Tak Mau (Jadi) Yang Kedua

Tak Mau (Jadi) Yang Kedua
Episode 24 : Ketahuan


__ADS_3

Beberapa saat sebelumnya...


"eh.., handuknya mana?" Lukka celingukan, mencari handuk yang masih terlipat di dalam lemari. Ia lupa membawa handuk, karena pikirannya sedang tidak fokus.


Berpikir Yasmine sudah menunggu di meja makan, anak itu pun memutuskan keluar kamar mandi tanpa handuk. Lagipula tidak ada siapa-siapa, pikirnya.


Saat memijakkan kaki di atas keset, Lukka terdiam. Melihat Yasmine membaca buku hariannya. Mengingat isinya hal-hal konyol yang ia tulis sesuai mood. Sampai-sampai ia lupa bahwa ia sedang tak memakai apapun.


Yasmine yang hendak mengambil buku harian itu, terfokus pada sepasang kaki Lukka. Ia menoleh perlahan, dengan sorot mata perlahan naik. Dan kedua bola mata itu hampir melompat keluar saat melihat belalai basah kuyup milik Lukka.


"AAAAAKKK...!" Pekiknya lantang, membuat seisi rumah terkejut. Sementara Lukka tak bergeming, karena yang ia tau Yasmine itu buta.


Gadis yang matanya belum pernah ternodai itu berjingkat kaget, hendak melarikan diri. Namun apes, gerakan spontan nya malah menabrak lemari hingga membuatnya terbujur lemas di lantai.


Nisha dan Agam yang mendengar teriakan itu pun langsung bergegas menuju kamar Lukka.


"Astaga..!" Nisha berbalik badan saat melihat Lukka berlari ke arah lemari, untuk mengambil handuk. Anak itu berniat memakai handuk dulu, baru memanggil pertolongan. Tapi ternyata Nisha dan Agam datang duluan.


Soal mental, Lukka memang anak-anak, tapi tubuhnya kan sudah dewasa. Siapa yang tak terkejut melihat itu.


"Kak, tolong. Kak Yasmine pingsan." Ujar Lukka tampak panik. Sigap ia menyembunyikan buku harian, agar tak terbaca oleh Agam.


"Dia kenapa? Kakak dengar dia berteriak tadi." Agam memeriksa denyut nadi Yasmine.


Sementara Nisha baru berbalik badan, saat melihat Lukka sudah membungkus tubuhnya dengan handuk.


"Apa Yasmine terkejut karena melihat Lukka juga?" Batin Nisha, bagaimana kalau memang iya? Bisa ketahuan sandiwara buta itu.


"Sayang, ambilkan tas ku." Pinta Agam, dan Nisha segera berlari menuruti.


"Tadi kak Yasmine nabrak lemari." Ucap Lukka, ia mengenakan handuk sebatas ketiak. Persis seperti wanita.


Agam menatap lebar sang adik, "itu sebabnya kau keluar tanpa pakaian? Lain kali pakai dulu handuk mu, baru keluar." Ia berpikir Lukka memiliki jiwa heroik, kala mendengar teriakan Yasmine.


"Lukka lupa membawa handuk, jadi Lukka keluar untuk ambil handuk di lemari. Lukka tidak tau kalau kak Yasmine masih disini." Anak itu membela diri, bukan ia mau berlaku senonoh. Ia juga tau batasan antara pria dan wanita, dengan kemampuan usianya.

__ADS_1


Agam tertegun sejenak, kecurigaan tentang Yasmine kembali merayapi pikirannya. "Jadi maksudmu, dia berteriak saat kau keluar dari kamar mandi tanpa pakaian?"


Luka mengangguk cepat, ia senang sang kakak percaya bahwa bukan maksudnya bertindak sembrono. "Iya kak, terus kak Yasmine berdiri secepat kilat, eh malah nabrak lemari. Jadi pingsan lah.."


Agam menghembus nafas kasar. Kini 80 persen ia yakin, bahwa Yasmine tengah menipu Nisha dan semua keluarganya. Jika bukan karena melihat Lukka, lalu karena apa Yasmine berteriak kaget hingga menabrak lemari?


Kesal dengan dugaannya sendiri, Agam mengambil segelas air di atas nakas. Kemudian mencipratkan hampir seperempatnya ke wajah Yasmine.


"Bangun..!" Panggil Agam terdengar kasar.


"Kak, jangan begitu dong. Kasihan.." Lirih Lukka, ikut berjongkok disebelah Yasmine. Masih dengan handuk yang membungkus tubuhnya.


Yasmine merespon itu, kedua kelopak matanya perlahan bergerak. Walau dengan pandangan masih gelap berputar.


"Bangun..!" Sekali lagi Agam mencipratkan air ke wajah Yasmine. Hingga gadis itu terpaksa membuka matanya.


Reflek ia menghindar saat melihat Lukka disana. Perlahan ia duduk, dan menyusun kembali pandangan buramnya.


"Ini Mas... Yasmine? Kau sudah bangun?" Nisha meletakkan tas Agam ke lantai, kemudian berlutut memeriksa kondisi Yasmine.


Tak ada cedera parah, hanya saja sebelah jidat Yasmine sedikit menonjol karena bertabrakan dengan lemari berbahan kayu tebal itu.


"Nisha, bisa keluar sebentar?" Pinta Agam, membuat Nisha mengerutkan dahi.


"Kenapa, Mas?"


"Aku akan memberitahumu nanti. Sebentar saja.."


Tak banyak bertanya, Nisha pun menuruti perkataan sang suami. Walau ia ragu, tapi sepertinya Agam mencurigai Yasmine.


"Lukka keluar juga?" Tanya anak itu.


"Kau disini saja, Kakak perlu memastikan sesuatu." Agam tau Nisha sangat mempercayai gadis penipu itu. Itu sebabnya ia akan mengorek kebohongan Yasmine, tanpa Nisha.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Agam, melolongkan tatapan tajam.

__ADS_1


"i..iya.." sahut Yasmine terbata, ia mengelap sisa air diwajahnya. Dalam hati ia merutuki Agam habis-habisan. Dasar manusia tak punya perasaan!


Agam meletakkan gelas, kemudian berdiri. "Lukka, berdiri sebentar." titahnya pada sang adik. Dan Lukka menuruti tanpa bertanya.


Saat Lukka sudah berdiri tegak, Agam berlagak hendak menarik handuk Lukka, untuk mengetes penglihatan Yasmine.


Bodohnya Yasmine, ia malah memejamkan mata ketika tangan Agam sudah hendak menarik handuk Lukka.


"Kakak mau apa..?" Tanya Agam seraya memegangi handuknya, agar tidak melorot.


"Handuk mu kurang kencang." ucapnya kemudian mengeratkan handuk Lukka, lalu menyuruh sang adik untuk berpakaian.


Dengan senyum sinis, Agam kembali berjongkok dihadapan Yasmine. Gadis itu perlahan membuka kelopak matanya, dan masih kukuh berakting layaknya orang buta.


"Jadi kau terkejut saat melihat Lukka telanj4ng, lalu berlari dan menabrak lemari?"


Yasmine terkekeh pelan, namun sorot matanya yang panik tak bisa disembunyikan. "hhh... apa yang anda bicarakan? Tadi ada laba-laba merayap di tanganku, dan aku terkejut. Aku sangat takut pada..."


"Bagaimana kau bisa tau itu laba-laba?" Potong Agam, membuat Yasmine terdiam kaku.


"Entah ya.. apa mungkin bukan laba-laba? Aku hanya merasakan sesuatu menggerayang, dan sangat geli. Dari yang kurasa itu hewan yang memiliki banyak kaki, jadi ku pikir itu laba-laba." Yasmine berusaha menutupi rasa gugupnya sebisa mungkin.


"Penjelasanmu cukup panjang." Agam mengangguk pelan dengan raut wajah jengah. Lalu dengan sengaja ia menepukkan tangan amat keras di depan wajah Yasmine.


Kepala Yasmine reflek mundur sambil memejamkan mata. Pikirannya sedang tidak fokus. Panik atas rasa curiga Agam, dan malu karena habis melihat Lukka tanpa busana membuat konsentrasinya buyar. Tamat sudah riwayatnya hari ini.


"ch..! Kau masih ingin berbohong?" Sinis Agam terlihat murka. Sejak awal ia tak percaya dengan gadis penipu itu.


Yasmine membuka mata, kali ini ia menatap Agam layaknya orang normal. Tatapan penuh rasa takut dan bimbang. Ia tak tau harus menjelaskan ini darimana. Ia perlu koordinasi Nisha, untuk bisa menjawab Agam kali ini.


"Lihat matamu, sangat licik dan kotor!"


"Aku melakukannya atas permintaan Bu,Nisha." Sahut Yasmine tak yakin. Mungkin karena jawabannya ini, Nisha dan Agam akan bertengkar nanti.


"Apa..?" Tentu Agam tak percaya. Tidak mungkin Nisha melakukan itu. Ia semakin kesal karena menganggap Yasmine menuduh Nisha yang bukan-bukan.

__ADS_1


...***********...


Jangan lupa follow, dan tinggalin jejak ya😘😘


__ADS_2