Tak Mau (Jadi) Yang Kedua

Tak Mau (Jadi) Yang Kedua
Episode 50 : Bukan Kamu, Tapi Dia.


__ADS_3

"Tunggu ya, Pak." Ucap Lukka kepada supir taksi, setelah membayar ia turun membantu Yasmine menurunkan barang-barangnya.


"Ternyata kontrakan mu disini? Bukankah ini hanya sekitar dua jam dari rumah ku?" Lukka tak pernah terpikir ada tempat dengan gang gang sempit seperti ini yang dihuni oleh manusia.


"Memang..." jawab Yasmine cuek. Ia bertambah kesal saat diserbu pertanyaan oleh Pak Basir, karena meminta kembali kunci kontrakannya.


Sebelum pindah ia menyerahkan motor dan kunci kontrakan kepada Pak Basir. Ia berniat menjual motor itu lewat tangan pak Basir. Tapi karena Lukka, ia jadi harus menebalkan kuping dari rasa kepo pak Basir.


Setelah semua barang di bagasi turun, taksi malah melenggang meninggalkan Lukka disana. Tampaknya ia tak mendengar permintaan Lukka untuk menunggu.


"Yah...! Pak...!" Lukka berlari beberapa meter, mamun taksi itu tetap melaju.


"aiiss...!" Lukka kembali berlari ke tempat Yasmine sambil menutupi kepalanya dengan punggung tangan, agar tak terbasahi oleh gerimis yang sedang menitik.


"Masuk lah, kalau gerimisnya reda kau bisa pulang dengan motorku." ajak Yasmine sambil melirik ke arah teras rumah pak Basir. Jangan sampai orang tua itu melihat Lukka.


"Terimakasih." Lukka nyelonong tanpa segan, lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa yang sudah agak usang.


"ahhh, hari ini melelahkan sekali." ia menggeliat melepaskan penat yang mengikat otot.


"ahhh... aku tak percaya kembali lagi ke rumah ini." keluh Yasmine sambil menarik kopernya ke dalam kamar.


"Kalau kau bosan disini, pindah saja ke rumah ku." sahut Lukka sambil memejamkan mata. Baru begini saja rasanya sudah seperti suami istri yang tinggal seatap.


"Kau benar-benar menghancurkan rencanaku." rutuk Yasmine sambil melirik ketus.


"Kau yang memulai, kau hilang dan sengaja menjauh dariku. Kau pikir aku main-main dengan perasaanku?"


"cch...!" Yasmine berdecak kesal, membuat Lukka membelalak.


"Hanya itu tanggapan mu? Menyebalkan." sinis Lukka membalas tatapan Yasmine.


Gemericik gerimis semakin terdengar keras di atas seng. Lukka menghembuskan nafas panjang sambil tersenyum tipis. Walau respon Yasmine tak terlalu baik, ia tetap lega karena akhirnya bisa menemukan Yasmine kembali.


Yasmine membongkar kopernya yang berisi makanan. Ia mengeluarkan dua cup mie instan, yang sepertinya cocok di santap saat hujan begini.


"Mau mie instan?" Yasmine menoleh ke arah Lukka, namun bayi besar itu sudah terpejam lelap di atas sofa.


Ia berdiri menghampiri Lukka, lalu mengamati wajah teduh Lukka yang tampak kelelahan. Ia termangu mengamati setiap inci wajah itu, wajah ceria yang dulu selalu mewarnai hari-harinya. Wajah yang dulu sangat polos, kini telah berubah dewasa. Mungkin karena pergaulan dan mentalnya sedikit berkembang sekarang.


"Kau merindukanku?" tanya Lukka tiba-tiba, membuat Yasmine gugup hingga satu cup mie di tangannya terjatuh.


Saat hendak pergi, Lukka menggenggam lengan Yasmine dan menahannya. "Kenapa kau membohongi perasaanmu? Katakan saja, kau merindukanku bukan?"

__ADS_1


Yasmine tak mampu berucap, lehernya terasa kaku hingga ia tak dapat menoleh. Rasanya seperti seluruh tubuh gemetar tak karuan, panas dingin.


Karena tak mendapat jawaban, Lukka menarik tangan Yasmine hingga wanita itu terduduk di sebelahnya. Mau tak mau kedua mata Yasmine jadi menatap wajah Lukka.


"Apa yang membuatmu mengurung perasaan seperti itu?"


Yasmine meneguk ludahnya kasar, kemudian menundukkan pandangan. "Aku...." Bagaimana ia mengatakannya? Jantungnya terus berdebar karena rasa tak menentu. Entah apa yang membuatnya begitu. Bagaimana bisa ia mengatakan bahwa yang ia sukai, yang ia cintai adalah Agam, bukan Lukka.


Ia menyadari perasaannya setelah tinggal terpisah dengan Agam. Yang ia rindukan ternyata bukanlah Lukka, melainkan ayah dari mendiang janinnya.


"Aku bukanlah seorang gadis. Aku pernah mengandung anak kakakmu..."


"Lalu kenapa? Kalian juga tidak membuatnya secara langsung. Itu hanyalah proses inseminasi. Selama kau belum menikah, maka kau masih seorang gadis."


"Tapi...."


"Yasmine.., sejak aku belum menyadari apa artinya merindukan seseorang, apa artinya mencintai seseorang, aku sudah menyimpan dirimu di dalam benakku. Kini aku menyadari semuanya, dan posisimu semakin jelas mengusai hati dan pikiranku."


Lukka duduk kemudian menatap Yasmine dalam-dalam. "Jika aku mengajakmu menikah, pikirkanlah jawabannya. Entah kau menolak atau terima, aku akan tetap senang. Karena setidaknya aku sudah mengutarakan perasaanku. Ku harap kau tidak menganggapku bercanda kali ini."


Ia kemudian mengambil kunci motor di atas meja, dan berpamitan untuk pulang. Selagi gerimis sudah mulai reda.


Yasmine baru bisa menghembuskan nafasnya saat Lukka sudah pergi. Ia hampir kehilangan oksigen sepenuhnya. Bagaimana ini? Ia tak punya cukup alasan untuk menolak orang sebaik Lukka. Hatinya yang hangat dan tulus hampir tak memiliki celah untuk di tolak. Tapi jika ia menerimanya, bukankah itu bohong? Apakah pantas membalas perasaan tulus seseorang dengan kebohongan?


...~~...


Anna yang berusaha mencari perhatian berusaha mengambil kursi, untuk bisa duduk bersama Nisha. Namun karena ukuran kursinya lebih besar, Anna kesulitan hingga kursi itu terjatuh dan menimbulkan suara bising.


"Apa yang kau lakukan?" Nisha menoleh berat, ia menahan diri untuk tidak terbawa emosi. Ada saja kelakuan anak itu.


"Anna ingin duduk di dekat mama..." ucap bocah itu merasa bersalah, wajahnya tertunduk sedih, membuat Nisha merasa iba.


Nisha berdiri dan membawa kursi itu ke sebelahnya. "Kemarilah."


Dengan senang hati Anna menuju kursi yang sudah tersedia. "Terimakasih,ma."


Nisha melanjutkan kesibukannya dengan laptop, sementara Anna memandangi wajah Nisha tanpa henti. Tentu saja Nisha merasa agak terganggu dengan itu.


"Ada apa..?" tanya Nisha melembutkan suaranya, dari ekpresi wajah Anna, sepertinya ada yang ingin ia tanyakan.


"Mama tau artinya anak angkat?"


"Kenapa..? Kau mendengar itu dari mana?"

__ADS_1


"Kemarin Anna mendengar oma dan papa berbicara. Kata oma, papa tak perlu menyekolahkan Anna ke sekolah internasial, karena Anna anak angkat. Apa artinya itu, ma? Anna sangat penasaran, apakah bedanya anak angkat dan anak biasa? Apakah anak angkat seperti dirinya lebih hebat, itu sebabnya tak perlu sekolah internasional?" oceh Anna memasang wajah penasaran yang amat menggemaskan, membuat hati Nisha sedikit segar melihatnya.


"Anak angkat itu..." Nisha seperti mencari jawaban yang bisa masuk di akal.


"Anak angkat itu artinya seorang anak yang hebat. Jadi kemarin oma bilang tak perlu ke sekolah Internasial, karena Anna sudah cukup hebat." celetuk Agam yang baru saja tiba disana.


Nisha menghembuskan nafas lega saat suaminya berhasil menjawab rasa penasaran Anna.


"Jadi benar tebakan Anna?" ia tertawa girang karena merasa hebat.


"Benar, tapi jika kau mau, kau tetap bisa ke sekolah internasional." jawab Nisha, tampaknya ia mulai luluh pada bocah itu.


"Benarkah? Di hari pertama sekolah nanti, mama mau tidak mengantarkan Anna?"


"mmm, tergantung jam dinas. Kalau senggang mama akan mengantarkanmu." sahut Nisha mengangguk, sembari tersenyum lembut. Senyum indah yang sudah lama dirindukan oleh Agam.


"Papa juga akan mengantarmu, jangan khawatir." Agam menepuk pucuk kepala Anna, sambil mengusap lembut bahu Nisha dengan tangan kanannya.


.


.


Di halaman rumahnya, Ambar tengah mengamati sebuah motor matic yang terparkir. Milik siapa itu? Apa ada orang iseng-iseng yang menaruh motor disana? Begitu kira-kira batinnya.


Ia bahkan mengira ini konten eksperimen kejujuran, sampai ia mencari ke segala sudut siapa tau ada kamera tersembunyi.


"Ada apa, ma?" Tanya pak Ghani yang hendak pergi bekerja.


"Papa bawa motor?" tanya Ambar sambil menunjuk motor tersebut.


"Nggak. Itu motor siapa?" Pak Ghani malah bertanya balik.


"Nggak tau juga mama, punya siapa ya. Mana kuncinya di situ. Ntar kita di kira maling gimana, pa?"


"ah, nggak mungkin. Untuk apa kita maling motor." tepis pak Ghani tersenyum kecut.


Saat Agam juga hendak pergi bekerja, ia di panggil oleh mamanya.


"Agam..! Kamu tau ini motor siapa?"


Agam menoleh dan mendekat beberapa langkah ke dekat pagar, agar lebih jelas. "Nggak ma, kok bisa di sana? Memangnya motor siapa?"


"Ya nggak tau., aduh mama takut.." Ambar kelihatan panik sekali, tak ada satupun dari mereka yang mengira, bahwa Lukka yang membawa motor itu.

__ADS_1


Karena merasa tak penting, Agam berbalik menuju mobilnya. Tapi tiba-tiba ia merasa tak asing dengan motor itu. "Tunggu..,bukannya itu..."


...************...


__ADS_2