
Sepekan kemudian....
Seperti yang sudah dijanjikan, hari ini Nisha membawa Yasmine ke rumahnya. Agam, dan kedua orang tua mereka sudah menunggu. Tentu mereka akan menyeleksi dengan teliti, seperti apa wanita yang hendak melahirkan penerus keluarga Dinansyah itu.
Saat turun dari mobil, Yasmine tampak telah mendalami perannya sebagai gadis buta. Tongkat berwarna perak, kaca mata hitam serta gerak-geriknya benar-benar sudah persis seperti orang buta. Selama seminggu ini ia benar-benar berlatih dari berbagai drama, bahkan ia meriset seperti apa orang buta menjalani kesehariannya.
"Ingat Yasmine, kau orang buta sekarang." Ucapnya dalam hati, meyakinkan diri sendiri.
"Kau sudah siap?" Tanya Nisha, mengenggam lengan Yasmine. Ia akan menuntun Nisha memasuki rumah, agar lebih meyakinkan.
"Siap." Yasmine mengangguk mantap. Ia merasa seperti hendak maju ke medan perang. Sangat berdebar.
Nisha pun sama gugupnya, ia meremas tangan sebelum akhirnya menyentuh gagang pintu berwarna perak tersebut.
Pemandangan yang cukup indah, Yasmine menyaksikan betapa megah rumah itu dari balik kacamata hitamnya.
Di ruang keluarga, semua orang sudah tampak berkumpul. Tak terkecuali Lukka yang bahkan tak tau apa-apa. Ia hanya asik memainkan dompet sang Papa, diantara tatapan legam semua orang.
"Mas, Pa.. Ma.. ini wanita yang ku pilih, untuk melahirkan anak kami." Nisha membawa tangan Yasmine, agar maju dan menyapa mereka semua.
Perlahan Yasmine keluar dari balik punggung Nisha, dengan tongkat yang ia ketuk ketukkan ke lantai. Namun betapa ingin lompat jantungnya, saat mendapati wajah Agam disana.
"Kau...?!!" Tentu Agam mengenali wajah Yasmine. Ia langsung berdiri, melangkah cepat menghampiri Nisha dan Yasmine.
Nasi sudah menjadi bubur, kepalang tanggung, Yasmine pun melanjutkan aktingnya. Sementara Nisha, dahinya berkerut tipis melihat reaksi sang suami.
"Selamat siang semua.., perkenalkan saya Yasmine.."
Belum selesai Yasmine dengan ucapannya, Agam sudah lebih dulu menarik kacamata gadis itu dengan amat kasar.
"Mas..?!" Sergah Nisha membelalak.
"Sayang, kamu dapat darimana wanita ini? Dia ini pencuri, penipu..!"
Yasmine hanya bisa menelan saliva, siapa sangka ia bertemu dengan Agam dalam situasi ini? Bagaimana ini? Haruskah ia lari saja, meninggalkan rencana yang sudah disusun matang ini? Atau jujur saja bahwa ia hanya berpura-pura? Tapi bagaimana dengan Nisha?
Nisha pun tak menyangka, bahwa Agam akan bereaksi seperti ini. Kenapa ia tak memikirkan kemungkinan bahwa Agam dan Yasmine pernah bertemu.
"Mas, mengenal Yasmine?"
Untuk saat ini, Nisha dan Yasmine seperti sepakat masih sama-sama berakting.
__ADS_1
"Dia ini pencuri..! Dia mencuri dompetku. Belum lama ini aku juga bertemu dengannya, dia bekerja di salah satu Bank." Geram pria yang wajahnya merah padam tersebut.
"Buta..? Kau menipu istriku dengan taktik apa wanita sial?!" Agam merutuki Yasmine habis-habisan. Tak terpikir olehnya, bahwa ini justru skenario Nisha. Nisha lah yang mengarang ini semua.
"Anda mengenalku..?" Lirih Yasmine, wajahnya bergerak kearah suara Agam, sementara tatapannya tetap kosong. Ia masih kukuh dengan aktingnya.
"Berapa banyak uang yang kau butuhkan? Sampai-sampai kau menipu istriku dengan berpura-pura buta?" Tukas Agam dengan suara dalam. Kedua bola matanya membara menatap wajah Yasmine.
"Mas, dia sungguh buta. Aku sendiri sudah memastikannya. Jaringan saraf serabut dibelakang retinanya tidak berfungsi, akibat terjatuh dari tangga. Ini buktinya.." Nisha menyerahkan bukti rekam medis palsu milik Yasmine.
Agam membuka amplop besar berwarna putih itu. Ia membaca dengan seksama, tentu saja semua informasi yang ada di rekam medis itu sudah disusun sedemikian rupa oleh Nisha.
"Dia benar-benar buta..." Ucap Ghani, yang juga membaca rekam medis tersebut.
Agam tak percaya, pandangannya berbolak balik memastikan catatan medis tersebut.
"Kapan kau jatuh?" Tanya Agam lugas.
"9 Hari yang lalu, anda sungguh mengenalku?" Yasmine menatap kosong kearah yang berlawanan dari posisi Agam.
Kedua rahang Agam tampak beradu. Ia tak percaya dengan situasi ini. Dipikirannya hanya ada satu hal, yakni Yasmine menipu Nisha.
Tanpa aba-aba, Agam mengambil sebuah garpu yang ada di nampan buah, sejurus kemudian ia mengarahkan garpu itu tepat di depan mata Yasmine.
Yasmine tak berkedip sedikitpun, padahal garpu tersebut berhenti satu centi meter di depan bola matanya.
Namun detak jantungnya tentu saja porak poranda. Tak sia-sia ia berlatih siang dan malam selama Tujuh hari, Tujuh malam.
-
Keadaan sudah mulai tenang, kini Yasmine sudah duduk di sofa. Mendengarkan satu persatu orang yang melontarkan pertanyaan untuknya.
Nisha juga sudah menceritakan bagaimana ia bisa bertemu dengan Yasmine. Mereka sama-sama saling membutuhkan. Yasmine butuh uang, dan Nisha butuh rahim Yasmine.
Yasmine juga menceritakan, betapa pelik hidupnya sampai ia mau menerima tawaran Nisha.
"Sayang, kau tidak punya pilihan lain? Ambil saja wanita tua, atau siapapun. Wanita ini sungguh bukan wanita baik-baik. Atau batalkan..."
"Mas," Potong Nisha tersenyum kecil.
"Mama suka, setidaknya kekurangan Yasmine tidak akan menganggu pernikahan kalian." Ujar Ambar. Ia sangat bahagia melihat Nisha benar-benar menepati janjinya, untuk membiarkan Agam memiliki keturunan.
__ADS_1
"Tapi, aku tidak mau anakku lahir dari wanita penipu ini. Lebih baik aku tidak punya anak. Dari awal aku sudah menentang ini, dan lihat? Ini memang tidak masuk akal untuk dilanjutkan." Agam memegangi pelipisnya yang berdenyut, rasanya seperti dihantam oleh palu besar.
"Permisi..,aku tidak tau anda siapa. Tapi kalau soal tuduhan anda, bahwa aku penipu, aku tidak terima. Aku tidak pernah mencuri, apalagi menipu seseorang..." Yasmine memampang wajah melas. Padahal ia bisa melihat dengan jelas pria bermulut sampah itu.
Sial sekali ia dipertemukan lagi dengan pria itu. Lagi-lagi keadaan membuatnya tak bisa membela diri.
"Mas, Yasmine ini wanita baik-baik. Dia bekerja sangat keras untuk membiayai mendiang ibunya. Aku saksi dari kerja kerasnya. Dia juga sangat pintar."
Lagi-lagi Nisha menengahi ucapan suaminya. Ia tau Agam hanya salah paham pada Yasmine. Justru dirinya lah yang menjadi penipu sekarang. Sementara Yasmine hanyalah mengikuti perintahnya.
"90 x 120 berapa?" Sentak Agam, standar pintar bagi Agam adalah ketangkasan otak dalam segala hal.
"10800." Jawab Yasmine cepat.
"650.000 ÷ 50?"
"13.000" Lagi, Yasmine menjawab dengan sangat cepat.
"Siapa ahli filsafat pertama di dunia? Dan pada abad ke berapa ia mengawali sejarah filsuf?"
Tak seperti sebelumnya, kali ini Yasmine tampak mengambil jeda. Soal matematika ia memang tangkas. Namun soal sejarah, otaknya tak bisa diajak bekerjasama.
"Imam Bonjol..." Bisik Lukka, dari balik punggung Papanya. Ia asal nyeplos karena melihat nama itu pada uang lembaran lima ribu rupiah lama, yang bertapa di dompet Papanya.
"Imam Bonjol.." Ucap Yasmine yakin. Sesaat ia berpikir, Lukka berniat membantunya.
"Thales dari Miletos. Ia mengawali sejarah filsafat Barat pada abad ke-6 Sebelum Masehi..!" Sanggah Agam dengan cekungan mata membara. Ia sungguh tak ingin mempunyai anak dari wanita berotak miring tersebut. Penipu, pencuri dan lemot. Sejak kapan Imam Bonjol jadi ahli filsuf?
"Nisha, Aku ingin bicara." Agam menarik lengan Nisha beranjak dari sana. Nisha pun mengikuti saja langkah kaki sang suami.
Dari sudut matanya, Yasmine mengamati wajah Lukka dengan rasa kesal. Berani-beraninya ia menjerumuskan jawabannya.
Kemudian ia teringat, Nisha mengatakan ada satu anak spesial di anggota keluarga itu. Tatapan kesal Yasmine berubah prihatin.
"Papa, kakak itu siapa?" Lukka mengecilkan suaranya, ia sedikit takut karena Yasmine menatapnya dengan tatapan kosong.
"Dia saudara Kak Nisha," Balas Ghani sambil mengusap kepala putra bungsunya itu.
"Lukka takut..," lirihnya sambil menyembunyikan wajah di balik punggung Pak Ghani.
...**********...
__ADS_1
Mohon dukungannya ya😘
jangan lupa tinggalkan jejak. Love, komen, atau Vote nya. Karena satu jejak dari kalian, sangat berarti buat otor😘😘❤️ Love u guysss...❤️❤️❤️❤️