru Yasmine, dan Agam menoleh.
"Yas...mine..?" Alis Agam mengkerut heran, ia penasaran kenapa gadis itu berkeliaran lagi.
"Yas...mine..?!" wajah Agam merah padam seketika itu juga, saat menyadari imagenya sedang di ujung tanduk. Mampuslah ia kali ini.
...************...
__ADS_1