
***
"Aww, sakit An. Kenapa nyubit?" tanya Rey saat Ana menancapkan kuku yang tidak terlalu panjang miliknya di pinggang Rey.
"Habis jadi orang ngeselin banget, jalan nggak? Kalau masih nggak mau jalan aku naik taksi aja,"
"Eh, eh jangan dong. Iya deh iya sayang, jalan nih ya jalan. Jadi jangan marah, sensi amat sih Bu. Lagi PMS ya?"
"Rey,,,"
"Iya, iya nggak ngomong lagi. Aku jalan ya, pegangan dong,"
Ana tersentak kaget saat Rey menarik tangan nya lalu melingkarkan tangan itu di pinggangnya. Tidak lupa juga Rey mengunci kedua tangan Ana hingga kini tubuh kedua nya tidak lagi berjarak.
"Kalau begitu, yang total dong bohong nya," ucap Rey sembari menggenggam kedua tangan Ana yang saling bertautan di atas perut berotot nya.
"Maksud kamu apa?" protes Ana akan ucapan Rey barusan.
"Sstttt, jangan berisik lakukan saja seperti yang aku katakan. Biar mereka yakin jika kamu tidak lagi berbohong," lanjut Rey sembari menunjuk ke arah pintu kantor milik Ghafin dengan ujung matanya.
Dimana, di sana ada dua orang pria yang berdiri tegak. Yang satu tengah fokus pada ponselnya dan yang satu nya lagi tidak melepaskan sedikit pun tatapannya pada sosok Ana yang kini sudah duduk di atas motor bersama dengan Rey.
Mengerti kemana arah pembicaraan Rey, Ana pun akhirnya memilih diam dan tidak lagi menolak apa yang dilakukan oleh Rey padanya. Sungguh, bukan berniat membuat Revan cemburu. Hanya saja, untuk saat ini, Ana memutuskan untuk tidak bersinggungan dengan pria itu dulu. Dan itu membuat Ana jauh lebih nyaman.
Ana juga berharap semoga Revan bisa melupakan jika dirinya pernah begitu memuja pria itu dulu. Perasaan malu yang Ana rasakan saat mengetahui hubungan Revan dan juga Kaila masih begitu membekas didalam hatinya.
__ADS_1
Bahkan Ana harus dibayang bayangi perasaan betapa bodohnya dia dulu. Menceritakan semua impian dan rencana nya bersama dengan Revan pada wanita yang ternyata kekasih dari pria itu.
Bisa dibayangkan, bagaimana Kaila menertawakan kebodohan nya. Dan hal itu yang selalu membuat Ana merasa malu bahkan hanya untuk sekedar mengingat.
*
*
Rey pun mulai melajukan motornya dengan hati yang berbunga bunga karena Ana tidak melepaskan tautan tangan nya diperut pemuda itu. Namun tetap, Rey harus berusaha bersikap se cool mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan untuk Ana.
Sementara itu, Revan semakin merasa kesal dan tidak suka saat melihat kedekatan sang adik dan juga Ana. Berulang kali Revan membuang nafas kasar nya demi menetralkan perasaan yang bergemuruh aneh.
"Ayo, kita makan siang,"
Ajakan dari Ghafin akhirnya membuyarkan lamunan Revan tentang Ana dan juga Rey, adiknya. Entah mengapa, Revan merasa jika Rey memiliki ketertarikan pada wanita yang lebih tua lima tahun dari nya itu.
Dan entah mengapa Reva merasa tidak rela jika adiknya itu bersama dengan Ana. Jujur, Revan baru menyadari jika dirinya memiliki perasaan khusus setelah Ana pergi hampir 6 tahun yang lalu itu.
Setelah pulang dari Paris, Revan begitu merasa hampa dan kosong karena orang yang sering merecokinya hilang bak ditelan bumi. Bahkan tanpa kata perpisahan dan penjelasan, Ana langsung menghilang begitu saja dan itu membuat hati Revan benar benar dilanda rasa hampa.
Bahkan hubungannya bersama Kaila pun mendadak menjadi hambar. Tidak menggebu gebu seperti dulu pada saat dirinya sering dihubungi dan direcoki oleh Ana. Entah apa yang dirasakan oleh Revan saat itu.
Harus nya saat itu Revan merasa senang saat Ana pergi, dengan begitu dia tidak perlu lagi membohongi dan menutupi hubungan nya dari gadis polos itu.
Namun pada kenyataan nya, Revan malah merasa kehilangan yang teramat sangat besar hingga berdampak pada hubungan nya dan juga Kaila.
__ADS_1
Revan dan Kaila pun akhirnya menjalani hubungan yang toxic selama dua tahun. Hingga akhirnya keduanya pun menikah karena kedua orang tua Kaila yang terus menerus mendesak Revan untuk menikahi putri mereka.
*
*
"Kita makan siang disini dulu ya? Aku sudah lapar sekali," ucap Rey saat memarkirkan motornya disebuah restoran khas jepang yang menyajikan menu udon kesukaan Ana selama tinggal di sana.
"Boleh, aku juga sama sudah lapar. Tapi, kenapa kesini?"
"Aku penasaran saja, bagaimana makanan di restoran yang menjadi tempat favoritmu ini,"
Ana melongo tak percaya, bagaimana bisa pemuda yang baru dikenalnya beberapa waktu itu langsung tahu dimana restoran favorit nya. Sedangkan membahasnya saja tidak pernah.
"Hey, dari mana kamu tahu kalau ini itu restoran kesukaan aku?" tanya Ana mencekal tangan Rey yang baru saja akan beranjak masuk kedalam restoran itu.
"Inilah salah satu kehebatan yang aku miliki. Sudah yuk ah, kita masuk saja. Lapar nih,"
Rey pun kembali melanjutkan langkah kakinya memasuki sebuah bangunan yang begitu mirip dengan rumah khas orang jepang itu. Namun itu bukanlah sebuah rumah, melainkan restoran udon yang memiliki cita rasa yang khas dan Ana sangat menyukai makanan yang dijual di sana.
Karena itulah Rey membawa Ana kesana, semoga dengan membawa Ana makan ditempat yang dia sukai bisa mengembalikan mood gadis itu yang sedari tadi terlihat tidak baik baik saja.
Bagaimana mau baik baik saja, sepanjang pertemuan mereka tadi dengan Revan dan juga Ghafin, Revan sama sekali tidak melepaskan tatapan nya dari Ana.
Bahkan pria itu mengabaikan ke tidak nyamanan Ana dan tetap saja memfokuskan pandangan nya pada gadis yang kini telah bertransformasi menjadi wanita muda yang sukses dan mandiri.
__ADS_1
*
***