
Di ruang operasi yang begitu dingin, Agam mempertaruhkan reputasinya demi menyelamatkan Yasmine. Hidup dan mati gadis itu ada ditangannya, jika ia gagal, bukan hanya ia yang akan merasa bersalah, namun juga Nisha yang pastinya akan terpukul.
Tanpa mengenal para Dokter dan perawat yang ada, Agam memimpin operasi tersebut dengan sangat nekat.
"Suntikkan anestesi total." titahnya kepada salah satu Dokter pendamping.
Dokter tersebut menyuntikkan dosis sesuai permintaan Agam. Walau ia ragu, karena masa depan mereka yang ada di ruang operasi itu sedang dipertaruhkan.
Agam mulai membuat sayatan pada perut bagian kiri Yasmine. Operasi pengangkatan limpa hanya akan dilakukan sebagian. Tak dapat dibohongi batinnya menangis saat menyayat tubuh wanita itu. Wanita yang hidupnya penuh keputusasaan, hingga rela meminjamkan rahimnya. Dan kini ia dan wanita itu kehilangan sesuatu yang paling dinanti. Perngorbanan gadis itu terhempas sia-sia, bahkan sangat miris, akibat kelalaian mereka.
.
.
Pak Ghani mendatangi kantor polisi sesuai permintaan Agam. Ia juga membawa pengacara untuk memastikan Nisha tidak dipenjara, karena ini murni kelalaian, bukan karena direncanakan. Jika pun tetap di hukum, pak Ghani berharap hukumannya tidak terlalu berat.
Sesi introgasi dan negosiasi dengan pengacara itu pun berlangsung lama. Pengacara itu bahkan mengatakan, jika Yasmine tidak ingin menuntut Nisha, maka Nisha berhak dibebaskan.
"Walau korban tidak ingin menuntutnya, saudari Nisha tetap akan di kenakan sanksi atas kelalaiannya. Dan atas tewasnya janin yang ada di perut korban. Walau tidak sengaja, tetap ada korban jiwa, dan ini termasuk pembunuhan." tegas polisi itu tanpa mentolerir segala cerita tentang hubungan dekat korban dan pelaku.
Setiap kali mendengar kata pembunuhan, batin Nisha terasa terpukul. Untuk kedua kalinya ia gagal menjaga calon anak mereka. Apakah dirinya memang di takdirkan untuk tidak memiliki kesempatan atas keturunan sang suami? Ia yang bersusah payah mencari rahim pengganti, namun ia pula yang menghancurkan harapan itu. Jika memang harus dihukum mati, Nisha akan sangat siap untuk membayar kesalahannya pada gadis yang hidupnya kini dipertaruhkan.
.
.
Setelah hampir dua jam di ruang operasi, akhirnya Yasmine berhasil melewati masa kritisnya. Kini ia akan segera di pindahkan ke ruang rawat.
Sementara itu Agam dan Dokter yang menangani operasi itu menghadap kepada Direktur rumah sakit, untuk meminta pengertian atas tindakan Agam yang tak memiliki wewenang.
Lalu secara empat mata, Agam menunjukkan data dirinya melalui website resmi Rumah Sakit Kasih Ibu. Bagaimana ia sudah sangat piawai menggeluti dunia bedah membedah. Ia hanya ingin menunjukkan bahwa dirinya bukan asal-asalan menyalahi wewenang. Namun ia bersungguh-sungguh ingin menyelamatkan nyawa pasien.
__ADS_1
"Kami akan meninjau reaksi pasien pasca siuman nanti. Jika operasi nya berhasil dan pasien tidak merasakan keluhan, maka kami akan memaklumi tindakanmu, karena kau pun seorang Dokter. Namun jika sebaliknya, kau harus bersedia menerima sanksi karena telah menyalahi wewenang, dan gegabah sebagai seorang Dokter."
"Baik, saya akan bersedia menerima sanksi." jawab Agam sambil menundukkan kepalanya kepada Direktur tersebut.
Beberapa jam berselang, akhirnya Yasmine siuman. Perlahan ia membuka kelopak matanya, pandangan remang dan pendengaran samar perlahan menyadarkannya.
Pandangan Yasmine terarah kepada sosok pria yang tengah menagis sesenggukan seraya memegangi tangannya.
"Lukka..." lirih nya pelan, dan anak besar yang tengah menangis sesenggukan itu langsung mengangkat kepalanya.
"Kak Agam.., kak...! Yasmine sudah sadar." Ia berlari keluar ruangan untuk membangunkan sang kakak yang tengah tertidur di kursi tunggu.
Ambar yang tertidur di dalam ruangan itu pun terbangun mendengar suara Lukka. Mereka langsung menghampiri Yasmine. Agam pula langsung memanggil Dokter lewat penyantra yang tertera di dinding.
"Yasmine, kamu sudah sadar? Bagaimana perasaanmu? Kamu ingat saya kan?" Ambar terlihat sangat antusias.
Yasmine mengangguk pelan, ia mengingat semua orang yang ada disana. Walau masih sedikit linglung karena efek bius. Ia bahkan belum sadar kalau sedang berada di rumah sakit.
"Bagaimana perut anda? Apa terasa nyeri?" Dokter itu menekan pelan perut Yasmine untuk memastikan tidak ada pendarahan lanjutan.
"Apa yang terjadi, Dokter..?" ia sedikit meringis nyeri kala perutnya di tekan.
"Anda mengalami kecelakaan. Suami anda melakukan operasi pengangkatan limpa, karena pembekuan arteri akibat patah tulang rusuk."
Yasmine terdiam sejenak, jadi kecelakaan yang dialami bukan mimpi?
"Dokter, bagaimana anak saya? Saya sedang hamil Dokter." Yasmine langsung terpikirkan kondisi janinnya, ia berharap kondisi janinnya baik-baik saja.
Dokter itu menarik nafas, ia tau ini takkan bisa di percaya oleh Yasmine. "Janin anda tidak selamat. Benturan keras mengakibatkan pendarahan hebat, hingga membuat janin anda kehabisan oksigen."
"Tidak... tidak..." Yasmine meraba perutnya, sungguh tidak ada lagi nyawa di rahimnya?
__ADS_1
"Tidak mungkin..." tangis Yasmine mulai pecah disana. Beberapa jam yang lalu ia masih mendengar detak jantung itu dengan suka cita. Apa yang terjadi hingga ia kehilangan janinnya? Apa yang sebenarnya sedang di rencanakan Tuhan? Kenapa kehidupannya seolah terjal dan tak menemukan titik tenang.
"Anda harus menerima ini dengan lapang dada. Semua yang terjadi pasti memiliki hikmah. Yang sabar, yang kuat, karena kehidupan anda masih panjang." Dokter memberikan penyemangat kepada Yasmine, lalu berpamitan dari sana.
Ambar mendekati Yasmine lagi, ia menganggam tangan gadis itu sambil menitikkan air mata.
"Bu, anakku..." isak tangis Yasmine semakin menjadi. Ia tak tau harus bagaimana lagi menguatkan hati, untuk menerima takdir perih ini. Harus berapakali lagi ia kehilangan semua yang berharga?
"Tidak apa-apa, tenanglah... kau harus kuat menerima ini." ucap Agam mengusap lembut bahu Yasmine. Tak dapat disembunyikan ia pula meneteskan air mata. Rasa kehilangannya juga tak kalah besar dari Yasmine.
Sekuat apa Tuhan hendak membentuk bahu Yasmine? Seberapa banyak lagi gadis itu harus meneguhkan hati dan raganya untuk menerima kehidupan ini? Jika sangat menyakitkan begini, seharusnya ia mengakhiri hidupnya saja sejak lama. Ia benar-benar tak punya tumpuan lagi sekarang. Harapan hidup satu-satunya, yakni sang anak kini telah di renggut dari dirinya.
Agam terus menenangkan Yasmine dengan kalimatnya. Saat ini gadis itu sangat membutuhkan penopang, agar bisa menerima takdir pahit ini. Luka lama yang dulu pernah menganga saat anak pertamanya tiada, kini seperti terbuka kembali. Perih dan menyakitkan, luka itu bak tersiram kembali oleh air garam.
"Ini semua gara-gara wanita sial itu..! Berapa kali mama bilang, seharusnya kamu menceraikan dia sejak dulu!" tukas Ambar sembari menagis terisak-isak.
"Ma.., jangan bicara begitu." Agam sempat kesal karena mamanya tak melihat situasi. Yasmine bahkan belum bisa menenangkan dirinya. Jika ia mengetahui itu karena kelalaian Nisha, ia akan sangat terpukul.
"Kamu masih membelanya? Wanita itu dari dulu memang pembawa sial. Jika bukan karena dirinya, semuanya akan baik-baik sekarang..! Mama menyesal menikahkanmu dengan wanita sial itu."
Ambar merasa sia-sia mengharapkan pamor dari Nisha, yang notabene nya anak dari keluarga terpandang. Harapan untuk mendongkrak nama keluarga agar tetap di kelas atas malah hancur berkeping-keping. Bukannya bersinar dengan latar belakang Nisha, keluarga nya malah terpuruk dan terlibat dengan hal-hal menyakitkan.
"Ma, tolong jaga ucapan mama. Nisha tidak bersalah sepenuhnya." bisik Agam berusaha mengendalikan pikiran kotor sang mama.
"Masih kamu berpikir ini bukan kesalahannya? Harus sampai kapan kamu terus menutup mata, Agam? Kapan kamu akan sadar kalau pernikahan mu dengannya tak lebih dari sebuah kubangan hitam..!"
"Ma..! Cukup. Kalau mama masih ingin membicarakan itu, keluar saja dari sini..! Mama tidak memikirkan kondisi Yasmine? Perasaannya bisa saja lebih terguncang."
"Benar, khawatirkan saja wanita yang kini kehilangan masa depannya karena istrimu yang gila itu. Mama akan mengurus wanita sial itu agar tidak kembali menapakkan kaki di keluarga kita." Ambar beranjak pergi dengan langkah kasar. Amarahnya menggelapkan hati dan pikiran, emosi nya membuat dorongan untuk mencoret Nisha dari kehidupan mereka.
Agam tak bisa berkata-kata lagi, ia menghela nafas berat seraya mengusap wajahnya kasar. Situasi ini benar-benar gila. Ia tak bisa meninggalkan Yasmine disana, sementara ia juga tak mau membiarkan mamanya bertindak semena-mena. Untuk meluapkan kekisruhan ini pun ia tak bisa, batinnya hanya bisa berteriak. Sebab ada perasaan yang harus ia jaga, yakni perasaan seorang ibu yang baru saja kehilangan janinnya. Perasaan seorang ibu yang remuk berkeping-keping.
__ADS_1
...***********...