Tak Mau (Jadi) Yang Kedua

Tak Mau (Jadi) Yang Kedua
Episode 15 : Kubah


__ADS_3

Lukka tersungkur kedalam parit beton, dengan posisi setengah duduk. Air yang tak terlalu banyak, membuat setengah tubuh Lukka basah dan bau, karena parit tersebut merupakan aliran got.


hahahaha....


hahahha....


"Ada tikus got.. besar sekali.."


"Cepat foto, lihat wajahnya, lucu sekali..."


Anak anak nakal itu malah menertawakan Lukka. Setelah mengambil beberapa gambar, mereka pergi begitu saja tanpa menolong Lukka.


Dengan susah payah, Lukka berusaha berdiri. Kepalanya terasa kebas akibat membentur dinding beton. Kedua telapak tangannya lecet, karena berusaha menopang tubuh.


Kaki nya bahkan kesulitan berdiri, karena kondisi parit itu cukup licin. Sambil berusaha keluar dari sana, kedua mata Lukka berkaca-kaca.


"Kakak benar, mereka bukan teman yang baik." Lirihnya hampir menangis, padahal Lukka menganggap anak-anak itu tulus berteman dengannya.


Tak ada satupun orang yang menolong Lukka. Padatnya aktivitas dan kesibukan orang-orang membuat Lukka tak di lihat sedikitpun.


Setelah bersusah payah, akhirnya Lukka berhasil keluar. Celananya basah dan bau, baju nya pun kotor. Ia malu memasuki kelas dengan keadaan seperti itu. Akhirnya sambil menahan tangis, Lukka memutuskan kembali ke rumah dengan keadaan kotor seperti tikus got.


-


-


Di rumah, tampak Agam dan Nisha tengah bersiap untuk tugas pagi. Seperti biasa, Nisha dengan telaten memakaikan dasi pada suaminya itu.


"Kapan kita melakukan pemeriksaan, Mas?" Nisha membicarakan tentang proses inseminasi.


"Sayang.., Aku ingin bertanya sekali lagi. Benarkah kamu tidak apa-apa dengan sutuasi ini?" Agam memandang teduh wanita pendampingnya itu. Nisha selalu tersenyum, seolah tak ada sedikitpun rasa gundah.


"Mas, aku ingin seorang anak. Hanya itu, dan aku tidak akan menyesali ini. Aku percaya padamu, dan Yasmine."


"Kamu mudah sekali mengatakan bisa mempercayai kami? Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi? Itu sebabnya kamu mencarikan wanita lain dengan senang hati?"


Tatapan Agam menelisik, mencari cinta dari sorot mata sang istri. Sudah jelas begitu banyak cinta terpancar dari tatapan Nisha, namun ia hanya takut wanita yang sepuluh tahun mendampinginya itu tak lagi menaruh rasa cinta.


Mendengar itu Nisha terkekeh kecil. "Mas, aku cuma mau kamu menitipkan benih pada Yasmine, bukan menjadikannya istri kedua. Tentu aku sangat cemburu dengannya, karena dia mampu memberikan anak, sementara aku tidak. Bahkan aku takut, dia mencintai suamiku yang tampan ini."


"Lalu kenapa kamu kukuh memilih jalan ini? Bahkan membiarkannya tinggal di rumah kita. Memangnya kamu tidak takut dia menyimpan rasa untukku?" Seloroh Agam tampak cemberut.

__ADS_1


"Kamu berharap dia punya perasaan seperti itu?" Nisha balas menelisik pada wajah sang suami.


"Tidak!" Jawab Agam cepat. Cintanya, hidupnya, dan matinya sekalipun hanya akan untuk Nisha.


"Kalau begitu aman..." Sanggah Nisha, kembali dengan senyum tipisnya.


"Sudah siap, ayo kita berangkat." Nisha melangkah sambil menarik lengan sang suami.


Sementara Agam mengikuti langkah sang istri dengan bibir mengerucut. Kenapa ia merasa Nisha sudah tak mencintainya lagi? Jika dipikir-pikir pun, selama ini Nisha tak pernah menunjukkan rasa cemburu. Selalu ia yang cemburu, apalagi kala Nisha kedapatan berjaga dengan Dokter atau Perawat pria.


15 menit setelah keberangkatan Nisha dan Agam. Lukka tiba di rumah, ia melemparkan sepatunya yang kotor dan bau ke dalam kolam ikan milik Agam. Rasanya kesal sekali, ia merasakan penghianatan yang keji dari teman-temannya.


Tak mau mengotori rumah, Lukka pun menghidupkan kran di taman, lalu menyemprotkan selang ke seluruh tubuhnya.


"Lukka..? Kau kah itu?" Tanya Yasmine tergopoh-gopoh. Ia melihat pelipis Lukka yang lecet, serta kedua telapak tangan Lukka yang terluka.


Setelah dekat dengan Lukka, Yasmine menajamkan indera penciumannya. Pura-pura saja, padahal ia sudah tau kondisi Lukka.


"Kenapa badanmu bau? Kau tidak apa-apa kan?"


"Lukka jatuh." Jawab Lukka murung, ia menggosok seluruh tubuhnya dengan amat kasar. Ia tak menyukai bau menyengat dan menjijikan itu.


-


-


Yasmine menyingkirkan semua pakaian yang sedang ia lipat, lalu mempersilahkan Lukka duduk.


"Kemarilah, kakak akan mengobati tanganmu."


Lukka menyerahkan kedua telapak tangannya. Terdapat banyak guratan akibat ia berusaha menopang tubuhnya tadi.


"Kau sungguh terjatuh?" Tanya Yasmine pelan. Ia tidak percaya dengan jawaban Lukka tadi. Sebab Lukka bukanlah seorang anak yang ceroboh.


"Tidak..! Teman-teman Lukka jahat..! Mereka mendorong Lukka. Dan juga mengambil uang Lukka...hhwaaaaa😭😭😭😭😭"


Anak itu menangis keras, seperti bayi yang kehausan. Ia merasa sangat sedih. Kini ia benar-benar tidak memiliki teman yang baik. Yang tulus kepadanya.


"ssst...ssshh..sssh....Jadi mereka yang melakukan ini?" Yasmine mengusap kedua lutut anak besar itu.


"Kenapa semua orang jahat sama Lukka? Kenapa tidak ada yang mau berteman dengan Lukka? Memangnya Lukka salah apa? Lukka bahkan selalu berbuat baik pada mereka. Tapi mereka semua jahat...!"

__ADS_1


zzzrrroooott...


Lukka menarik dalam lendir yang merosot dari kedua lubang hidungnya.


Yasmine pun bergidik geli, jika ingus bayi tidak mengapa. Lah ini ingus bayi tua bangka.


"Tenang Lukka, jangan sedih ya... Lukka itu tidak salah. Mereka yang jahat. Suatu saat, buktikan kalau Lukka itu pantas bergaul dengan orang yang lebih baik dari mereka. Tidak apa-apa tidak punya teman, asal Lukka nyaman. Sudah kakak bilang bukan? Orang-orang seperti mereka itu tidak pantas disebut teman."


"Tapi kakak tidak akan jahat seperti mereka kan?" Lukka terisak sesenggukan sambil menarik kembali ingusnya.


Yasmine memberikan senyum hangat. "Tidak akan. Kakak pun juga tidak punya teman selain Lukka."


"Benarkah..?" Raut wajah Lukka langsung tenang. Kesedihannya berkurang, mendapat senyuman tulus dari seorang teman adalah hal yang sangat ia impikan.


Merasa lebih tenang, Yasmine pun asal menarik kain dari keranjangnya. Bermaksud untuk mengelap ingus Lukka. Juga ia sedang berakting buta, jadi asal saja mencomot barang.


Setelah dapat, Yasmine memberikan itu ke tangan Lukka. Tatapannya masih lurus, agar tak mengundang rasa penasaran Lukka.


"Ini baju apa? Kok ada kubahnya?" Celetuk Lukka, sesaat ia menerima kain yang ternyata bEha milik Yasmine. Ia bahkan merenggangkan benda itu di depan wajahnya karena penasaran.


Yasmine tergagu, ia bingung hendak menjawab apa. Alhasil ia menarik kembali benda berwarna merah tua itu dengan brutal.


"Itu apa..?" Tanya Lukka masih penasaran, naluri anak kecil memang tidak akan puas bila rasa penasarannya belum terjawab.


Yasmine pernah membaca di internet. Jika anak kecil bertanya tentang hal tabu. Maka jawablah yang benar, namun dengan penyampaian yang mudah di cerna. Tidak baik memeleset kan nama, apalagi saat anak bertanya hal sensitif. Karena itu akan mempersempit wawasan anak, dan tidak memberikan kesempatan anak untuk mendapatkan edukasi.


"Itu pelindung payudara. Wanita dewasa perlu memakai itu untuk melindungi payudara mereka."


Atas dasar itulah, Yasmine menjawab sesuai kenyataan. Hitung-hitung belajar jadi orang tua. Namun sepertinya pemilihan kata kurang tepat, hingga mengundang rasa penasaran lainnya.


Lukka mengangguk, karena ia sudah di edukasi tentang organ tubuh. Namun yang membuatnya penasaran adalah kata 'pelindung'


"Untuk apa wanita melindungi ***********? Melindungi dari apa?" Lukka menatap Yasmine dengan polosnya.


Sementara Yasmine, wajahnya panas dingin. Bukan dia yang sedang mengedukasi, tapi sepertinya ia yang lebih butuh edukasi.


...***************...


Jangan lupa like, komen, dan vote nya ya bebss😘😘 Maaf telat Update, karena otor habis rewang🙃


Tinggalkan jejak kalian😘 karena satu jejak dari kalian itu sangat berarti buat otor remahan peyek ini.😁

__ADS_1


__ADS_2