Tak Mau (Jadi) Yang Kedua

Tak Mau (Jadi) Yang Kedua
Bab 45 : Persidangan


__ADS_3

Hai..hai.. para readers yang otor cinta, apa kabar kalian semua😘


Otor balik lagi nih dengan kisah rumah tangga Agam, dan percintaan anak besar, Lukka.❤️


Jangan lupa komen, vote dan dukungan lainnya ya😘


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


Dua Minggu berlalu...


Kondisi Yasmine kini mulai membaik, secara fisik maupun psikis. Gadis berusia 25 tahun itu tengah mengemasi barang-barangnya, dibantu oleh Ambar.


Kedua tangannya yang masih lemah, melipat lembaran handuk dan baju untuk kemudian di masukkan ke dalam tas.


"Sebaiknya kau tinggal di rumah kami dulu, keadaanmu belum membaik sepenuhnya." tutur Ambar membujuk, ia berupaya menghalangi niat gadis itu untuk kembali ke kontrakannya.


Yasmine menggeleng pelan sambil menyibakkan senyum tipis. "Tidak apa-apa bu. Saya akan menjaga diri dengan baik."


"Tapi kau harus menghadiri sidang, jarak nya juga lumayan jauh dari kontrakan mu. Apa tidak sebaiknya kau tinggal di rumah kami, sampai persidangan Nisha selesai?"


"Tidak..., saya bisa naik taksi." jawab gadis itu datar, senyum hambarnya masih tersemat di ujung bibir.


Persidangan akhir akan di mulai pekan depan. Nisha sebagai pelaku, dan Yasmine sebagai korban. Bagaimana nasib Nisha kedepannya, akan bergantung pada pernyataan Yasmine nantinya.


Jujur saja hati Yasmine remuk redam kala mengetahui fakta, bahwa Nisha lah yang membuat janin nya tiada. Kecelakaan itu akibat kecerobohan Nisha. Namun entah memaafkan atau memaklumi, Yasmine sampai saat ini masih enggan memberitahukan apa yang sesungguhnya ia rasakan. Alih-alih melayangkan gugatan, ia malah ingin memaafkan. Namun jujur saja batinnya tak terima. Ia sendiri masih sangat bingung, haruskah menandatangani tuntutan, atau mencabut laporan terhadap Nisha.


.


.


Dua jam perjalanan dengan taksi, akhirnya Yasmine sampai di kontrakannya. Ia menurunkan semua barangnya dari bagasi, memasuki pagar kontrakan.


Seperti biasa, bapak pemilik kontrakan langsung berjalan dengan wajah keponya. Tak lupa kumis tebal ia pilin, entah apa tujuannya.

__ADS_1


"Yasmine..? Banyak sekali barang-barang mu? Apa pekerjaanmu di kuar kota sudah selesai?" tanya pria bernama Basir itu, seraya menampakkan wajahnya dari balik pagar.


Yasmine yang hendak membuka pintu kontrakan menoleh malas, namun senyum tipis tetap ia suguhkan.


"Iya pak, sekarang aku akan tinggal di sini lagi." sahutnya menyipitkan mata, agar terkesan ramah.


"oooh, baguslah. Sayang juga kontrakan mu lama-lama di tinggal. Ya sudah istirahat..." Pria bertubuh gempal itu berlalu sambil manggut-manggut.


Bola mata Yasmine membidik mengikuti langkah Pak Basir. Saat punggung pria gempal itu tak lagi terlihat, ia menghela nafas panjang.


"Tumben keponya nggak merembet kemana-mana." gumamnya sambil berusaha memasukkan kunci yang agak seret.


Saat pintu kontrakan terbuka, Yasmine menghirup dalam aroma susah yang sejak dulu tak mau pergi dari sana. Suasana sumpek dan lembab mengingatkannya akan masa masa dimana ia masih bekerja dulu.


Kedua matanya bertambah sayu, saat teringat kini ia tak lagi punya pekerjaan. Masa depannya suram, dan terlunta-lunta.


Sebenarnya sebagai bentuk permintaan maaf, Agam sudah menawarkan sejumlah uang untuk Yasmine bertahan hidup. Namun gadis itu menolak. Ia takkan mau lagi berurusan dengan keluarga Agam.


Bahkan saat Ambar menawarkan program bayi tabung lagi, ia menolak dengan tegas. Hidupnya sudah terlalu pahit selama ini. Ia tak mau menyeret satu nyawa tak berdosa, untuk lahir ke dalam dunia yang serba carut marut ini. Cukuplah ia yang menderita.


📞 "Yasmine..?! Kau dimana? Kenapa pergi tanpa berpamitan denganku? Apa aku tidak penting lagi bagimu? Bukankah kau sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkanku?! Dimana kau sekarang..?!"


Suara berat dan cepat, di tambah aksen bicara yang sangat berbeda membuat Yasmine kembali melihat layar ponselnya, untuk memastikan apakah itu benar-benar Lukka.


"Lukka..? Kau kah itu?" Yasmine tergagu dengan alis dilipat. Hampir dua minggu ia fokus dengan psikologi untuk membenahi mental. Rentan waktu itu cukup singkat, tapi kenapa Lukka terdengar seperti orang yang berbeda.


📞 "Kau tidak mau mengatakan lokasimu? Aku akan melacakmu, asal kau tau saja aku sudah bisa mengendarai motor!" pamer Lukka dari seberang sana, ia terdengar benar-benar kesal.


Yasmine terkekeh pelan mendengar itu. "Kenapa kau terdengar tidak sopan? Kau tidak memanggilku kakak lagi? Dan kenapa kau menyebut dirimu dengan kata Aku? Kemana Lukka yang seperti bayi besar?"


📞 "Jadi selama ini kau menganggapku seperti bayi? Kenapa kau tidak terima ku panggil begitu? Bukankah kau sendiri yang bilang umurmu lebih kecil dariku?" protes Lukka terdengar lugas, namun tetap saja ada kata-kata maupun nada bicara bayi besar yang masih melekat.


Dan itu membuat Yasmine terkekeh lagi. Ternyata memang tidak ada yang berubah secepat itu.

__ADS_1


"Baiklah... terserah kau saja. Ku tutup dulu ya teleponnya, aku mau berbenah." lirih Yasmine.


📞 "Kau benar-benar tidak memberitahu..."


"Bye..." Yasmine segera menutup sambungan telepon, bahkan sebelum Lukka menyelesaikan kalimatnya. Tak hanya itu, ia bahkan mencabut kartu nya kemudian ia lempar entah kemana.


Yasmine tak ingin mengacaukan masa depan Lukka, yang kini mulai bisa merasakan kehidupan dewasa. Terlebih saat teringat ajakan Lukka untuk menikah. Ia takut itu bukan hanya omong kosong. Bagaimana bisa seorang yang masih baru memulai hidup sesungguhnya, berdampingan dengan orang yang hidupnya sudah sangat kotor dan berantakan seperti dirinya.


...~...


Di ruang persidangan, Agam sudah tampak duduk pada barisan paling depan. Beberapa wartawan juga turut menghadiri persidangan itu. Rekaman CCTV saat Yasmine tertabrak menjadi berita hangat dua minggu yang lalu. Itu sebabnya banyak masyarakat penasaran dengan hasil akhir kejadian itu. Bahkan tak sedikit yang meminta Nisha di hukum secara adil.


Di kursi lain, tampak kedua orang tua Nisha. Mereka menunggu Hakim memasuki ruangan itu. Sementara Nisha hanya bisa tertunduk, padahal pengacaranya tengah memberi arahan di sebelah.


Yasmine pun tiba disana, dengan langkah canggung dan wajah kaku ia berjalan menuju kursi yang telah di sediakan petugas pengadilan.


Sesaat pandangan Nisha dan Yasmine bertemu. Nisha hendak menggerakkan bibirnya untuk tersenyum, namun urung ia lakukan saat melihat ekpresi datar dari Yasmine.


Tak lama kemudian Hakim pun memasuki ruangan. Tanpa banyak membuang waktu mereka langsung memulai persidangan.


"Saudari Yasmine Auzora, benarkah tidak ada pembicaraan yang bersifat menyinggung sebelum insiden itu terjadi?" tanya Hakim ketua.


"Tidak, yang mulia." jawab Yasmine tanpa ragu.


Di belakang sana tampak Agam menghembuskan nafas berat. Ia tau inipun sulit bagi Yasmine. Tapi ia sangat ingin Yasmine berbesar hati, agar Nisha bisa dibebaskan.


"Pelaku mengaku hubungan kalian cukup dekat, hingga tidak ada sedikitpun niatnya mencelakai saudari. Apakah benar demikian?" imbuh sang Hakim lagi.


"Benar, yang mulia."


"Lalu apakah saudari Yasmine percaya bahwa apa yang terjadi adalah karena tidak di sengaja, bukan karena percobaan pembunuhan?"


"Tidak."

__ADS_1


Jawaban itu membuat seisi ruangan terhenyak, terlebih Agam dan Nisha yang langsung menahan nafas. Tatapan mereka nanar dan legam.


...************...


__ADS_2